
"Cupcake viral?" ulang Yandri seraya menautkan kedua alisnya.
"Benar, Pak ... yang seperti ini," jawab Ninda seraya memperlihatkan foto kue tersebut.
Yandri tersenyum tipis ketika melihat penampakan kue yang diinginkan ibunya. Sejenak, dia melirik jam tangan. Masih pukul tiga sore, hmm mungkin saja kuenya masih tersedia, batinnya. Yandri kemudian berpamitan kepada pemilik panti.
Keluar dari panti jompo, Yandri melajukan kendaraannya menuju pusat perkotaan. Dia mencari toko kue Stars Bakery untuk membeli kue viral yang diinginkan ibunya. Yandri sadar, selama ini dia tidak bisa merawat ibunya dengan baik. Untuk itu, apa pun yang menjadi keinginan sang ibu, sebisa mungkin Yandri akan berusaha untuk mewujudkannya.
Setelah hampir setengah jam memutari pusat kota, akhirnya Yandri menemukan juga toko kue yang dicari. Tokonya memang tidak terlalu besar, dan sedikit menjorok ke belakang. Karena itu, dua kali Yandri menyusuri jalan ini, Yandri tidak menemukannya. Barulah setelah bertanya kepada abang-abang becak yang mangkal di sekitaran jalan itu, Yandri pun menemukan Stars Bakery.
Yandri memarkirkan mobilnya. Setelah keluar dari kendaraannya, dia menatap dekorasi yang berada di pintu masuk. Sebuah gambar anime yang membuat dia seketika mengingat putrinya.
"Kamu di mana, Nak. Ayah sangat rindu pada kalian," gumam Yandri.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Tiba-tiba seseorang menegur Yandri karena posisi Yandri berdiri, memang menghalangi jalan.
Yandri menoleh. Dahinya mengernyit melihat wanita yang berusia sekitar 25-27 tahunan berdiri di hadapannya.
"Apa Anda pemilik toko kue ini?" tanya Yandri.
"Oh bukan, Pak. Saya hanya pelayan di sini. Pemiliknya adalah ibu Da–"
"Ah, sudahlah!" Yandri memotong perkataan perempuan itu. "Saya sedang mencari kue seperti ini. Apa ada?" tanya Yandri menunjukkan foto cupcake viral yang tadi dikirimkan perawat panti jompo.
"Wah kebetulan cupcake-nya sudah habis, Pak," jawab Ratih.
"Jadi benar, kue itu dijual di sini?" tanya Yandri memastikan.
"Benar, Pak," sahut Ratih.
"Emh ... apa saya bisa menemukannya di tempat lain?" Yandri kembali bertanya.
"Tidak mungkin, Pak. Karena cupcake itu adalah icon di toko kue kita. Dan satu-satunya tempat kue yang menjual, adalah toko kue ini," tutur Ratih menjelaskan.
"Hmm, begitu ya," gumam Yandri seraya mengelus-elus jenggot tipisnya. "Apa kamu tidak bisa membuatkannya kembali?" Yandri kembali bertanya.
"Waduh, tidak bisa Pak! Yang bisa membuatnya cuma ibu, dan kebetulan hari ini ibu sedang mengantarkan anaknya yang hendak PKL di kota Garut," jawab Ratih.
"Ibu? Siapa ibu?" tanya Yandri, mengernyit.
"Dia bos saya, Pak. Pemilik toko kue ini," jawab Ratih.
__ADS_1
"Begitu ya ...? Kapan beliau pulang? Apa besok saya bisa memesannya?" cecar Yandri.
"Tadi sih ibu bilang, nanti malam ibu kembali. Sepertinya bisa, Pak. Nanti biar saya sampaikan kepada ibu. Memangnya Bapak mau order berapa biji?" tanya Ratih.
"Satu box isinya berapa, Mbak? Yandri balik bertanya.
"6 biji, Pak," jawab Ratih.
"Oh ya sudah, saya pesan lima box saja. Kira-kira, jam berapa bisa saya ambil?" lanjut Yandri.
"Sekitar jam 10 pagi, Pak," balas Ratih.
"Ya sudah, besok saya kembali lagi pukul 10 pagi," kata Yandri.
"Baik Pak, terima kasih atas orderannya," ucap Ratih seraya sedikit membungkukkan badannya.
"Sama-sama."
Yandri bisa sedikit lebih tenang sekarang. Setidaknya, besok dia bisa memenuhi keinginan ibunya. Hmm, dari rupanya memang kue tersebut terlihat enak. Yandri pun penasaran ingin segera mencicipinya.
.
.
