Setelah Hujan

Setelah Hujan
Amarah Ibu Mertua


__ADS_3

Setelah berusaha keras membujuk Yandri dengan segenap rayuan dan kesungguhan, akhirnya Daniar berhasil mendapatkan izin Yandri untuk pergi melayat.


"Baiklah-baiklah, Bunda boleh pergi, tapi ingat ... tidak boleh pergi sendiri!" tegas Yandri di ujung telepon.


"Tapi Yah ..." rengek Daniar.


"Enggak! Pokoknya, sekali enggak boleh, tetep enggak boleh. Biar Ayah telepon Danisa untuk menemani kamu besok."


"Ta–"


"Cukup Bunda! Enggak usah ngebantah lagi. Ini sudah menjadi keputusan mutlak Ayah. Pergi ditemani Danisa, atau tidak sama sekali!" ancam Yandri.


"Iya-iya," sahut Daniar. "Ya sudah, Bunda tutup teleponnya. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsa–"


Klik!


Karena merasa kesal dengan keputusan suaminya, Daniar menutup sambungan telepon begitu saja. Membuat seseorang di ujung telepon, hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


.


.


Semua orang tampak berkumpul di rumah Aji. Malam ini, Aji hendak mengadakan pengajian tahlil untuk mendiang istrinya.


"Gimana Han, apa tetangga dekat sudah kamu undang?" tanya Aji kepada putra sulungnya.


"Alhamdulillah, sudah Pak. Semoga saja malam ini tidak turun hujan, supaya mereka bisa memenuhi undangan kita," jawab Farhan.


"Hmm, semoga saja Han. Ya sudah, ayo kita gelar karpetnya. Biar nanti enggak terlalu repot," ajak Aji.


"Kenapa hanya tetangga dekat saja yang kalian undang? Kenapa tidak semua kerabat dan warga satu kampung kalian undang? Bukankah mereka juga mengenal Khodijah?"


Tiba-tiba, Bu Maryam sudah berdiri di belakang mereka. Dia mencecar cucu dan menantunya dengan berbagai pertanyaan.


Kedatangan Bu Maryam sontak membuat Aji dan Farhan menoleh. Mereka cukup terkejut dengan kehadirannya. Mereka pikir, wanita tua itu sedang beristirahat di kamar Hana.


Farhan menatap ayahnya. Namun, saat menyadari jika itu hanya akal-akalan neneknya untuk memojokkan sang ayah, akhirnya Farhan mendekati Bu Maryam dan merangkulnya.


"Ish, Nenek ... rumah kita tidak cukup luas untuk mengundang semua warga di sini. Kasihan juga, 'kan kalau mereka harus berdesak-desakan," gurau Farhan.


"Ish, semakin banyak orang yang mendo'akan, 'kan semakin mustajab," dalih Bu Maryam.


"Nenek, untuk apa banyak orang, tapi ngajinya tidak tartil," kilah Farhan. "Tidak apa-apa, Nek. Entah sedikit ataupun banyak, yang penting kita adakan pengajian untuk almarhumah ibu," lanjut Farhan.


"Huh, bilang saja kalau bapak kamu enggak ada duit untuk ngundang banyak orang," dengus Bu Maryam, kesal.


Bu Maryam segera kembali ke kamar Hana. Dia sudah sangat muak melihat wajah Aji yang selalu tidak mengindahkan pendapatnya.


"Huh, benar-benar menyebalkan!" dengus Bu Maryam.


Habibah yang sedang berbaring, sontak membuka mata. Dia bangun dan menegakkan tubuhnya saat mendengar ibunya mendengus kesal.


"Ih, Ibu kenapa lagi, sih? Datang ke kamar kok sambil menekuk wajah gitu," ketus Habibah. "Ingat, Bu. Kita ini masih berduka, jadi Ibu enggak usah nambahin masalah lagi," gerutu Habibah, ikut-ikutan merasa kesal karena harus melihat wajah masam ibunya.


"Itu, bapaknya si Farhan ... huh, emang enggak pernah ada gunanya tuh orang! Anak sama bapak, enggak ada bedanya. Menyebalkan!" sahut Bu Maryam, semakin merasa kesal.

__ADS_1


"Aih Ibu, kalau ngomong tuh, yang jelas. Bibah, 'kan enggak ngerti."


