
Karena merasa khawatir, akhirnya Daniar meminta Roni untuk menjemput Yandri di terminal.
"Memangnya bang Yandri kenapa pulang, Kak? Kepalanya sakit lagi?" tanya Roni.
"Entahlah, Ron. Hanya saja, kepala sekolah kang Yandri tidak mengizinkan kang Yandri kerja sebelum pulih total," jawab Daniar.
"Ya sudah, tolong kabari Roni kalau bang Yandri sudah sampai simpang lima. Nanti Roni langsung meluncur dari tempat kerja," jawab Roni.
"Iya, Ron. Makasih ya," sahut Daniar.
"Sama-sama, Kak," pungkas Roni seraya mematikan sambungan teleponnya.
Akhirnya Daniar bisa bernapas dengan lega. Meskipun jauh di lubuk hatinya, Daniar sedikit was was karena takut sakit kepala suaminya tiba-tiba kambuh dalam perjalanan.
.
.
Setelah berdebat dengan ibunya, Aji membawa Khodijah untuk berobat di sebuah pengobatan alternatif. Dengan dibantu Haidar, Aji mendudukkan Khodijah di atas jok motor. Setelah itu, dia duduk di belakang untuk menahan beban tubuh Khodijah.
Sulit memang. Namun, Aji tidak punya pilihan lain. Sanak saudara yang rumahnya dekat, sama sekali tidak memiliki kendaraan beroda empat. Sedangkan untuk menyewa kendaraan tersebut, Aji pun tidak memiliki uang.
"Maafkan Akang, Dijah. Hanya ikhtiar seperti ini yang bisa Akang lakukan untuk kesembuhan kamu," bisik Aji di telinga Khodijah.
Tiba di tempat pengobatan. Aji dan Haidar membantu Khodijah turun dari motor. Dengan sigap, Aji memangku tubuh gempal sang istri. Meskipun Aji merasa kepayahan karena tubuhnya berbanding terbalik dengan Khodijah. Namun, Aji tidak ingin menyerah.
Aji segera menurunkan Khodijah dan meminta Haidar untuk menyangga tubuh Khodijah yang tak mampu duduk tegak di atas kursi. Setelah itu, dia pun melakukan pendaftaran Khodijah sebagai pasien.
Aji mengedarkan pandangannya. Pengobatan ini cukup ramai juga. Jika dihitung dengan mata telanjang, ada sekitar dua puluh orang yang hendak berobat. Itu artinya, Aji harus sabar mengantre untuk mendapatkan panggilan masuk.
Selesai mendaftar, Aji kemudian kembali ke kursi tunggu untuk menggantikan posisi Haidar. Meskipun terasa pegal, tapi Aji tetap bertahan demi rasa cintanya kepada wanita yang telah memberinya tiga orang anak.
Beberapa jam telah berlalu, nama Khodijah pun akhirnya dipanggil. Dibantu seorang perawat yang membawa kursi roda, Khodijah dibawa ke ruangan khusus untuk diperiksa.
"Bagaimana? Terasa?" tanya tabib yang sedang memberikan cubitan-cubitan kecil di sekitar betis pasiennya.
Khodijah hanya menggelengkan kepala. Sesaat kemudian, tabib berkopiah itu kembali menggelitik telapak kaki Khodijah, seraya melayangkan pertanyaan yang sama. Dan lagi-lagi, Khodijah menjawabnya dengan gelengan kepala.
Tabib itu mulai meminta sesuatu kepada asistennya. Sedetik kemudian, perawat yang mendorong kursi roda Khodijah tadi, menyerahkan mangkuk kecil kepada tabib. Dengan menggunakan alat yang menyerupai tongkat, tapi memiliki ukuran yang lebih pendek. Tabib itu pun mulai menekan telapak kaki Khodijah.
"Aww!" Tiba-tiba saja Khodijah menjerit saat tongkat kecil itu menekan beberapa titik di telapak kakinya.
Jeritan Khodijah menjadi sebuah harapan Aji untuk kesembuhan sang istri. Hatinya begitu senang saat mendengar jeritan Khodijah. Itu artinya, Khodijah masih memiliki kesempatan untuk bisa berjalan lagi.
__ADS_1
Selang beberapa detik, tabib itu membaluri seluruh betis Khodijah dengan minyak yang berwarna kemerahan. Entah minyak apa namanya. Namun, senyum Khodijah terbit tatkala betisnya merasa hangat oleh minyak tersebut. Ini artinya indera peraba Khodijah masih bisa berfungsi dengan baik.
Ya Tuhan ... tolong beri hamba kesembuhan lagi, agar hamba bisa mengurus kembali keluarga hamba, batin Khodijah.
