Setelah Hujan

Setelah Hujan
Buah Dari Kesabaran


__ADS_3

Pukul sepuluh malam, Yandri tiba di rumah istrinya. Seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Tiba di depan rumah, Yandri menekan bel pintu.


"Ya, sebentar!" teriak Danisa dari dalam rumah. Beberapa detik kemudian, daun pintu terbuka lebar. Danisa cukup kaget begitu melihat raut muka kakak iparnya yang kelelahan. Terlebih lagi saat melihat bajunya yang basah kuyup.


"Ish, Abang ... nggak ada ujan juga, kok baju Abang basah gitu?" ucap Danisa.


"Ini namanya hujan lokal, Dek. Coba cium deh," jawab Yandri seraya mengulurkan bagian ketiaknya ke arah Danisa.


"Uuh, bau banget. Abang abis ngapain ampe keringetan gitu?" teriak Danisa sambil memencet hidungnya.


"Joging," jawab singkat Yandri seraya memasuki rumah. "Kak Niar sudah tidur, Dek?" tanya Yandri.


"Hem-eh," jawab Danisa, kembali fokus menatap layar TV.


"Kamu sendiri, kenapa belum tidur?" tanya Yandri seraya duduk dan sedikit membungkuk untuk membuka sepatunya.


"Belum ngantuk," jawab Danisa. "Abang jorok ih, ganti baju dulu sana. Bau banget," protes Danisa yang memang mencium bau tidak sedap dari tubuh sang kakak ipar.


Yandri hanya terkekeh mendengar adiknya protes. Sedetik kemudian, dia malah melemparkan kaos kakinya kepada Danisa.


"Abaaaang, ih!" Danisa menggerutu kesal sambil berteriak.


"Ada apa ini? Kok ribut-ribut?"


Mendengar keributan di ruang tengah, Daniar yang sudah tertidur, seketika bangun. Dia kemudian membuka pintu kamar dan melihat adiknya sedang merengek karena ulah sang suami.


"Eh, Sayang ... maaf, keganggu ya?" kata Yandri seraya mendekat istrinya yang tengah berdiri di ambang pintu kamar.


"Awas Kak Niar, jangan mau didekati Bang Yandri. Uuh, badannya bau banget. Noh, keringetnya juga masih netes. Iiiy ..." Danisa bergidik melihat peluh Yandri yang masih bercucuran di sekitar tengkuknya.


Apa yang dikatakan Danisa memang benar. Daniar mencium aroma tak sedap meski dari jarak satu meter. Sontak dia pun menutup hidungnya.


"Akang habis ngapain sih, kok bau banget?" tanya Daniar.


Yandri hanya cengengesan melihat ekspresi istrinya. "Iya-iya, Akang bersih-bersih dulu deh," jawab Yandri mengurungkan niatnya untuk memeluk sang istri.


Sesaat kemudian, Yandri melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Daniar hanya menggelengkan kepala. Namun, dia pun mengikuti Yandri. Daniar pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam buat suaminya.


Setelah satu jam berlalu, Yandri tampak rapi mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Dia kemudian duduk untuk menyantap hidangan yang telah tersedia di meja makan. Begitu juga dengan Daniar yang sedang asyik menikmati brownies coklatnya.

__ADS_1


"Siapa yang beli kue, Yar?" tanya Yandri seraya menyendok nasi dan lauk pauknya.


"Oh, ini." Tunjuk Daniar pada brownies yang berada di tangannya, "ini bikinan kak Ilham. Katanya dia minta maaf atas kejadian malam itu," jawab Daniar.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibir Yandri.


"Akang enggak marah, 'kan, Daniar terima kuenya?" tanya Daniar, cemas.


"Ngapain Akang marah? Namanya rezeki itu jangan ditolak, Yar," balas Yandri.


"Ya, Niar takut aja kalau Akang masih menyimpan dendam atas kejadian kemarin," tukas Daniar.


"Ish, ngapain juga Akang dendam. Akang tahu, semua itu di luar kendali kak Ilham. Akang hanya kasihan saja sama kak Ilham. Entah sampai kapan kak Ilham menerima ujian seperti itu," tutur Yandri.


"Iya, Akang benar. Sudah hampir 9 tahun kak Ilham menerima ujian ini. Semoga dia bisa segera sembuh ya, Kang. Niar juga kasihan. Padahal, dulu kak Ilham itu orangnya sangat baik dan ramah," timpal Daniar.


"Hmm, kita do'akan saja yang terbaik untuk kesembuhan kak Ilham."


"Iya, kang. Eh, tadi Nisa bilang, Akang pulang dalam keadaan letih dan basah kuyup. Emang a


Akang kehujanan di mana? Di sini, 'kan nggak hujan, kenapa bisa basah kuyup? Bukannya di mobil itu teduh ya, Kang?" cerocos Daniar.


"Maafkan Akang, Yar," ucap Yandri lirih.


Daniar bengong. Dia tidak mengerti kenapa suaminya meminta maaf.


"Minta maaf untuk apa, Kang? Niar enggak ngerti," balas Daniar.


