
Motor yang ditumpangi Yandri melesat begitu cepatnya. Yandri bersyukur mendapatkan abang ojol yang begitu piawai mengendarai kendaraannya. Hingga akhirnya, Yandri bisa tiba di sebuah kafe, tepat waktu.
Sementara itu, di dalam kafe. Aldi terus mengajak Daniar menuju lantai dua. Tiba di meja yang sudah dipesan, Daniar sedikit tertegun saat melihat Seno tengah duduk seraya memainkan ponsel. Tak ayal lagi, Daniar membalikkan badan untuk segera pergi dari sana.
"Niar, tunggu!" seru Aldi, mencekal pergelangan tangan Daniar.
"Ish, kakak sudah bohong padaku," ucap Daniar, mencoba melepaskan diri dari cekalan tangan Aldi.
Seno yang mendengar keributan kecil, segera mendongak. Senyumnya terbit saat melihat gadis yang selalu menghiasi mimpinya. Namun, saat dia melihat raut wajah Daniar yang masam, Seno pun paham jika wanita itu sudah tidak ingin menemuinya lagi.
Melihat gelagat Daniar yang hendak pergi, Seno beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan cepat menuju dua orang yang tengah sedikit berdebat.
Melihat Seno semakin mendekat, Daniar tidak tinggal diam. Kakinya segera menginjak kaki Aldi dengan kuat, hingga laki-laki itu memekik seraya membungkuk. Tak ingin kehilangan kesempatan, Daniar pun berlari menuruni anak tangga.
"Niar tunggu!" Seno berteriak seraya mengejar Daniar menuruni tangga.
Daniar yang tidak menggubris teriakan Seno, masih terus melangkahkan kakinya. Hingga di anak tangga yang terakhir, dia merasa seseorang mencekal pergelangan tangan dan menariknya.
"Niar, dengarkan aku dulu!" ucap Seno, mencekal tangan Daniar.
"Lepaskan!" teriak Daniar, menghempaskan tangannya.
Namun, cekalan tangan Seno begitu kuat. Hingga Daniar tak mampu melepaskan tangannya.
"Aku mohon, Niar. Ada hal penting yang harus aku bicarakan."
"Aku tidak peduli. Lepaskan!"
Daniar masih berteriak. Sungguh, bertemu dengan Seno adalah hal yang tidak pernah diinginkan lagi dalam hidupnya.
"Please Niar. Ada amanat penting yang harus aku sampaikan sama kamu. Ini tentang si Mbah. Tentang pesan si Mbah."
Seno mengeluarkan senjata terakhirnya. Dia tahu jika Daniar adalah wanita yang begitu perasa. Daniar adalah sosok wanita yang sangat menghormati orang tua. Dan dia juga tahu betul jika Daniar menyayangi kakek dan neneknya.
Dan, benar saja. Mendengar kata si Mbah, sontak daniar menghentikan gerakannya. Sepertinya dia mulai luluh hingga dia membiarkan Seno membawa dirinya menuju meja terdekat.
__ADS_1
Yandri yang sempat melihat perdebatan Daniar dengan laki-laki yang dulu pernah mencoba membawa paksa Daniar, sempat merasa geram. Dia hendak berbalik untuk tidak ikut campur urusan mereka. Namun, saat selintas dia melihat senyum penuh kelicikan di wajah Seno, Yandri pun berniat untuk menguping pembicaraan mereka.
Yandri sadar, apa yang akan dilakukannya bukanlah hal baik. Tapi dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Daniar. Diam-diam, Yandri memilih tempat yang cukup aman untuk memantau pergerakan Seno.
"Duduklah!" perintah Seno kepada Daniar.
"Tidak usah banyak basa-basi. Aku tidak punya waktu," jawab dingin Daniar.
Untuk sejenak, Seno menghela napasnya. Dia berusaha untuk bersikap sabar agar semua keinginannya tercapai.
"Aku mohon, duduklah Niar. Aku tidak ingin kita menjadi pusat perhatian pengunjung kafe ini. Apa kamu tidak sadar jika mereka sedang melihat ke arah kita?" balas Seno.
Daniar mengedarkan pandangannya. Apa yang dikatakan Seno memang benar. Para pengunjung kafe menatap mereka dengan tatapan penuh penasaran. Dengan mendengus kesal, Daniar akhirnya mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di depan Seno.
"Cepat katakan!" perintah Daniar lagi.
Seno mengeluarkan map berwarna kuning. Sejurus kemudian, dia menyodorkan map tersebut ke arah Daniar.