"Jadi gini loh, Bah. Ibu, 'kan nanya sama mereka, kenapa mereka enggak undang warga sekampung buat acara tahlilan almarhumah kakak kamu nanti malam. Eh, si Farhan malah bilang kalau rumahnya tuh kecil, jadi mana muat buat nampung banyak orang. Dia merasa kasihan kalau para tamu undangan duduk berdesak-desakan. Padahal, bilang saja kalau mereka enggak ada duit buat isi amplop. Huh, dasar kere!" Bu Maryam kembali mengumpat menantunya.


"Hhh." Habibah menghela napas. "Semua ini gara-gara Daniar," gumamnya


"Eh, apa hubungannya?" tanya Bu Maryam, mengernyit.


"Ya ada lah, Bu. Coba waktu itu dia mau ngasih duit buat berobat kak Dijah, tentunya kak Dijah enggak bakalan meninggal. Kalau kak Dijah enggak meninggal, 'kan enggak harus ada tahlilan juga. Dan Ibu enggak harus merasa malu," jawab Habibah.


Bu Maryam hanya bengong mendengar jawaban anaknya.


.


.


"Nis, ayo buruan!" panggil Daniar yang sudah terlihat rapi.


"Iya, sabar dong Kak ... 'kan harus nyisir rambut dulu biar rapi!" jawab Danisa dari dalam kamarnya.


"Bunda, Bintang boleh ikut, 'kan?" pinta Bintang kepada ibunya.


"Tapi kamu harus sekolah, Nak," sahut Daniar.


"Izin sehari, boleh, 'kan Bun. Please ...!" ucap Bintang, memelas sambil mengatupkan kedua tangannya. "Bintang pengen ketemu kak Hana sama kak Ical. Bintang pengen menghibur mereka. Bintang kasihan sama mereka. Boleh, 'kan Bun?" pintanya lagi.


Daniar terharu. Dia merasa bangga karena anaknya sudah memiliki rasa empati terhadap saudaranya.


"Baiklah, Bintang boleh ikut," kata Daniar.


"Yeayy! Kalau begitu, Bintang ganti baju dulu ya, Bun!"


10 menit kemudian, Danisa dan Bintang keluar dari kamarnya masing-masing. Tante dan keponakan itu sudah tampak rapi dengan gaya kasual mereka. Jika dilihat lebih seksama lagi, begitu banyak kemiripan di antara mereka berdua. Entah itu sikap, hobi, dan gaya bicaranya.


Daniar menatap dua perempuan berbeda generasi itu. Huh, Bintang sudah seperti miniatur Danisa sewaktu kecil. Tomboy dan jarang mengenakan rok seperti anak perempuan pada umumnya.


"Ya sudah, berangkat yuk!" ajak Danisa.


Bintang meraih tangan bundanya yang sedang duduk. "Mari, Bunda ... Bintang bantu!"


.


.


Entah kenapa, kecemasan meliputi hati Daniar sepanjang perjalanan. Mungkin karena Daniar belum sempat menjenguk Khodijah lagi sejak terakhir dia mengantarkannya berobat ke tempat pak Dana. Dada Daniar sedikit sesak karena menyesal. Namun, penyesalan pun tidak akan merubah kenyataan jika kakak iparnya telah tiada.


Sambil menyetir, sesekali Danisa melirik kakaknya lewat kaca spion depan. Terlihat air mata menggenang di kedua sudut mata Daniar.


"Sudah, Kak. Jangan terlalu dipikirkan lagi. Nanti Kakak bisa stres loh," kata Danisa.


Daniar terhenyak. "Enggak, Dek. Kakak lagi enggak mikirin kak Dijah, kok," elak Daniar. "Kakak sadar, apa yang menimpa kak Dijah, itu memang sudah takdir," imbuhnya.


Danisa tersenyum. "Iya, Kak. Kita juga pasti akan mengalaminya, tapi entah kapan. Hanya Tuhan yang mengetahui," balas Danisa.


Hampir dua jam, mereka melalui perjalanan. Sesuai dengan amanat kakak iparnya, Danisa melajukan kendaraannya dengan sangat pelan. Danisa takut jika sedikit guncangan, akan mempengaruhi kandungan kakaknya.


"Kamu enggak mau ikut ke rumah, Dek?" tanya Daniar begitu mereka sampai di kampung Aji.

__ADS_1


"Enggak ah, Kak. Di rumah enggak bisa ngerokok. Nisa tunggu di mobil saja," jawab Danisa.


"Hmm, ya sudah ... Kakak sama Bintang pergi dulu, ya!" pamit Daniar.


Danisa mengangguk. Daniar kemudian meraih tangan Bintang dan menuntunnya untuk menyeberangi jalan. Mereka berjalan beriringan melewati gang yang cukup sempit, menuju rumah Aji.


