Setelah Hujan

Setelah Hujan
Mencari Kesalahan


__ADS_3

Siska terus menggerutu dalam hatinya. Dia merasa kesal dengan kedatangan perawat yang baru saja dipuji oleh Habibah. Siska memang belum mengetahui bagaimana rupa perawat itu. Namun, saat orang lain memujinya, terutama keluarga Yandri, Siska pun tidak terima.


"Kamu ngapain duduk di sini. Bukankah kamu ingin menjaga ibu?" tegur Habibah.


Siska menoleh. Dia hanya tersenyum mesem kepada calon kakak iparnya. Tujuan dia kemari memang untuk menjaga calon mertuanya. Namun, gumaman perawat itu telah membuat hati Siska terbakar api cemburu.


"Nanti saja, Kak. Siska masih punya banyak waktu kok. Siska enggak mau mengganggu tidur ibu," jawab Siska menduga-duga jika ibunya sedang beristirahat.


"Ya, ibu memang sedang tidur. Tadi kakak baru saja memberinya obat. Huh, susah sekali ibu makan obat. Padahal untuk kesembuhannya. Untung saja Yuna sudah datang. Jadi Kakak tidak perlu bersusah payah lagi mengurus ibu," tutur Habibah.


"Yuna?" ulang Siska.


"Iya, perawat itu. Dia bernama Yuna" jawab Habibah.


Darah Siska kembali mendidih mendengar Habibah menyebut nama perawat dengan ringannya. Seolah mereka sudah lama mengenal satu sama lain.


"Jangan bicarakan perawat itu di hadapan aku lagi!" Siska berteriak. Sepersekian detik kemudian, dia beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruang kerja Habibah.


"Eh, kenapa dengan anak itu?" guman Habibah, heran.


.


.


Di kamar bu Maryam.


Suster Yuna yang sedang membaca rekam medis pasien, seketika menoleh saat melihat pergerakan kecil dari Bu Maryam. Senyumnya mengembang begitu melihat Bu Maryam membuka mata. Suster Yuna kemudian beranjak dari kursi dan mendekati ranjang Bu Maryam.


"Apa kabar, Bu. Perkenalkan, nama saya Yuna. Saya suster yang akan merawat Ibu di sini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya, Bu. Supaya Ibu bisa cepat sembuh," tutur Suster Yuna.


Bu Maryam diam. Dia tidak terlalu menyukai keberadaan orang asing di kamarnya.

__ADS_1


Sejujurnya, jauh di lubuk hati Bu Maryam, dia menginginkan anak-anaknya yang akan merawat dirinya. Namun, entah kenapa kelima anaknya seolah enggan merawat dia.


"Sekarang, jadwal Ibu melakukan fisioterapi. Mari, saya bantu untuk bangun," lanjut suster Yuna.


Mau tidak mau, Bu Maryam mengikuti perintah suster Yuna. Dia ingat pesan Yandri yang meminta dia menurut pada apa yang diucapkan perawat itu.


.


.


Tiga bulan telah berlalu. Bu Maryam sudah bisa menyukai keberadaan perawat itu. Bukan tanpa sebab dia menyukainya. Perawat itu begitu telaten dalam mengurusnya.


Dia tidak merasa jijik ketika harus membersihkan ***** Bu Maryam setelah BAB. Dua kali sehari, dia memandikan Bu Maryam. Menyuapinya makan pun tidak pernah telat. Bahkan selalu memberikan obat tepat waktu.


Setiap pagi dan sore hari, Suster Yuna selalu mengajaknya jalan-jalan di sekitar rumah. Bu Maryam merasa nyaman dengan perlakuan perawat itu. Perlakukan yang tidak pernah dia dapatkan baik dari Habibah yang notabene anak kandungnya sendiri, dan juga Siska calon istrinya.


Hingga rasa nyaman itu pun membuat hati Bu Maryam berpindah haluan. Dia menginginkan sesuatu yang lebih. Ya, dia ingin Suster Yuna tidak hanya merawatnya dalam sebuah pekerjaan. Namun, merawat dirinya untuk selamanya. Dia ingin Suster yuna menggantikan Siska sebagai calon istri putranya.


.


.


Suster Yuna adalah perawat yang masih berstatus honorer. Karena itu dia menerima pekerjaan ini karena tergiur dengan bayaran yang ditawarkan Yandri. Akhirnya, dia pun mau menjadi perawat Bu Maryam.


Huh, kapan wanita tua itu bisa sembuh? Aku sudah sangat lelah mengurusnya. Kenapa dia tidak mati saja ketika calon menantunya itu salah memberikan dosis obat? Menyebalkan! dengus suster Yuna dalam hatinya.