"Akang tidak bisa memenuhi keinginan kamu untuk USG. Hari ini, Akang gagal mendapatkan pinjaman," jawab Yandri, lesu.


Daniar mengelus pipi suami. "Tidak usah terlalu dipikirkan, Kang. Lagi pula, Niar sudah USG kok, tadi."


"Benarkah? Uang dari mana? Bukankah kamu juga belum ada uang, Yar?"


"Danita yang ngajak. Semua biayanya ditanggung oleh Danita."


"Alhamdulillah, nanti kalau punya uang, Akang ganti ke Nita. Lalu, bagaimana hasilnya?" tanya Yandri.


"Alhamdulillah, dedek bayinya baik-baik saja. Kemarin, mungkin karena kaget jadi pergerakannya lemah. Oh iya, Kang. Akang belum jawab pertanyaan Niar, loh. Sebenarnya Akang kenapa bisa sampai kelihatan letih begitu?" Daniar kembali bertanya

__ADS_1


Sejenak, Yandri menarik napasnya cukup panjang. Sepersekian detik kemudian, dengan perlahan dia mengembuskan napas seraya mulai bercerita.


"Tadi Akang pergi ...."


Yandri menceritakan semua kejadian yang menimpanya hari ini. Mulai dari pinjaman yang ditolak, penolakan kakak iparnya, dan perjalanannya menuju rumah Daniar. Satu pun tak ada yang dia tutupi. Yandri sadar, salah satu pondasi dalam membangun rumah tangga adalah kejujuran. Karena itu Yandri menceritakan semuanya dari a hingga z.


Tanpa terasa, air mata Daniar luruh di kedua pipinya. Dia benar-benar terenyuh dengan perjuangan Yandri yang harus berjalan selama puluhan kilometer untuk sampai di rumahnya.


"Ke-kenapa, Kang? Kenapa mereka tega memperlakukan kita seperti itu? Padahal Akang itu saudara kandungnya sendiri? Tapi kenapa kak Aminah tidak bisa membela Akang di hadapan suaminya? Niar tahu, Akang sering membantu semua kebutuhan Sita saat dia masih sekolah. Kak Aminah sendiri yang bilang, tapi kenapa di saat Akang membutuhkan bantuan, mereka seolah menutup mata dan telinga. Astaghfirullah ... apa kesalahan kita pada mereka, Kang? Kenapa mereka tega memperlakukan Akang seperti itu? Bagaimana jika di tengah jalan, sesuatu yang buruk terjadi sama adiknya? Apa mereka tidak pernah berpikir sampai ke sana?" racau Daniar dalam isak tangisnya.


Yandri segera berdiri dan mendekap istrinya dari arah belakang. "Ssst, sudahlah Sayang. Tidak usah terlalu dipikirkan. Yang penting Akang pulang dalam keadaan selamat. Jangan diingat lagi, kasihan dedek bayinya," ucap Yandri seraya menumpukan dagunya di bahu daniar.


"Astaghfirullah ..." Daniar hanya bisa beristighfar berulang kali.


.


.


Keesokan harinya, selepas salat subuh, Yandri kembali tertidur. Hari ini dia memutuskan untuk tidak berangkat kerja karena tidak memiliki sepeser pun rupiah. Sedangkan Daniar, dia menyangka jika Yandri tidak bekerja karena ingin beristirahat. Mengingat semalam dia pulang dengan berjalan kaki.


Tiba-tiba, ponsel Daniar berdering. Daniar segera mengangkat sambungan telepon yang ternyata dari rekan kerja suaminya.


"Assalamu'alaikum, Pak!" sapa Daniar.


"Wa'alaikumsalam. Niar, apa Yandri sudah berangkat kerja?" tanya Pak Agus di ujung telepon.


"Mohon maaf, Pak. Sepertinya hari ini kang Yandri izin tidak masuk kerja. Dia merasa kurang enak badan," jawab Daniar.


"Oh begitu ya, apa sakitnya parah?" tanya Pak Agus lagi.


"Sebenarnya tidak terlalu parah, Pak. Dia hanya kelelahan karena semalam pulang dengan berjalan kaki dari rumah kak Aminah," jawab Daniar jujur.


"Oh ya sudah kalau begitu. Tolong kamu sampaikan kepada Yandri, tunjangan fungsional yang sebulan lalu diajukan, ternyata sudah diproses oleh Kemenag pusat. Nanti siang, tolong Yandri urus ke pihak kabupaten. Soalnya, hanya pak Yandri yang tahu bagaimana prosedurnya," tutur Pak Agus.


"Iya, Pak. Nanti saya sampaikan," jawab Daniar.


"Ya sudah, Niar. Kalau begitu saya tutup teleponnya ya. Semoga Yandri segera pulih kembali. Assalamu'alaikum!" pungkas Pak Agus mengakhiri pembicaraannya.


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Daniar mendekap benda pipih itu di depan dadanya. Alhamdulillah, ini buah dari kesabaran kamu, kang. Semoga bisa bermanfaat untuk keluarga kita, batin Daniar. Sejurus kemudian, Daniar kembali ke kamarnya untuk menyampaikan berita baik ini kepada suaminya.


__ADS_2