
Habibah pasrah. Pada akhirnya, Habibah mengajak Yandri untuk menjemput Bu Maryam di rumah Siska. Memanglah benar, apa pun yang terjadi ... tidak seharusnya Habibah menitipkan ibunya kepada orang yang belum menjadi bagian dari keluarga.
Mobil Yandri keluar dari halaman rumah ibunya. Tak ingin membuang waktu, Yandri menancap gas supaya segera tiba di rumah Siska, perempuan yang sampai detik ini belum bisa dia terima keberadaannya. Meskipun hanya sebagai teman.
Maaf untuk perempuan itu mungkin sudah terlontar dari bibir dan hati Yandri. Namun, pengkhianatannya masih membekas begitu dalam. Hingga sampai kapan pun, perempuan itu hanya akan menjadi orang asing baginya.
.
.
Di rumah sakit Soekardjo.
Siska terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang pemeriksaan. Hatinya belum merasa tenang karena belum mendengar kabar baik tentang calon ibu mertuanya. Sudah hampir satu jam, tapi dokter belum keluar juga dari ruang pemeriksaan.
"Siska!" panggil seseorang yang tak lain adalah ayahnya.
Siska menoleh. Sedetik kemudian, dia menghambur ke dalam pelukan sang ayah. Siska pun menangis sesenggukan.
"Sudah-sudah, Nak. Kendalikan dirimu," ucap Pak Hartono sambil mengusap-usap punggung anaknya.
"Siska takut, Pak. Bagaimana kalau ibu sampai meninggal?" tanya lirih Siska.
"Hus, enggak boleh ngomong sembarangan, ah! Pamali!" tegur Pak Hartono.
Siska tidak menjawab. Hanya kedua bahunya saja yang terlihat naik turun akibat menangis.
Tak lama berselang, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Dua orang perawat terlihat membawa brankar Bu Maryam keluar.
"Mau dibawa ke mana, Sus?" tanya Siska yang merasa kebingungan.
"Pasien hendak dipindahkan ke ruang rawat, Mbak," jawab perawat itu.
"Baiklah," sahut Siska.
"Dengan keluarga pasien?" tanya perawat yang satunya lagi.
"Iya, Sus," jawab Pak Hartono.
"Oh, begini Pak. Ada beberapa hal terkait kondisi pasien yang ingin dibicarakan oleh dokter. Untuk itu, salah satu dari kalian bisa menemuinya di ruang dokter sekarang juga," tutur perawat itu.
Sejenak, Siska dan Pak Hartono saling tatap. Namun, tak lama berselang, Pak Hartono berkata kepada putrinya. "Pergilah, temani calon mertua kamu. Biar Bapak yang menemui dokter."
Siska mengangguk. Mereka berjalan beriringan di belakang brankar Bu Maryam. Hingga tiba di ujung koridor, ayah dan anak itu pun berpisah.
.
.
Setelah melewati perjalanan selama 25 menit, mobil yang dikendarai Yandri akhirnya tiba di rumah orang tua Siska. Yandri tidak ingin memasukkan kendaraannya ke halaman rumah itu. Dia hanya menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Untuk sejenak, Yandri diam. Dia mencoba mengatur ritme jantungnya yang berdetak tak karuan. Yandri tidak menyangka jika dia harus menginjakkan kaki di rumah ini lagi.
__ADS_1
Tidak ada kenangan indah yang melintas dalam benak Yandri ketika melihat kembali rumah ini. Semua kenangan bersama Siska, telah tenggelam bersama pengkhianatannya berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Setelah berhasil menguasai emosinya, Yandri membuka pintu mobil. Diikuti Habibah dari belakang, akhirnya Yandri memasuki halaman rumah Siska.
Tiba di teras, Yandri mengetuk pintu. Bahkan Habibah sudah berteriak-teriak mengucapkan salam. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Kediaman Siska terlihat begitu sepi.
"Coba telepon perempuan itu, Kak!" pinta Yandri kepada Habibah.
"Ma-maaf, Dek. Kakak enggak bawa ponsel. Tadi ponsel Kakak kehabisan daya, karena itu Kakak menyimpannya di rumah," jawab Habibah.
Yandri menghela napas. Dia merasa kesal kepada Habibah. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hati Yandri begitu lembut, hingga selalu saja memaafkan kesalahan keluarganya.
"Apa kita akan menunggu di sini, Yan?" lanjut Habibah.
"Terpaksa. Kita tidak punya pilihan la–"
"Eh, ada tamu."
Kalimat Yandri terputus ketika seseorang datang dan menegur kakak beradik itu dari arah belakang. Yandri dan Habibah sontak menoleh. Habibah tersenyum melihat kedatangan orang yang sudah dia kenal.
"Dari mana saja kamu, Nen?" tanya Habibah.
"Maaf, Ceu. Saya baru dari warung," jawab Nenah. "Mari, silakan masuk!" ajaknya seraya membuka pintu.
"Masuklah, Kak. Dan bawa ibu secepatnya!" perintah Yandri sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
"Tapi, ibunya Ceu Bibah tidak ada di sini," tukas Nenah.
"Apa?! Serentak Yandri dan Habibah.
"Rumah sakit? Tapi kenapa?" tanya Habibah, terkejut.
"Rumah sakit mana?"
