Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kantor


__ADS_3

" Yuna " teriak seorang wanita yang memecah keheningan.


"Apa?" Setengah berteriak.


"Kau dipanggil Wakil Direktur" Berlari menghampiri Yuna.


"ahhh Sial tua bangka itu mau apalagi?" Batin Yuna.


Yuna Segera ke ruang wakil Direktur berjalan menghentakkan kakinya dilantai sambil menendang udara.


"Nauren bisakah kau meminjamkan penutup kuping mu" Yuna Berhenti tepat didepan meja Nauren.


" Oke, wait " Nauren sambil mengambil penutup telinga di dalam laci mejanya.


"Thank You" Yuna kembali berjalan ke ruangan wakil Direktur sambil membuang nafas dengan kasar.


"Semangat" Teriak beberapa rekan kerja Yuna yang memberi semangat. Yuna hanya tersenyum menanggapi teriakan beberapa rekan kerjanya.


Tot


tok


tok


Cklek Bunyi suara pintu yang di buka Yuna Setelah memastikan dirinya dipersilahkan masuk oleh di empunya ruangan.


" Yuna, apa kau tau kenapa saya memanggil kamu kemari?"


"kalau saya tau mungkin saya tidak akan kemari". Batin Yuna.


"apa saya membuat kesalahan Pak?" Jawab Yuna.


"ini yang kamu bilang laporan? apa saya harus mengajarkan kamu membuat laporan? atau saya suruh kembali ke Universitas untuk belajar membuat laporan? Ha?


Wakil Direktur setengah berteriak kepada Yuna sambil melemparkan laporan yang tepat mengenai tubuh Yuna.


" Aghhh sial, belum tentu tua bangka ini bisa membuat laporan yang sempurna". Guman Yuna yang tidak terdengar oleh wakil Direktur.


"Maafkan saya Pak, saya akan segera memperbaikinya"


Jawab Yuna sambil mengambil laporan yang berada di atas sepatunya.


"Saya beri waktu sampai besok pagi, lakukan survei ulang di toko cabang jalan A. kalau kau masih membuat kesalahan saya pastikan kau akan menyesal" Jawab wakil Direktur dengan nada mengancam.


"Baik Pak, jawab Yuna Sambil membungkukkan badan.


"kamu boleh keluar dan lanjutkan pekerjaan mu" perintah wakil Direktur.


Yuna meninggalkan ruangan wakil Direktur tanpa bersuara sedikit pun. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri bagaimana mungkin ia melakukan kesalahan yang sebelumnya hampir dipastikan tidak pernah ia lakukan.

__ADS_1


"Bagaimana? " tanya Mariza


Yuna tidak menjawab pertanyaan Mariza ia hanya melemparkan laporan yang ia pegang ke atas meja Mariza.


Mariza yang penasaran langsung membuka laporan tersebut. Pandangannya sedikit bingung, ia mengerutkan keningnya sehingga alisnya nampak menyatu.


"Bukankah ini laporan 2 bulan lalu toko cabang di jalan A? Kenapa bisa ini yang kau berikan kepada wakil Direktur?"


kata Mariza.


Tanpa menjawab Yuna langsung mengambil laporan yang ada ditangan Mariza lalu membacanya.


" Sial, kenapa bisa seperti ini? ini bukan laporan yang ku buat kemarin, pantas saja si tua bangka itu menjadi gusar" kata Yuna yang mengacak-acak laporan yang ia pegang.


Yuna kemudian berjalan ke meja kerjanya dan segera mencari file di dalam komputernya.


"ini dia Ketemu hufft" teriak Yuna Sambil membuang nafas panjang tanda kelegaan. Kemudian ia mencoba mengingat kejadian kemarin yang menyebabkan ia salah mengumpulkan laporan. sepertinya kemarin ia sudah memastikan dan membaca ulang laporan ini, dan sangat yakin tidak ada kesalahan dengan laporan yang dia buat.


"Bagaimana bisa laporan yang ku kumpul adalah laporan 2 bulan lalu? tidak mungkin aku mencetak laporan yang salah? atau jangan-jangan...


ahhh sudahlah, toh ada hikmah nya dengan kejadian ini. Aku bisa bisa bebas keluar Kantor dengan alasan survei" Batin Yuna.


Tanpa mengulur waktu Yuna segera mencetak ulang laporannya yang sudah ia kerjakan kemarin. setelah laporannya ia cetak Yuna segera keluar dari Kantor.


"kalau ada yang mencariku katakan padanya saya sedang keluar Kantor untuk survei" Kata Yuna Kepada Mariza.


"Hai bukannya laporannya yang asli sudah ketemu?" Kata Mariza yang setengah berteriak kepada Yuna.


Perusahaan tempat Yuna bekerja adalah perusahaan pertokoan yang memiliki banyak cabang. Perusahaan Yuna berada di lantai 16 dan 17. Ruangan Yuna sendiri berada di lantai 16, sedangkan lantai 17 merupakan tempat karyawan untuk bersantai atau sekedar minum kopi dan menghabiskan waktu makan siangnya.


Mobil yang dikemudikan Yuna melaju dengan kecepatan sedang Menyusuri Kota J merupakan ibukota Negara I. Lalu lintas siang itu cukup padat tapi masih lancar. Di dalam mobil terdengar musik yang sangat indah dengan alunan yang sebagian besar berasal dari alat musik piano. ya itu musik piano classic. Musik kesukaan Yuna, suara indah dentingan demi dentingan mampu menghilangkan stress yang di hadapi Yuna. Sesekali Yuna ikut bersenandung.


