Setelah Hujan

Setelah Hujan
Keputusan Khodijah


__ADS_3

Aji membaringkan istrinya di atas kasur lantai yang beralaskan tikar. Setelah itu, Pak Dana mulai mendekati Khodijah.


Aji dan Yandri mundur beberapa langkah saat Pak Dana mulai duduk di samping kaki kanan Khodijah. Tak lama kemudian, Aji duduk di samping kiri kaki Khodijah. Sedangkan Yandri, dia duduk berdampingan dengan Daniar di sudut ruangan. Menatap sendu kakaknya yang hanya bisa terbaring lemah tak berdaya.


"Apa istri Anda memiliki riwayat penyakit darah tinggi?" tanya Pak Dana kepada Aji.


"Tidak, Pak," jawab Aji.


Sesaat kemudian, Pak Dana mulai membaca basmalah. Tangannya memegang kaki Khodijah, mengusapnya dari lutut hingga betis. Tiba-tiba,


"Aww! Aww!"


Khodijah berteriak berulang kali saat tangan Pak Dana mulai mengusap-usap kaki kanannya. Bahkan, kaki Khodijah berkali-kaki bergerak secara spontan akibat sentuhan Pak Dana.


Daniar dan Yandri sangat terkejut melihat reaksi Khodijah. Begitu juga dengan Aji, sang suami. Dia tercengang melihat kedua kaki istrinya bergerak refleks saat mendapatkan sentuhan tangan Pak Dana.


Seulas senyum terbit di bibir laki-laki berusia sekitar 45 tahunan itu. Setelah mendapatkan reaksi spontan dari pasiennya, Pak Dana merasa yakin jika stroke yang diderita Khodijah hanya sekedar trauma saja.


"Begini, Pak Aji. Sebenarnya istri Anda bukan terkena stroke. Sepertinya beliau hanya mengalami trauma saja," kata Pak Dana. "Apa sebelumnya beliau pernah terjatuh, atau mengeluh sakit yang cukup hebat di kakinya?" tanya Pak Dana.


Aji menautkan kedua alisnya, mencoba mengingat apa yang pernah terjadi kepada Khodijah sebelumnya. Namun, Aji sama sekali tidak mendapatkan titik terang apa-apa tentang kejadian masa lalu yang menimpa Khodijah.


"Saya tidak tahu apa istri saya pernah terjatuh atau tidak. Namun, dulu istri saya sering mengeluh sakit di bagian pergelangan kakinya. Bahkan, kakinya sering merasa kesemutan, terasa kaku dan sulit untuk digerakkan," tutur Aji saat mengingat keluhan Khodijah beberapa tahun yang lalu.


"Dugaan saya, mungkin karena rasa sakit itu yang menyebabkan istri Anda merasa trauma untuk menggerakkan kaki. Hingga pada akhirnya, otot-otot kaki bertambah kaku dan semakin sakit untuk digerakkan," papar Pak Dana.


"Lantas, apa bisa sembuh seperti sedia kala?" tanya Yandri, penasaran.


"Jika dibarengi latihan yang rutin untuk melemaskan kembali otot-ototnya, Insya Allah harapan untuk sembuh itu ada, Pak. Yang terpenting, istri Anda punya tekad dulu untuk mengalahkan rasa traumanya. Dengan tekad dan keyakinan yang kuat, saya yakin istri Anda bisa melawan penyakitnya," ujar Pak Dana memberikan motivasi.


"Latihan seperti apa yang harus dilakukan istri saya, Pak?" Kini giliran Aji yang bertanya.


"Bapak coba buat alat manual dari karet ban yang diikatkan pada penyangga kursi. Setelah itu, istri Anda bisa menggunakan karet tersebut sebagai alat untuk membantu meregangkan otot kaku dengan cara memijakkan kaki di atas karet ban dan menekannya secara berulang-ulang," papar Pak Dana.

__ADS_1


"Apa hanya itu saja? Aji kembali bertanya.


"Sebentar!" ucap Pak Dana.


Sesaat kemudian, Pak Dana berdiri dan pergi memasuki sebuah ruangan tertutup. Tak lama, Pak Dana kembali dan duduk di sebelah Khodijah. Dia mengeluarkan botol kecil dan membukanya. Lalu mulai mengolesi kaki Khodijah dengan minyak dari botol tersebut.


"Gunakan minyak ini dua hari sekali. Selain diusapkan, sedikit diurut juga supaya meresap. Fungsinya sama dengan minyak urut yang lain, membantu untuk memuaikan otot-otot yang kaku karena sama sekali tidak digerakkan," papar Pak Dana.