Lain Habibah, lain lagi pertanyaan Yandri. Sepertinya, pria jangkung itu sudah tidak ingin berbasa-basi. Dia langsung bertanya di rumah sakit mana ibunya dirawat.
"Soekardjo, Mas," sahut Nenah.
"Ayo, Kak!" ajak Yandri.
Tanpa permisi, Yandri mengajak Habibah pergi dari kediaman Siska. Kecemasan sudah semakin menggunung di hatinya. Terlebih lagi setelah mendengar ibunya berada di rumah sakit.
Ya Tuhan ... semoga ibu baik-baik saja.
.
.
"Bagaimana keadaannya, Neng?" tanya Pak Hartono begitu dia tiba di kamar rawat calon besannya.
"Dia masih tidur, Pak. Mungkin karena pengaruh obat juga," jawab Siska.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu," timpal Pak Hartono.
"Oh iya, Pak. Apa yang dikatakan dokter kepada Bapak? Apa penyakit Bu Maryam bertambah parah? Kenapa Bu Maryam bisa seperti orang kejang tadi pagi?"
Siska mencecar ayahnya dengan berbagai pertanyaan. Jujur saja, dia penasaran dengan apa yang dikatakan dokter tentang kondisi calon ibu mertuanya.
"Sebelum Bapak menjawabnya, Bapak mau nanya sama kamu, Neng. Apa kamu tahu dengan aturan obat-obatan yang harus diminum oleh Bu Maryam?" tanya Pak Hartono.
Siska menautkan kedua alisnya. "Maksud Bapak?"
"Hhh, dokter bilang ... sepertinya Bu Maryam mengkonsumsi obat dengan dosis yang cukup tinggi. Karena itu beliau meminta Bapak untuk membawa sampel obat-obatan yang dikonsumsinya," tutur Pak Hartono.
Siska tergaman. Seketika ingatannya melayang pada kejadian dua hari yang lalu. Di mana dia membeli salah satu obat yang sudah habis dan wajib dikonsumsi Bu Maryam.
Saat itu pihak apotek mengatakan jika obat dengan dosis tersebut sudah habis. Hanya tersedia dosis yang lebih tinggi. Karena hari sudah larut malam, akhirnya Siska memutuskan untuk membeli obat tersebut dan memberikannya kepada Bu Maryam.
"Neng," panggil lirih Pak Hartono.
Siska terhenyak. "I-iya, Pak."
"Saran Bapak, sebaiknya kamu kembalikan calon mertua kamu ke rumahnya. Kamu belum terikat, Nak. Biarkan saja anak-anaknya yang mengurus. Lagi pula, apa kamu yakin, kamu akan menikah dengan Yandri dan harus mengurus ibunya yang tengah sakit-sakitan begini?" tanya Pak Hartono.
"Enggak, Pak. Siska enggak bisa mengembalikan Bu Maryam kepada Habibah sebelum Yandri pulang. Ini adalah kesempatan Siska untuk mengambil hati Yandri. Ya, meski sejujurnya Siska enggak peduli pada kondisi Bu Maryam, tapi Siska harus berpura-pura baik supaya Yandri percaya sama Siska."
"Tapi, Neng. Bapak tidak mau kamu terjebak dalam pernikahan yang direcoki keluarganya Yandri. Bapak dengar, Yandri berpisah dengan mantan istrinya dulu, itu juga gara-gara ibu dan kakaknya yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka," tukas Pak Hartono, cemas.
"Dari mana Bapak tahu soal itu?" tanya Siska terkejut.
"Mia yang cerita," jawab Pak Hartono.
"Huh, mulutnya emang ember tuh anak!" gerutu Siska.
"Hus, tidak boleh begitu. Mia cerita justru karena dia sayang sama kamu, Neng. Dia tidak ingin kamu mengalami nasib yang sama seperti mantan istrinya Yandri," papar Pak Hartono.
"Tenang saja, Pak. Siska tidak sebodoh perempuan itu. Setelah Siska dan Yandri menikah, Siska akan kirim bu Maryam ke panti jompo, biar Siska tidak usah repot-repot mengurusnya," jawab Siska menyeringai.
"Tapi Yandri pasti tidak akan setuju, Neng," lanjut Pak Hartono.
"Yandri tidak akan setuju jika dia tahu, Pak," balas Siska.
"Maksud kamu?"
Pak Hartono mulai heran mendengar ucapan anaknya. Terlebih lagi saat melihat senyum penuh misteri tersungging di kedua sudut bibir anaknya.
"Yandri bekerja di luar kota. Saat itulah Siska akan mengirim ibunya ke panti jompo. Akan tetapi, Siska akan membawa Bu Maryam ke rumah di waktu Yandri cuti. Biar dia tidak curiga," tutur Siska.
Tanpa mereka sadari, seseorang sudah memerah wajahnya karena merasa dikhianati kembali.
Sekali pengkhianat, akan tetap menjadi seorang pengkhianat! umpat Yandri dalam hatinya.
"Inilah wajah Siska yang sebenarnya, Kak. Dan sekarang ... apa Kakak masih mendukung perjodohan Yandri dengan perempuan yang memiliki topeng di wajahnya? bisik Yandri, tepat di telinga Habibah.
__ADS_1
Merasa dipermainkan, Habibah langsung membuka pintu kamar rawat ibunya dengan kasar.
Lihat saja perempuan bertopeng, aku akan memberikan pelajaran kepadamu!