"Oh pantas saja perut ini sudah mulai konser ternyata sudah waktu makan siang rupanya" Guman Yuna sambil melirik jam tangan yang ia Gunakan.


Yuna memasang earphones di telinganya kemudian mengeluarkan handphone dari dalam tasnya. ia mencari sebuah nama didalam kontaknya. Setelah memastikan nama yang dicari sudah ia dapat. ia segera meletakkan handphone nya diatas pangkuannya.


"Tut, tut tut dalam tiga ketukan panggilan.


" Hallo Honey, Where are you?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Yuna setelah panggilannya di jawab.


"aku di Kantor honey, ada apa kamu menelpon ku?" Jawab seseorang yang dihubungi Yuna.


"tidakkah kau merindukan ku?" aku sekarang berada di jalan B menuju Restoran X di dekat Kantor mu honey. Aku ingin mengajak mu makan siang" Jawab Yuna.


"kenapa tidak mengabari ku dari tadi jika mau mengajakku makan siang, bagaimana kalau aku sibuk dan tidak sempat menemui mu?"


"Aku yakin kamu datang, aku bahkan menghampiri mu dan memilih restoran dekat dari Kantor mu honey, aku akan menunggumu bye.


"Aku.."

__ADS_1


Belum sempat lawan bicara Yuna menyelesaikan kalimatnya, Yuna sudah mengakhiri panggilannya.


"Ahh sial dia bahkan tidak memberiku kesempatan bicara dan menolak ajaknya, dasar wanita kelas kepala" guman si lawan bicara Yuna di telpon tadi.


Pukul 12.35 Yuna tiba di Restoran X disambut oleh playan.


"Selamat siang Nona, anda akan memesan tempat untuk berapa orang?"


"Saya Hanya berdua" Ucap Yuna.


"Baik, silahkan ikut saya nona" kata pelayan yang sedari tadi melayani Yuna.


kemudian ia mengikuti langkah pelayan tersebut dan sampai pada meja yang di khususkan untuk berdua. Susana di restoran x siang ini memang cukup padat karena bertepatan dengan waktu makan siang. memang tempat ini ketika waktu makan siang tiba akan menjadi sedikit padat karena berada di sekitaran perkantoran.


"anda mau pesan sekarang nona?" tanya pelayan sambil meletakkan buku menu di atas meja.


Yuna kemudian mengambil dan membuka buku menu tersebut. ia akan memesan makanan untuknya dan seseorang yang sudah diajak janjian sepihak oleh Yuna.


kemudian Yuna menyebutkan beberapa makan dan minuman yang ada didalam menu.


"ada tambahan nona?" tanya pelayan yang selesai mencatat pesanan Yuna.


"untuk sekarang saya rasa cukup" Jawab Yuna.


"Baik nona, silahkan menunggu sebentar pesanan anda akan kami antarkan secepatnya" kata pelayan sambil meninggalkan Yuna dan menuju ke dapur restoran.


10 menit menunggu, makan yang dipesan Yuna sudah tersedia di atas mejanya. namun sosok yang ditunggu Yuna sampai sekarang belum menampakkan batang hidungnya. Yuna mulai gelisah, ia mengambil handphone yang berada didalam tasnya, sambil pandangannya mengarah ke pintu masuk restoran. Belum sempat ia mengeluarkan handphone, tiba-tiba senyum tipis dari bibir Yuna, ia melambaikan tangannya ke arah pandangannya. Ya seseorang yang ditunggu Yuna sudah memasuki restoran beberapa detik yang lalu, dan segera berjalan ke meja yang di tempati Yuna.


"Kau sekarang rela membuat ku menunggu honey" kata Yuna sambil melirik ke arah seseorang yang duduk manis di depannya.


Namun Yuna tidak mendapat tanggapan sama sekali.


"Barack, kau kenapa tidak menjawab pertanyaan ku" kata Yuna yang sedikit kesal.


Ya Yuna sedang makan siang bersama kekasih yang menemaninya setahun terakhir ini. Barack Albar adalah nama kekasih Yuna, ia bertemu dengan Yuna setahun yang lalu. Dia bertemu dengan Barack melalui kencan buta yang diatur oleh ibu nya dan orang tua Barack. Sebenarnya Yuna sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan, ia hanya tidak mau diganggu oleh ibunya yang hampir setiap hari mengungkit masalah pernikahan . Sikap manis dan perhatian Barack mampu membuat Yuna nyaman hingga bertahan setahun ini.


"Yuna, kau makanlah, setelah itu kita bicara" kata Barack yang akhirnya membuka suara.


"Dasar wanita egois, kau bahkan memilihkan makanan untukku, tidak kah kau bertanya padaku apa yang aku inginkan". batin Barack sambil memandang Yuna yang sudah mulai memasukkan makan dimulutnya.


Kemudian Keheningan tercipta, keduanya menikmati makan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Selesai makan Yuna hendak ke kamar mandi namun saat Yuna berdiri tangannya ditarik oleh Barack.


"Duduklah, aku akan bicara cepat" kata Barack yang melepaskan tangannya.


Yuna yang sudah berdiri kembali duduk tanpa berbicara sedikit pun.


" Yuna, aku mau kita sendiri-sendiri saja dulu, sambil kita memikirkan hubungan kita ke depan, aku sepertinya sudah tidak tahan dengan sikap egois mu. Kelak kalau sikap egois mu telah hilang silahkan kembali kepada ku. Ucap Barack sambil berdiri dan meninggalkan Yuna.


Deg

__ADS_1


Bersambung


Happy Reading 😁😉


__ADS_2