Setelah Hujan

Setelah Hujan
Belajar Mandiri


__ADS_3

Yandri hanya bisa menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang, saat sang istri menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Yandri menyadari betul jika Daniar pasti tengah kecewa saat ini. Namun, Yandri pun tak bisa berbuat apa-apa. Entah kenapa, rasanya berat sekali untuk menolak permintaan ibunya. Terlebih lagi, saat Yandri mengingat pesan terakhir ayahnya, agar selalu berbakti kepada ibu dan menuruti semua perintah sang ibu.


"Maafkan Ayah, Nak. Semoga saja Ayah bisa segera mencari pengganti uang untuk aqiqah kamu," gumam Yandri seraya memandangi foto bayi mungilnya.


.


.


Sementara itu, di kamarnya, Daniar masih setia memeluk si kecil. Air mata terus membanjiri kedua pipinya. Bahkan, kini isak tangisnya pun mulai terdengar. Daniar sudah berusaha kuat. Namun, hatinya rapuh saat melihat si kecil. Entahlah, tapi Daniar merasa semua ini tidak adil. Kenapa suaminya tega memberikan sesuatu tanpa berdiskusi dulu dengannya. Perih, ya teramat perih saat suaminya mengambil keputusan sendiri. Seperti sedang mendapatkan sebuah pengkhianatan yang sangat besar.


Ketukan di pintu kamar, memaksa Daniar menyeka air matanya. Setelah merapikan rambutnya sejenak, Daniar beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu.


Bu Salma dan Pak Fandi yang sudah berdiri di depan pintu kamar Daniar, cukup terkejut melihat kedua mata Daniar yang sembab.


"Kamu abis nangis, Kak?" tanya Bu Salma yang memang selalu berbicara tanpa basa-basi.


"Eng-enggak, Bu. Ini ... Niar cuma kelilipan aja," bantah Daniar mencoba menutupi keadaan.


"Ish, Kak. Ibu ini sudah tua, sudah tidak bisa kamu bohongi," tukas Bu Salma seraya memasuki kamar Daniar dan langsung duduk di tepi ranjang.


Daniar dan ayahnya pun ikut memasuki kamar. Daniar duduk di samping ibunya, sedangkan Pak Fandi menarik kursi belajar Faniar dan mendudukinya.


"Ada apa, Kak. Tidak baik loh ibu menyusui memendam permasalahannya. Yang ada, nanti banyak pikiran dan ASI-nya enggak keluar lancar. Memangnya kamu mau, pertumbuhan Bintang jadi terhambat gara-gara bundanya banyak pikiran?" kata Pak Fandi.


"Tuh, bener itu Ni. Jangan sampai, kamu yang punya masalah, eh anak yang kena imbas," timpal Bu Salma.


"Yah, Bu ... sepertinya, acara aqiqah Bintang bakalan diundur," cicit Daniar dengan napas yang mulai sesak.


Baik Pak Fandi ataupun Bu Salma, keduanya sangat terkejut dengan apa yang diutarakan putri sulungnya.


"Tapi kenapa, Niar?" tanya Bu Salma.


"Iya, kenapa Nak? Apa suami kamu tidak berhasil mendapatkan kambingnya?" timpal Pak Fandi.


"Ish, bagaimana mungkin, Yah. Bukankah tadi Daniar bilang, kalau nak Yandri besok akan melihat kambing yang sudah dipesannya," tukas Bu Salma.


"Lah, terus ... kenapa? Apa ada alasan lain, Ni?" tanya Pak Fandi kepada putri sulungnya.

__ADS_1


"Uangnya dipakai untuk menutupi biaya pernikahan kak Bibah," jawab Daniar dengan hati pilu.


"Astaghfirullahaladzim! Ini nak Yandri kenapa, sih? Sudah tahu itu uang anaknya, kenapa malah dikasih sama orang lain?" seru Bu Salma, berapi-api.


Bu Salma tidak habis pikir dengan tindakan Yandri yang menurutnya tidak lazim. Orang, kalau sudah berumah tangga itu, harus memprioritaskan anak istrinya dibandingkan dengan saudara yang kedudukannya sudah berubah menjadi kerabat. Setidaknya, seperti itulah pemikiran Bu Salma.


"Ish Ibu, jangan seperti itu, ah ... enggak baik. Siapa tahu Yandri punya alasan kenapa dia lebih mementingkan kebutuhan saudaranya dibandingkan acara aqiqah Bintang," tegur Pak Fandi kepada istrinya.


"Memangnya, apa yang lebih penting selain anaknya? Bintang itu anaknya Yandri loh, Yah. Darah dagingnya sendiri, tapi kenapa dia lebih mementingkan saudaranya yang sudah menjadi kerabat? Apa dia enggak sadar kalau dia lebih wajib memprioritaskan kebutuhan anak istri dibandingkan saudaranya. Satu hal yang harus diingat ketika seorang lelaki memutuskan menikah, saudara itu hanya akan menjadi kerabat. Titik! Mungkin akan ada bekas istri, tapi tidak bekas anak. Ibu tidak akan se-emosi ini jika Yandri hanya mengabaikan Daniar saja. Tapi ini ... Bintang loh, Yah. Kebutuhan Bintang yang dia abaikan. Anak kandungnya sendiri!"


Raut wajah Bu Salma terlihat memerah, pertanda dia sangat marah dan kecewa dengan keputusan yang diambil sang menantu.


