
Tok-tok-tok!
Ketukan di pintu depan, memaksa Yandri beranjak dari kursinya. Yandri membuka pintu dan cukup terkejut melihat ibu dan adiknya sudah berdiri di depan pintu.
"Assalamu'alaikum, Yan!" Bu Maryam mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam. Mari masuk, Bu, Yo!" balas Yandri seraya mempersilakan ibu dan adiknya masuk.
Bu Maryam dan Yoga memasuki kamar Yandri. Mereka kemudian duduk di atas sofa. Bu Maryam mengedarkan pandangannya. Untuk pertama kalinya sejak Yandri pindah, Bu Maryam menemui Yandri di sekolah. Dahinya sedikit berkerut saat melihat isi ruangan tempat tinggal anaknya.
"Berantakan sekali kamar ini, Nak. Istri kamu ke mana, sampai tidak bisa membereskan bekas mainan anaknya sendiri?" tanya Bu Maryam yang melihat mainan Bintang berserakan di kursi.
"Daniar sedang mencuci pakaian, Bu. Kalau Bintang belum tidur, ya kamar pastinya berantakan, Bu. Nanti juga Yandri bereskan," jawab Yandri.
"Kamu yang bereskan? Ish, yang benar saja, Yan. Memangnya apa saja kerjaan istri kamu, sampai membersihkan kamar sekecil ini pun, harus kamu yang melakukan?" tukas Bu Maryam.
"Enggak seperti itu, Bu. Kami memang saling berbagi tugas. Bintang, 'kan masih kecil, belum bisa ditinggal-tinggal sendirian. Karena itu, Yandri sama Daniar berbagi pekerjaan rumah," tutur Yandri, lebih me. perjelas lagi jawabannya.
"Huh, bisa tambah manja saja istri kamu, Bang," timpal Yoga
Yandri hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan adiknya.
"Ngomong-ngomong, ada keperluan apa kamu datang kemari, Dek?" tanya Yandri kepada adiknya.
"Yoga cuma ngantar ibu doang. Katanya, ada yang mau Ibu omongin sama kamu, Bang," jawab Yoga.
Yandri mengalihkan pandangannya ke arah sang ibu. "Mau ngomong apa, Bu?" tanya Yandri.
Bu Maryam menghela napasnya. "Begini, Yan. Ibu mau pinjam uang ke sekolah kamu," ucap Bu Maryam tanpa basa-basi.
Yandri menautkan kedua alisnya. Sedetik kemudian, dia berkata, "Untuk apa, Bu?"
"Untuk biaya pernikahan, Raihan," jawab Bu Maryam.
Yandri terkejut. Bukankah dua hari yang lalu, kak Aminah sudah memberikan uang tambahan, tapi kenapa masih kurang juga? pikir Yandri.
"Mohon maaf sebelumnya, Bu. Tapi Yandri sudah tidak pernah pinjam lagi ke sekolah. Pak Agus sudah tidak mengelola keuangan tabungan lagi. Uang tabungan para murid setiap harinya disetorkan ke bank. Karena sekarang pihak bank yang mengelolanya," papar Yandri.
Sesuai kesepakatan istri, dan bendahara sekolah, Yandri terpaksa berbohong perihal penyimpanan uang tabungan sekolah. Iya, Yandri sadar, jika dia tidak bertindak dari sekarang, maka selamanya ibu dan saudaranya akan terus menjadikan sekolah sebagai tumpuan ekonomi mereka. Yandri tidak mau terlibat utang lagi, terutama ke sekolah.
"Oh, begitu ya," jawab Bu Maryam terlihat sedih.
"Maaf Bu, kalau boleh tahu, kenapa Ibu ingin meminjam lagi untuk pernikahan Raihan. Bukankah kak Aminah sudah memberikan tambahan untuk biaya pernikahan Raihan?" tanya Yandri, menyelidik.
__ADS_1
"Karena pernikahan mereka akan dilaksanakan secara siri, Mia mengajukan syarat kepada Raihan, Nak," jawab Bu Maryam.
"Syarat?" Ulang yandri, "syarat apa, Bu?" tanyanya.
"Mia meminta mahar berupa emas putih seberat 20 gram, Yan," jawab Bu Maryam.
Yandri terhenyak. Dia merasa kaget dengan apa yang dikatakan ibunya. "Apa untuk mahar pun, Raihan tidak memilikinya?" Yandri kembali bertanya.
