Setelah Hujan

Setelah Hujan
Ucapan itu Do'a


__ADS_3

Yandri kembali mengangkat tubuh lemah Bu Maryam.


"Tolong buka pintunya, Kak!" pinta Yandri kepada Habibah.


Habibah mengangguk. Dia kemudian membuka pintu belakang mobil Yandri. Sesaat kemudian, Yandri membaringkan Bu Maryam di kursi belakang. Setelah itu, Yandri pun membuka pintu kemudi.


Tanpa tahu malu, Siska membuka pintu depan mobil Yandri dan duduk di kursi sebelah Yandri. Untuk sejenak, Yandri melirik Siska yang sedang memasang safety belt. Dia geram, karena wanita itu telah begitu lancang menempati kursi milik mantan istrinya. Namun, Yandri tak punya waktu untuk menegur kelancangan Siska. Kesehatan ibunya jauh lebih penting dibandingkan apa pun.


Yandri menyalakan mesin mobilnya. Sejurus kemudian, mobil pun keluar dari halaman parkir mall. Yandri melajukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat.


.


.


Di taman kota.


Bintang masih asyik duduk sendirian di sebuah bangku taman. Sedangkan Adwira, pemuda itu juga masih setia menunggui Bintang melamun. Dia duduk di bangku yang letaknya hanya berjarak satu meter dari bangku yang diduduki oleh Bintang. Adwira tahu jika gadis tomboy itu sedang bersedih. Namun, Adwira sendiri tidak tahu bagaimana cara menghiburnya.


"Aaargh!"


Tiba-tiba Bintang berteriak keras seraya berdiri. Adwira yang sedang melamun, sontak terlonjak dari tempat duduknya. Setengah berlari, Adwira menghampiri Bintang dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Are you oke?" tanya Adwira.


Bintang menoleh. Wajahnya sudah kembali berubah. Tak ada kesedihan tergambar di sana. Hingga Adwira sempat berpikir, jika Bintang mungkin saja memiliki kepribadian ganda. Sebentar menyeramkan, sebentar menggemaskan.


"Kita pulang!"


Bintang tidak menjawab pertanyaan kawannya. Akan tetapi, dia malah mengajak Adwira untuk pulang.


"Sure! Why not," jawab Adwira.


Kedua anak remaja itu pun keluar dari taman kota.


"Aku mohon, tolong rahasiakan kejadian tadi kepada Bunda," pinta Bintang.


"Tapi kenapa, Bin?" tanya Adwira, "dan ngomong-ngomong, siapa bapak-bapak tadi?" lanjutnya.


Bintang menghentikan langkahnya. Sejenak, dia menghela napas dan menatap intens kepada Adwira.


"Pertama, aku tidak ingin membebani pikiran Bunda karena pertengkaran yang aku lakukan tadi dengan orang itu. Kedua, dia ayahku. Jangan tanya!" seru Bintang ketika melihat Adwira hendak berbicara.

__ADS_1


"Aku janji, suatu hari nanti aku akan menceritakan semuanya tentang laki-laki itu," lanjut Bintang.


Adwira tersenyum. "Ya sudah, ayo pulang. Bunda pasti kerepotan di toko."


Adwira kembali melangkahkan kakinya. Dia memang penasaran dengan kehidupan pribadi gadis tomboy itu. Namun, dia sadar jika seseorang pasti memiliki privasi sendiri.


"Thanks, Wira!" gumam Bintang, menatap punggung Adwira yang mulai mengecil.


.


.


Setengah jam melewati perjalanan, akhirnya Yandri tiba di rumah sakit umum milik pemerintah. Yandri menghentikan mobilnya tepat di depan pintu ruang UGD. Dia meminta brankar untuk ibunya kepada perawat yang bertugas.


"Kau temani ibumu ke dalam, biar aku yang memarkirkan mobilnya," ucap Siska.


Tak ada gunanya bersikap egois dalam keadaan darurat seperti ini. Yandri tidak menyahut, tapi dia juga tidak mengiyakan. Dia hanya membantu perawat mendorong brankar ibunya.


"Tolong diisi dulu formulir pendaftarannya, biar pasien bisa segera ditangani," pinta salah seorang perawat.


"Kamu aja yang isi, Yan. Kakak tidak begitu pandai membaca. Biar Kakak yang menemani ibu," kata Habibah.


Yandri mengangguk. Dia pun mengayunkan langkahnya menuju loket pendaftaran pasien.


"Itu dia," gumam Siska ketika melihat Habibah berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar UGD.