"Baik, Pak,' jawab Aji.


"Coba sekarang tekuk kakinya," perintah Pak Dana kepada Khodijah.


"Ti-dak bisa, Pak. Rasanya sakit sekali," jawab Khodijah.


"Dicoba dulu, Bu. Sakit karena Ibu sudah tidak terbiasa menggerakkannya. Ibu harus ingat, rasa sakit itu adalah sugesti dari dalam diri Ibu sendiri. Ibu harus bisa melawan sugesti itu, supaya cepat sembuh," tutur Pak Dana. "Ayo, pelan-pelan saja Ibu gerakkan," lanjut Pak Dana.


"Ayo, Dek! Dicoba saja dulu, bukankah kamu ingin sembuh?" kata Aji menyemangati istrinya.


'Iya, Kak. Kang Aji benar. Kakak tidak akan tahu hasilnya kalau tidak mencoba terlebih dahulu," timpal Yandri.


Aji tersenyum lebar menyaksikan istrinya bisa menggerakkan kedua kakinya. Dia pun mulai bersemangat lagi untuk memberikan yang terbaik kepada Khodijah. Berharap Khodijah bisa kembali sehat paripurna seperti sebelumnya.


Setelah melakukan terapi dan juga diskusi, akhirnya Aji berpamitan pulang.


.


.


Di lain tempat. Selesai menelepon anaknya, Bu Maryam kembali ke rumahnya. Di ruang dapur, dia bertemu dengan Habibah. Bu Maryam pun menghentikan langkah Habibah yang hendak pergi ke kamar mandi.


"Ada apa, Bu?" tanya Habibah yang merasa heran saat ibunya memanggil.


"Kemarilah sebentar, Bah. Ada yang ingin Ibu bicarakan sama kamu," jawab Bu Maryam.

__ADS_1


Habibah akhirnya mengurungkan niatnya pergi ke kamar mandi. Dia menarik sebuah kursi kecil dan duduk di sana. Berhadapan dengan Bu Maryam.


"Mau bicara apa, Bu?" Habibah kembali bertanya.


"Ibu ingin membawa kakak kamu ke rumah ini. Apa kamu sanggup membantu Ibu untuk mengurusnya?" tanya Bu Maryam.


Dahi Habibah sedikit berkerut. Rupanya Ibu tidak main-main dengan rencana membawa Khodijah pulang. Ish, merepotkan saja, gerutu Habibah dalam hatinya.


"Gimana, Bah? Kamu enggak keberatan, 'kan, ngurusin kakak kamu?" tekan Bu Maryam. "Kasihan dia, Bah. Dia sama sekali tidak diurus sama suaminya." Bu Maryam mulai mengadu.


Meskipun keberatan, tapi Habibah tidak punya pilihan lain. Permintaan ibunya seolah titah permaisuri yang harus ditaati. Dengan sedikit rasa kecewa, habibah pun hanya bisa menganggukkan kepala untuk memberikan jawaban kepada Bu Maryam.


.


.


beberapa hari setelah melakukan terapi, tiba-tiba Khodijah mengutarakan keinginannya untuk kembali kr rumah orang tuanya.


Entah apa yang terjadi pada diri Khodijah. Padahal, terdapat perkembangan kesehatan yang cukup signifikan setelah berobat ke pengobatan alternatif milik pak Dana.


"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu, Dek?" tanya Aji.


Khodijah mengangguk.


"Tapi jujur saja, Akang tidak bisa menemani kamu di sana, Dek. Kamu sendiri tahu jika pekerjaan Akang di sini begitu banyak. Belum lagi, Akang harus ngurusin Haikal dan Hana," tutur Aji


"Dijah ngerti. Akang tidak usah khawatir. Di sana ada ibu dan Habibah yang bakalan ngurusin Dijah," sahut Khodijah.


"Tapi tetep enggak enak, Dek. Kamu masih punya suami. Apa kata orang nanti jika kamu tinggal terpisah dari Akang." Lagi-lagi Aji memberikan alasan untuk mencegah keinginan Khodijah pulang.


"Tidak apa-apa, Kang. Jangan hiraukan ucapan orang lain," kata Khodijah.


"Akang hanya khawatir jika di sana, kamu tidak ada yang membantu untuk latihan berjalan. padahal di sini, sedikit demi sedikit kamu sudah bisa melangkahkan kaki," papar Aji, mencemaskan keadaan Khodijah.

__ADS_1


Khadijah tersenyum. "Insya Allah, Dijah pasti bisa sembuh, Kang. Do'akan saja.


__ADS_2