Setelah Hujan

Setelah Hujan
Rencana Aqiqah


__ADS_3

Baik Daniar, Yandri dan Bu Salma, cukup kaget dengan kejutan kecil yang diadakan keluarganya. Untungnya, bayi Daniar tidur begitu nyenyak, sehingga tidak terganggu oleh teriakan kedua tantenya.


"Idih, dasar tukang tidur kek bapaknya," dengus Danisa yang merasa kesal melihat bayi Bintang masih asyik terlelap dalam pangkuan neneknya.


Merasa gemas, Danisa pun mencolek-colek pipi bayi Bintang yang mulai tembem. "Pipinya lucu ya, Kak. Kek bakpao," celetuk Danisa.


"Ish, nggak boleh ditoel-toel gitu, Dek. Entar Baby B-nya kesakitan," tukas Danita.


"Heleh, konsep dari mana, tuh?" sanggah Danisa.


"Idih, dibilangin enggak percaya. Coba aja tanya Ibu? Dulu juga, waktu kamu baru lahir, Kakak toel-toel pipinya, eh malah kena marah Ibu. Iya, 'kan Bu?"


"Bhuahahaha." Tawa Danisa.


"Oeeek ... Oeeek ... Oeeek ...."


Tawa Danisa akhirnya membangunkan bayi Bintang. Bayi mungil itu mulai menyusupkan wajahnya mencari ASI.


"Sepertinya Bintang lapar, Ni. Susui dulu, sana!" perintah Bu Salma seraya menyerahkan Bintang ke dalam pangkuan ibunya.


Daniar memangku Bintang. Dipapah suaminya, dia membawa Bintang ke kamar dan mulai menyusuinya. Bayi Bintang terlihat begitu rakus sekali menyedot ASI. Mungkin dia memang sangat lapar setelah tidur nyenyak selama dalam perjalanan pulang.


"Kang, uang lahiran yang dititip di ibu, 'kan tidak kita gunakan. Bagaimana kalau kita pakai uang tersebut untuk acara aqiqah Bintang," usul Daniar mengawali pembicaraan.


"Hmm, ide bagus, Yar. Lebih cepat Bintang aqiqah, itu lebih baik," timpal Yandri.


"Ya sudah, besok biar Niar pinta ke ibu uangnya. Tugas Akang cari kambingnya, ya," kata Daniar.


"Insya Allah, nanti Akang cari di kampung Akang, biar agak murahan. Biasanya sih, banyak saudara sepupu Akang yang suka ternak kambing buat kurban dan aqiqah," jawab Yandri.


"Ya sudah, terserah Akang saja. Yang penting sekarang kita enggak harus pusing dulu dengan biaya aqiqah. Oh iya, Kang. Apa ibu dan saudara-saudara Akang sudah diberi tahu kalau Niar lahiran?" tanya Daniar yang baru tersadar jika selama di rumah sakit, tidak ada yang menjenguk dari keluarga suaminya.


"Sudah, Yar," jawab Yandri.


"Kok pada enggak jenguk Niar di rumah sakit," ucap Daniar dengan raut wajah kecewa.


"Mungkin mereka mau jengukin kamu di rumah saja, Ni. Repot juga, 'kan kalau jenguk ke rumah sakit, terbatas," jawab Yandri mencoba menenangkan istrinya.


"Hmm, bener juga," pungkas Daniar.


.


.


Menjelang sore, keluarga Yandri datang untuk menjenguk Daniar dan bayinya. Ada banyak olahan makanan yang mereka bawa untuk menyambut kehadiran si kecil. Tak lupa, ibunya Yandri pun membawa bekakak ayam yang dipercaya bisa memulihkan tenaga Daniar setelah melahirkan.

__ADS_1


Daniar begitu terharu melihat kebaikan ibu mertuanya. Hidup tidak satu atap dengannya, ternyata membuat Daniar bisa merasakan perhatian dan kasih sayang ibu mertuanya. Hingga akhirnya Daniar berpikir, mungkin berpisah adalah jalan untuk mendekatkan hubungan mereka.


