
Ting!
Ponsel Yandri berbunyi, pertanda notifikasi pesan whatsapp masuk di ponselnya. Namun, Yandri mengabaikan pesan itu, karena jam pelajaran masih berlangsung.
Tepat pukul 12 siang, bel istirahat kedua berbunyi. Yandri mengakhiri jam pelajarannya.
"Baiklah anak-anak, kita sudahi materi kita untuk hari ini. Sekarang, silakan kalian semua istirahat," ucap Yandri yang disambut oleh sorak sorai para muridnya.
Semua murid menghambur ke luar kelas. Sebagian ada yang menuju kantin sekolah. Sebagian lagi ada yang menuju masjid sekolah untuk menunaikan shalat dzuhur.
Yandri menyandarkan punggung untuk melepas penat. Seharian menerangkan materi yang sama dari satu kelas ke kelas yang lain, membuat kepalanya sedikit keleyengan. Tiba-tiba, Yandri teringat akan notifikasi pesan whatsapp yang masuk tadi. Dia kemudian merogoh saku jas untuk mengambil ponselnya.
Yandri mengusap layar ponsel. Senyumnya terbit tatkala melihat si pengirim pesan.
"Hmm, bunda kirim pesan apa ya?" gumam Yandri sambil membuka aplikasi whatsapp untuk membaca pesan dari istrinya.
Kening Yandri mengernyit saat membaca pesan Daniar. Selamat menjadi ayah lagi? Apa maksudnya ini? batin Yandri.
Karena merasa penasaran, Yandri kemudian menghubungi istrinya.
"Assalamu'alaikum, Bun!" sapa Yandri setelah teleponnya tersambung.
"Wa'alaikumsalam," jawab Daniar di seberang telepon.
"Ini maksudnya apa ya, Bun? Kenapa Bunda mengirim pesan seperti ini sama Ayah?" tanya Yandri mengungkapkan rasa penasarannya.
"Hehehe, karena sebentar lagi Ayah akan kembali menjadi seorang ayah," jawab Daniar seraya terkekeh.
Yandri terkejut mendengar jawaban istrinya. Setelah mampu mencerna semua makna yang diucapkan Daniar, kedua sudut bibir Yandri pun tertarik ke atas.
"Apa ini artinya, Bunda sedang hamil?" tanya Yandri mencoba meyakinkan dirinya.
"Iya, Yah. Bunda memang sedang mengandung adiknya Bintang. Calon anak kedua kita," sahut Daniar.
"Alhamdulillah ... Subhanallah, Bun. Ini kabar terbaik yang Ayah dengar setelah masa-masa keprihatinan kita," ungkap Yandri.
"Iya ... Ayah benar. Ini adalah hadiah terindah setelah kita melewati keterpurukan kita," timpal Daniar.
__ADS_1
"Semoga anak ini semakin memperkuat ikatan di antara kita, Bun," do'a Yandri.
"Aamiin," jawab Daniar.
"Ya sudah, Ayah tutup dulu teleponnya ya, Bun. Ayah mau shalat dzuhur. Jaga diri baik-baik, Bun. Jangan terlalu kecapean juga," pesan Yandri.
"Iya, siap Yah!" jawab Daniar.
"Assalamu'alaikum, bundanya Bintang dan Rayyan," kata Yandri.
"Wa'alaikumsalam," balas Daniar.
Setelah mendapatkan jawaban salam dari istrinya, Yandri kemudian menutup sambungan teleponnya.
Ucapan syukur tak henti-hentinya keluar dari bibir Yandri. Sudah sangat lama dia menantikan anak keduanya. Dan hari ini, Tuhan mengabulkan semua do'a-do'anya.
Terima kasih ya, Rabb. Terima kasih karena Engkau telah menganugerahkan kebahagiaan ini. Tolong bimbing kami untuk menjaga dan membimbing amanah yang Engkau titipkan. Aamiin.
.
.
"Alhamdulillah, beberapa bulan ke depan, rumah ini akan kembali ramai dengan tangisan bayi," ucap Bu Salma saat dia tengah bercengkerama dengan kedua putrinya dan sang cucu.
"Hmm, ngeronda lagi nih," gurau Danisa.
"Enggak usah kuatir, Tata. Entar Bibin temenin ngerondanya," sahut Bintang.
Sontak semuanya tertawa mendengar perkataan Bintang.
"Eh, Ni. Kita harus bikin pengajian keluarga, nih. Ya, tasyakuran kecil-kecilan lah atas semua kenikmatan yang kita rasakan di keluarga kita," ucap Bu Salma.
"Bener tuh apa yang diomongin Ibu, Kak. Sudah lama juga kelurga kita enggak ngumpul," timpal Danisa.
"Iya, Dek. Kakak setuju, tapi nanti ya, setelah abang kamu pulang," sahut Daniar.
"Hmm, ya sudah, nanti kita bicarakan lagi sama ayahnya Bintang. Sekarang kita masuk yuk, sudah sore!" pungkas Bu Salma.