"Jangankan emas putih seberat 20 gram, Bang. Buat cincin kawin pun, kak Minah yang nyiapin," tukas Yoga.
"Lantas?" tanya Yandri.
"Ya apalagi ... ibu kita yang harus mencari pinjaman ke sana kemari buat menuhin mahar yang diminta. Kalau Abang memang ada duit, tolong pinjamkan Ibu dulu. Abang enggak kasihan apa, sama ibu? Dia sudah berusaha cari pinjaman ke semua kakaknya, tapi enggak ada hasil. Lagian, Ibu pinjam enggak cuma tangan kosong, Bang. Abang tahu, 'kan, pohon albasia yang ada di depan rumah ibu? Nah, pohon-pohon tersebut bisa dijadikan jaminan kalau memang si Raihan enggak bayar tepat waktu," tutur Yoga.
Yandri hanya bisa termenung mendengar penuturan sang adik. Sebenarnya, dia merasa kasihan kepada ibunya yang telah berusaha meminjam uang untuk biaya pernikahan Raihan. Namun, Yandri sendiri tidak punya uang untuk dia pinjamkan kepada ibunya.
"Maaf Bu, tapi Yandri sama sekali enggak pegang uang lebih. Jika memang Ibu berniat menjual pohon itu, silakan dijual saja kepada orang lain," ucap Yandri.
"Ayolah, Bang. Hanya untuk dua minggu, kok. Ini Yoga lagi berusaha cari pembeli dengan harga tinggi. Ya Abang, 'kan tahu sendiri, sekarang harga kayu albasia itu sedang murah," jawab Yoga.
Yandri kembali menghela napas. "Jujur, Dek. Abang memang enggak ada uang. Tapi kalau memang tidak lama, ya Abang bisa pinjamkan uang tabungan anak-anak pengajian. Itu pun tak banyak dan hanya dalam kurun waktu satu bulan. Karena uang tersebut akan dipakai untuk piknik anak-anak bulan depan, setelah ujian sekolah," kata Yandri.
"Ya sudah, tidak masalah. Itu saja Abang pinjamkan. Toh hanya untuk dua minggu ini," ucap Yoga seakan memberikan perintah kepada kakaknya.
"Tapi janji ya, Bu. Ini tidak akan lama," tekan Yandri kepada ibunya
Setelah menimbang baik dan buruknya, akhirnya dengan terpaksa Yandri meminjamkan uang tabungan pengajian kepada sang ibu. Ya, ibunya sudah tua renta. Yandri tidak tega juga kalau ibunya harus berjalan ke sana kemari hanya untuk mencari pinjaman.
Setelah berhasil mendapatkan pinjaman, akhirnya Bu Maryam dam Yoga berpamitan. Kini, Bu Maryam bisa bernapas lega karena sudah berhasil memenuhi persyaratan Mia. Rencananya, besok Bu Maryam akan menyuruh anak dan menantunya itu berbelanja perhiasan yang mereka minta.
.
.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Daniar segera membereskan peralatan mencucinya. Setelah itu, Daniar membawa ember yang berisi pakaian yang sudah dia cuci bersih. Dalam perjalanan pulang, Daniar melihat ibu mertua dan adik iparnya sedang menuruni tangga. Daniar memanggil kedua orang itu. Namun, baik adik ataupun ibu mertuanya, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk menoleh ke arah Daniar. Mereka acuh tak acuh seraya terus melangkahkan kakinya menuju pembatas sekolah.
"Ih, apa mereka tidak mendengar panggilanku? Hmm mungkin karena jaraknya yang cukup jauh juga," guman Daniar tak mau ambil pusing.
Daniar melanjutkan perjalanannya. Tiba di sekolah, Daniar segera menjemur pakaian tersebut. Selesai menjemurnya, Daniar kembali ke kamarnya.
"Tadi, Bunda lihat ibu sama Yoga datang kemari, Yah. Mereka mau pada ngapain, kok tumben berkunjung?" tanya Daniar seraya merapikan ember bekas mencuci pakaian.
Deg!
__ADS_1
Yandri terkejut mendengar pertanyaan istrinya. Tiba-tiba saja, rasa bersalah menjalari hati Yandri.
"Oh, me-mereka cu-ma se-sekadar ber ... anu, itu bersilaturahmi sa-ja, Bun," jawab Yandri gugup.
