
Entah kenapa malam ini Habibah tidak mampu memejamkan kedua matanya. Kalimat Siska yang menuduh Bahar menyimpan perasaan untuk perawat itu beberapa minggu yang lalu, masih terus menggaung di telinganya. Memang benar, apa yang dilihat Habibah tiga bulan terakhir ini, sangatlah berbeda. Bahar lebih perhatian kepada ibunya.
Habibah tidak mempermasalahkan perhatian Bahar terhadap ibunya. Namun, perhatian yang diberikan Bahar kepada Suster Yuna, sungguh membuat hati Habibah meradang. Ya Tuhan ... semoga dugaan Siska meleset, batin Habibah seraya memejamkan kedua matanya.
.
.
Beberapa hari berlalu. Hari ini, entah kenapa Bahar sudah pulang mengojek meskipun hari masih siang.
"Apa itu?" Tunjuk Habibah pada plastik berwarna putih yang berlogokan sebuah minimarket.
"Oh, ini pembalut," jawab Bahar.
Habibah menautkan kedua alisnya. Dia tidak meminta suaminya untuk membelikan benda itu, karena memang dia tidak sedang haid.
Karena merasa penasaran, Habibah kembali berkata, "Bibah tidak sedang haid, Kang."
"Oh, ini bukan punya kamu, Bah," jawab Bahar.
"Lantas?"
"Ini punyanya Yuna. Tadi pagi dia telepon Akang dan minta dibelikan ini. Katanya dia sedang datang bulan dan pembalutnya habis," tutur Bahar tanpa merasa malu.
Amarah Habibah langsung memuncak. Tanpa banyak bicara, wanita itu mengayunkan langkahnya menuju rumah Bu Maryam.
Habibah dikuasai emosi tinggi. Dia masuk begitu saja ke kamar ibunya. Habibah telah kehilangan rasa sopannya hingga dia nyelonong memasuki kamar Bu Maryam tanpa salam ataupun ketukan pintu.
"Sini kamu!" ucap Habibah, seraya mencekal pergelangan tangan Yuna dan menyeretnya keluar kamar.
Brugh!
Habibah menghempaskan pergelangan tangan Suster Yuna hingga gadis muda itu terjatuh.
"Adikku menyewa kamu untuk merawat ibu, bukan untuk menjadi majikan di sini. Jangan ngelunjak kamu, ya!" ucap Habibah, geram.
Suster Yuna terkejut dengan perlakuan Habibah. Dia sendiri merasa kebingungan dengan apa yang diucapkan Habibah kepadanya. Sesaat kemudian, Suster Yuna berdiri.
"Maaf, Mbak. Saya tidak mengerti maksud Mbak," timpal Suster Yuna.
"Lalu apa ini?" Habibah mengangkat sebuah kantong plastik yang tadi dibawa suaminya. "Punya hak apa kamu menyuruh suamiku untuk membelikan pembalut, hah? Apa kamu tidak punya malu, sehingga berani menyuruh suami orang untuk membelikan barang yang bersifat pribadi? Cih, gadis seperti apa dirimu, sampai-sampai berani menggoda suami orang di rumah mertuanya sendiri!" cecar Habibah mengejek Suster Yuna.
"Jaga bicaramu, Mbak!" teriak Suster Yuna.
"Kau yang seharusnya menjaga sikapmu!" balas Habibah tak kalah berteriak keras.
__ADS_1
"Dengar ja'lang ingusan, jangan kamu pikir aku tidak pernah memperhatikan kelakuan kamu di belakangku. Cih, perempuan tak bermoral! Mana ada seorang perempuan baik-baik berani keluar malam-malam hanya untuk melayani kegilaan si Raihan, hah! Aku diam karena aku tidak ingin rumah tangga adikku hancur gara-gara kamu, tapi jangan harap aku bisa diam jika kamu mengusik rumah tanggaku," geram Habibah.
"Apa?!" pekik Mia yang sudah berdiri di ambang pintu.