"Terima kasih loh, Bu. Seharusnya Ibu tidak usah repot-repot membawakan Niar bekakak ayam," ucap Daniar saat mertuanya sedang menyuapi dia.


"Tidak apa-apa, Niar. Dalam tradisi keluarga kami, bekakak itu penting bagi seorang ibu yang sudah melahirkan. Supaya mereka bisa segera pulih dan kembali menjalankan tugasnya di rumah," jawab Bu Maryam.


Oalah ... begitu toh, Daniar pikir, bekakak itu diperuntukkan karena ingin memanjakan seorang ibu setelah berjuang antara hidup dan mati melahirkan seorang anak. Namun, ada sesuatu yang tersembunyi dibalik tradisi ini. Ya, sesuatu yang seolah mengingatkan ibu pada tugasnya mengurus rumah, anak dan suami. Tapi ya sudahlah ... terlepas dari semua itu, Daniar cukup senang atas perhatian yang diberikan mertuanya hari ini.


Menjelang magrib, semua saudara Yandri berpamitan pulang. Kecuali ibunya. Ya, Bu Salma memaksa besannya untuk menginap di rumahnya barang semalam atau dua malam saja.


"Memangnya Ibu enggak kangen sama cucu? Ini putrinya Yandri loh, Bu. Masak enggak nginep sih?" tukas Bu Salma.


"Mau putrinya Yandri ataupun putra putri dari anak-anak saya yang lainnya, yang namanya cucu tetap cucu, Bu. Semuanya sama saja," jawab Bu Maryam.


"Hmm, begitu ya, Bu. Kalau saya sih, selalu kangen sama cucu. Enggak bisa jauh-jauh deh," ucap Bu Salma.


"Ya wajar saja, Ibu, 'kan, baru pertama kali punya cucu. Kalau saya mah sudah belasan, Bu. Jadi rasanya sama saja," sahut Bu Maryam.


Bu Salma hanya tersenyum tipis menanggapi sahutan besannya. Dia pun tidak bisa memaksa lagi agar besannya mau menginap. Namun, karena bujuk rayu Yandri, akhirnya Bu Maryam mau menginap.


.


.


Malam harinya, setelah Bintang tidur, Daniar pergi ke kamar sang adik.


"Memangnya Kakak mau ke mana?" tanya Danisa.


"Kakak sama abang kamu mau membicarakan hal penting sama ayah dan ibu," jawab Daniar


"Oh ya sudah," pungkas Danisa.


Danisa menyimpan buku yang sedang dibacanya. Dia kemudian keluar kamar dan pergi ke kamar Daniar untuk menjaga Bintang. Sementara itu, Daniar dan Yandri pergi ke ruang keluarga untuk menemui kedua orang tuanya yang sedang menonton acara televisi


"Ibu, AYah, dan Bu, ada sesuatu hal penting yang ingin saya dan Daniar sampaikan. Apa kalian tidak keberatan jika kami meminta waktunya sebentar," izin Yandri kepada ibu dan kedua mertuanya.


"Eh, ada apa Nak Yandri, kok serius amat?" ucap Bu Salma.


"Ish, Ibu. Kita dengarkan saja dulu Yandri mau bicara apa," tukas Pak Fandi. "Ayo Nak Yandri, silakan dilanjutkan," perintah Pak Fandi.


Sedangkan Bu Maryam hanya diam dan tidak terlalu mempedulikan ucapan putranya.


"Begini, Yah. Alhamdulillah, atas izin Allah, Daniar melahirkan tanpa kekurangan suatu apa pun. Bahkan sepeser pun, kami tidak mengeluarkan uang. Karena itu, kami hendak mengadakan tasyakuran sekaligus aqiqah Bintang. Untuk alokasi dananya, jika Ibu tidak keberatan, mungkin kami akan menggunakan dana yang dititipkan kepada Ibu dulu sebagai dana lahiran Daniar," papar Yandri.


"Ish, Yan ... tentu saja Ibu tidak keberatan. Itu, 'kan, uang kalian juga. Malahan Ibu sangat bersyukur, kalian begitu memperhatikan Bintang," kata Bu Salma.

