
Selama dalam perjalanan, Daniar hanya bisa bungkam. Sedangkan Roni, dia masih sibuk mengotak-atik ponselnya.
Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi. Kelihaian Joko dalam mengendarai kendaraan memang sudah tidak diragukan lagi.
"Kita lewat Jahim saja, Ron. Supaya cepat," usul Joko.
"Hmm, terserah lu saja, yang penting nemu restoran pertama, kita berhenti dulu buat sarapan," jawab Roni.
"Ish, mana ada restoran di jalur Jahim, Ron," tukas Joko.
"Ya terserah, deh. Warteg juga enggak pa-pa, yang penting kita isi perut dulu," sahut Roni.
Joko tertawa, "Hahaha, tumben Bos?" katanya yang merasa lucu saat Roni mengatakan makan di warteg.
Bukannya apa-apa, untuk ukuran seorang Roni, kebersihan adalah hal yang mutlak. Karena itu, setiap bepergian bersama sahabatnya itu, Joko tidak pernah mengajak Roni makan di sebuah warung nasi ataupun warteg.
"Gue terpaksa, daripada lu pingsan di tengah jalan, berabe entar," dengus Roni yang merasa kesal melihat sikap Joko seolah tengah mengejeknya.
"Bhuahahha .... "
Joko tak kuat melihat ekspresi Roni yang merengut bagai perempuan merajuk. Akhirnya Joko tertawa terbahak-bahak melihat sikap sahabat sejak masa SMA-nya.
.
.
Tiba di puncak Jahim, Joko menghentikan mobil saat melihat kedai bubur ayam yang cukup bersih. Tidak akan mengenyangkan memang, tapi lumayan juga untuk mengganjal perut hingga mereka menemukan restoran.
"Kita makan bubur aja, Bos," ajak Joko.
Roni melirik kedai itu sebelum turun. Hmm, cukup bersih juga tempatnya, batin Roni. Tak lama kemudian, dia pun mengajak kakak iparnya untuk turun.
"Makan bubur dulu yuk, Kak!" ajak Roni.
"Kalian aja, deh. Biar Kakak tunggu di mobil," jawab Daniar yang memang tidak bersemangat untuk menyentuh makanan.
Roni menghela napasnya. "Tidak usah cemas, Kak. Bang Yandri sudah berada di tangan yang tepat. Roni yakin, mereka tidak akan membiarkan bang Yandri begitu saja. Sebaiknya Kakak makan dulu, supaya Kakak punya tenaga. Memangnya, Kakak mau, begitu tiba di rumah sakit, Kakak malah jatuh sakit?" goda Roni.
"Ish, Ron ... kamu do'ain Kakak sakit?" tukas Daniar merengut kesal.
"Bukannya do'ain Kak, tapi tidak menutup kemungkinan jika itu akan terjadi kalau Kakak mengabaikan kesehatan diri sendiri," jawab Roni menjelaskan maksudnya.
Roni benar, tidak seharusnya dia memang menganiaya diri sendiri hanya karena memikirkan sang suami. Akhirnya Daniar turun juga dari mobil. Mereka berjalan beriringan mengikuti Joko yang sudah duduk terlebih dahulu di kedai bubur ayam tersebut.
.
.
"Apa keluarga pasien belum datang juga, Pak?" tanya perawat kepada Pak Ginanjar, orang yang tengah menunggui Yandri di ruang UGD.
"Mereka sedang dalam perjalanan, Sus," jawab Pak Ginanjar.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, tolong kabari pihak rumah sakit begitu keluarganya tiba, karena pasien memerlukan tindakan lanjut," pesan perawat itu seraya membenarkan selang infus di tangan Yandri.
" Baik, Sus," jawab Pak Ginanjar.