Habibah dan Yuna menoleh. Mereka sangat terkejut melihat Mia dan Siska berdiri di sana.
"Ja-jadi kamulah selingkuhan bang Raihan, hah? Kamu yang setiap malam membuat bang Raihan mengendap-endap keluar rumah. Dasar perempuan brengsekk! Kamu menjadi la'cur di rumah orang yang sudah menggaji kamu. Benar-benar tidak tahu diri kamu! Perempuan hina!"
Mia sangat emosi mendengar ucapan kakak iparnya. Selama ini dia memang sudah mencium gelagat Raihan yang seperti memiliki wanita idaman lain. Namun, Mia tidak menyangka jika wanita itu adalah suster yang merawat ibu mertuanya.
Dengan penuh emosi, Mia melayangkan sebuah tamparan kepada Suster Yuna. Tidak cukup sampai di sana, wanita bertubuh mungil itu menjambak rambut Suster Yuna. Kukunya yang tajam mulai memcakar wajah putih mulus itu hingga berdarah. Umpatan dan sumpah serapah terus meluncur bebas untuk perawat itu.
Untuk beberapa menit, Bahar mematung melihat pergulatan Mia dan Suster Yuna. Sedangkan Habibah dan Siska, kedua perempuan itu sama sekali tidak berniat untuk melerai Mia dan Suster Yuna. Hingga ketika melihat Suster Yuna mulai kewalahan, Bahar pun berusaha menghentikan kebrutalan Mia.
"Hei, apa-apaan ini. Cukup!" teriak Bahar seraya menarik pergelangan Mia dan menahannya.
"Lepaskan aku! Akan aku habisi perempuan ja'lang itu, lepaskan aku!" teriak Mia, terus meronta.
Tiba-tiba ....
Brugh!
Sebuah tas besar yang sudah terisi barang, terlempar di samping Suster Yuna yang sedang duduk dengan wajah dan rambut acak-acakan.
Perawat itu tidak bisa menyangkal semua tuduhan Habibah. Karena apa yang dikatakan Habibah memang benar adanya. Rayuan Raihan dan sikap manisnya telah membuat Suster Yuna berbuat nekat melayani hasrat terlarang pria itu.
Terlebih lagi, wajah Raihan yang mirip Yandri, membuat Suster Yuna sering berfantasi liar dengannya. Ya, kebaikan dan ketampanan Yandri telah mengungkung Suster Yuna dalam perasaan cinta yang tidak mungkin dia raih.
Masih terekam jelas dalam ingatan Suster Yuna ketika Yandri bercerita tentang mantan istrinya. Terlihat jika pria dewasa itu begitu mencintai sang mantan. Karena rasa kecewa, Yuna pun berbuat nekat melayani perasaan Raihan.
Dengan sedikit kekuatan yang masih tersisa, Suster Yuna meraih tas besarnya. Sesaat kemudian, dia pun berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar Bu Maryam. Bagaimanapun, Suster Yuna tidak ingin pergi tanpa berpamitan dan meminta maaf kepada orang yang telah dia rawat.
"Mau ke mana kamu?" tanya Siska, sinis.
"I-izinkan saya bertemu ibu sebelum saya pergi," pinta Suster Yuna seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Tidak bisa!" cegah Habibah kembali menarik tangan Yuna, "ibu tidak akan pernah sudi bertemu wanita tidak tahu diri seperti kamu. Enyah kamu dari sini! Pergilah!" Usir Habibah seraya menyeret dan mendorong tubuh Yuna keluar rumah.
Bukan hanya Habibah, Mia juga melempar koper milik Yuna supaya perawat itu enyah dari rumah mertuanya.
"Pergi kamu dari sini! Pergi!"
Lengkingan keras suara Mia sampai terdengar ke kamar Bu Maryam. Wanita renta yang sedari tadi mendengar keributan di ruang tamu, hanya bisa menitikkan air mata.
