
Tanpa sengaja, Yandri melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana sang ibu memperlakukan Daniar. Dan seperti biasanya, karena rasa hormat terhadap ibunya, Yandri mencoba bersabar meskipun dalam hati dia tidak terima ketika istrinya kembali disalahkan.
Sabar, Bun. Ayah tahu Bunda wanita yang sangat kuat, batin Yandri. Karena itu Yandri segera mengajak istrinya pergi dari rumah ibunya.
.
.
Tidak ada kalimat perpisahan yang terucap dari bibir pasangan itu. Satu yang mereka tahu, ini sudah menjadi suratan takdir yang harus mereka lalui. Baik Yandri ataupun Daniar, mereka sama-sama belajar untuk saling mengikhlaskan.
"Jaga diri baik-baik ya, Bun. Tolong didik Bintang dengan baik di saat Ayah tidak bersamanya," pesan Yandri kepada istrinya.
Daniar mengangguk. "Ayah juga jaga diri baik-baik di sana. Jangan lupa makan, meskipun kegiatan padat," balas Daniar.
Yandri tersenyum. Sedetik kemudian dia mengecup kening Daniar dan memeluknya.
Setelah berpamitan kepada mertuanya, Yandri pun menaiki taksi online yang telah dipesan. Pagi ini, dia hendak pergi ke Jakarta untuk mengikuti rombongan guru yang akan diberangkatkan dari kota Jakarta ke Cirebon.
Pukul 1 siang, Yandri tiba di kantor pusat. Tempat di mana dia melaksanakan tes akademik dua minggu yang lalu. Bersama para guru yang lainnya, Yandri diberikan kesempatan untuk beristirahat sembari menunggu guru-guru yang belum datang.
"
Dari daerah mana, Tadz?" tanya seorang pria berdasi.
"Saya dari Tasikmalaya," jawab Yandri.
"Oh. Perkenalkan, nama saya Danny dari Jakarta Pusat," lanjut pria itu seraya mengulurkan tangan.
"Yandri. Saya Yandri Gunawan," balas Yandri seraya menjabat tangan pria berdasi yang kini menjadi teman ngobrolnya.
Menjelang sore, semua guru yang berhasil lulus tes akademik telah berkumpul. Pak Adit sebagai koordinator penanggung jawab penerimaan guru baru, mulai memberikan pengarahan kepada para guru yang hendak diberangkatkan malam ini. Tak lupa Pak Alam selaku pengawas, juga memberikan wejangan dan motivasi kepada para guru baru agar mereka bisa mudah beradaptasi dengan lingkungan di sana. Hingga setelah menunaikan salat magrib, para guru pun mulai memasuki bus yang telah disediakan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Sebelum kita berangkat, marilah kita bersama-sama membacakan do'a terlebih dahulu!" seru Pak Adit yang tengah berdiri di antara barisan jok samping untuk memimpin do'a.
"Subhaanal ladzii sakh khoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin. Wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun."
Para penumpang Bus serempak bermunajat untuk memohon perlindungan atas perjalanan yang akan mereka lalui malam ini. Tak lama kemudian, mobil pun melaju membelah jalanan ibu kota di malam hari.
Yandri mengeluarkan ponselnya. Jari-jemarinya menari lincah di atas keypad. Rupanya dia sedang mengetik pesan kepada istrinya.
.
.
Rasanya, ada sesuatu yang hilang dalam hidup Daniar sejak suaminya pergi. Namun, apa yang dilakukan suaminya tidak lain untuk masa depan dia dan anak mereka juga. Daniar harus bisa bersabar dengan perpisahan ini. Karena dia yakin, perpisahan ini bukan untuk selamanya.
Ting!
__ADS_1
Sebuah notifikasi whatsapp masuk. Daniar meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Bibirnya tersenyum saat mengetahui orang yang telah mengirimkan pesan. Daniar pun mengusap layar ponselnya untuk membaca pesan dari yandri.
Assalamu'alaikum, Bun.
Bus yang ditumpangi Ayah sudah berangkat. Minta do'anya agar kami tiba di tempat tujuan dengan selamat. Aamiin
Dari Ayah
Daniar membalas pesan suaminya.
Tentu saja, Yah. Ke mana pun kaki Ayah melangkah, do'a Bunda selalu menyertai. Semoga Allah SWT selalu melindungi Ayah di mana pun Ayah berada. Aamiin.
Dari Bunda
Untuk sejenak, mereka saling berbalas pesan dan bercerita tentang seharian yang harus mereka lewati tanpa kehadiran pasangan. Aneh memang, tapi mereka harus membiasakan diri agar menjadi terbiasa.
Pukul 21.00, Bu Salma memasuki kamar putrinya yang masih terlihat terang benderang. Bu Salma kemudian mengetuk pintu kamar anaknya.
"Masuk saja, pintunya enggak dikunci kok," jawab Daniar dari dalam kamar.
