Setelah Hujan

Setelah Hujan
Panen Ikan


__ADS_3

Kebaikan Yandri yang selalu disalahartikan, pada akhirnya membuat hati Daniar merasa kesal. Kenapa suaminya itu tidak pernah mau sadar? Kenapa dia tidak pernah mau belajar dari pengalamannya?


Ya Tuhan ... hamba tahu hubungan darah itu lebih kental. Namun, apa hubungan darah seperti ini pantas dipertahankan? Hubungan darah yang hanya akan datang di saat mereka butuh sesuatu. Namun, ketika hamba dan suami hamba mengalami kesulitan, mereka seakan menutup mata dan telinga, keluh Daniar dalam hatinya.


Daniar memijit kedua pelipisnya yang mulai berdenyut. Ah, semakin lama dipikirkan, rasanya kepala Daniar semakin terasa sakit.


Malam mulai merangkak semakin jauh. Suasana malam pun semakin gelap karena sinar bulan terhalang awan hitam. Dengan harap-harap cemas, Daniar menantikan kedatangan suaminya.


Berulang kali Daniar melirik jam beker yang terpajang di atas nakas. Embusan napasnya terasa berat saat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Pikiran Daniar pun semakin kacau tatkala ponsel Yandri tidak bisa dihubungi.


Ya Tuhan ... tolong lindungi suami hamba, batin Daniar seraya memeluk bingkai foto pernikahannya.


Daniar mengerjapkan mata. Sayup-sayup dia mendengar deru motor yang memasuki pekarangan rumah. Sontak dia terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Daniar keluar kamar untuk memastikan suara kendaraan beroda dua milik suaminya.


Daniar terus mengayunkan langkah kakinya menuju kamar paviliun. Tiba di sana, dia membuka tirai jendela untuk melihat siapa yang datang. Memanglah benar, suaminya tampak sedang mematikan mesin motor agar tidak membangunkan orang rumah. Daniar pun keluar dari kamar paviliun dan segera berlari ke halaman belakang untuk membuka garasi.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," kata Daniar begitu suaminya memasuki gerbang. "Kok telat, Yah?" tanya Daniar.


"Iya, Bun. Ayah banyak berhenti karena mabal terus," jawab Yandri.


"Ish, hati-hati dong, Yah," tukas Daniar.


"Iya, mangkanya Ayah sering berhenti juga," balas Yandri.


"Ya sudah, masuk Yuk!" ajak Daniar.


"Tunggu, Bun. Tolong bawakan tas Ayah saja. Ayah mau keluar lagi buat cari bandar," kata Yandri seraya menyerahkan ranselnya.


"Ish, Ayah baru sampai. Setidaknya makan dan minum dulu," tukas Daniar.


"Sudah enggak ada waktu, Bun. Lagi pula, nanggung. Biar sekalian capek juga. Kalau sudah nemu bandar, 'kan tenang Bun," jawab Yandri. "Ya sudah ya, Ayah pergi dulu," pamitnya seraya kembali mengenakan helm.


Daniar hanya menarik napas panjang melihat tingkah suaminya. Begitulah Yandri, sedari dulu sikapnya memang tidak pernah berubah. Jika sudah memiliki rencana, maka harus tuntas saat Itu juga.


Akhirnya Daniar mengalah. Dia membiarkan suaminya pergi lagi untuk mencari bandar. Melarang pun hanya akan membuang waktu saja. Daniar kembali ke rumah seraya menjinjing ransel suaminya.


"Ibu dengar suara motor, Ni. Apa Yandri sudah datang?" tanya Bu Salma saat berpapasan dengan anaknya di ruang makan.


"Iya, Bu. Kang Yandri memang sudah datang," jawab Daniar.


"Hmm, mana dia?" tanya Bu Salma seraya mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


"Dia pergi lagi untuk mencari bandar, Bu. Katanya besok mau panen ikan," jawab Daniar.


"Oalah ... Kenapa enggak besok subuh aja, Ni? 'Kan cape baru datang juga," tukas Bu Salma.


"Daniar sudah bilang, Bu. Tapi Ibu, 'kan tahu sendiri gimana kang Yandri," tukas Daniar. "Niar pamit ke kamar dulu, Bu," lanjutnya.


"Iya, Kak. Pergilah!" jawab Bu Salma.


Daniar kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.


.


.


Lepas pukul 12 malam, Yandri tiba di rumah. Dia sengaja membawa kunci pintu gerbang supaya tidak mengganggu istirahat orang rumah.


Setelah memarkirkan motor, Yandri masuk rumah. Di depan kamar mandi, dia membuka celana panjangnya. Sejurus kemudian, Yandri memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia membasuh muka, tangan dan kedua kakinya.


