Setelah Hujan

Setelah Hujan
Antara Aqiqah dan Menikah


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri seraya membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam," jawab serempak orang-orang yang tengah berkumpul di ruang tamu.


"Eh, Yan ... kemarilah!" ucap Bu Maryam sambil melambaikan tangannya. "Kenalin, ini Bahar, calon kakak ipar kamu," lanjutnya.


Yandri tersenyum. Sedetik kemudian, mereka saling berjabat tangan seraya menyebutkan nama masing-masing. Yandri duduk di samping ibunya untuk berbincang-bincang sekejap dengan calon kakak iparnya. Saat jamuan dimulai, Yandri pamit undur diri dan masuk ke kamar untuk beristirahat.


.


.


Keesokan harinya.


"Bagaimana Bibah, apa semua keperluan nikah kamu sudah selesai kamu urus?" tanya Bu Maryam.


"Ish, Ibu. Bukannya semalam Kak Bibah baru dilamar ya? Enggak mungkin juga hari ini langsung beres bikin berkas-berkas untuk persyaratan menikah. Ibu ini ada-ada aja. Hmm, kebelet pengen punya mantu lagi, ya?" goda Yandri.


"Haih, keterlaluan kalau sampai saat ini belum beres juga. Bukankah pernikahannya hanya tinggal tiga hari lagi, 'kan?" dengus Bu Maryam terlihat kesal.


"Uhuk-uhuk!"


Mendengar kabar pernikahan kakaknya yang hanya tinggal menghitung hari, membuat Yandri seketika tersedak. Sontak Yandri menatap Habibah dengan raut muka penuh tanya.


"Secepat itu, Kak?" tanya Yandri yang dijawab oleh anggukan Habibah.


"Tapi ... kenapa terburu-buru?" Yandri kembali bertanya.


"Hmm, sepertinya Ibu ditakdirkan punya anak yang selalu tergesa-gesa dalam memutuskan menikah," sindir Bu Maryam kepada Yandri.


Ya, rencana pernikahan Habibah yang mendadak, membuat Bu Maryam seolah sedang mengalami dejavu. Masih terekam jelas dalam ingatannya saat Yandri meminta izin untuk menikah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa rencana yang matang. Tiba-tiba Yandri sudah memboyong Daniar ke rumahnya sebagai istri yang sah. Menantunya!


"Iya, Yan. Kamu pikir, kamu juga enggak nikah dadakan sama Daniar? Hmm, bahkan kita sendiri enggak pernah kamu ajak buat ngelamar dia," tukas Habibah.


"Tidak usah dibanding-bandingkan, Kak. Yandri akui, Yandri memang salah karena tidak melakukan prosesi lamaran. Tapi waktu itu, niat kami baik, Kak. Kami hanya tidak ingin membebani keluarga. Apa Kakak pikir, lamaran juga tidak butuh uang? Sedangkan posisi Yandri juga, sama sekali tidak pegang uang. Ya, daripada Yandri pinjam sana-sini, lebih baik Yandri enggak ngadain lamaran sama sekali. Yang terpenting, Niar sama Yandri sama-sama memiliki itikad baik dalam menjalani hubungan ini. Alhamdulillah, kedua orang tua Niar juga tidak keberatan. Sekali lagi, Yandri minta maaf karena tidak melibatkan kalian dalam pernikahan Yandri," pungkas pria jangkung itu seraya beranjak dari tempat duduknya dan segera bersiap untuk berangkat kerja.


Habibah dan Bu Maryam hanya bisa saling pandang mendengar jawaban Yandri yang panjang lebar. Tadinya, dia ingin menampar kelakuan Yandri yang seolah tidak menghargai keluarga saat memutuskan untuk menikah. Namun, siapa sangka justru mereka yang tertampar oleh kata-kata Yandri barusan. Ternyata pria itu menikah diam-diam karena tidak ingin membebani mereka.


.


.


"Pak Yan, ada tamu yang nungguin Pak Yan di ruang tunggu," ucap rekan kerja Yandri begitu Yandri tiba di sekolah.


"Siapa, Bu?" Yandri balik bertanya.


"Pak Imron, itu yang suka ternak kambing. Ayahnya Gibran," jawab Bu Rima.


"Oh iya, sebentar lagi saya ke sana, Bu. Makasih," ucap Yandri.


"Sama-sama, Pak," balas Bu Rima.

__ADS_1


Yandri kemudian mempercepat langkahnya agar bisa segera sampai di ruang guru


"Maaf sudah menunggu lama, Pak," kata Yandri begitu tiba di ruang guru.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga baru datang," jawab Pak Imron.