Bu Salma membuka pintu kamar Daniar. Tampak ibu satu anak itu sedang menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang.
"Belum tidur, Ni?" tanya Bu Salma.
"Belum Bu, ini Niar habis chatingan sama kang Yandri," jawab daniar.
"Sudah dari tadi, Bu. Ba'da magrib," jawab Daniar lagi.
"Sekarang sudah sampai mana?"
"Terakhir kang Yandri kirim pesan, katanya sih sudah memasuki tol."
"Semoga semuanya selamat sampai tujuan ya, Ni."
"Aamiin."
"Ya sudah, tidurlah!" pungkas Bu Salma seraya membenarkan selimut cucunya.
Daniar mengangguk. Dia mulai merebahkan tubuhnya seraya memejamkan mata. Tak lama berselang, indera pendengarannya menangkap bunyi pintu yang tertutup. Sepertinya ibunya sudah keluar dari kamarnya.
Entah berapa lama daniar tertidur. Hingga dering telepon yang nyaring membangunkan dirinya.
Ish, siapa yang menelepon tengah malam begini? batin Daniar seraya meraih kembali ponselnya dari atas nakas. "Ayah?!" gumamnya.
Daniar menggeser tombol hijau untuk menerima telepon dari suami.
"Assalamu'alaikum, Yah! Sudah sampai?" tanya Daniar.
__ADS_1
"Bun, kak Nauval masuk penjara," jawab Yandri dengan nada suara bergetar.
"Apa?!" pekik Daniar yang seketika langsung menegakkan tubuhnya. "Apa maksud Ayah? Bagaimana bisa kak Nauval berada di penjara?" tanya Daniar.
"Ayah juga tidak tahu, tapi barusan kak Laila nelepon dan bilang kalau polisi menangkap kak Nauval," jawab Yandri.
"Memangnya kak Nauval terlibat apa, sampai bisa berurusan dengan polisi?" tanya Daniar.
"Entahlah, Bun. Suara kak Laila enggak jelas. Di dalam bus terlalu berisik tadi."
"Sekarang Ayah di mana?" tanya Daniar
"Ini baru keluar tol, Bun. Sedang istirahat di rest area," jawab Yandri.
"Terus?" lanjut Daniar.
"Ayah harus kembali, Bun. Kak Laila minta bantuan Ayah untuk mengurus kebebasan kak Nauval," balas Yandri.
Daniar terdiam. Seketika dia ingat amanah nek Hajjah Minah. Saat itu, nek Hajjah Minah pernah berkata kepada Daniar.
"Orang yang akan memasuki sekolah asrama di sana, pasti akan menghadapi ujian masuk, Neng. Entah itu ujian yang datang dari dirinya sendiri, keluarga, sahabat terdekat, atau orang jauh. Satu yang harus kita ingat. Ketika tekad kita sudah bulat, abaikan gangguan itu. Karena itu hanya sekedar bisikan syaiton yang akan menggoyahkan keyakinan kita."
"Hallo, Bun! Bunda masih bisa mendengar Ayah, 'kan? Sepertinya sinyal di sini mulai buruk."
Panggilan Yandri seketika membuyarkan lamunan Daniar tentang amanah neneknya.
"Iya, Yah. Suara Ayah masih terdengar jelas," jawab Daniar.
"Ya sudah, kalau begitu Ayah mau menemui pak Adit dulu, Bun. Sepertinya Ayah tidak jadi ikut ke asrama malam ini," kata Yandri.
"Tunggu, Yah! Pikirkan dulu baik-baik, jangan asal mengambil tindakan. Bunda ingat kalau nek Hajjah pernah bi–"
Tut-tut-tut!
Sambungan telepon terputus karena buruknya sinyal. Seketika kepala Daniar terasa berat. Dia sangat yakin jika apa yang sedang suaminya hadapi saat ini, merupakan bentuk ujian yang akan menguji sejauh mana keyakinan suaminya untuk memasuki sekolah asrama itu. Sekolah asrama pendidikan yang sebenarnya didirikan oleh para pejuang untuk melanjutkan perjuangannya dalam menegakkan Islam.
"Jika kita ingin berjihad, tentu saja harus memiliki keyakinan yang kuat. Dan kuatnya keyakinan itu akan terlihat jika kita bisa lulus melewati ujian batiniah." Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga Daniar.
Ya Tuhan ... tolong berikan suami hamba Petunjuk-Mu, batin Daniar.
Daniar beranjak dari atas ranjang. Dia berjalan mondar-mandir seraya memegang erat ponselnya.
"Ish, apa yang harus aku lakukan?" gumam Daniar.
Tiba-tiba, ponsel di tangannya kembali berdering. Daniar membaca id name si pemanggil.
"Wak Tania? Subhanallah ... aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Terima kasih ya Allah ...."
__ADS_1
Daniar kembali menggeser tombol hijau. "Assalamu'alaikum, Wak!"