Setelah Hujan

Setelah Hujan
Alasan Bintang


__ADS_3

Mulut Bintang terbuka lebar ketika melihat selembar kertas yang ditunjukkan Daniar. Kedua bola matanya membulat sempurna. Seketika, kedua lutut Bintang terasa lemas seakan tak bertulang.


Sadar karena telah melakukan kesalahan, Bintang segera menjatuhkan diri di depan kedua kaki ibunya. Kedua tangan Bintang, memegang betis Daniar.


"Ma-maafkan Bibin, Bun. Demi Tuhan ... Bibin tidak bermaksud untuk membohongi Bunda, juga Bu Megi."


Bintang mulai terisak pilu, menyadari kesalahannya. Dia menyesal karena telah membuat ibunya kecewa. Namun, jujur saja Bintang tidak punya pilihan lain. Dia tahu kalau sang bunda sedang mengalami kesulitan keuangan. Karena itu dia memutuskan untuk tidak memberi tahu kegiatan study tour di sekolahnya.


"Tapi pada kenyataannya, kamu telah membohongi Bunda, Bintang Azura! Dan itu membuat Bunda kecewa. Sangat kecewa!" ucap Daniar, dingin.


"Ampuni Bibin, Bun! Bibin janji, Bibin tidak akan pernah mengulangi perbuatan itu lagi," balas Bintang. Air matanya mulai deras mengalir di kedua pipinya.


"Lalu, kenapa kamu tega membohongi Bunda?" Daniar masih bertanya dengan nada yang sangat datar.


Hening. Lidah Bintang terasa kelu. Dia tidak sanggup berkata jujur tentang alasan dia berbohong. Karena itu, Bintang hanya bisa menutup mulutnya sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


"Jawab bintang Azura!"


Merasa kesal dengan diamnya sang anak, Daniar berteriak seraya menghentakkan kakinya dengan kuat. Dan hal itu, tanpa sadar telah membuat tubuh Bintang terjengkang ke belakang.


Daniar terkejut. Namun, rasa kesal atas kebohongan yang dilakukan bintang, jauh lebih besar daripada keinginan dia untuk menolong sang anak berdiri.


Sekujur tubuh Daniar terasa lemas. Kedua kakinya seolah tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Tubuh Daniar pun ambruk menyentuh lantai.


"Kamu tidak ingin menjawabnya Bintang Azura? Baiklah, Bunda tidak akan memaksa kamu. Tapi jangan salahkan Bunda jika Bunda menyerahkan kamu kepada ayahmu. Jika kamu sudah pintar berbohong, itu artinya Bunda telah gagal mendidik kamu. Selama ini, Bunda tidak pernah mengajari kamu untuk berbohong, tapi entah kenapa kamu bisa melakukannya. Bunda gagal! Bunda sudah sangat gagal mendidik anak. Mungkin karena itu juga, Tuhan lebih baik mengambil rahim Bunda daripada Bunda punya anak, tapi tidak becus untuk mendidiknya," racau Daniar.


Untuk sesaat, hanya isak tangis yang terdengar di antara ibu dan anak itu. Hingga akhirnya, Daniar kembali bertanya kepada Bintang.


"Lalu, apa alasan kamu berbohong, Nak? Bunda yakin kamu anak yang baik, tapi kenapa kamu tega membohongi Bunda? Apa alasannya, Bin?" desak Daniar.


"Bibin ... emh, Bibin ha-hanya tidak ingin membebani Bunda lagi. Bibin tahu jika keadaan ekonomi kita sedang sulit. Bibin enggak mau menambah kesulitan Bunda dengan memikirkan study tour Bibin," papar Bintang yang akhirnya mengakui alasan kenapa dia berbohong.

__ADS_1


Daniar terhenyak mendengar pengakuan anaknya. Tak ayal lagi, dia menarik Bintang dan memeluknya dengan erat.


Astaghfirullahaladzim ... batin Daniar beristighfar.


Daniar benar-benar tidak menyangka jika bintang begitu peka akan kesulitan yang sedang dihadapinya. Padahal, Daniar tidak pernah bercerita sedikit pun tentang kesulitan ekonominya.


"Maafkan Bunda, Nak. Maafkan Bunda karena sudah begitu marah hingga tidak pernah bertanya terlebih dahulu tentang alasan kamu berbohong. Padahal, kamu melakukan kebohongan ini demi menjaga perasaan Bunda," ucap Daniar, lirih.


"Enggak, Bun. Bibin yang minta maaf. Bibin sudah membuat Bunda kecewa. Maafkan, Bibin," timpal Bintang.


Daniar semakin mengeratkan pelukannya. Sungguh, dia adalah seorang ibu yang sangat beruntung karena memiliki anak yang bisa memahami keadaannya.


Ya Tuhan, Kang ... kita begitu beruntung memiliki Bintang yang bisa memahami kondisi kita. Namun, entah kenapa ibu kamu tega ingin mengambil hak asuh bintang. Tolong jangan pisahkan Niar sama Bintang, kang. Niar mohon...


jerit Niar dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2