Dia tidak menyangka dengan prahara yang terjadi di rumah tangga kedua anaknya. Prahara yang entah akan berujung seperti apa. Bu Maryam hanya bisa menahan sesak di dadanya. Wanita tua itu pun mulai menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Ya Tuhan ... semua ini karena aku. Seandainya aku tidak sakit seperti ini, rumah tangga Habibah dan Raihan pasti akan baik-baik saja, batin Bu Maryam.
.
.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Semuanya telah terjadi. Sejak Suster Yuna pergi, Habibah lah yang bertanggung jawab untuk merawat Bu Maryam.
Hubungan Mia dan Raihan semakin memanas. Mia mengusir Raihan dari rumah orang tuanya. Tidak sampai di sana, ibu muda beranak tiga itu mengajukan gugatan cerai untuk suaminya.
Dan Bahar ....
Cinta Bahar kepada Suster Yuna sepertinya tidak main-main. Sejak Suster Yuna diusir, Bahar pun memilih keluar rumah demi mengejar cinta Suster Yuna.
Sikap Bahar semakin membuat emosi Habibah menjadi labil dan cepat marah.
"Cukup, Siska! Kamu tidak bisa mengalahkan Kakak karena sudah mengusir perempuan gila itu. Toh setelah dia pergi, kamu sendiri menikmati uangnya Yandri."
Habibah mendengus kesal ketika dia mengeluhkan keadaan di rumahnya, dan Siska malah menghakimi perbuatannya beberapa bulan lalu.
"Aku tidak menyalahkan kamu, Kak. Kita memang harus mengusir perempuan itu, tapi nanti, setelah kita mendapatkan ganti suster lain untuk merawat ibu," dalih Siska.
"Huh, memangnya kapan kamu bilang seperti itu padaku? Mungkin aku memang bodoh dan tidak lancar membaca, tapi aku tidak pikun Siska! Aku tidak ingat kapan kamu mengatakan hal itu. Yang aku ingat, justru kamu yang telah memprovokasi aku supaya menggantikan perawat itu untuk merawat ibu dan mengambil gaji dari Yandri. Iya, 'kan?" bentak Habibah.
Siska diam. Dia sadar jika kakak iparnya sedang dikuasai emosi. Sebaik apa pun dia berkata, semuanya pasti akan tetap salah untuk saat ini.
"Lantas, apa yang ingin Kakak lakukan sekarang? Apa Kakak akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada Yandri?" tanya Siska.
"Tidak! Yandri tidak boleh tahu sebelum kita mendapatkan suster pengganti. Tiga bulan lagi penelitian dia selesai dan mungkin akan menyempatkan diri untuk pulang. Sebelum dia pulang, kita masih punya waktu untuk menikmati uang gaji perawat sialan itu. Sekarang, giliran kamu yang merawat ibu!" tegas Habibah.
"Apa?!" pekik Siska, terkejut. "Kenapa harus Siska yang merawat ibu?" tanyanya dengan wajah cemberut.
"Ayolah, Sis ... kamu tunangannya Yandri. Dan ibuku sebentar lagi akan menjadi ibu mertua kamu. Jadi, kamu pun punya kewajiban untuk merawatnya," kata Habibah.
"Tapi Kakak ...!" protes Siska.
"Hanya untuk tiga bulan saja, Sis. Aku sudah mengurusnya selama tiga bulan, dan sekarang giliranmu. Aku tidak menerima penolakan, besok tolong jemput ibu kemari, atau ... mau dibawa sekarang?" ledek Habibah.
"Huh, enak saja! Sekarang aku enggak ada persiapan. Besok saja!" gerutu Siska kesal.
Habibah hanya menyeringai mendengar gerutuan calon adik iparnya.
Di dalam kamar, lagi-lagi Bu Maryam menitikkan air mata. Entah kenapa dia merasa kalau Siska pun akan memperlakukan dirinya sama seperti Habibah memperlakukannya.Selalu menggerutu, seakan tidak pernah ikhlas merawat dirinya.
Ya Tuhan ... aku sudah seperti bola sepak saja yang ditendang ke sana kemari, batin Bu Maryam, pilu.
__ADS_1