Setelah Hujan

Setelah Hujan
Diusir


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" teriak Rojak yang mendapati pintu rumah ayahnya terkunci rapat.


"Ada apa sih, Kang? Bukannya bantuin Jana mapah bapak, Akang malah ngeloyor begitu aja," omel Bik Cicih.


"Udah deh, kamu enggak usah ngomel terus. Si Jana itu badannya gede, masak ia enggak bisa gendong bapak?" balas Rojak.


"Terus, kenapa Akang teriak-teriak enggak jelas? Buruan ah, ketuk pintunya! Cicih mau pulang nih, mau mandi. Sudah dua hari Cicih enggak mandi. Rasanya lengket banget," cerocos Bik Cicih.


"Nyerocos terus kayak petasan. Kamu enggak lihat, apa ini!" Dengan penuh emosi, Rojak menunjukkan gembok yang tergantung di pintu depan rumah Kakek Ahmad.


"Astaghfirullah!" pekik Bik Cicih. "Apa ibu enggak ada di rumah?" tanyanya.


"Ish, pake nanya lagi? Udah tahu digembok, ya pasti enggak ada lah," gerutu Rojak, semakin kesal.


"Ih, kok ngegas ke Cicih, sih? Emang Akang enggak kasih tahu ibu, kalau bapak pulang hari ini?" Bik Cicih kembali bertanya.


"Akang sudah nyuruh Jana buat ngasih tahu ibu," jawab Rojak.


"Ya berarti, kuncinya ada di Jana. Siapa tahu dia lupa kasih tahu ibu," tukas Bik Cicih.


"Ada apaan nih? Kok sebut-sebut nama Jana."


Tiba-tiba adik bungsu Rojak sudah berdiri di hadapan mereka seraya menggendong Kakek Ahmad di punggungnya. Jana kemudian menurunkan Kakek Ahmad di atas kursi bambu.


"Ini, pintunya digembok. Memang kamu enggak kasih tahu ibu kalau Bapak pulang hari ini?" tanya Bik Cicih.


"Semalam, Jana sudah bilang ke ibu, kok. Malah tadi pagi waktu ketemu di sumur ngambil air, Jana bilang lagi kalau Bapak kemungkinan pulang pagi," jawab Jana.


"Terus ibu ke mana? Kok sampai digembok gini?" timpal Rojak.


"Ya mana Jana tahu, Kang," jawab Jana.


"Ya udah, enggak usah ribut-ribut. Sebaiknya kita bawa Bapak ke rumah kita dulu, Kang. Kasihan, Bapak pasti lelah," kata Bik Cicih, menengahi perdebatan kakak beradik itu.


"Ya sudah, gendong lagi Jan!" perintah Rojak.


"Aih, Jana lagi ...."


.


.


Pukul 10 siang, Daniar dan keluarga tiba di resort yang sudah dipesan mantan suaminya. Suasana resort yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari bibir pantai, membuat Daniar merasa takjub.


Terlebih lagi saat Daniar melihat kamarnya. Jendela kamar yang langsung menghadap ke pantai dengan dua buah kursi di balkon, pasti akan menambah suasana romantis dalam melewati anniversary-nya. Sungguh, sebuah kejutan yang sangat manis jika dia masih berstatus istri Yandri.


Daniar tersenyum tipis, berkhayal jika dia menghabiskan waktu senja di kursi itu.


"Astaghfirullah!" gumam Daniar dengan jantung berdetak tak karuan.

__ADS_1


"Bun, apa boleh Bibin berenang di kolam itu?" Tunjuk Bintang pada sebuah kolam renang yang letaknya tak jauh dari depan balkon kamar Daniar.


"Emangnya Bibin enggak cape? Kita, 'kan baru sampai," kata Daniar.


"Enggak, Bun," jawab Bintang.


"Ya sudah, boleh, tapi jangan lama-lama, ya. Mataharinya mulai meninggi, enggak baik buat kesehatan," pesan Daniar.


"Oke, Bun!"


.


.


Sepulang ngaji, Bu Maryam menemui suaminya di rumah Rojak. Muka anak sambungnya itu terlihat kecut saat dia membuka pintu. Namun, Bu Maryam tidak mempedulikannya. Entahlah, dia sudah sangat berubah. Jika sebelumnya dia merasa segan berhadapan dengan Rojak karena memang perangai Rojak yang temperamental. Namun, sekarang Bu Maryam seolah tidak peduli lagi dengan hal itu.


"Bagus ya, suami pulang dari klinik, Ibu malah sibuk ngaji ke sana kemari," tegur Rojak.


"Sudahlah, Nak. Ibu lelah, Ibu tidak punya cukup tenaga untuk berdebat denganmu. Mana Jana?" tanya Bu Maryam.


"Ish, apa urusannya sama Jana. Suami Ibu itu baru pulang dari klinik. Setidaknya Ibu tanyakan dulu kondisinya, bukan malah menanyakan si Jana," gerutu Rojak.


"Justru Ibu nanyain Jana supaya dia bisa menggendong bapak kalian pulang. Memangnya, kamu sanggup gendong bapak kamu ke rumah Ibu?" ketus Bu Maryam.


"Astaghfirullah ..." Rojak hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan sinis ibu sambungnya.


Hmm sejak kapan wanita tua itu punya hobi bicara banyak? Biasanya dia kalem dan enggak banyak bicara, batin Rojak.


