Setelah Hujan

Setelah Hujan
Bertahan


__ADS_3

Yandri merogoh saku celananya untuk membayar ongkos bus. Sisa uang yang dia miliki hanya cukup untuk membayar ongkos busnya. Saat ini, tidak mungkin dia berjalan kaki menuju rumah mertuanya. Meskipun dulu saat dia masih duduk di bangku SMA, dia selalu berjalan kaki setiap pulang dan pergi sekolah. Sejenak, dia menatap satu-satunya barang berharga yang dia miliki.


Hmm, ponsel masih bisa aku beli lagi nanti. Namun, kebahagiaan istriku saat melihat aku pulang hari ini, belum tentu bisa aku lihat lagi di hari-hari berikutnya. Kalau dijual, kira-kira laku berapa,ya? batin Yandri seraya membolak-balikan benda pipih yang dia beli hasil mengumpulkan sisa gajinya selama empat bulan.


Satu jam setelah melewati perjalanan, akhirnya Yandri tiba di tempat persinggahan bus. Yandri kemudian turun dan segera mencari konter terdekat untuk menjual ponselnya.


"Assalamu'alaikum, permisi Mas. Saya ingin menjual ponsel saya, kira-kira bisa nggak, ya?" tanya Yandri begitu tiba di gerai jual-beli handphone second.


"Boleh saya lihat barangnya, Mas?" pinta si penjaga konter.


Yandri mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya kepada penjaga konter tersebut. Lepas itu, si penjaga konter memeriksanya dengan teliti benda pintar itu. Sebentar mengotak-atik benda tersebut untuk memeriksa seberapa bagus bagian dalamnya berfungsi.


"Hmm, isinya sih masih bagus, Mas. Hanya saja, casing-nya sedikit cacat. Paling, saya hanya bisa membayarnya di bawah pasar," ucap si penjaga konter.


"Berapa kira-kira, Mas?" tanya Yandri.


"Paling sekitar 1,2 juta, Mas," jawab si penjaga konter.


"Nggak bisa lebih, Mas?" Yandri kembali bertanya.


"Wah, saya harus ganti casing ori nih, buat jualnya, Mas. Jadi, ya ... saya cuma bisa ngasih penawaran segitu, Mas," balas penjaga konter.


"Ya sudah Mas, tidak apa-apa," jawab Yandri.


"Baik. Sebentar ya, Mas. Saya siapkan dulu uangnya."


Sesaat kemudian, si penjaga konter itu menghitung lembaran rupiah sebagai pembelian ponsel milik Yandri. Setelah semuanya siap, akad jual beli pun diikrarkan oleh Yandri dan si penjaga konter tersebut.


Setelah menerima uangnya. Yandri pergi ke toko buah-buahan. Istrinya begitu menyukai buah anggur. Kali ini, Yandri akan membuat parsel buah sebagai hadiah tanggal pernikahannya yang ketiga bulan.


Hmm, Mudah-mudahan Niar suka, batin Yandri menatap parcel yang sudah jadi.


"Berapa, Mbak?" tanya Yandri kepada pelayan di toko buah-buahan.


"Semuanya dua ratus ribu, Mas." jawab pelayan itu.

__ADS_1


Yandri merogoh uang hasil penjualan ponselnya dari saku celana. Sejurus kemudian, dia menyerahkan uang tersebut kepada pelayan toko buah-buahan.


"Terima kasih ya, Mbak," ucap Yandri.


"Sama-sama, Mas," balas pelayan tersebut.


Setelah membayar pesanannya, Yandri kembali menaiki sebuah angkutan umum yang akan membawanya ke rumah Daniar.


Maafkan aku, bu. Aku sudah mengikat gadis itu di bawah syahadat. Aku tidak mungkin melepaskan ikatan ini hanya karena tak memiliki uang untuk membahagiakannya. Uang memang sangat diperlukan untuk menjalani hidup, tapi tidak dengan kebahagiaan. Aku yakin, aku bisa membahagiakan istriku, bu. Jadi, izinkan aku bertahan....


.


.


Matahari terus merangkak ke sebelah barat. Tanpa terasa, temaram pun mulai turun. Daniar masih setia menunggu suaminya di teras depan. Inilah yang Daniar sukai dari kisah pernikahannya yang terhalang jarak. menanti kedatangan suami dari sebuah gang yang terhalang oleh kolam ikan.


Saat dia melihat bayangan pria tegap tinggi mulai melintas, senyumnya seketika mengembang. Hatinya semakin berbunga-bunga saat pria itu memasuki pekarangan rumahnya. Layaknya anak ABG yang merindukan sang kekasih, Daniar akan menghambur dan memeluk pria itu saat dia tiba di teras rumah.


"Ish, konyol sekali," gumam Daniar yang sedang membayangkan kelakuannya saat menyambut sang suami.


