
Sepanjang perjalanan pulang, Puri terus menggerutu. Dia benar-benar merasa kesal dengan sikap ibu mertuanya yang mulai bertingkah. Memanglah benar pepatah lama bilang, uang bisa merubah perangai seseorang.
"Ya Tuhan ... padahal dulu Bu Maryam yang selalu mengemis meminta pekerjaan kepada emak. Padahal, emak sering membantu kesulitannya tanpa pamrih. Namun, di saat emak butuh bantuan, dia malah bersikap acuh tak acuh seperti itu. Orang kaya? Cih, orang kaya apanya ... hanya karena punya pakaian bagus buat ngaji, sudah ngerasa sok kaya. Padahal baju hasil memeras keringat anaknya. Ih, benar-benar enggak tahu malu!" umpat Puri.
"Astaghfirullah ... sudah atuh, Teh. Enggak usah kesal begitu. Nanti enggak baik sama nutrisi ASI kamu," tegur Mak Ijah.
"Idih ... apa hubungannya?" tukas Puri.
"Ya ada atuh, Teh. Jika kamu marah-marah sampai stress begitu, maka kadar ASI kamu akan menurun. Dan itu tidak baik untuk pertumbuhan anak kamu," papar Mak Ijah.
Puri hanya tersenyum kecut mendengar pemaparan ibunya.
"Oh iya, Teh. Kalau suami kamu bertanya tentang hasil pertemuan kita dengan mertuamu tadi, tolong jangan adukan penolakan ibunya. Bilang saja kalau Bu Maryam sibuk ngurusin kakek Ahmad," tutur Mak Ijah.
"Jadi ... Emak nyuruh Teteh untuk berbohong, nih?" goda Puri.
"Hmm, berbohong demi kebaikan, 'kan ... enggak dosa, Teh," elak Mak Ijah.
"Halah ... sama aja, Mak," tukas Puri.
"Hehehe ..." Mak Ijah hanya terkekeh, "bisa, 'kan, Teh?" lanjutnya penuh harap.
"Iya-iya, Mak. Tenang aja, Puri enggak bakalan ngomong apa-apa sama bang Yoga. Lagi pula, Puri enggak mau bertengkar sama dia," jawab Puri.
"Hmm, baguslah," timpal Mak Ijah.
.
.
Sementara itu, di rumah Kakek Ahmad.
"Kenapa Ibu menolak permintaan Ijah?" tanya Kakek Ahmad.
"Ish, Pak. Gengsi atuh ... Ibu kembali lagi tandur. Mana nanti belepotan lumpur lagi," jawab Bu Maryam, terkesan jijik.
"Kok, gengsi sih, Bu," tukas Kakek Ahmad. "Kan beramal, Bu ... bantuin orang. Apalagi Ijah itu orang yang sangat dermawan. Dia tidak akan membiarkan keringat seseorang mengucur percuma. Dia tidak akan pernah meminta bantuan tanpa memberikan imbalan yang sepadan," tutur Kakek Ahmad panjang lebar.
"Ibu sudah enggak butuh kerjaan lagi, Pak. Kalau mau duit, Ibu tinggal telepon Yandri saja. Dia pasti langsung kirim. Jadi, ngapain Ibu capek-capek kerja. Tugas Ibu itu cuma mengaji, Pak. Me-nga-ji!" tekan Bu Maryam.
Kakek Ahmad hanya bisa menggelengkan kepala melihat kesombongan istrinya. Kabar istrinya yang selalu mengaji dengan mengenakan pakaian bagus, memang sudah sampai ke telinganya. Kakek Ahmad sudah sering menegur istrinya. Namun, Bu Maryam tidak pernah mengindahkan teguran sang suami.
.
.
__ADS_1
Hari ini, tepat tanggal di mana Yandri mengikrarkan janji suci. Begitu dalam makna tanggal ini bagi Yandri. Namun, akankah tanggal ini pun masih bermakna bagi mantan istrinya?
Drrt ... Drrt...
Getaran ponsel di atas meja kerjanya, membuyarkan lamunan Yandri. Pria jangkung itu melirik layar ponselnya yang menyala.
"Kamandara?" gumam Yandri.
Seketika Yandri teringat akan reservasi yang telah dia lakukan terhadap resort tersebut. Yandri segera mengangkat telepon dari pihak resort Kamandara.
"Selamat siang! Dengan Bapak Yandri Gunawan?" sapa suara perempuan di ujung telepon.
"Iya, Benar. Saya sendiri," jawab Yandri.
"Begini, Pak. Kami dari pihak Kamandara Resort, ingin memberi tahu bahwa resort yang sudah Bapak reservasi untuk dua hari ke depan, sudah siap. Bapak bisa langsung chek in besok di pukul 07.00."
"Baiklah, Mbak. Terima kasih atas pemberitahuannya."
"Sama-sama, Pak."
Yandri menutup teleponnya. Dia menyandarkan punggung seraya menengadah. Sedikit tersenyum tipis saat menyadari kejutan yang dia persiapkan saat resort dibuka empat bulan yang lalu, kini sudah tidak bermakna.
"Tunggu-tunggu! Apa sebaiknya aku katakan saja tentang rencana gagal ini ke ibu? Lagi pula, sekolah Bintang pasti sudah libur. Jadi ibu bisa membawa Bintang dan Daniar untuk berlibur di sana. Biar enggak mubadzir juga," gumam Yandri yang sedetik tersenyum lebar saat mendapatkan sebuah ide brilian menurutnya.