__ADS_1
.
.
Selepas isya, Bu Maryam baru tiba di rumah Kakek Ahmad. Sudah hampir seminggu dia tinggal di rumahnya untuk mengurusi Khodijah. Hingga tadi pagi, Bik Mumun datang untuk menyampaikan pesan Kakek Ahmad yang menyuruhnya pulang.
Sebenarnya, sudah sedari sore Bu Maryam hendak pulang. Namun, tiba-tiba Khodijah meminta makan. Bu Maryam pun terpaksa mengurungkan niatnya. Dia menyuapi Khodijah terlebih dahulu. Saat dia hendak pulang, azan magrib berkumandang. Merasa tanggung karena sudah masuk waktu shalat, akhirnya Bu Maryam menunaikan shalat magrib terlebih dahulu di rumahnya.
Selepas shalat maghrib, Bu Maryam sudah bersiap-siap hendak pulang. Namun, saat dia memasuki kamar untuk berpamitan kepada Khodijah, aroma bau kotoran menyeruak melalui indera penciumannya. Sejenak, Bu Maryam tertegun mendapati anaknya telah buang air besar di atas kasur.
"Astaghfirullah Dijah, kenapa tidak kamu tahan dulu? Kamu, 'kan tahu kalau Ibu sedang shalat," gerutu Bu Maryam sambil pergi ke kamar mandi, mengambil air untuk membersihkan Khodijah.
Khodijah hanya bisa diam mendengar ibunya menggerutu kesal. Sebenarnya, dia tidak ingin merepotkan ibunya. Namun, semua ini di luar kehendak Khodijah. Dia sudah tidak bisa menahan lagi panggilan alam. Khodijah pun hanya mampu mengucurkan air mata.
Akhirnya, Bu Maryam menunda kepulangan. Dia membersihkan anaknya terlebih dahulu. Tidak mungkin juga dia menyuruh Habibah untuk membersihkan kotoran Khodijah. Anak itu pasti tidak akan mau.
"Ingat pulang juga kamu, Mar!" ketus Kakek Ahmad.
Bu Maryam yang sedang berjalan mengendap-endap memasuki rumah, sontak membalikkan badan. Dia cukup terkejut melihat suaminya tengah duduk bersila di ruang tengah. Padahal, selepas isya, Kakek Ahmad biasanya sudah masuk kamar.
"Ba-bapak be-belum ti-dur?" tanya Bu Maryam, terbata.
"Menurut kamu?" Kakek Ahmad masih berbicara ketus kepada istrinya.
Bu Maryam menarik napasnya panjang. Dia kemudian mendekati Kakek Ahmad dan duduk di hadapannya.
"Ibu minta maaf, Pak. Tadi sore Ibu sudah ingin pulang, tapi Khodijah minta makan dan Ibu harus menyuapi dia dulu. Setelah selesai, azan magrib berkumandang. Ya ... daripada Ibu pulang dan shalat magribnya ketinggalan, jadi Ibu putuskan shalat dulu di rumah. Selesai shalat, tiba-tiba Khodijah buang air besar. Ibu urus dulu Khodijah," papar Bu Maryam.
Kakek Ahmad sebenarnya merasa kasihan terhadap istrinya. Namun, kesusahan istrinya adalah kesusahan yang dia buat sendiri. Seharusnya, setelah anak perempuan menikah, semua tanggung jawab orang tua sudah dilimpahkan sepenuhnya kepada suami si anak.
"Lagian, salah kamu juga, Mar. Bukannya aku melarang kamu untuk menyayangi anak kamu. Tapi kamu harus ingat, anak kamu sudah menikah, sudah ada yang lebih wajib bertanggung jawab atas kehidupannya. Dan kamu sendiri? Kamu juga sudah menikah, Mar. Kewajiban kamu adalah patuh kepada suami. Melayani suami dengan baik. Sekarang aku tanya sama kamu, mana yang lebih wajib kamu urus? Dia atau aku?" tegas Kakek Ahmad.
Bu Maryam hanya bisa menundukkan kepala mendengar ucapan tegas suaminya. Dia sendiri sadar kalau dia sudah berlaku tidak adil terhadap suaminya.
"Aku benar-benar kecewa sama kamu, Mar. Kamu telah melewati batasan kamu sebagai seorang istri, hingga kamu melupakan kewajiban kamu kepada suami!"
Lagi-lagi Kakek Ahmad mengeluhkan sikap Bu Maryam yang menurutnya sudah kelewat batas. Rasa kecewa pun dia luapkan lewat amarahnya. Kakek Ahmad beranjak, dia pergi ke kamar tanpa ingin menoleh lagi ke belakang.
__ADS_1
Bu Maryam hanya bisa mematung di tempatnya. Sungguh, dia mengalami dilema yang cukup berat saat ini. Kepalanya mulai terasa pusing karena memikirkan anaknya yang tinggal sendirian di rumah. Belum lagi urusan suami yang sepertinya mulai marah karena kelalaian dia dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Astaghfirullah!"