Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kehilangan Jejak


__ADS_3

Rasa gundah gulana terus mengiringi perjalanan Yandri ke rumah ibunya. Bahkan, sepanjang menaiki bus, rasa sesak semakin menghimpit dadanya. Entah apa yang akan terjadi jika sampai dia tidak bisa menemukan anak dan mantan istrinya. Yandri pun tidak sanggup untuk membayangkan hal itu.


Turun dari bus. Yandri segera menaiki ojek menuju rumahnya. 20 menit melewati jalanan terjal dan memanjak, Yandri tiba juga di depan pintu rumah ibunya.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri.


Bu Maryam yang sedang menonton televisi, sontak menoleh begitu mendengar suara yang teramat dirindukannya. Dia pun beranjak pergi untuk membuka pintu depan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Maryam penuh semangat.


Ceklek!


Pintu terbuka. Tak ayal lagi, Bu Maryam menghambur ke arah Yandri dan memeluknya. Tak ada kalimat kerinduan yang mampu wanita tua itu ucapkan. Hanya ada pelukan hangat seorang ibu yang selalu Yandri rindukan.


Apa harus terpisah begitu jauh, untuk mendapatkan kehangatan ini kembali? Apa harus berpisah begitu lama, untuk bisa merasakan artinya dirindukan? batin Yandri dalam hatinya.


"Apa kabar, Bu?" bisik Yandri dengan suara serak karena menahan tangis kebahagiaan.


Bu Maryam mengurai pelukannya. "Alhamdulillah, kabar Ibu baik-baik saja, Nak. Kamu sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah, sehat."


"Masuklah, kamu pasti capek setelah melewati perjalanan jauh," ajak Bu Maryam. "Loh, di mana tas kamu?" imbuhnya.


"Yandri enggak bawa tas, Bu," jawab Yandri.


Prasangka buruk langsung menggelayut dalam pikiran Bu Maryam.


"Jangan kamu bilang, kamu pulang ke rumah istri kamu?" ucap Bu Maryam.


"Jadi Ibu tahu di mana rumah Daniar sekarang? Alhamdulillah ... syukurlah. Emh, apa Ibu bisa kasih tahu di mana alamatnya?" cecar Yandri.


Eh, apa maksudnya ini? batin Bu Maryam, mengernyitkan keningnya.


Yandri memasuki rumah. Diikuti oleh ibunya. Sedetik kemudian, keduanya duduk berdampingan.


"Sudah Yandri duga, Ibu pasti tahu alamat rumah Daniar yang baru," lanjut Yandri.


Kening Bu Maryam semakin mengernyit. "Maksud kamu?"


"Tadi Yandri datang ke rumah Bu Salma, tapi ternyata, rumah itu sudah dijual kepada orang lain. Dan sayangnya, orang itu pun tidak tahu di mana Bu Salma berada saat ini," tutur Yandri. "Jadi, di daerah mana anak dan istri Yandri tinggal sekarang, Bu?" imbuhnya.


Mendengar kata istri. Bu Maryam sontak berdiri.


"Mantan istri, Yandri! Jangan lupa kalau kamu telah menceraikannya. Jadi dia hanya mantan istri kamu!" tegas Bu Maryam seraya menunjuk batang hidung putranya.


"Iya, Bu. Maaf," jawab Yandri. "Lalu, bisakah Ibu memberi tahu Yandri alamat rumah mereka yang sekarang?" pinta Yandri.


"Ibu tidak tahu!" ketus Bu Maryam.


"Apa maksud Ibu tidak tahu? Bukankah setiap bulan Ibu selalu mengirim uang untuk Bintang, harusnya Ibu tahu, 'kan?"

__ADS_1


Deg-deg-deg!


Jantung Bu Maryam berdetak tak beraturan ketika menyadari kesalahannya.


Ish, kenapa bisa keceplosan seperti ini? Gawat! Jangan sampai Yandri tahu kalau aku tidak pernah memberikan uang itu kepada anaknya. Bu Maryam kembali bermonolog dalam hatinya.


"Eh, i-iya ... I-ibu ki-rimkan, tapi enggak ke rumahnya, Yan. I-ibu temui anak kamu di sekolahnya," jawab Bu Maryam terbata-bata.


Sekolah? Ah, ya ... kenapa tidak kepikiran untuk menemui Bintang di asramanya, batin Yandri.


Mendapatkan secercah harapan, Yandri pun berpamitan kepada ibunya.


"Eh, mau ke mana kamu, Yan?" tanya Bu Maryam.


"Yandri mau cari anak dan istri ... maksud Yandri, mantan istri Yandri, Bu," jawab Yandri meralat ucapannya.


"Lah, kamu, 'kan baru pulang, Yan. Emang kamu enggak kangen sama, Ibu?" rajuk Bu Maryam.


"Tenang saja, Bu. Yandri cuti panjang. Jadi kita punya banyak waktu untuk bersama. Sekarang, yang lebih penting adalah mencari keberadaan Bintang dan ibunya dulu. Oh ya, Bu. Yandri pinjam mobilnya sebentar. Di mana kuncinya?"


Bu Maryam hanya mampu menunjukkan kunci mobil yang tergantung. Dia benar-benar shock melihat kekhawatiran Yandri akan anak dan mantan istrinya.


