Setelah Hujan

Setelah Hujan
Syarat Mia


__ADS_3

Menjelang isya, Yandri dan istrinya tiba di sekolah. Di sekitar kamarnya, masih ada anak-anak pengajian yang sedang menunggu mereka. Yandri dan Daniar mengerutkan kening melihat anak-anak itu masih berkeliaran.


"Kalian kok ada di sini?" tegur Daniar.


"Kami mau ngaji, Bu," jawab Dino.


Daniar dan Yandri saling pandang. Sejurus kemudian, Yandri tersenyum kepada anak-anak itu.


"Ya sudah, beri Bapak waktu lima menit ya, Bapak hendak berganti pakaian dulu. Kalian atur-atur ruangan terlebih dulu, ya," kata Yandri. "Bun, tolong kasih kunci kelasnya kepada Tian," perintah Yandri kepada Daniar.


Daniar mengangguk, dia kemudian membuka kunci pintu kamarnya. Sesaat setelah itu, dia mengambil kunci kelas yang tergantung dan menyerahkannya kepada Tian. Sedangkan Yandri, setelah membersihkan wajah di kamar mandi sekolah, dia memasuki kamar.


"Yah, apa enggak sebaiknya pengajian diliburkan saja? Ayah baru datang loh, 'kan capek?" kata Daniar.


"Enggak pa-pa, Bun. Kasihan mereka, toh sudah pada kumpul ini. Lagi pula, kebaikan itu enggak boleh ditunda-tunda," jawab Yandri.


"Hmm, ya sudah ... terserah Ayah saja. Tapi maaf, Bunda enggak bisa bantu. Kasihan Bintang, dia pasti kecapean," tukas Daniar.


"Iya, enggak pa-pa, Bunda istirahat saja," jawab Yandri.


Setelah berganti pakaian, Yandri lalu pergi ke ruang kelas untuk mengajari anak-anak mengaji.


.


.


Sudah tiga hari Raihan tidak pulang ke rumah. Bu Maryam pun semakin cemas. Dia sampai menyuruh putra angkatnya untuk mencari Raihan. Hingga di hari keempat, Raihan pulang dalam keadaan kusut. Seperti tidak terurus saja.


"Kamu dari mana saja sih, Dek? Enggak tahu apa, Kakak udah pusing nyariin kamu ke mana-mana," ketus Habibah semakin kesal


"Lah, siapa yang nyuruh, lagi pula Raihan enggak pernah minta dicariin." Raihan menjawab ucapan Habibah tak kalah ketusnya.


"Ish, jika bukan karena Ibu, enggak sudi Kakak nyari kamu. Nyusahin aja!" Kembali Habibah menggerutu dengan sangat kesal.


"Sudah-sudah. Bibah, adik kamu baru saja pulang, tidak usah dimarahi seperti itu" tegur Bu Maryam.


Habibah hanya memutar kedua bola mata saat mendapati sang ibu kembali membela adiknya. Yoga memang benar, ibu terlalu pilih kasih kepada anak-anaknya, batin Habibah. Tak ingin terlibat lebih jauh lagi, Habibah pergi ke kamarnya.


"Istirahatlah Rai, nanti kita bicara soal pernikahan kamu," ucap Bu Maryam.


Raihan tidak menjawab. Dia pergi ke kamarnya begitu saja, tanpa menghiraukan ucapan sang ibu. Sementara itu, Bu Maryam pergi ke dapur. Dia hendak menyiapkan makanan untuk putranya yang baru saja datang.


Malam harinya, Bu Maryam mengetuk pintu kamar Raihan. Setelah pintu terbuka, Bu Maryam pun masuk. Dia duduk di tepi kasur. Sedangkan Raihan, pemuda itu duduk seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Kedua matanya menatap ponsel yang sedang dia pegang.


"Rai, Ibu ingin bicara tentang pernikahan kamu sama Mia," ucap Bu Maryam membuka pembicaraan


"Jika Ibu bicara hanya untuk menentang pernikahan Raihan, Rai enggak mau mendengarnya," jawab Raihan dingin.


Bu Maryam menghela napas. "Ibu tidak akan menentang pernikahan kalian. Justru Ibu ingin bertanya, apa kalian memang sudah siap untuk menikah?" tanya Bu Maryam.