Seorang pemuda berusia 25 tahunan, datang tergopoh-gopoh. Keningnya berkerut melihat Bu Maryam berdiri di depan pintu rumah kakak tertuanya.


"Ibu?" ucap Jana.


"Ayo bawa bapak kamu ke rumah!" perintah Bu Maryam sembari berbalik badan dan pergi dari rumah Rojak.


Untuk sejenak, Jana dan Rojak hanya saling bertatapan satu sama lain.


"Ibu enggak salah makan, Kang?" tanya Jana.


Rojak hanya mengangkat kedua bahunya.


.


.


Semakin hari, tingkah Bu Maryam semakin di luar batas. Sudah tahu suaminya sakit, tapi dia lebih mementingkan grup majelis taklim yang diikutinya. Hampir setiap hari dia keluar rumah untuk mengaji. Kalau tidak selepas dzuhur, jam 8 dia sudah keluar untuk mengikuti kegiatan pengajian yang diadakan di waktu pagi.


Dengan napas tersengal, Kakek Ahmad menegur sikap Bu Maryam. Dia berusaha untuk menasihati istrinya akan kewajiban mengurus suami. Terlebih lagi suami yang sedang terkapar sakit.


"Ma-na hasil nga-ji ka-kamu ke sana ke-mari, Mar? Per-cuma kamu ... berkeliling mengikuti pe-ngajian jika ti-dak bisa menerapkannya da-dalam kehidupan ka-mu," tegur Kakek Ahmad, terbata-bata.

__ADS_1


"Maksud Bapak?" tanya Bu Maryam seraya merapikan pakaian gamis terbaru yang dia beli dari teman sepengajiannya.


"Suami ka-mu itu se-dang sakit. Tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Eh, ka-mu malah me-mementingkan pengajian kamu. A-pa kamu tidak tahu, ka-lau mengurus suami yang sedang sakit itu hukumnya wajib?" tegas Kakek Ahmad.


"Ih, jangan manja deh. Bapak, 'kan cuma penyakit darah tinggi, bukan stroke. Masih bisa makan sendiri, 'kan?" ucap Bu Maryam sengit.


Rojak yang hendak menjenguk Kakek Ahmad, seketika mengepalkan kedua tangannya. Tanpa sengaja, dia mendengar perdebatan ayah dan ibu sambungnya.


"Ini sudah tidak bisa dibiarkan," gumam Rojak, kesal.


Dengan wajah memerah karena amarah, Rojak membuka pintu kamar dengan kasar. Membuat kedua orang renta itu sontak menoleh.


"Rojak?!" gumam Kakek Ahmad.


"Ish, apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu saat memasuki kamar orang tua?" dengus Bu Maryam, kesal. "Dasar anak tidak punya sopan santun!" umpatnya.


"Aku tidak butuh sopan santun untuk orang sepertimu," jawab Rojak, geram.


Tiba-tiba saja Rojak mendekati lemari dan membukanya. Dengan cekatan, kedua tangan Rojak mengeluarkan pakaian Bu Maryam dan menumpuknya di lantai.


"Eh, apa-apaan ini?" teriak Bu Maryam berkacak pinggang.


Rojak tidak menjawab. Dia masih terus mengeluarkan pakaian ibu sambungnya hingga tak tersisa. Setelah itu, Rojak mengambil sebuah tas besar dari atas lemari. Dia kemudian memasukkan pakaian Bu Maryam ke dalam tas tersebut.


"Sekarang juga, silakan kamu pergi dari rumah Bapak. Saya kira, Bapak tidak membutuhkan istri pembangkang seperti kamu!" tegas Rojak.


"Kamu ngusir saya?" tanya Bu Maryam. Terkejut.


"Jika memang iya, kenapa?" jawab Rojak.


"Ih, benar-benar anak durhaka!" pekik Bu Maryam.


"Apa Ibu pikir, menelantarkan Bapak di saat sakit, itu bukan perbuatan durhaka, Hah? Cih, Ibu juga tidak ada bedanya dengan saya. Sama-sama durhaka. Bedanya, Ibu durhaka terhadap suami Ibu, sedangkan saya durhaka terhadap ibu tiri tidak tahu diri, yang sama sekali tidak punya ikatan darah dengan saya!" teriak Rojak.


"Kau?"


"Kamu sudah tidak berkepentingan lagi di sini. Jadi silakan keluar!" usir Rojak kepada Bu Maryam.


"Kamu lihat kelakuan anak kamu yang selalu dibanggakan itu? Apa seperti ini, sikap anak terhormatnya?" Adu Bu Maryam kepada suaminya.


"Cukup, Maryam! Silakan angkat kaki dari rumah saya!" Kini giliran Kakek Ahmad yang mengusir Bu Maryam.


"Apa? Kamu juga mengusir saya?" seru Bu Maryam, tak percaya.


"Maaf, Maryam. Saya sudah memberikan kamu kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik, tapi kenyataannya ... kamu benar-benar sudah tersesat terlalu jauh. Saya tidak akan sanggup mempertanggungjawabkan perbuatan kamu di akhirat kelak." Lirih Kakek Ahmad.


"Lihat saja, Ahmad. Kamu pasti akan menyesal karena sudah mengusir saya!" ancam Bu Maryam.


Namun, rupanya Kakek Ahmad tidak ingin berlama-lama lagi melihat wajah lugu penuh tipu milik Bu Maryam.

__ADS_1


"Tolong bawa Bapak pergi ke rumah kamu, Nak!"


__ADS_2