.
.
Bu Maryam selalu beralasan jika dia merasa trauma dengan yang namanya tempat medis seperti puskesmas ataupun klinik. Menurutnya, karena tempat itulah yang membuat anaknya, Khodijah, meregang nyawa. Akan tetapi, pada kenyataannya Bu Maryam terlalu sibuk dengan pengajian-pengajian yang dia ikuti ke sana kemari.
"Ih, benar-benar tidak bisa diandalkan!" Rojak mendengus kesal.
"Sudah, Kang. Tidak usah menggerutu lagi, yang penting sekarang Bapak sudah bisa pulang hari ini," balas Cicih, mencoba meredakan kemarahan suaminya.
"Tapi setidaknya hari ini ibu bisa datang menjemput Bapak, Ma. Masak sudah sepuluh hari Bapak berada di klinik, sekali pun ibu enggak datang. Seorang istri kok enggak mau ngurusin suaminya sih," gerutu Rojak.
"Ibu bukannya enggak mau mengurus Bapak di klinik, Kang. 'Kan Akang juga tahu kalau ibu merasa trauma dengan tempat seperti ini. Sudah, Kang. Ikhlaskan saja, nanti setelah kita pulang, kita bisa istirahat. Biar di rumah, giliran ibu yang jagain bapak," tutur Bik Cicih.
"Ya sudah, Akang mau ambil dulu kursi roda. Biar bisa cepet pulang," lanjut Rojak.
Bik Cicih hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya. Hingga tak lama berselang, Rojak datang seraya mendorong kursi roda. Tiba di kamar rawat, Rojak melihat seorang perawat yang tengah melepaskan jarum infus di punggung tangan Kakek Ahmad.
"Alhamdulillah, sudah selesai. Sekarang Kakek sudah boleh pulang," ucap perawat itu dengan sopan.
"Iya, Neng. Terima kasih," jawab Kakek Ahmad.
__ADS_1
"Ingat ya, Kek. Kakek harus bisa menjaga emosi Kakek. Jangan terlalu banyak pikiran, dan kurangi makanan yang asin-asin," lanjut si perawat.
"Tuh, dengar Pak, apa kata susternya," tukas Bik Cicih.
"Iya, Cih. Iya," jawab Kakek Ahmad.
Untuk sejenak Kakek Ahmad mengedarkan pandangannya. Dia merasa heran karena sama sekali belum melihat keberadaan istrinya.
"Ibu kamu enggak datang, Jak?" tanya Kakek Ahmad kepada putra sulungnya.
"Sudah Ojak bilang berkali-kali. Dia itu bukan ibunya Ojak, Pak. Dia cuma ibu tiri!" ketus Ojak.
Kakek Ahmad hanya tersenyum. "Ya sudah, ayo kita pulang. Mungkin Maryam sedang membereskan rumah untuk menyambut kepulangan Bapak," lanjut Kakek Ahmad.
"Uuh, jangan terlalu berharap, Pak. Mungkin saja ibu sedang sibuk dengan ibu-ibu pengajian ...."
"Akang?" seru Bik Cicih.
"Loh, itu memang kenyataannya. Wanita tua itu hanya sibuk de– hummph!"
Bik Cicih membekap mulut suaminya. Kedua matanya melotot memberikan isyarat supaya Rojak diam.
Rojak hanya menggeleng-gelengkan kepala.
.
.
"Apa kita harus pergi juga, Bu?" tanya Daniar sambil memasukkan pakaian Bintang ke dalam koper kecil.
"Cuma dua hari, Ni. Sayang juga kalau tidak ditempati. Yandri udah booking tempat itu. Kalau batal, 'kan uangnya enggak bisa balik juga," tutur Bu Salma.
Daniar hanya bisa menghela napas. Sungguh, dia sangat terkejut mendengar kabar dari ibunya tentang resort yang sudah dipesan Yandri sebagai hadiah anniversary. Daniar kembali merasa bersalah karena telah mengambil keputusan sepihak.
"Tapi, Bu,"
"Sudahlah Niar. Tidak usah terlalu dipikirkan. Anggap saja ini kejutan untuk liburannya Bintang. Ibu rasa, Bintang pasti akan sangat senang nanti. Sudah lama juga kalian tidak mengajaknya berlibur. Sudah dua bulan Yandri enggak pulang, dan kamu ... hmm, kamu terlalu sibuk dengan kelas memasak kamu. Sampai-sampai kamu enggak punya waktu untuk ngajak Bintang jalan-jalan," kata Bu Salma.
"Baiklah, Bu. Terserah Ibu saja," pungkas Daniar.
Setelah selesai membereskan pakaian anaknya. Daniar segera memesan taksi online milik temannya. Rencananya, hari ini dia, ibu dan anaknya akan menginap di sebuah resort baru yang berada di tepi pantai Pangandaran. Entah akan seperti apa waktu yang akan dijalaninya nanti. Namun, yang jelas semuanya pasti berbeda tanpa kehadiran Yandri.
Daniar sudah berusaha untuk menghapus rasa terhadap mantan suaminya. Namun, semakin dia ingin menghapusnya, semakin bermunculan kebaikan-kebaikan Yandri yang mau tidak mau harus dia terima.
Jika semuanya selalu seperti ini, kapan aku bisa menghapus rasaku?
__ADS_1