Raihan hanya bisa diam. Dia sendiri tidak tahu apa dia sudah siap atau belum untuk membina sebuah ikatan. Satu yang Raihan tahu, dia tidak akan bisa jauh-jauh dari kekasihnya.

__ADS_1


"Begini saja, Nak. Besok, ajak calon istri kamu kemari. Kita akan diskusikan rencana pernikahan kalian," pungkas Bu Maryam seraya beranjak dari ranjang Raihan.


.


.


"Bu Niar, kapan kita piknik?" tanya Reska.


"Hmm, nanti saja. Setelah kalian selesai ujian," jawab Daniar.


"Wah, masih lama dong, Bu," tukas Dino.


"Iya, Bu. Ujian, 'kan sebulan lagi," timpal Tian.


"Ya tidak apa-apa, jadi kalian masih punya waktu untuk menabung. Biar ongkos pikniknya, enggak harus minta sama orang tua kalian," jawab Daniar.


"Bener juga, ya. Tapi, jadi, 'kan kita pergi ke kolam renang Batu Alam, Bu?" tanya Tian.


"Insya Allah, jadi. Kalian nabung aja dulu yang rajin. Biar uangnya terkumpul banyak, dan enggak membebani orang tua kalian," ujar Daniar.


"Oke. Siap, Bu!" jawab Tian, Dino dan Reska berbarengan.


"Nanti, kabari anak-anak yang lainnya, ya. Yang mau ikut piknik, daftar saja dulu sama Tian," lanjut Daniar.


"Baik, Bu," jawab Reska.


"Ya sudah, sebentar lagi magrib, kalian bersiaplah untuk salat magrib berjamaah. Anak laki-laki, nanti ikut pak Yandri ke masjid, ya. Untuk anak perempuan, nanti salat di kelas saja. Biar Reska yang menjadi imamnya," perintah Daniar.


Ya, hari memang sudah sangat sore. Anak-anak putri yang hendak mengaji di sekolah, mulai mengambil air wudhu. Sedangkan anak-anak laki-laki, mereka berhamburan ke masjid untuk shalawatan.


"Ibu sedang halangan, Sayang. Ibu minta tolong ya, Nak. Kamu yang tertua di antara mereka, karena itu kamu harus bisa menjadi contoh untuk mereka," jawab Daniar.


"Baik, Bu."


.


.


Di hari Minggu yang cukup cerah. Raihan menjemput Mia ke rumahnya. Sesuai perintah sang ibu, hari ini Raihan akan mengajak Mia makan siang di rumah. Mengenalkan Mia sekaligus membicarakan tentang rencana pernikahan mereka.


Setelah mengetahui maksud kedatangan Raihan, tentu saja Mia merasa gembira. Sepertinya, restu calon ibu mertuanya sudah dia kantongi. Karena itu, sebelum pergi ke rumah calon mertuanya, Mia mengajak Raihan untuk berbelanja terlebih dahulu.


"Enggak perlu seperti ini, Mi. Kedatangan kamu saja pasti sudah membuat ibu senang," ucap Raihan saat dia melihat Mia memilih buah-buahan segar sebagai buah tangan untuk ibunya.


"Ish, enggak bisa gitu juga, Bang. Mia ingin memberikan kesan yang baik di mata ibu. Enggak mungkin juga kita datang dengan tangan kosong," jawab Mia.


"Sayang, kecantikan kamu juga sudah cukup untuk memberikan kesan yang baik buat ibu. Mana pernah ibu punya menantu yang cantik kecuali kamu," gombal Raihan.


Mia yang polos itu tersenyum senang mendengar pujian Raihan, atau lebih tepat gombalan seorang laki-laki.


"Ya sudah, yuk ah!" ajak Mia setelah membayar parsel buahnya.

__ADS_1


Raihan dan Mia kemudian menaiki sebuah bus yang sedang ngetem. Sepanjang perjalanan, senyum Mia tak pernah sirna. Sebentar lagi, dia akan resmi menjadi nyonya Raihan. Mia tidak menyangka jika mimpinya menikah dengan Raihan, akan segera terwujud.