Sepeninggal perawat, Pak Ginanjar kembali menghampiri brankar Yandri. Dia berdiri di samping Yandri. Dengan setia, Pak Ginanjar membersihkan darah yang masih keluar dari pelipis kanan Yandri. Wajah cemas terlihat kentara di raut wajah bapak tua itu.
"Bertahanlah, Nak. Bapak yakin kamu akan baik-baik saja," ucapnya lirih.
Mata yandri memang terpejam. Namun, telinganya masih masih mampu mendengar kegaduhan yang ada di ruang UGD. Begitu juga dengan ucapan orang yang tidak dia kenal. Dalam hati, Yandri sangat bersyukur karena dipertemukan dengan seseorang yang berhati malaikat seperti penolongnya itu.
Yandri ingin menjawab perkataan si penolong. Namun, dia seakan tidak punya tenaga untuk berbicara. Jangankan berbicara, membuka matanya pun terasa berat bagi Yandri.
Ya Tuhan ... beri hamba kekuatan dalam menghadapi ujian ini....
.
.
Menjelang pukul 9 pagi, mobil yang dikendarai Joko, tiba di halaman rumah sakit daerah Kadipaten. Joko sengaja menurunkan Roni dan Daniar di depan lobi rumah sakit. Sementara itu, dia kembali melajukan mobilnya menuju tempat parkir.
Setengah berlari, Roni dan Daniar menuju bagian informasi untuk menanyakan keberadaan Yandri.
"Permisi, Mas. Saya ingin menanyakan pasien korban kecelakaan dini hari tadi. Apa memang ada di rumah sakit ini?" tanya Roni.
"Atas nama siapa, Pak?" jawab pria yang bertugas di bagian informasi.
"Bapak Yandri Gunawan," jawab Roni.
"Sebentar!"
"Untuk saat ini, pasien kecelakaan atas nama bapak Yandri sedang berada di UGD. Bapak bisa melengkapi pendaftarannya terlebih dahulu, karena pasien membutuhkan tindakan lebih lanjut lagi."
Roni menoleh ke arah kakak iparnya. "Kak Niar, Kakak pergi saja dulu ke ruang UGD untuk melihat kondisi bang Yandri. Biar Roni urus pendaftaran bang Yandri," kata Roni.
Daniar mengangguk. Setelah sepakat berbagi tugas, Daniar akhirnya pergi ke ruang UGD untuk melihat keadaan suaminya, sedangkan Roni berjalan menuju ruang pendaftaran untuk mengurusi biodata lengkap Yandri.
Tiba di pintu ruang UGD, Daniar mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Yandri. Beruntung, Yandri dirawat di brankar yang tak jauh dari pintu masuk. Seketika mata Daniar berembun melihat kondisi Yandri yang tanpa rupa. Sebagian wajah Yandri ditutupi kapas hingga ke mata sebelah kanan. Bibirnya pun terlihat bengkak dan berdarah. Daniar berlari mendekati brankar Yandri.
"A-ayah!" panggil lirih Daniar.
Yandri membuka mata saat mendengar suara istrinya. Dia hanya menatap kosong pada Daniar. Senyum tipis yang dia layangkan, terhalang bibir bengkak yang berdarah hingga tak terlihat. Tampak buliran bening menggenang di kedua sudut matanya.
Jujur saja, Daniar tidak sanggup membendung kesedihannya saat melihat kondisi Yandri. Namun, demi menenangkan hati sang suami, Daniar harus tegar dan menyembunyikan air matanya.
Daniar mencoba tersenyum seraya berkata, "Tenanglah, Yah. Semuanya akan baik-baik saja. Bunda di sini untuk ayah."
Yandri memberikan isyarat agar Daniar mendekat.
"To-long, hu-hubungi U-ustadz Danny. A-ayah ti-tip anak-anak," ucap Yandri terengah.
Daniar mengangguk. Dia kemudian mengambil telepon dan menghubungi rekan suaminya tersebut. Tak lama setelah dia menelepon, tim medis datang untuk memindahkan Yandri.