.
.
Tiba di terminal bus. Roni mencari tempat teduh untuk memarkirkan motornya. Dia melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih ada waktu setengah jam sebelum bus yang ditumpangi Yandri tiba di terminal. Roni pun kembali menyalakan kendaraan beroda dua itu untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut. Maklum saja, cacing di perutnya sudah berdemo meminta jatah makan siang.
Beberapa menit menyusuri jalan raya ke arah barat, Roni melihat warung nasi padang yang penampakannya begitu bersih. Dia kemudian membelokkan motornya untuk parkir di depan warung nasi padang tersebut.
Roni memasuki warung tersebut beberapa detik setelah motornya terparkir.
"Bang, makan sini ya," ucap Roni kepada pelayan warung nasi padang yang sedang membungkus nasi.
"Boleh Mas, pakai apa?" tanya pelayan.
"Rendang pake kuah nangka saja, Bang. Jangan lupa sambal ijonya, ya!" pinta Roni.
"Siap, Mas! Silakan duduk dulu, Mas," lanjut si pelayan
Roni tersenyum. Dia kemudian mencari tempat duduk untuk menunggu makanannya datang.
.
.
"Ini jamu untuk diminum sehari dua kali, Pak," ucap perawat yang menjaga apotek di sana.
"Pagi dan sore, Teh?" tanya Aji.
"Sebaiknya pagi dan malam saja, Pak. Menjelang tidur," jawab perawat. "Dan ini minyak Zaitun untuk melemaskan urat-urat saraf ibu yang kaku. Gunakan sehari dua kali setelah ibu mandi," lanjut perawat itu.
"Baiklah, saya mengerti. Totalnya jadi berapa, Teh?" tanya Aji.
"Sebentar, Pak," sahut wanita itu seraya menghitung biaya obat dan pemeriksaan Khodijah. "Totalnya jadi 225 ribu, Pak," lanjutnya.
Aji mengangguk. Dia kemudian mengambil dompet dari saku celana bagian belakang. Aji mengeluarkan uang pas dan menyerahkannya kepada perawat.
Selesai melakukan pembayaran, Aji mengambil obat ramuan herbal untuk istrinya. Setelah itu, dia kembali mendekati Khodijah yang sedang duduk di kursi roda.
"Kita pulang sekarang, Dek!"
__ADS_1
.
.
Telepon Roni yang disimpan di atas meja, bergetar. Roni melirik nama yang tertera di atas layar. "Bang Yandri?" gumamnya.
Buru-buru Roni mencuci tangannya dan mengangkat panggilan dari Yandri.
"Assalamu'alaikum, Bang!" sapa Roni sesaat setelah menggeser tombol jawab.
"Wa'alaikumsalam. Kamu jadi jemput Abang, Ron?" tanya Yandri di seberang telepon.
"Jadi, Bang. Ini Roni lagi deket terminal. Lagi makan dulu," jawab Roni. "Memangnya, Abang sudah sampai mana?" lanjutnya.
"Ini Abang baru masuk pintu terminal, Ron," jawab Yandri.
Roni sedikit terkejut mendengar jawaban kakak iparnya. "Kok cepet banget, Bang. Dikira Roni, setengah jam lagi Abang baru nyampe," sahutnya.
"Iya, Ron. Kebetulan ini sopirnya gesit banget," gurau Yandri.
"Hehehe, Abang bisa aja. Ya sudah, Roni bayar dulu ya, Bang. Abis itu langsung ke terminal," jawab Roni
"Iya, Ron. Santai saja. Ya sudah, Abang tutup teleponnya. Assalamu'alaikum!" pungkas Yandri.
"Wa'alaikumsalam," sahut Roni.
Setelah sambungan telepon terputus, Roni segera beranjak dari kursi menuju meja kasir.
"Jadi berapa, Bang?" tanyanya.
"25 ribu rupiah, Mas," jawab pelayan warung nasi padang
Roni mengeluarkan tiga lembar uang sepuluh ribuan dan menyerahkannya kepada si penjaga kasir.
"Ini kembaliannya, Mas," kata si penjaga kasir seraya menyerahkan selembar uang lima ribuan ke arah Roni.
"Sudah, ambil saja, Bang!" sahut Roni.
"Waduh, makasih Mas. Semoga rejekinya semakin luas lagi," do'a si penjaga kasir.
"Sama-sama. Aamiin" pungkas Roni.
Setelah membayar makanannya, Roni kembali menuju tempat parkir. Sejurus kemudian, dia menyalakan motor dan melajukannya menuju terminal. Dia tidak mau jika Yandri sampai menunggu lama kedatangannya.
__ADS_1