Yandri segera menyambar kunci mobil. Lepas itu, dia mencium kening bu Maryam seraya meminta restu.


"Do'akan Yandri supaya bisa segera menemukan mereka, Bu" pungkasnya.


Yandri tidak menunggu jawaban ibunya. Tak ingin membuang waktu lagi, dia pun segera melajukan mobilnya.


Saat tengah melintas di depan rumah pak Agus, tanpa Yandri sadari, sepasang mata tengah mengawasinya semenjak dia mengeluarkan mobil dari halaman rumah ibunya.


Karena merasa penasaran, Habibah segera pulang.


"Bu! Ibu!" Tiba di rumah ibunya, Habibah berteriak-teriak memanggil sang ibu.


Ketika Habibah sampai di ruang tamu, dia sedikit tertegun melihat sang Ibu sedang duduk melamun. Kening Habibah mengernyit, apa gerangan yang terjadi pada ibunya, sehingga wanita tua itu seperti sedang terhanyut dalam sebuah pemikiran yang cukup dalam.


"Bu!" panggil Habibah sembari menyentuh pundak ibunya.


Wanita tua itu terhenyak. Sontak dia menoleh saat mendapati tepukan di pundaknya.


"Ibu kenapa melamun? Apa ada suatu hal yang menjadi beban pikiran Ibu?" tanya Habibah.


"Yandri ... pulang, Bah," jawab lirih Bu Maryam.


"Benarkah?" pekik Habibah. "Lalu, di mana dia?" tanyanya.


Diam. Bu Maryam hanya diam mendengar pertanyaan Habibah.


"Tunggu! Apa jangan-jangan ... orang yang mengeluarkan mobil Ibu ... dia adalah Yandri?" tebak Habibah.


Bu Maryam mengangguk pelan.

__ADS_1


.


.


Fokus Yandri hanya satu. Menemukan anak dan mantan istrinya. Karena itu, Yandri melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Satu jam berlalu, Yandri tiba di sekolah Bintang. Sekolah terlihat sepi, karena memang masa para siswa tengah menjalani liburan akhir sekolah. Dengan langkah tergesa-gesa, Yandri melangkahkan kaki menuju sekretariat santriwati.


Tok-tok-tok!


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri, mengetuk pintu ruang sekretariat.


"Wa'alaikumsalam. Silakan masuk, Pak!" jawab seorang ustadzah yang sedang tugas piket.


Yandri memasuki ruang sekretariat. Dia pun duduk setelah ustadzah tersebut mempersilakan Yandri untuk duduk.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Ustadzah Yeni.


"Perkenalkan, nama saya Yandri Gunawan. Saya wali dari santriwati yang bernama Bintang Azura," tutur Yandri.


Ustadzah Yeni mengernyitkan keningnya. Dia merasa asing dengan nama santriwati yang disebutkan oleh tamunya.


"Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, di kamar berapa putri Bapak mondok?" tanya Ustadzah Yeni.


Yandri hanya bisa menggaruk kepalanya karena memang tidak mengetahui nomor kamar putrinya. Huh, aku benar-benar ayah yang buruk, keluhnya dalam hati.


"Maaf Ustadzah, saya kurang tahu," ucap Yandri, dengan rasa malu yang sulit untuk diungkapkan, "tapi putri saya bersekolah di sini juga, Ustadzah," imbuhnya.


"Oh, sebentar!"


Ustadzah Yeni membuka loker administrasi santriwati. Namun, dia tidak menemukan data atas nama Bintang Azura. Tak lama kemudian, Ustadzah Yeni membuka sebuah lemari yang menyimpan berkas lama. Dia pun menemukan map berwarna hijau bertuliskan nama Bintang Azura.


Ustadzah Yeni membuka map tersebut. Setelah menelaahnya beberapa detik, dia kembali ke ruang tamu untuk menghampiri Yandri.


"Maaf, Pak. Sepertinya putri Bapak sudah tidak bersekolah di sini lagi," ucap Ustadzah Yeni.


Yandri terkejut. "Maksud Ustadzah?"


"Putri Bapak mengajukan pindah di kelas 8 semester dua," sahut Ustadzah Yeni.


"Apa?!" pekik Yandri, "tapi kenapa?" Yandri kembali bertanya.


"Menurut keterangan di sini, putri Bapak ikut orang tuanya pindah," jawab Ustadzah Yeni.


Yandri semakin terkejut mendengar jawaban Ustadzah Yeni.


"Apa Ustadzah tahu, ke SMP mana putri saya pindah?" tanya Yandri lagi.


"Waduh, mohon maaf Pak. Kami tidak tahu soal itu. Sebaiknya Bapak tanyakan hal tersebut ke pihak sekolah," saran Ustadzah Yeni.


"Baik Ustadzah. Terima kasih atas informasinya. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Yandri.

__ADS_1


Keluar dari ruang sekretariat santriwati, Yandri melangkahkan kaki menuju ruang administrasi SMP Al-Furqon. Namun, di sana dia harus menelan kekecewaan karena tidak ada guru piket yang berjaga di hari Sabtu.


Entah permainan takdir seperti apa yang harus dia alami saat ini. Seolah dia telah kehilangan jejak keluarganya. Sedikit pun, Yandri tidak bisa menemukan titik teramg. Anak dan istrinya tiada, seakan hilang di telan bumi.


__ADS_2