"Bagaimana, Kak? Apa ibu sudah ditangani?" tanya Siska.


Habibah menoleh. Kecemasan tergambar jelas pada raut wajahnya.


"Ibu sudah dibawa ke bilik pemeriksaan, Sis," jawab Habibah.


"Lalu, di mana Yandri?" tanya Siska lagi.


"Tuh!"


Dagu Habibah menunjuk ke arah loket pendaftaran. Tampak Yandri sedang mengisi formulir pendaftaran untuk ibunya.


Siska sedikit lega setelah melihat keberadaan Yandri. Meskipun jauh di lubuk hatinya, dia sangat kecewa karena batal bertunangan hari ini. Huh, semua ini gara-gara anak sialan itu! umpat Siska dalam hatinya.


"Semoga saja ibu baik-baik saja, Kak. Jujur, aku kaget sekali ketika melihat ibu seperti itu. Ah, entah apa yang terjadi. Kenapa ibu bisa terkena stroke seperti itu?" oceh Siska.

__ADS_1


Habibah diam. Dia sendiri tidak mengerti dengan keadaan ibunya yang tiba-tiba terserang stroke. Padahal, selama ini ibunya tidak memiliki riwayat penyakit yang cukup serius.


Tak lama kemudian, Yandri menghampiri kedua wanita itu.


"Apa ibu sudah ditangani oleh dokter, Kak?" tanya Yandri.


"Sepertinya sudah, Dek. Soalnya tadi Kakak lihat ada seorang dokter yang memasuki bilik ibu," jawab Habibah.


"Syukurlah kalau begitu," balas Yandri. "Sebenarnya, apa yang terjadi Kak? Kenapa ibu bisa sampai jatuh pingsan?" imbuhnya.


Habibah dan Siska hanya bisa saling tatap. Kedua wanita itu kebingungan mencari jawaban untuk pertanyaan Yandri. Beruntungnya, panggilan perawat menyelamatkan keadaan mereka berdua.


"Keluarga Ibu Maryam!"


Yandri berjalan menghampiri perawat tersebut.


"Saya anaknya, Sus," kata Yandri.


"Begini, Pak. Ibu Anda terkena serangan stroke yang cukup serius. Setelah diperiksa oleh dokter, ada beberapa bagian anggota tubuh yang kehilangan fungsinya ataupun lemah. Untuk itu, ibu perlu perawatan intens selama beberapa minggu. Sekarang, ibu hendak dipindahkan ke ruang rawat inap," tutur suster Alma.


"Apa dia sudah sadar?" tanya Yandri.


"Ya, ibu Anda sudah sadar. Namun, untuk saat ini dia tidak bisa berbicara sempurna. Bagian tubuh sebelah kanan beliau telah kehilangan indera perabanya, atau biasa disebut mati rasa. Beruntungnya, serangan itu tidak menyerang otak, hingga beliau masih bisa mencerna perkataan lawan bicaranya," papar suster Alma tentang kondisi Bu Maryam.


"Astaghfirullah ..." gumam Yandri.


Kedua kaki Yandri seakan tidak bertulang ketika mendengar kondisi ibunya pasca terserang stroke. Tangannya mulai berpegangan pada dinding ruang UGD agar tidak jatuh.


"Baiklah, Pak. Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya permisi dulu," pamit Suster Alma.


Yandri hanya bisa menganggukkan kepalanya. Tak jauh dari tempat dia berdiri, Siska dan Habibah hanya bisa saling berpegangan tangan untuk menguatkan satu sama lain. Mereka tidak menyangka jika sandiwara yang dilakukan ibunya, kini menjadi sebuah kenyataan.


Entah ini karma ataupun hukuman. Namun, satu hal yang mereka sadari adalah ... ucapan itu do'a!


Tak lama berselang, dua orang perawat mendorong brankar Bu Maryam keluar dari kamar UGD. Saat brankar itu melewati Siska dan Habibah, untuk sejenak pandangan mereka beradu.


Siska dan Habibah terlihat gemetar melihat tatapan tajam Bu Maryam. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita tua itu.


"Kami hendak membawa pasien ke ruang rawat di lantai dua. Ruang Cemara, kamar 07," kata perawat itu memutus pandangan Siska dan Habibah.


"Eh, ba-baik, Sus." jawab mereka.

__ADS_1


Masih dengan bergandengan tangan, Siska dan Habibah pun berjalan mengikuti kedua perawat tersebut.


__ADS_2