
Malam harinya. Setelah Bintang tidur, Daniar mendekati suaminya yang sedang mengerjakan laporan SPJ.
"Sibuk ya, Yah?" tanya Daniar seraya duduk di samping sang suami.
"Enggak terlalu sibuk juga, Bun. Cuma merevisi SPJ saja," sahut Yandri.
"Bunda boleh ngomong serius enggak?" Kembali Daniar bertanya.
Jari jemari Yandri yang sedang menari di atas keyboard, seketika berhenti. Dia kemudian menatap istrinya dengan kening yang berkerut karena merasa heran.
"Ada apa, Bun? Kok sepertinya serius banget?"
"Bunda cuma mau menyampaikan amanat dari wak Tania."
"Pesan dari wak Tania? Untuk siapa?" tanya Yandri semakin tidak mengerti.
"Untuk Ayah lah, 'kan Bunda ngomong ke Ayah," tukas Daniar.
Yandri tersenyum. "Iya, Ayah cuma heran saja. Pesan apa, Bun?" tanyanya.
"Uwak nanya, katanya Ayah mau enggak, jadi guru di Maz Islamic boarding school?"
Dahi Yandri kembali berkerut. "Memangnya ada lowongan guru di sana, Bun? Bukannya untuk masuk ke sekolah itu, selektif banget, ya?"
"Bunda juga enggak tahu ada atau enggaknya lowongan guru di sana. Tapi yang jelas, uwak nungguin jawaban dari Ayah secepatnya," jawab Daniar.
Sejenak, Yandri terdiam. Jujur saja, dia sendiri masih bingung dengan tawaran yang diberikan oleh saudara mertuanya itu. Jika dilihat dari segi penghasilan, tentu saja gaji di sana lebih menggiurkan daripada di tempat dia bekerja saat ini. Namun, ada banyak risiko yang harus dia hadapi. Salah satunya, kembali berpisah jauh dengan anak dan istrinya. Dan yandri, tidak siap untuk itu.
"Gimana, Yah?" tanya Daniar membuyarkan lamunan suaminya.
"Entahlah, Bun. Ayah bingung," jawab Yandri seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Menurut Bunda?" lanjut Yandri.
"Bunda sih, terserah Ayah saja. Namun, seandainya penawaran itu terjadi sama Bunda, hmm ... Bunda mungkin akan mencobanya, Yah. Kesempatan, 'kan tidak datang dua kali. Siapa tahu saja ada jodohnya. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika mereka tidak mau berusaha?" jawab Daniar panjang lebar.
Apa yang dikatakan Daniar memang benar. Tidak ada salahnya mencoba. Orang lain harus bersusah payah ingin masuk ke tempat itu, tapi Yandri ... dia malah mendapatkan penawaran. Jadi tidak boleh di sia-siakan.
__ADS_1
"Baiklah, Bun. Besok telepon wak Tania dan katakan jika Ayah bersedia untuk menjadi guru di sana," pungkas Yandri.
.
.
Keesokan harinya, Daniar menghubungi Tania untuk membicarakan hasil pembahasan semalam.
"Assalamu'alaikum, Kak!" sapa Tania di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam. Maaf mengganggu waktunya Wak. Niar cuma mau bilang kalau kang Yandri bersedia menerima penawaran Uwak tentang bekerja di sekolah asrama tersebut."
"Ah, syukurlah kalau begitu, Kak. Ya sudah, tolong bilang sama Yandri kalau Senin depan dia harus pergi ke Jakarta untuk menjalani tes pengetahuan dan keterampilan. Kalau sudah di terminal Rambutan, suruh dia hubungi Ihsan saja. Biar nanti Ihsan yang jemput di terminal. Ngerti ya, Kak."
"Iya, Wak. Nanti Niar sampaikan sama kang Yandri."
"Ya sudah Kak, Uwak tutup teleponnya, ya. Kebetulan ini ada tamu yang tekan bel pintu."
"Baik Wak," jawab Daniar seraya menutup ponselnya.
Sejurus kemudian, Daniar mengirimkan pesan kepada suaminya terkait dengan apa yang baru saja dia bicarakan dengan Tania.
.
.
Tiba di rumah ibunya, Yandri sedikit tertegun saat melihat tetangga rumah sedang membuat benteng lahan milik ibunya. Merasa ada yang tidak beres, Yandri kemudian mendekati tetangganya itu untuk bertanya.
"Maaf, Paman? Kenapa lahannya dibentengi seperti ini, ya?" tanya Yandri kepada Pak Hamid
"Eh, kamu Yan. Iya nih, sengaja Paman benteng biar anak-anak Maryam tahu batasnya saja," sahut Pak Hamid.
Yandri mengerutkan keningnya. "Maksud Paman?"
"Gini loh, Yan? Kemarin ipar kamu datang sambil marah-marah. Dia bilang kalau Paman itu serakah dan mau menguasai tanah ibu kamu. Dia nuduh Paman merubah patok pembatas. Ya Paman, 'kan enggak terima. Ya sudah, Paman benteng aja sekalian. Biar mereka itu pada tahu mana batas antara lahan Paman sama lahan milik ibu kamu," tutur Pak Hamid.
