
Yandri cukup terkejut mendengar isak tangis yang cukup memilukan dari balik punggungnya. Sontak kedua mata Yandri mengerjap. Dia sedikit terpaku mendapatkan pelukan erat dari istrinya.
"Bunda?" gumam Yandri yang masih bisa di dengar oleh sang istri.
Daniar sudah berusaha menghentikan tangisnya. Namun, kini dadanya yang terasa sesak. Pada akhirnya, Daniar kembali terisak sambil mengencangkan pelukan.
Perlahan, Yandri membalikkan badan. "Hei ... kenapa, Bun?" tanya halus Yandri seraya menangkup wajah istrinya.
Daniar tak kuasa menatap wajah suaminya. Dia pun menyusupkan wajah di dada bidang sang suami. Pundaknya kembali berguncang pertanda dia sedang menangis.
"Ssst, sudah Bun. Jangan menangis lagi, Bintang bisa bangun loh, kalau dengar tangisan kamu," bisik Yandri di telinga sang istri.
"Ma-maafkan Bun-da, Yah ... hiks ... ti-tidak seharusnya Bu-bunda meminta Ayah un-untuk me-nemui ibu, huhuhu ..." ucap Daniar di sela-sela isak tangisnya.
"Heeei, Bunda enggak salah," bantah Yandri. "Kenapa juga harus minta maaf. Sudah, lupakan saja, Bun," imbuhnya.
Daniar hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sungguh, dia sudah tidak kuasa lagi menahan kesakitan di hatinya. Ketegaran dan kesabaran Yandri bukan membuat Daniar kuat, tapi malah membuat dadanya semakin sesak saja.
"Bunda enggak bisa melupakannya begitu saja, Yah. Bunda enggak sanggup." Lirih Daniar.
"Bunda harus bisa. Lihat Ayah!" pinta Yandri tegas.
Daniar mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah suaminya yang sedang mencoba bersikap baik-baik saja.
"Lihat Ayah baik-baik, Bun. Ayah sama sekali tidak terganggu dengan sikap ibu. Bunda harus percaya sama Ayah. Karena kepercayaan Bunda, adalah keyakinan Ayah untuk selalu baik-baik saja dalam menjalani kehidupan ini. Bunda percaya, 'kan sama Ayah?"
Daniar menganggukkan. Kembali dia pun memeluk erat suaminya.
"Sst, sudahlah Bun. Kita lupakan semua kepahitan kita hari ini," kata yandri. "Bunda harus selalu ingat, meskipun diterpa teriknya matahari dan dinginnya air hujan, bumi selalu baik-baik saja," imbuhnya.
Tapi aku bukan bumi, Yah. Aku hanya manusia biasa yang memiliki batasan. Ketika hati sudah lelah dengan setiap perkara yang menyakitkan. Salahkah jika kaki tertahan untuk tidak melangkah ke tempat itu lagi? Aku tidak mampu menyembunyikan perasaanku lagi, Yah. Aku tidak sanggup, batin Daniar.
"Sebenarnya, hati kamu itu terbuat dari apa, Yah? Kenapa kamu selalu bisa menganggap hal yang menyakitkan itu menjadi sebuah hal yang biasa saja?" tanya Daniar menatap heran suaminya.
Yandri tersenyum. "Mungkin karena selama ini, Ayah selalu berteman dengan kesakitan, Bun. Oleh sebab itu hati Ayah menjadi kebal. Hehehe,..." canda Yandri, berusaha menghibur istrinya.
__ADS_1
Daniar hanya tersenyum tipis sambil memukul pelan dada suaminya. "Ish, Ayaaah ..." rengek Daniar
"Sudahlah, kita tidur sekarang. Bukankah besok kita akan mengajak Bintang berenang?" kata Yandri.
Daniar mengangguk.
"Kemarilah ... biar Ayah peluk Bunda," lanjut Yandri seraya menarik Daniar ke dalam pelukannya.
.
.
Setelah mendapatkan pil pahit dari sang bunda, tekad Yandri untuk memperbaiki hidupnya semakin kuat. Kalimat ibunya dia jadikan cambuk agar lebih bersemangat lagi dalam menghadapi aral rintang yang menjadi penghalang. Bagaimanapun caranya, Yandri harus bisa membuktikan jika dia mampu menjadi seseorang yang pantas untuk dibanggakan. Setidaknya oleh keluarga kecilnya sendiri.
Bulan demi bulan Yandri pupuk dengan kesabaran dan ketawakalan. Sedikit pun dia tidak pernah menaruh dendam kepada orang-orang yang pernah menyepelekan kemampuannya. Berbeda dengan Daniar yang semakin membatasi diri dengan orang-orang yang pernah menyakitinya.
"Enggak, Yah. Niar bukan malaikat yang memiliki hati bersih. Mungkin Bunda bisa memaafkan mereka. Namun, untuk kembali dekat dengan mereka ... Bunda enggak bisa,Yah. Bunda enggak mau jatuh di kubangan yang sama."