__ADS_1


"Iya, Yan. Ayah juga sangat mendukung rencana kamu untuk bikin acara aqiqah Bintang. Lebih cepat, 'kan, lebih baik kalau rezekinya memang sudah ada," timpal Pak Fandi.


"Pikirkan dulu baik-baik, Yan. Apa benar kamu sudah mampu? Hukum aqiqah itu, 'kan sunnah. Jadi Ibu rasa, kamu jangan terlalu memaksakan diri."


Cukup mengejutkan, jawaban Bu Maryam ternyata berbeda dengan jawaban kedua orang tua Daniar. Membuat Daniar mengernyit heran mendengar jawaban tersebut.


Ish, maksud Ibu apa nih? batin Daniar.


Mendengar jawaban ibunya, Yandri hanya tersenyum. "Iya Bu, hukumnya sunnah. Tapi sunnah muakkad. Sunnah yang diharuskan jika kita mampu. Insya Allah, Yandri mampu, Bu. Karena seperti yang sudah Yandri bilang tadi, alhamdulillah saat Daniar melahirkan, Yandri tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Untuk itu, Yandri hendak menggunakan uang lahiran Daniar yang sudah terkumpul, untuk acara aqiqah Bintang," jawab Yandri berusaha memberikan penjelasan kepada ibunya.


"Ya sudah, Ibu sih nurut aja jika itu memang keputusan terbaik kamu," ucap Bu Maryam dengan ekspresi datar.


Ish, kenapa aku merasa jika Ibu kurang suka dengan rencana aqiqah Bintang? Kembali Daniar bermonolog dalam hatinya.


"Ya sudah, niat baik tak baik jika ditunda-tunda. Kapan kamu akan mencari kambing untuk aqiqah Bintang, Yan?" tanya Bu Salma.


"Insya Allah besok, Bu. Sekalian Yandri kerja. Rencananya Yandri mau cari kambing di sana. Biar harganya lebih miring," jawab Yandri.


"Baiklah. Besok tolong ingatkan Ibu untuk memberikan uangnya ya, Nak, balas Bu Salma.


"Baik, Bu," jawab Yandri.


"Permisi, Pak, Bu. Saya izin ke kamar duluan. Mata saya sudah terasa berat," pamit Bu Maryam yang sudah enggan mendengar pembahasan tentang aqiqah cucunya.


"Oh, iya ... silakan Bu," jawab Pak Fandi.


Setelah mendapatkan izin, akhirnya Bu Maryam pergi ke kamar tamu.


"Kang, ibu kamu kenapa sih? Kok kelihatanya kurang setuju kita bikin acara aqiqah untuk Bintang," protes Daniar kepada suami.


"Hus, Niar! Enggak boleh gitu," tegur Pak Fandi.


"Iya, Ni. Ngga baik," timpal Bu Salma.


Yandri tersenyum. "Mungkin karena di kampung kami, hanya orang-orang tertentu yang menjalankan aqiqah untuk anaknya, Yar. Dari semua cucu ibu, mungkin ini aqiqah pertama yang akan dilakukan. Karena itu, ibu ngerasa aneh," jawab Yandri mencoba berasumsi sendiri atas sikap ibunya.


"Hmm, semoga saja untuk ke depannya, anak-anak ibu punya rezeki buat aqiqah cucu-cucunya," ujar Daniar.


"Aamiin," pungkas Bu Salma, Pak Fandi dan Yandri.


"Kak Niar, Baby B nangis nih!" Tiba-tiba teriakan Danisa memaksa mereka membubarkan diri.


"Ish, Nisa. Jangan ditoel-toel dong, ponakannya!" tegur Pak Fandi setengah berteriak.


"Kagak, Yah. Orang Baby B-nya kelaperan," Danisa balik berteriak.

__ADS_1


"Sudah, Ni. Sana, kasih ASI dulu anaknya," perintah Pak Fandi.


Daniar mengangguk. Dia kemudian kembali ke kamarnya, diikuti oleh Yandri yang tidak bisa jauh-jauh dari Bintang jika terbangun.


__ADS_2