.


.


Bu Maryam tersenyum senang saat Raihan membawa Mia ke rumah. Anak itu terlihat sopan. Senyum Bu Maryam semakin mengembang saat melihat buah tangan yang dibawa calon menantunya.


Hmm, anak itu tahu bagaimana cara menyenangkan hati orang tua. Baguslah, batin Bu Maryam.


Wanita tua itu pun semakin yakin jika Mia adalah pasangan yang cocok untuk putra bungsunya. Syukurlah, putra bungsuku tidak salah pilih seperti kakaknya. Kembali Bu Maryam bermonolog dalam hatinya.


"Ayo silakan duduk, Nak," ucap Bu Maryam kepada anak dan calon menantunya.


Raihan dan Mia duduk berdampingan di hadapan ibunya. Tak berapa lama, Habibah datang membawa minuman dan toples camilan. Setelah itu, dia pun ikut duduk di samping ibunya.


"Jadi begini, Nak Mia. Semua kakaknya Raihan telah berdiskusi dan mengambil keputusan. Minggu depan, kalian akan menikah. Tapi ..." Bu Maryam menggantungkan kalimatnya.


"Tapi ... tapi apa, Bu?" tanya Mia, terlihat cemas.


"Tapi hanya menikah siri, Mia. Nanti, setelah usia kalian cukup, kalian bisa mendaftarkan pernikahan kalian secara negara," ucap pelan Bu Maryam.


Baik Mia ataupun Raihan, mereka berdua sangat terkejut dengan keputusan yang diambil keempat kakaknya.


"Tapi, Bu. Raihan sudah bilang, Raihan dan Mia enggak mau menikah siri," tolak Raihan.


"Ibu tahu, Nak. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Apa kamu mau, kita terkena masalah dengan hukum karena dianggap telah melanggar hukum," sanggah Bu Maryam, "usia kalian itu belum pantas untuk menikah. Itu yang Aminah dan Yandri katakan. Ibu enggak mau berurusan dengan polisi, Nak," lanjut Bu Maryam.


Uuuh, Ibu ... aktingnu sungguh hebat sekali, batin Habibah menyeringai.


Mia yang masih polos, hanya bisa diam. Bayangan pernikahan mewah pun, ambyar seketika. Namun, gadis matre itu tidak mau kehilangan akal. Dia kembali tersenyum tipis saat sebuah ide muncul di kepalanya.


"Tidak apa-apa, Bu. Menikah siri pun tidak jadi masalah. Tapi, Mia punya syarat untuk Bang Raihan," jawab Mia.


"Syarat? Syarat apa, Mi?" tanya Bu Maryam.


Mia menatap kekasihnya seraya bertanya, "Abang masih ingat soal janji Abang setelah kita menikah, 'kan?"


"Iya, tentu saja Abang ingat," jawab Raihan.


"Mia mau, janji itu Abang wujudkan sebagai mahar Mia," tegas Mia


Kedua bola mata Raihan membulat sempurna mendengar perkataan kekasihnya.


"Tapi Mi, Abang janjikan itu nanti, setelah kita berumah tangga," tukas Raihan.


"Iya, Mia ngerti Bang. Tapi Abang tidak bisa menikahi Mia secara hukum. Sedangkan kita sendiri tahu jika menikah siri itu sangat merugikan kaum perempuan. Bagaimana kalau tiba-tiba Abang ngilang dan enggak mau bertanggung jawab sama Mia?" rajuk Mia.


"Penuhi saja, Rai. Lagi pula, kamu sudah berjanji. Sekarang ataupun nanti, toh janji kamu harus kamu penuhi juga. Apa bedanya?" ucap Bu Maryam kepada putranya.


Bu Maryam kembali menatap calon menantunya. Dia kemudian bertanya kepada Mia. "Memangnya, syarat apa yang kamu ajukan, Mi? Permintaan seperti apa yang harus dipenuhi anak Ibu?"

__ADS_1


"Bang Raihan sudah janji akan memberikan Mia emas putih seberat 20 gram, Bu. Sekarang, Mia minta itu sebagai mahar Mia," jawab Mia.


"Apa?!"


__ADS_2