__ADS_1
"Hendak dibawa ke mana suami saya, Sus?" tanya Daniar, heran.
"Kami akan membawanya ke ruang radiologi untuk pemeriksaan lebih lanjut, Bu," jawab salah seorang perawat.
"Baiklah. Apa saya boleh ikut?" tanya Daniar lagi.
"Silakan."
Kedua perawat itu mendorong brankar Yandri menuju ruang radiologi. Sedangkan Daniar mengikutinya dari belakang.
"Niar!"
Daniar menoleh saat seseorang memanggilnya. "Om Acep," gumamnya.
Acep menghampiri Daniar bersama salah seorang pria paruh baya.
"Bagaimana keadaan Yandri?" tanya Acep yang tak lain adalah paman Daniar.
"Kang Yandri sedang dibawa ke ruang radiologi, Om," jawab Daniar.
"Oh iya, Niar. Kenalkan, ini kepala madrasah tempat Yandri mengajar. Namanya Ustadz Bukhori," lanjut Acep.
Daniar mengatupkan kedua telapak tangannya sebagai tanda salam kepada atasan sang suami.
"Saya turut berduka atas kecelakaan yang menimpa Ustadz Yandri, Bu," ucap Ustadz Bukhori.
"Terima kasih, Ustadz," balas Daniar.
"Sebaiknya kita bicara di kursi tunggu ruang radiologi, Ni. Sambil menunggu Yandri juga," usul Acep.
"Iya, mari Om, Ustadz!" jawab Daniar.
Daniar, Acep dan kepala madrasah berjalan beriringan menuju ruang radiologi. Tiba di sana, mereka duduk di kursi tunggu seraya berbincang-bincang tentang kecelakaan Yandri.
"Jujur saja, Ustadz ... saya sendiri tidak tahu bagaimana kronologi kecelakaan yang menimpa kang Yandri. Sampai detik ini, saya belum bertemu dengan orang yang menolong kang Yandri," jawab Daniar.
"Hmm, terlepas dari semua itu, saya berharap tidak ada kondisi serius yang terjadi pada Ustadz Yandri. Semoga Ustadz Yandri diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menjalani ujian ini. Dan semoga Ibu juga sehat, ridho dan selalu tegar dalam merawat Ustadz Yandri," ucap Ustadz Bukhori.
"Aamiin." Daniar tak mampu mengucapkan kata apa-apa lagi selain kata aamiin.
"Oh iya, Bu. Mohon maaf, saya tidak bisa berlama-lama, karena masih banyak kegiatan di sekolah yang harus saya selesaikan. Ini, sekadar untuk menambah biaya pengobatan Ustadz Yandri. Mohon diterima meskipun hanya alakadarnya," lanjut Ustadz Bukhori seraya menyerahkan amplop panjang berwarna putih.
Daniar menatap pamannya. Terlihat anggukan dari sang paman. Akhirnya Daniar pun menerima amplop tersebut.
"Terima kasih, Ustadz. Semoga kebaikan Ustadz dibalas dengan pahala yang berlipat ganda," ucap Daniar.
"Aamiin," jawab Acep dan Ustadz Bukhori.
"Niar, Om pergi dulu, ya. Nanti kalau Om sudah cuti, Om jenguk Yandri di rumah. Kamu yang sabar, ya," kata Acep seraya menepuk pelan pundak Daniar untuk memberi kekuatan.
"Iya, Om," sahut Daniar.
__ADS_1
Daniar menghela napasnya melihat kedua punggung berbalut jas itu menghilang di balik pintu koridor ruang radiologi. Dia sangat bersyukur karena suaminya memiliki atasan yang begitu perhatian. Kunjungan kepala madrasah yang telah memberikan bantuan baik secara moril maupun materiil, telah membuktikan jika mereka begitu perhatian kepada anak buahnya.
"Terima kasih ya Allah ...."