__ADS_1
"Maaf, Paman. Tapi bukankah Paman tengah membentengi tanah milik ibu? tanya Yandri yang memang mengetahui jika lahan yang tengah diberi pembatas itu adalah lahan ibunya.
"Hahaha, rupanya kamu belum tahu, Yan. Ish si Maryam itu gimana sih, sudah aku bilang dia harus membicarakan dulu dengan semua anak-anaknya baru datang padaku," ucap Pak Hamid, ketus.
"Maksud Paman?" tanya Yandri heran.
"Jadi begini loh, Yan. Ibu kamu itu telah menjual lahan ini kepada paman. Nah, sebelum si Raihan berangkat ke Sumatera, dia datang untuk membawa uangnya. Jadi, ya sekarang lahan ini sudah jadi milik paman," jawab Pak Hamid.
Yandri hanya melongo mendengar jawaban Pak Hamid.
Sebelum Raihan ke Sumatera? Itu artinya, sudah dua tahun lebih ibunya menyembunyikan hal tersebut. Ya Tuhan ... Kenapa ibu malah menjual lahan kepada orang lain? Kenapa ibu tidak menawarkan lahan ini kepada anak-anaknya terlebih dahulu? Padahal, dulu ibu tahu jika aku pernah menginginkan lahan itu dan berniat untuk membelinya. Tapi kenapa ibu malah menjualnya kepada pak Hamid? batin Yandri yang begitu kecewa akan sikap ibunya.
Saat Yandri masih tertegun dalam rasa kecewanya. Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depan rumah ibunya. Yandri menoleh dan tersenyum saat melihat si pengendara motor tersebut. Alhamdulillah, rupanya Raihan sudah ada kemajuan, batin Yandri.
Tak ingin terlalu larut dalam rasa kecewanya, akhirnya Yandri mencoba mengikhlaskan tanah yang menjadi impiannya untuk membangun rumah di sana. Dia kemudian pamit kepada Pak Hamid. Lantas ikut bergabung bersama ibunya yang sudah menyambut Raihan dan Mia terlebih dahulu.
"Wah, motor baru nih," goda Yandri
"Eh, iya Bang," jawab Raihan, kikuk.
"Alhamdulillah Rai, Abang bersyukur karena tidak sia-sia kamu hidup di perantauan selama dua tahun. Akhirnya kamu bisa meningkatkan perekonomian keluarga kamu," ucap Yandri dengan tulus.
"I-iya, Ba-bang," jawab Raihan terbata.
"Oh iya, ngomong-ngomong, kapan kamu mau bayar tunggakan saldo istri kamu? Jujur saja, Rai ... Abang enggak enak sama si pemilik server," jawab Yandri yang menagih utang adiknya saat berada di Sumatera dulu.
Raihan tersentak. Dia pikir, Yandri telah melupakan semua utang-utangnya. Karena itu Raihan membeli motor dari semua uang hasil usahanya. Sejenak, dia menatap ibunya untuk meminta bantuan.
"Ish, Yan. Perekonomian Adikmu baru saja merangkak, kok kamu malah membahas utang, sih. Lagi pula, yang ngutang itu adik kamu, bukan orang lain. Ibu tahu, kamu bersikap seperti ini karena hasutan istri kamu, 'kan? Huh, emang ibu enggak pernah habis pikir sama sikap istri kamu itu, Yan." Tiba-tiba ibunya mendengus kesal.
"Eh, kok Ibu jadi bawa-bawa Daniar, sih? Ini sama sekali tidak ada hubungannya sama Daniar. Yandri tagih utang ke Raihan, karena memang Raihan janji akan membayarnya setelah dia pulang dari Sumatera," jawab Yandri.
"Huh, alasan saja. Sudah, enggak usah ditutup-tutupi lagi. Istri kamu itu emang enggak pernah suka kalau Raihan dan Mia bahagia. Ayo masuk Raihan, Mia!" pungkas Bu Maryam seraya mengajak anak dan menantunya masuk ke rumah.
"Maaf Bang, Rai sama Mia masuk dulu," timpal Raihan seraya meraih tangan Mia dan melewati Yandri begitu saja.
__ADS_1
Astaghfirullahaladzim ... kenapa semuanya seperti ini? Kenapa dengan mudahnya ibu dan Raihan melupakan semua janjinya? Apa yang pernah disampaikan Daniar ternyata benar. Mereka pasti melupakan utangnya saat telah memiliki uang.
Perasaan bersalah semakin menyesak di hati Yandri. Rasa sesal kembali menyeruak. Demi memenuhi permintaan Raihan, dia sampai menelantarkan anaknya yang tengah sakit. Namun, balasan Raihan ternyata seperti ini. Yandri hanya tersenyum kecut saat menyadari semua kebenaran tentang adiknya.