"Sudahlah, Bu. Nanti tensi Ibu bisa naik kalau terus-terusan mengomentari sikap Yandri. Mungkin saja, Yandri tidak bermaksud untuk tidak memprioritaskan anaknya. Ibu sendiri, 'kan tahu, kalau aqiqah itu bisa dilaksanakan kapan saja. Yandri hanya mengundur waktunya saja, Bu. Bukan membatalkannya." Sekali lagi Pak Fandi mencoba untuk menenangkan istrinya.


"Sudah, Bu. Mungkin apa yang dibilang Ayah ada benarnya juga. Kita tidak bisa menilai tindakan seseorang dari sudut pandang kita sendiri. Tidak apa-apa, aqiqah Bintang akan tetap berjalan sesuai rencana sebelumnya, Bu. Besok, kita cari kambing ke tempat suaminya teman Ibu saja," ucap Daniar.


"Memangnya kamu masih ada simpanan, Ni?" tanya Bu Salma.


"Kita pakai uangnya Bintang saja, Bu, yang pemberian dari kerabat dan orang-orang yang jenguk Bintang. Beli perhiasannya kita tunda saja. Lagi pula, Bintang masih terlalu kecil untuk memakai perhiasan, Bu," tutur Daniar.


"Ish, tidak-tidak! Jangan lakukan itu, Niar. Itu uang anak kamu, rezekinya dia. Urusan aqiqah, itu urusan orang tuanya. Biar saja, Ibu pengen tahu, sampai sejauh mana bapaknya akan bertanggungjawab kepada Bintang. Sudah, diundur juga tidak apa-apa. Toh undangan belum disebar ini. Kita lihat saja nanti, apa suami kamu itu bisa bersikap adil atau tidak," dengus Bu Salma dengan kesalnya.


"Tuh, kan ... Ibu sih pake ngomongin Yandri segala. Jadi bangun, 'kan Bintang, karena tahu bapaknya diomongin," gurau Pak Fandi mencoba mencairkan suasana.


"Halah ... bayi berusia dua mingguan, mana ngerti kalo kita lagi gedek sama sikap bapaknya," dengus Bu Salma, terlihat geram.


"Sudah-sudah, ayo kita keluar. Biar Daniar tenang nyusuin bayinya," ajak Pak Fandi seraya mengulurkan tangan dan mengajak istrinya keluar.


.


.


Bulan demi bulan terus berlalu. Tanpa terasa, usia Bintang kini mulai memasuki umur 5 bulan. Dia tumbuh menjadi seorang bayi yang cukup aktif bergerak.


Melihat semakin banyak kebutuhan Bintang, Daniar pun harus memutar otak untuk kembali bekerja. Beruntungnya, Daniar kembali ditawari bekerja di sekolahnya dulu.


"Bagaimana Niar? Apa kamu siap bekerja di sini lagi?" tanya Bu Aisyah di ujung teleponnya.

__ADS_1


"Niar sih, berminat Bu. Tapi tunggu kang Yandri pulang dulu. Insya Allah, nanti Niar bicarakan dengan kang Yandri," jawab Daniar.


"Hmm, baguslah kalau begitu. Ya sudah, Ibu tutup dulu teleponnya ya, assalamu'alaikum" pungkas Bu Aisyah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Daniar.


.


.


Hari Sabtu sore, Yandri pulang ke rumah Daniar. Kesempatan ini tidak Daniar sia-siakan. Saat mereka sedang bercengkerama di kamarnya setelah menunaikan salat magrib, Daniar mengutarakan keinginannya kepada Yandri.


"Kang, Niar boleh kerja lagi, 'kan?" tanya Daniar.


Yandri cukup terkejut mendengar pertanyaan Daniar. Bukannya apa-apa, Bintang masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal.


"Memangnya kamu mau kerja apa? Bintang masih terlalu kecil, loh, Bun buat ditinggal kerja?" Yandri malah balik bertanya kepada istrinya.


"Kebetulan Bu Aisyah nawarin Niar untuk kerja lagi di sekolahnya," jawab Daniar.


Yandri cukup terkejut. Namun tidak bisa dipungkiri jika hati Yandri merasa senang mendengar keinginan sang istri untuk bekerja di tempatnya lagi. Itu artinya, dia akan memboyong anak dan istrinya untuk kembali berkumpul bersama.


"Akang sih, setuju-setuju saja kamu mau kerja lagi di tempat Akang. Biar nanti, kalau kita kerja, kita bisa titipkan Bintang sama ibu ataupun kak Habibah," kata Yandri.


"Ish, enggak-enggak ... Niar enggak setuju untuk hal itu," tolak Daniar.


Yandri mengerutkan keningnya. "Lantas?" tanya Yandri.


"Niar mau kembali bekerja di sekolah Akang, tapi bukan berarti Niar bakalan kembali tinggal di rumah Akang. Kata Bu Aisyah, di sekolah ada ruangan kosong yang tidak terpakai. Niar boleh menggunakan ruangan itu sebagai tempat tinggal sementara, sebelum kita punya uang buat ngontrak," tutur Daniar.


Sejenak, Yandri termenung. Apa yang dikatakan Daniar memang benar adanya. Sekolah membangun kembali sebuah ruangan untuk ruang kantor dan juga guru. Sehingga ruang guru yang lama, kosong.


"Apa kamu yakin, mau tinggal di sekolah?" tanya Yandri memastikan.


"Yakin, Kang. Tidak apa-apa hidup di sekolah, yang penting kita belajar untuk hidup mandiri," jawab Daniar


Yang penting aku tidak harus tinggal satu atap dengan orang-orang munafik, batin Daniar.

__ADS_1


Yandri tersenyum. "Baiklah kalau begitu, kita mulai kembali semuanya dari awal. Bismillah saja," pungkas Yandri yang ditanggapi oleh anggukan Daniar.


__ADS_2