"Gimana, Pak. Apa sudah ada, kambingnya?" tanya Yandri.


"Kambing yang Bapak minta kemarin, bisa dilihat hari Jum'at. Apa Bapak punya waktu untuk pergi ke kandang Jum'at ini?" tanya Pak Imron.


"Oh, iya. Boleh, Pak. Tapi kalau saya titip dulu sampai hari sabtu siang, tidak apa-apa, 'kan, Pak?" Yandri balik bertanya.


"Iya, siap Pak, tidak apa-apa, kok. Yang penting hari Jum'at, Bapak lihat dulu cocok tidaknya," jawab Pak Imron.


"Baik Pak, nanti kabari saja jam berapa saya harus datang," balas Yandri.


"Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu Pak, assalamu'alaikum," pamit Pak Imron seraya keluar dari ruang guru.


"Wa'alaikumsalam," jawab Yandri. Setelah tamunya pergi, Yandri kemudian pergi ke kelas untuk memulai pembelajaran.


.


.


Pulang sekolah, Yandri melihat rumahnya ramai dikunjungi kerabat. Ya, setelah ditetapkannya tanggal pernikahan sang kakak, para kerabat datang untuk membantu Bu Maryam. Ada yang sibuk memasak, membuat kudapan, dan menghias rumah alakadarnya. Meskipun Habibah dan Bahar hendak menikah di KUA, tapi Bu Maryam ingin mengadakan resepsi kecil-kecilan di rumahnya. Apalagi, Bahar juga memberikan uang lebih untuk biaya pernikahan. Tidak ada salahnya Bu Maryam menggunakan uang tersebut untuk mengadakan jamuan alakadarnya. Walaupun hanya sekadar mengundang kerabat dan tetangga dekat.


"Alhamdulillah, semua keluarga bisa berkumpul. Kalau di pikir-pikir, sudah lama juga enggak ada keramaian di rumah ini. Sayangnya Daniar enggak bisa hadir karena Bintang masih terlalu kecil untuk dibawa berkendaraan," gumam Yandri yang masih bisa didengar oleh ibunya.


"Ish, Ibu. Kenapa jadi bawa-bawa Enna? Ibu, 'kan tahu kalau Yandri sudah nikah. Sudah punya anak lagi? Enggak baik ah, Ibu membanding-bandingkan orang," tegur Yandri mencoba mengingatkan ibunya.


"Ya, habisnya Enna itu orang baik, Yan. Rumahnya juga enggak terlalu jauh dari desa kita. Ibu masih enggak bisa terima aja kalau hubungan kalian kandas begitu saja. Atau jangan-jangan, hubungan kalian berakhir karena kehadiran Daniar, ya?" tuduh Bu Maryam.


"Astaghfirullah ... maaf, Bu, Yandri capek, Yandri mau istirahat dulu."


Sejurus kemudian, Yandri pergi ke kamar untuk menghindari percakapan yang tidak penting dengan ibunya. Ah Yandri tidak habis pikir. Kenapa ibunya memiliki pemikiran seperti itu tentang ikatan yang dia bangun dengan Daniar. Apa hanya karena tidak ada pesta dalam pernikahannya, sehingga sang ibu selalu membanding-bandingkan istrinya dengan wanita lain?


"Ya Tuhan ..." gumam Yandri seraya mengusap kasar wajahnya.


.


.


Kamis malam, dering telepon di atas nakas membuat Yandri menghentikan pekerjaannya. Seulas senyum, terbit saat mengetahui siapa orang yang tengah meneleponnya. Karena tidak ada sinyal, Yandri keluar kamar untuk menjawab telepon dari sang istri.


"Assalamu'alaikum, Bun!" Yandri menyapa istrinya.


"Wa'alaikumsalam. Yah, ini ibu nanyain, katanya Ayah jadi enggak beli kambing buat aqiqah Bintang di sana? Kalau enggak jadi, ini ada temen ibu yang kebetulan suaminya suka jualan kambing aqiqah," kata Daniar di ujung telepon.


"Insya Allah jadi, Bun. Ini Ayah sudah janjian untuk melihat kambingnya besok," jawab Yandri.


"Oh, ya sudah kalau gitu, nanti Niar bilang ke ibu. Ya sudah Yah, Niar tutup teleponnya ya. Niar mau mandiin dulu Bintang. Assalamu'alaikum." Daniar mengakhiri pembicaraannya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab Yandri yang langsung menutup telepon dan berbalik hendak kembali ke kamar untuk melanjutkan pekerjaan.