Melihat kegugupan yang melanda suaminya. Daniar mulai curiga. Dia kemudian mendekati Yandri seraya duduk di samping sang suami.
"Semoga Ayah tidak sedang membohongi Niar," ucap Daniar seraya menatap tajam ke arah Yandri.
Yandri yang mendengar nada bicara Daniar sedikit dingin, semakin merasa bersalah. Dia kemudian berkata jujur kepada istrinya. "Sebenarnya mereka datang untuk pinjam uang, Bun."
"Pinjam uang untuk apa?" tanya Daniar.
"Untuk mahar Raihan," jawab Yandri.
Daniar mengerutkan keningnya. "Bukankah Ayah sudah kasih mereka uang, ngapain mereka minta lagi? Lagian mereka itu cuma nikah siri, uang dari Ayah dan kak Aminah harusnya cukup untuk melangsungkan pernikahan mereka. Lagi pula, mahar itu hasil usaha pengantin laki-laki, bukan hasil minta," dengus Daniar dengan kesal.
"Sudah Bun, Bintang lagi bobi, nanti kebangun gara-gara denger suara Bunda yang stereo itu," gurau Yandri, mencoba meredakan emosi Daniar.
"Ya Bunda kesal saja, Yah. Kok apa-apa mintanya sama Ayah terus. Bukankah anak Ibu itu banyak? Kenapa Ibu enggak minta sama kak Nauval saja yang sudah jelas-jelas lebih berada dibandingkan kita," jawab Daniar.
"Mungkin ibu merasa segan sama kak Nauval, Bun. Maklum lah, istri kak Nauval itu terlalu banyak ngatur," balas Yandri.
"Terus, Ayah ngasih pinjaman itu, ke ibu?" Daniar kembali bertanya. "Jangan bilang kalau Ayah juga ngasih buat maharnya Raihan," lanjut Daniar.
Yandri diam. Jujur saja dia merasa bersalah karena telah memberikan uang tabungan anak-anak sebagai pinjaman kepada ibunya.
Melihat suaminya bungkam, hati Daniar langsung tidak nyaman. "Jangan bilang kalau Ayah memberikan mereka pinjaman lagi," tekan Daniar.
"Ayah enggak ngasih dengan cuma-cuma, Bun. Mereka pinjam dengan menjaminkan pohon albasia yang berada di depan rumah," jawab Yandri.
"Tapi uang dari mana, Yah? Bukankah kita sudah tidak punya uang lebih? Udah deh, Ayah jangan terlalu memaksakan diri untuk mencarikan mereka pinjaman, entar yang susah kita sendiri," ucap Daniar.
Yandri menundukkan kepala, membuat Daniar semakin curiga. "Atau ... Ayah sudah memberikan mereka pinjaman?" tanya Daniar.
Yandri mengangguk.
"Ta-tapi uang dari mana?" Daniar terlihat cemas. Entah kenapa dia merasa takut jika Yandri menyalahgunakan uang yang dia titipkan tadi.
"Maafkan Ayah, Bun. Ayah menggunakan uang tabungan anak-anak dulu untuk menolong ibu. Tapi Bunda enggak usah khawatir, Ibu janji jika setelah Raihan menikah, Ibu akan segera melunasinya. Yoga juga menjadi saksi. Bahkan dia yang akan mencarikan pemborong untuk membeli pohon albasia itu. Nanti setelah pohonnya terjual, mereka akan segera melunasinya. Lagi pula, mereka tahu jika itu uang anak-anak yang akan dipakai sebulan lagi," jawab Yandri panjang lebar.
"Astaghfirullahaladzim, Ayah ...!" pekik Daniar.
Entahlah, Daniar sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tindakan sepihak Yandri telah membuat hati Daniar sangat terluka. Daniar kecewa, sangat kecewa dengan keputusan Yandri yang tanpa berdiskusi dulu dengannya. Sebagai seorang istri, Daniar merasa tidak pernah dihargai di saat suaminya selalu mengambil langkah di belakangnya.
__ADS_1
Daniar beranjak dari sofa. Tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Dia hanya bisa menghampiri anaknya yang sedang tertidur. Daniar merebahkan tubuhnya di samping Bintang. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang mulai buram.
Ya Tuhan ... kenapa harus selalu seperti ini?