Beberapa menit berlalu. Shalawat yang dilantunkan anak-anak mulai terdengar di masjid yang terhalang sekitar tiga rumah dari kediaman Daniar. Itu artinya, sebentar lagi waktu magrib tiba. Daniar melirik jam yang melingkar di tangan mungilnya. Ya, waktu memang sudah menunjukan pukul 17.30. Hanya tinggal menghitung menit, azan magrib pun segera berkumandang.


Ish, ke mana kamu, kang? Batin Daniar.


Daniar segera memasuki rumahnya. Dia pergi ke kamar untuk mengambil ponsel yang sedang di-charger. Dia hendak mengubungi Yandri dan menanyakan keberadaannya saat ini. Namun, saat Daniar menekan nomor suaminya. Hanya di luar jangkauan yang menjawab dari ujung telepon.


"Ya Tuhan ... kenapa nomor ponselnya tidak aktif?" gumam Daniar.


Daniar menghela napas. Pikiran buruk mulai menggelayut dalam benaknya. Daniar takut jika suaminya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.


"Astaghfirullahaladzim ... semoga suami hamba dijauhkan dari berbagai macam marabahaya," gumam Daniar, mencoba menepis pikiran-pikiran buruk itu.


Tiba-tiba ....


"Enggak baik loh, Niar ... seorang perempuan berada di luar di waktu menjelang magrib begini. Pamali!" tegur Hajjah Maryam.

__ADS_1


Sontak Daniar terkejut mendengar teguran sang nenek.


"Iya, Mih. Ini bentar lagi Niar masuk, kok. Lima menit lagi deh ... Niar nungguin dulu kang Yandri," jawab Daniar.


"Ish, Yandri itu bukan anak kecil lagi, Niar. Nanti juga dia masuk sendiri. Ayo masuk! Sebelum kamu diterkam genderuwo," gurau sang nenek.


"Idih Amih, emangnya Niar anak kecil ... yang bisa dibohongin gitu aja," gerutu Daniar seraya mengerucutkan bibirnya.


Hajjah Maryam hanya tersenyum melihat cucunya menggerutu. "Ya sudah, ayo masuk!" ajaknya lagi.


Mau tidak mau, Daniar memasuki rumahnya. Ditambah lagi, teguran dari sang nenek, memaksa Daniar untuk menghentikan penantian terhadap suaminya.


Azan magrib mulai berkumandang. Namun, Yandri masih belum juga datang. Daniar semakin cemas. Apalagi, Nida mengabari jika tadi dia mendengar kecelakaan bus yang melintasi daerah tempat tinggal Yandri. Hati Daniar pun semakin gundah.


Selepas salat magrib, Daniar kembali meraih ponselnya dari atas nakas. Dia mulai menghubungi suaminya lagi. Namun, masih belum bisa tersambung juga. Daniar kebingungan, tidak biasanya Yandri bersikap seperti ini. Saat jauh dari istrinya, Yandri selalu meluangkan waktu untuk memberikan kabar. Sesibuk apa pun kegiatannya.


"Ya Tuhan ... apa yang terjadi pada suami hamba?" gumam Daniar.


Daniar meletakkan ponselnya di atas ranjang. Sejurus kemudian, dia beranjak hendak pergi ke beranda depan untuk menunggu suaminya kembali. Namun, saat dia membuka pintu kamar. Daniar terhenyak karena melihat pria yang dinantikannya, sudah berdiri di depan pintu.


"Selamat tanggal pernikahan yang ketiga bulan, Sayang," ucap Yandri seraya memperlihatkan parcel buah dan sekuntum mawar putih kepada Daniar.


Brugh!


Bukannya menjawab, Daniar malah memeluk pria itu dan menangis.


"Kamu ke mana saja? Kenapa datangnya lama sekali? Aku benar-benar mencemaskan keadaan kamu, huhuhu," tanya Daniar dalam isak tangisnya.


Yandri hanya tersenyum. Sejenak dia menarik diri dari pelukan istrinya. Yandri menaruh parcel buah di lantai. Sejurus kemudian, dia kembali memeluk erat sang istri.


"Maafkan aku Sayang, karena sudah membuat kamu cemas," bisik Yandri.


Daniar hanya mampu menganggukkan kepalanya menanggapi permintaan maaf sang suami.


"Awas, jangan diulangi lagi. Setidaknya, beri aku kabar kalau kamu bakalan terlambat pulang. Jangan bikin aku khawatir," rengek Daniar.

__ADS_1


"Iya, Sayang ... iya," jawab Yandri.


Ya Tuhan ... Dia seperti ini hanya karena aku terlambat pulang. Lalu, apa jadinya wanita ini jika sampai aku menuruti saran ibu. Tidak, Tuhan ... jangan biarkan ikatan ini tercerai berai. Izinkan aku bertahan dan mempertahankan janji suci kami atas nama Bismillahirrahmanirrahim.


__ADS_2