"Assalamu'alaikum!" sapa Daniar begitu tiba di depan rumah Aji.


Pintu rumah tampak terbuka. Ada banyak tamu yang sedang duduk di ruang tamu. Mungkin mereka datang untuk menghaturkan belasungkawa seperti dirinya.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Bi Niar ... mari, silakan masuk!"


Farhan berdiri untuk menyambut bibinya. Dia mendekati Daniar sambil mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan orang yang lebih tua darinya.


"Bibi turut berduka, Han. Maaf, Bibi baru bisa datang hari ini," ucap Daniar.


"Iya, tidak apa-apa, Bi. Atas nama ibu, Farhan juga ingin minta maaf jika ibu ada salah kata ataupun sikap terhadap Bibi dan juga paman Yandri," sahut Farhan.


Daniar tersenyum. "Almarhumah itu orang yang sangat baik, Nak. Mana mungkin beliau memiliki salah kepada kami. Ngomong-ngomong, di mana ayah kamu?" tanya Daniar.


"Bapak sedang berada di kamar mandi. Ayo masuk, Bi. Biar Farhan kenalkan kepada saudara-saudara jauh Bapak," lanjut Farhan seraya memapah Daniar untuk memasuki rumah.


Beberapa detik kemudian, Daniar duduk berhadapan dengan para tamu yang sedang berbincang. Mereka saling bersalaman satu sama lain dan memperkenalkan diri.


"Oh, jadi ini istrinya nak Yandri?" tanya salah seorang kerabat Aji.


"Iya, Bu," jawab Daniar.


"Ngomong-ngomong, ke mana Nak Yandri? Apa dia tidak ikut? Dia baik-baik saja, 'kan?" cecar wanita itu lagi.


"Alhamdulillah, kang Yandri sehat wal'afiat, Bu. Beliau tidak bisa datang karena beliau tidak mendapatkan izin cuti dari atasannya. Kebetulan, suami saya kerjanya di luar kota, Bu," papar Daniar, jujur. Daniar tidak ingin ada pandangan buruk terhadap suaminya, sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman.


"Ya sudah, baik Yandri ataupun istrinya, toh sama saja, Bu" timpal seorang laki-laki yang mungkin saja suami wanita itu.


Di dapur, hati Bu Maryam terbakar hebat saat mendengar suara menantunya. Terlebih lagi, ketika mengetahui jika Yandri tidak datang untuk berbelasungkawa atas kematian kakak kandungnya.


"Ish, apa-apaan ini?" dengus Bu Maryam, kesal. "Yandri enggak datang, huh itu pasti atas perintahnya. Aku tahu, dia hanya ingin cari muka saja. Ingin mempertontonkan kebaikannya supaya mendapatkan pujian dari kerabat si Aji itu. Ih, benar-benar perempuan licik. Dasar perempuan bermuka dua. Munafik!" umpatnya.


Tak sanggup membendung kemarahannya, Bu Maryam segera pergi ke ruang tamu.


"Enyah kamu dari sini! Dasar perempuan enggak tahu diri!" usir Bu Maryam seraya menarik tangan Daniar agar berdiri.


"Eh, Ibu!" seru Daniar terkejut.


"Masih punya muka, kamu, buat datang kemari, hah? Dasar perempuan pembawa sial!" umpat Bu Maryam. "Masih punya nyali kamu datang, hah?" Bu Maryam terus meracau seraya menyeret Daniar ke teras.


"I-ibu, salah Daniar apa?" tanya Daniar tak mengerti.


"Salah kamu apa? Huh, hanya itu saja yang bisa kamu katakan sedari dulu. Salah apa-salah apa ... cukup Niar! Orang lain mungkin saja bisa tertipu dengan wajah polos kamu, tapi aku? Tidak!" teriak Bu Maryam semakin menggila.


Daniar bergeming. Terseok-seok dia hanya bisa mengikuti langkah ibu mertua yang terus menarik tangannya.


"Mau tahu letak kesalahan kamu, Niar? Mau tahu?! Baiklah, akan aku beri tahu, Daniar. Kamu!" Tunjuk Bu Maryam mengangkat telunjuknya, "kamu telah menjadi malaikat maut bagi kakak ipar kamu sendiri! Kamu yang telah menghabisi Khodijah! Gara-gara kamu melarang Yandri yang ingin membantu kakaknya, Khodijah jadi meninggal. Dia meninggal gara-gara kamu! Ngerti kamu!" teriak Bu Maryam.


"Nenek, jangan do–"


"Aaargh ...."

__ADS_1


Brugh!


__ADS_2