Keesokan harinya.
"Iya, Bu. Kemarin ada yang order sebanyak lit box," jawab Ratih.
"Kok kamu enggak bilang, Rat. Tahu gitu, Ibu bisa buatkan lebih untuk stok," imbuh Daniar.
"Maaf, Bu. Ratih lupa," sesal Ratih.
"Ya sudah, enggak pa-pa," balas Daniar yang langsung ikut menata cupcake-cupcake mini itu ke dalam box.
.
.
Pukul 9 pagi, Yandri sudah terlihat rapi. Dengan wajah sumringah, dia mengendarai mobilnya keluar dari perumahan. Wajah Yandri terlihat berseri-seri, mungkin karena dia telah berhasil mewujudkan keinginan ibunya.
Di lain tempat. Ratih membawa kelima box berisi cupcake viral ke meja kasir.
"Bu Ratih ada orderan keluar. Bintang, 'kan enggak ada, sedangkan Nia enggak bisa naik motor, jadi Ratih yang anterin," tutur Ratih.
__ADS_1
"Terus?" tanya Daniar, mendongak dan menatap Ratih, heran.
"Ya terus ... Ratih mau titip orderan pria itu," jawab Ratih cengengesan, "katanya sih, mau diambil sekitar jam 10-an," imbuhnya.
"Oh boleh, taruh aja di sana. Atas nama siapa, Rat?" tanya Daniar hendak mencatat nama si pengorder di nota pembayaran.
"Itulah masalahnya, Bu," tukas Ratih seraya menggaruk kepalanya.
"Maksud kamu?" tanya Daniar, heran.
"Anu, Bu ... Ratih lupa nanyain nama orangnya, hehehe," jawab Ratih, tersenyum mesem.
"Astaghfirullah ... Ratih-ratih," balas Daniar seraya menggelengkan kepalanya.
Setelah meminta maaf, Ratih pun pergi untuk mengantar kue pesanan online.
Pukul 10 tepat, Yandri tiba di toko kue yang kemarin dia kunjungi. Dahinya mengernyit melihat orang-orang keluar masuk melalui pintu toko itu. Entah seenak apa kue-kue yang tersedia di sini. Sehingga membuat para pengunjung berjubel memasukinya.
Yandri mengedarkan pandangan, senyumnya mengembang tatkala melihat muda-mudi yang asyik bercengkerama menikmati brownies dan secangkir kopi. Wangi aroma keduanya, menggelitik indera penciuman Yandri.
"Hmm, tidak ada salahnya aku menikmati sedikit waktu sebelum mengunjungi ibu," gumam Yandri.
Dengan langkah ringan, Yandri kemudian memasuki toko kue tersebut dan memesan secangkir kopi arabica dan brownies coklat yang mengingatkan dia pada mantan istrinya.
"Silakan, Pak. Meja nomor 13," ucap Nia seraya menyerahkan uang kembalian dan nomor meja kepada Yandri.
Pria jangkung itu mengedarkan pandangan untuk mencari nomor meja. "Ah, itu dia!"
Yandri berseru kecil. Dia kemudian mendekati meja yang berada di sudut ruangan. Sebuah meja yang cukup sepi dan cocok untuk menenangkan diri ataupun mengobrol dengan pasangan tanpa harus terganggu orang-orang yang berlalu lalang.
Yandri menarik salah satu kursi di meja nomor 13. Dia pun duduk bertumpang kaki seraya menikmati lukisan-lukisan anime motivasi yang entah siapa yang membuatnya.
"Ini pesanan siapa, Ni?" tanya Daniar setelah selesai membuat kopi hitam arabica.
"Oh, itu pesanan meja nomor 13, Bu. Nanti Nia antarkan setelah transaksi ini," jawab Nia yang sedang melayani pelanggan.
"Tidak usah, biar saya saja," sahur Daniar, "sekalian brownies-nya juga, 'kan, Ni," imbuhnya.
"Iya, Bu."
Daniar menyimpan kopi dan piring brownies ke dalam sebuah nampan. Dia kemudian mengayunkan langkahnya menuju meja nomor 13.
"Permisi, Mas. Ini pesanannya, mohon maaf menunggu lama," ucap Daniar seraya meletakkan secangkir kopi dan juga sepiring brownies di atas meja.
__ADS_1
Jantung Yandri berdetak kencang mendengar suara yang tidak asing lagi. Suara yang bertahun-tahun dia rindukan. Cincin itu? batin Yandri saat melihat cincin bermata berlian masih tersemat di jari manis nan lentik milik wanita yang selalu menghiasi mimpinya.
"Bunda?!"