Kembali hanya itu yang selalu Daniar ucapkan saat Yandri meminta dia untuk melupakan orang-orang yang pernah mengusik hidupnya.
Saat dia sedang beristirahat di masjid, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Yandri merogoh saku jas untuk melihat siapa yang tengah meneleponnya.
Kang Rahmat? Kok tumben kang Rahmat menelepon, batin Yandri seraya mengerutkan keningnya. Sejurus kemudian, dia mengangkat telepon dari kakak iparnya itu.
"Assalamu'alaikum, Kang!"
"Wa'alaikunsalam," jawab Rahmat di ujung telepon. "Gimana kabar kamu, Yan?" tanyanya lagi.
"Alhamdulillah, baik Kang. Akang sendiri gimana kabarnya? Apa baik-baik saja? Bagaimana kabar Kak Aminah dan Nisa?" Yandri balik bertanya tentang keluarga kakak tertuanya itu.
"Alhamdulillah, Akang baik Yan. Kak Minah sama Nisa juga baik-baik saja. Oh iya, Yan. Akang mau bicara hal penting sama kamu. Apa kamu punya waktu nanti malam? Sepulang kerja?" papar Rahmat.
"Mau bicara apa, Kang? Hmm, sepertinya sekarang saja, soalnya Yandri juga sedang istirahat," ucap Yandri.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Begini, Yan ... Akang mau minta tolong sama kamu. Jika kamu punya simpanan uang, apa boleh kakak pinjam terlebih dahulu?" tanya Rahmat, tanpa ragu.
__ADS_1
Tuing!
Pikiran Yandri seakan berputar seketika saat mendengar tentang pinjaman.
"Memangnya untuk apa, Kang?" tanya Yandri.
"Kakak kamu hendak menutup tagihan ke Bank, supaya bisa mengajukan kembali pinjaman yang baru. Kebetulan tagihannya hanya tinggal tiga kali bayar," tutur Rahmat.
"Kenapa tidak menunggu pembayaran terakhir saja, Kang? Bukankah hanya tinggal beberapa bulan lagi?" kata Yandri.
"Hmm, Kelamaan Yan? Akang sama kakak kamu lagi butuh uang. Kebetulan Akang punya kebutuhan yang mendesak bulan depan. Kalau bulan sekarang bisa dilunasi, bulan depan, 'kan bisa cair pinjamannya," jawab Rahmat.
"Ya sudah, Kang. Nanti Yandri coba tanya Daniar dulu ya, apa simpanannya masih ada atau tidak," balas Yandri.
"Tapi jangan lama-lama ya, Yan. Tolong kabari Akang secepatnya," pinta Rahmat.
"Iya, Kang. Akan Yandri usahan untuk secepatnya mengabari Akang begitu Yandri dapat jawaban dari Daniar," balas Yandri.
"Iya, Yan. Makasih ya, Dek. Kalau begitu, Akang tutup teleponnya," pungkas Rahmat.
Begitulah watak Yandri. Meski sudah berusaha untuk bersikap masa bodoh, tapi dia tidak bisa mengabaikan kesulitan keluarganya. Selama dia mampu, dia pasti akan menolong. Karena itu Yandri pun mulai mengirimkan pesan kepada Daniar.
.
.
Sementara itu, di tempat kerjanya. Daniar menautkan kedua alisnya saat mendapatkan sebuah pesan dari Yandri. Sedikit menghela napas sebelum akhirnya Daniar mengetik pesan balasan kepada sang suami.
Iya, uangnya masih Bunda simpan, kok. Silakan saja datang ke rumah jika memang perlu. Tapi tolong bilang sama mereka agar tidak terlalu lama mengembalikannya.
Setelah mengirimkan pesannya. Daniar menyandarkan punggung. Semua anak didiknya telah telah pulang. Dia menatap kosong bangku yang berjajar rapi di hadapannya.
Sejenak, Daniar menghela napasnya. Bayangan sikap Aminah dan Rahmat saat dulu Yandri meminjam uang untuk USG, masih begitu terekam jelas di ingatan Daniar. Namun, entah kenapa suaminya itu begitu mudah membantu kesulitan mereka. Sepertinya rasa sakit itu seolah menguap dari hati sang suami saat mendengar keluh kesah mereka. Daniar pun hanya bisa menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan.
Pepatah yang mengatakan uang berkuasa, memanglah tidak salah. Saat kita telah memiliki harta, dan tahta. Berbondong-bondong semua orang mengaku saudara. Bahkan saudara yang tadinya jauh, dia akan mendekat. Saudara yang awalnya membenci, dalam sekejap kebenciannya berubah menjadi cinta. Sungguh, sebuah hukum alam yang tidak pernah bisa kita hindari. Lawan pun akan mengaku kawan jika kita telah memiliki harta dan tahta. Ah, memang dunia ini penuh kepalsuan.
__ADS_1
Tapi kamu harus tetap waspada, Niar. Karena tidak ada orang yang berubah baik dalam sekejap. Siapa tahu saja saat ini mereka sedang memanfaatkan kelemahan suami kamu, kata hati Daniar.