Selesai dengan semua kegiatan di kamar mandi, Yandri pun keluar. Dia meraih handuk untuk mengeringkan sisa air yang berada di kedua tangan dan kaki. Lepas itu, dia pergi ke kamar untuk beristirahat.


Tiba di kamar, Yandri melihat istrinya tengah tertidur menyamping. Kimono tipis yang dikenakan sang istri, membuat darah Yandri berdesir hebat. Membayangkan tubuh molek di balik kain tipis, seketika membuat si kecil bangun. Yandri segera berganti pakaian. Tak lama kemudian, dia ikut tidur di samping Daniar seraya memeluknya erat. Kerinduan sudah membuncah di hati Yandri. Karena itu, dengan cepat, tangan Yandri bergerilya untuk mencari sensasi yang bisa mengobati kerinduannya.


"Ayah? Humph ...!"


.


.


Pergulatan semalam akhirnya membuat subuh Yandri kesiangan.


"Hhh, padahal seharusnya tadi subuh aku pergi ke kolam. Kok bisa bangun kesiangan sih?" gerutu Yandri sambil terus mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Daniar tersenyum di balik selimut. "Lagian, sudah tahu cape, kenapa juga ngajakin tempur, kesiangan, 'kan?" ledek Daniar.


"Ih, malah ngeledek lagi, buruan bangun ah, mandi sana!" ucap Yandri seraya melempar handuk yang tadi dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


Daniar hanya terkekeh sambil kembali menutupi wajahnya dengan selimut. Setelah mendengar suaminya keluar, Daniar pun bangun dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Pukul 6 pagi, Yandri pergi ke kolam yang letaknya cukup jauh dari rumah. Tiba di sana, para pekerja sudah berhasil mengeluarkan air dari kolam ikan, meskipun baru setengahnya. Kolam ikan peninggalan almarhumah Hajjah Maryam begitu luas. Karena itu, butuh waktu yang cukup lama supaya volume air di dalam kolam tersebut benar-benar berkurang.


"Dimulai jam berapa, Mang?" tanya Yandri kepada pengurus kolam ikan peninggalan almarhumah.

__ADS_1


"Jam empat subuh, Den?" jawab Mang Amo.


"Hmm, masih belum berkurang banyak," balas Yandri.


"Iya, Den. Soalnya tadi subuh sempat hujan juga," timpal Mang Amo.


Yandri tersenyum. "Banyakin sabar aja, Mang," guraunya.


"Hehehe, iya Den. Ya sudah, Den. Mamang mau cek pembuangan sebelah sana dulu." Tunjuk Mang Amo pada kubangan kecil yang berada di ujung kolam.


Yandri mengangguk. Tak lama setelah Mang Amo pergi, Yandri pun berkeliling untuk memastikan kolam air berkurang.


.


.


"Gimana, Kang, apa sudah ada kabar dari Yandri?" tanya Aminah.


"Tadi pagi Yandri bilang, kolamnya jadi dipanen hari ini, Nah," jawab Rahmat.


"Apa Akang akan pergi ke sana?" tanya Aminah lagi.


"Iya. Ini Akang lagi bersiap-siap, Nah. Sudah, kamu urus saja yang lainnya. Akang mau ke tempat Yandri dulu," pungkas Rahmat.


Aminah mengangguk. Dia kembali ke dapur untuk memantau para pekerja yang tengah masak. Hari ini, para tetangga dan kerabat mulai berdatangan untuk membantu Aminah mempersiapkan pernikahan putrinya yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.


Pukul 8 pagi, Rahmat tiba di alamat yang pernah diberikan adik iparnya. Baru saja dia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Yandri, adik iparnya itu sudah melambaikan tangan memanggilnya. Rahmat mengayunkan langkah untuk mendekati Yandri yang sedang berdiri di tepi kolam.


"Bagaimana, Yan. Apa ikan gurame-nya sudah dipisahkan?" tanya Rahmat begitu tiba di hadapan Yandri.


"Belum, Kang. Airnya belum berkurang juga. Kata penjaga kolam, tadi subuh hujan cukup deras, karena itu volume air bertambah," tutur Yandri.


"Hmm, kolam seluas ini, tentunya akan menyita banyak waktu, Yan," sahut Rahmat.


Yandri tersenyum menanggapi ucapan Rahmat. "Yang penting ikannya aman, Kang," balas Yandri.


"Bener juga, ya sudah kita tunggu saja," pungkas Rahmat.


Sambil menunggu volume air benar-benar berkurang, Rahmat dan Yandri berbincang-bincang di atas tikar yang sudah disediakan Mang Amo.


"Sarapan dulu, Den?"

__ADS_1


__ADS_2