Daniar masih bergeming. Dia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang tengah dilakukan Seno.
"Aku tidak mau," jawab Daniar.
"Tapi ini amanat si Mbah, Niar. Jika kamu tidak ingin menghargai usahaku yang jauh-jauh datang kemari, setidaknya kamu hargai ketulusan si Mbah dalam menyayangi kamu," rayu Seno.
Daniar menarik napasnya dalam-dalam. Sejurus kemudian, dia mengembuskan napas dengan perlahan. Mendengar ketulusan tentang kasih sayang si Mbah, akhirnya Daniar meraih map tersebut.
Keningnya mengernyit saat dia membaca kalimat demi kalimat dalam lembaran surat ber-akta notaris. Dia kemudian menatap Seno untuk meminta penjelasan.
Seno yang memahami kebingungan di wajah Daniar, seketika menjelaskan isi dari surat tersebut.
"Itu surat hibah resmi. Dikeluarkan oleh notaris dan diketahui oleh pengacara pribadi Mbah," ucap Seno.
"Hubungannya denganku?" tanya Daniar.
"Si Mbah menghibahkan dua unit kontrakannya kepada kamu."
__ADS_1
"Lalu, lembaran kedua?" tanya Daniar yang sama sekali tidak tahu menahu tentang tulisan kesepakatan yang tertera di sana.
"Itu tawaran kesepakatan untuk kamu," jawab Seno.
"Maksudnya?" tanya Daniar, semakin tidak mengerti dengan ucapan Seno.
"Niar, kamu tahu jika aku adalah pewaris utama seluruh kekayaan Alamsyah. Jika kamu mau menikah siri denganku saat ini, tentunya bukan hanya dua unit kontrakan saja yang akan kamu miliki. Aku bisa memberikan seluruh kontrakan milik si Mbah yang berada di daerah industri."
"Nikah siri?" tanya Daniar memotong kalimat Seno.
"Iya, nikah siri, Niar. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Tapi aku juga tidak bisa menceraikan Shakila dengan kondisinya saat ini. Aku mohon, Niar. Aku tahu kamu masih mencintai aku. Menikahlah denganku. Aku janji, setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan Shakila dan melegalkan pernikahan kita." ucap Seno.
Entahlah, sepertinya laki-laki egois itu begitu yakin jika rencananya akan berhasil. Ya, dia sangat mengetahui kalau Daniar begitu mencintai dirinya.
"Kalau aku menolak?" tanya Daniar.
"Maka kamu akan kehilangan dua unit kontrakan pemberian si Mbah," jawab Seno, menyeringai.
"Dasar gila!" umpat Daniar
Wanita berpostur tubuh tinggi itu berdiri dan hendak pergi. Namun, Seno menyambar kembali pergelangan tangannya. Sedetik kemudian, Seno menarik kuat hingga tubuh Daniar terjerembab di atas Kursi.
"Ish, keterlaluan kamu Seno!" pekik Daniar yang merasakan sakit di sekitar bokongnya.
"Kamu yang memaksaku untuk bersikap kasar, Niar. Setidaknya, dengarkan penjelasan aku dulu," balas Seno.
"Apalagi yang harus aku dengarkan? Ide gila kamu? Rencana konyol kamu? Ish Seno, asal kamu tahu saja. Aku sama sekali tidak tertarik dengan penawaran yang kamu berikan. Dan untuk hibah si Mbah, aku sangat berterima kasih untuk niat baik Mbah. Tapi, aku juga tidak menginginkannya. Jangankan untuk dua unit kontrakan, untuk seluruh kontrakan yang kalian miliki, aku tidak akan pernah sudi menerimanya. Aku memang bukan orang berada, tapi aku masih mampu membiayai hidupku sendiri," tegas Daniar panjang lebar.
"Jangan ngeyel kamu, Niar!" tekan Seno.
"Aku tidak ngeyel, tapi aku tidak pernah sudi menerima apa pun dari keluarga kamu. Terlebih lagi dari tangan kotor kamu!" teriak Daniar.
Dengan penuh amarah, Daniar segera beranjak dari tempat duduknya. Dia sudah muak dengan semua tingkah laku Seno. Namun, lagi-lagi Seno menghalanginya. Sepertinya, laki-laki itu belum puas sebelum mendapatkan jawaban 'iya' dari Daniar.
Seno kembali hendak menarik tangan Daniar. Namun, pergerakannya terhenti saat dia mendengar ucapan seorang laki-laki dari arah belakangnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu di sini?"