"Yan, tunggu!"


Belum sampai Yandri memasuki pintu kamarnya, tiba-tiba Bu Maryam memanggilnya. Sontak Yandri membalikkan badan.


"Iya, kenapa Bu?" tanya Yandri


"Kemarilah, Ibu sama kakakmu mau bicara sebentar," jawab Bu Maryam.


Yandri mengurungkan niatnya memasuki kamar. Dia kembali mengayunkan langkah untuk mendekati Bu Maryam dan Habibah


"Duduklah Yan," kata Bu Maryam mempersilakan anaknya duduk.


Yandri kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka. "Apa yang ingin Ibu bicarakan?" tanya Yandri.


"Begini, Nak. Malam ini, Ibu memohon dengan sangat kepadamu. Tolong selamatkan harga diri dan kehormatan kakak kamu di hadapan keluarga calon suaminya," pinta Bu Maryam terdengar memelas.


Deg!


Yandri sangat terkejut mendengar permohonan ibunya. Entah apa yang terjadi sehingga ibunya memiliki permintaan seperti itu. Yandri pun tak bisa menduga-duga.


"Kamu mau, 'kan, nolongin Kakak, Dek?" timpal Habibah.


Yandri semakin mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak mampu mencerna arah pembicaraan, ibu dan kakaknya.


"Sebenarnya ada apa, Bu, Kak? Jujur, Yandri tidak paham maksud pembicaraan kalian," jawab Yandri.


"Jujur saja, Dek. Kami kebablasan. Karena terlalu bersemangat menyiapkan acara pernikahan kakakmu, Ibu dan Habibah tanpa sadar telah menghabiskan uang pemberian dari Bahar. Bahkan, uang untuk ipekah pun sudah habis. Jadi, Ibu ingin minta bantuan kamu. Tolong pinjami Habibah uang, supaya besok dia tidak menanggung malu," tutur Bu Maryam.


Yandri benar-benar kaget mendengar semua penuturan ibunya. "Apa tidak tersisa sedikit saja, Bu? Bukankah menikah di KUA itu gratis? Mungkin Kak Bibah hanya perlu menyiapkan biaya transportasi saja. Uang mahar pemberian kang Bahar, masih ada, 'kan?" ucap yandri, mencoba memberikan pengertian.


"Masalahnya Kakak nggak jadi nikah di KUA, Dek. Semua teman-teman Kakak ingin menyaksikan pernikahan Kakak. Karena itu, Kakak memutuskan untuk menikah di rumah saja," jawab Habibah.


"Astaghfirullah, Kak! Kenapa Kakak tidak berembuk dulu dengan Yandri? Meskipun Yandri ini adiknya Kakak, tapi Yandri juga yang akan menjadi wali nikah Kakak. Yandri enggak tahu harus berbuat apa. Saat ini, Yandri sendiri enggak punya uang," ucap Yandri dengan nada kecewa.


"Bukankah kamu masih menyimpan uang untuk aqiqah anak kamu?"


Deg!


Kembali Yandri terkejut dengan perkataan ibunya.


"A-apa maksud Ibu?" tanya Yandri dengan bibir bergetar.


"Dengar Yan, aqiqah anak kamu bisa dilaksanakan kapan saja. Sedangkan pernikahan Habibah, itu akan terjadi dalam hitungan jam. Ibu mohon, bantulah Kakak kamu, Yan."


"Ta-tapi Daniar? Yandri harus diskusi dulu dengan Daniar, Bu," jawab Yandri.


"Astaga, Niar itu hanya istri kamu. Kalau bukan karena terikat pernikahan, dia itu bukan siapa-siapa kamu! Berbeda dengan Habibah yang sudah jelas-jelas memiliki hubungan darah denganmu. Ingat, Yan ... di dunia ini, ada banyak mantan istri, tapi tidak ada mantan kakak ataupun adik. Camkan itu!" teriak Bu Maryam seraya berlalu pergi dari hadapan Yandri.


Tak lama kemudian, Habibah pun ikut pergi menyusul ibunya. Kini Yandri hanya bisa kembali termenung memikirkan ucapan sang ibu. Memang benar, tidak akan pernah ada kata mantan untuk saudara sedarah. Tapi aqiqah putrinya? Yandri benar-benar dilema antara melaksanakan aqiqah sang putri, atau menyelamatkan pernikahan sang kakak.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim ...."


__ADS_2