Sebenarnya, Suster Yuna sudah jengah dengan pekerjaannya. Akan tetapi, sikap Yandri jika pulang, membuat suster Yuna merasakan perhatian lebih.


Setiap pulang sebulan sekali, Yandri selalu membawa buah tangan untuk Suster Yuna. Yandri memang bukan pria yang tidak tahu jasa orang lain. Dia sadar jika Suster Yuna begitu berjasa karena sudah mau merawat ibunya. Karena jasa itulah, Yandri pun selalu memperhatikan kebutuhan Yuna sebulan sekali. Sayangnya, Suster Yuna menyalahartikan perhatian yandri.


Melihat kedekatan Yandri dengan perawat itu, tentu saja membuat hati Siska semakin terbakar. Dia merasa cemburu ketika Yandri bisa tersenyum manis kepada Suster Yuna. Dia emosi ketika Yandri bisa berbicara panjang lebar dengan Suster Yuna. Dia marah ketika Yandri memberikan sesuatu untuk Yuna. Karena itulah, Siska pun semakin membenci Suster Yuna.

__ADS_1


Aku harus melakukan sesuatu supaya perawat sialan itu bisa pergi dari rumah ini, batin Siska, geram.


Bukan hanya ketelatenan Suster Yuna saja yang dikagumi oleh Yandri dan Bu Maryam. Namun, kecantikan Suster Yuna juga menjadi magnet tersendiri untuk Bahar dan Raihan.


Setiap pulang mengojek, entah kenapa Bahar selalu memiliki alasan untuk menemui ibu mertuanya. Bahkan Raihan, hampir setiap hari dia bertandang ke rumah ibunya, dan membantu Suster Yuna dalam merawat ibunya.


Silih berganti, Bahar dan Raihan berlomba-lomba untuk menggendong ibunya ke kamar mandi jika Suster Yuna ingin memandikan Bu Maryam. Atau, kedua pria itu saling mencuri waktu untuk mendorong kursi roda Bu Maryam, ketika jalan-jalan di sekitar rumah.


Habibah dan Mia memang merasa heran dengan perubahan sikap suaminya. Akan tetapi, mereka masih menganggapnya hal yang wajar. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan menjahit, karena terlalu sibuk mengurus anak-anaknya. Habibah dan Mia tidak peka dengan tatapan suami mereka terhadap perawat itu.


Siska menyeringai melihat sikap tidak wajar Bahar dan Raihan. Akhirnya, dia mulai menggunakan kesempatan ini untuk mencari kesalahan perawat yang dibencinya.


"Lihat saja Yuna, aku akan segera mendepak kamu dari sini!" gumamnya sembari tertawa sinis.


.


.


Sore hari, di kediaman Bu Maryam.


Bu Maryam, Suster Yuna, Bahar dan Raihan sedang duduk bercengkerama di teras depan rumah. Terlihat mereka tertawa bahagia mendengarkan lelucon Raihan dan Bahar. Bu Maryam sudah bisa menggerakkan otot-otot bibirnya. Meskipun belum mampu berbicara jelas.


"Kalian lihat itu!" ucap Siska kepada Habibah dan Mia yang sedang menjenguk Bu Maryam.


Habibah dan Mia menoleh. Mereka menautkan kedua alis mereka ketika melihat suaminya tertawa terbahak-bahak tanpa beban.


"Ayolah kak Bibah, Mia. Apa kalian tidak pernah memikirkan ada apa dengan hati mereka? Kenapa mereka bisa tertawa lepas seperti itu di depan Yuna dan Ibu? Semua ini janggal sekali, bukan?" lanjut Siska, memprovokasi calon kakak iparnya dan adik tirinya.


"Benar Kakak, sebelumnya bang Raihan tidak pernah bersikap seperti ini. Bahkan, dulu dia menjauhi ibu karena tidak ingin merasa direpotkan. Tapi entah kenapa, sekarang dia malah betah tinggal bersama ibu, sampai-sampai tidak pulang dan mia terpaksa menyusul ke sini," papar Mia, mengeluhkan sikap suaminya yang berubah.


Habibah diam. Dia merasa gengsi jika harus mengutarakan perubahan sikap suaminya. Padahal, jauh si lubuk hati Habibah. Dia pun mengakui perubahan itu.

__ADS_1


Siska kembali menyeringai melihat tatapan tajam Habibah kepada Yuna. Dia yakin jika dia sudah menyalakan setitik api di hati kedua wanita itu.


Tunggulah, Yuna! Apinya akan segera menghanguskanmu.


__ADS_2