
Yandri membolak-balikkan badan ke kiri dan ke kanan. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Namun, dia masih belum bisa memejamkan mata. Dengungan nyamuk membuat tangan Yandri sibuk untuk mengusirnya. Ditambah lagi, riuhnya suara serangga malam, begitu memekakkan telinga. Rasa kantuk pun semakin sulit untuk dia dapatkan. Mungkin, sudah terlalu lama Yandri meninggalkan suasana kampungnya. Karena itu, dia merasa aneh.
Astaghfirullah ... seandainya aku tahu akan seperti ini jadinya, lebih baik jika aku tidur di rumahku saja. Katanya rindu, tapi tetap saja ibu tidur di rumah suaminya. Hmm, tidak salah juga sih, toh sekarang ibu sudah punya kewajiban untuk ikut suami, batin Yandri.
.
.
Sayup-sayup, kumandang azan awal mulai terdengar. Itu artinya, sekitar satu jam lagi azan subuh berkumandang. Namun, entah kenapa justru saat menjelang subuh, kedua mata Yandri sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Hingga akhirnya, Yandri mulai terbuai dalam mimpinya.
Yandri mengerjapkan mata ketika sinar matahari menyeruak masuk melalui celah jendela kamar.
"Astaghfirullahaladzim! Ternyata sudah siang," gumam Yandri yang baru saja bangun.
Setengah berlari, Yandri keluar kamar dan pergi ke kamar mandi untuk bersuci. Lepas itu, dia kembali ke kamar dan mulai mendirikan shalat subuh yang kesiangan. Hingga di salam terakhir, Yandri mendengar suara ibunya yang berteriak-teriak di halaman belakang.
"Habibah ...! Assalamu'alaikum, Bibah. Ada orang di rumah?"
Tok-tok-tok!
Bu Maryam terus berteriak memanggil Habibah sembari mengetuk pintu dengan kuat.
"Astaghfirullah, Ibu ... ngapain juga harus teriak-teriak," gumam Yandri seraya keluar kamar.
Yandri mengayunkan langkah menuju dapur. Tiba di sana, dia segera membuka pintu dapur.
"Ish, Ibu ... tidak usah berteriak-teriak seperti itu, malu didengar sama tetangga," tegur Yandri.
"Yandri!" pekik Bu Maryam saat melihat putranya. "Alhamdulillah Ya Allah ... akhirnya kamu ingat Ibu juga," seru Bu Maryam.
Yandri hanya tersenyum kecut mendengar perkataan ibunya. Hmm, seperti yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu saja. Padahal, kemarin sore, ibu tahu kalau aku mau menginap di sini, batin Yandri.
"Iya, Bu. Yandri sudah bilang, kalau ada waktu luang, Yandri pasti datang," timpal Yandri.
"Ya kalau enggak menyempatkan, enggak mungkin juga kamu punya waktu luang." Bu Maryam mendengus kesal.
Yandri kembali tersenyum kecut. "Ya sudah, Bu. Ayo masuk!" ajaknya.
Perempuan tua itu pun melangkahkan kaki melewati pintu pembatas dapur. Seraya menggandeng tangan putranya, Bu Maryam memasuki ruang keluarga.
"Duduk di sini, Nak!" ucap Bu Maryam seraya menepuk sofa usang yang sedang didudukinya, "di samping Ibu," lanjutnya.
Yandri tersenyum. Dia kemudian mengikuti perintah ibunya dan duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Bu Maryam. Untuk sejenak, keheningan terjadi di antara mereka.
Bu Maryam hanya bisa menatap lekat wajah anaknya yang selalu tersenyum. Binar kerinduan tampak jelas di kedua bola mata Bu Maryam.
"Ibu sangat bersyukur, Nak ... akhirnya kamu kembali kepada Ibu," kata Bu Maryam.
__ADS_1
"Hmm, Ibu bicara apa sih? Aku ini anak Ibu, tentu saja aku akan pulang untuk Ibu," sahut Yandri.
"Ngomong-ngomong, Nak. Bisakah kamu selamanya tinggal bersama Ibu?" tanya Bu Maryam.
"Maksud Ibu?" Yandri bertanya, heran.
"Karena kamu sudah berpisah dengan Daniar, jadi kamu enggak perlu kerja jauh-jauh lagi. Kamu bisa pindah kerja ke tempat yang dulu lagi, Nak. Biar kita selalu dekat," tutur Bu Maryam.
Yandri tersenyum. "Tidak bisa seperti itu, Bu. Meskipun Yandri sudah berpisah dengan Daniar, tapi Yandri tetap punya tanggung jawab kepada Bintang," jawab Yandri.
"Ya sudah, kamu bawa saja anak kamu ke sini. Pindahkan sekolahnya di tempat kamu ngajar," tekan Bu Maryam.
"Tidak harus seperti itu juga, Bu. Yandri tidak akan tega menjauhkan Bintang dari ibunya," balas Yandri.
"Ish, Nak ... justru itu akan dijadikan alasan supaya dia deket-deket kamu lagi," tukas Bu Maryam.
"Maksudnya gimana ya, Bu?" Yandri semakin heran dengan arah pembicaraan ibunya.
"Iya, kalau kamu membiarkan anak kamu tetap tinggal sama ibunya, dia akan menjadikan anak kamu sebagai alasan supaya dia bisa menguasai kamu lagi. Nanti, dikit-dikit dia minta uang buat kebutuhan anak kamu," gerutu Bu Maryam terlihat kesal.
"Ibu, kalau memang Daniar meminta uang untuk kebutuhan Bintang, ya wajar saja. Bintang itu, 'kan anaknya Yandri," tukas Yandri.
"Iya, wajar kalau benar. Kalau cuma akal-akalan dia, gimana?" Prasangka Bu Maryam.
"Insya Allah enggak, Bu. Yandri yakin Daniar itu bukan tipe seorang ibu yang akan memanfaatkan anaknya demi kebutuhan pribadi." Yandri mencoba membela Daniar.
"Ish, sudah dong, Bu. Jangan terus menjelekkan Daniar. Tidak ada untungnya. Hanya buang-buang energi Ibu saja," kata Yandri, mencoba menenangkan emosi sang ibu. "Lagi pula, gaji Yandri di sana itu lebih besar, Bu. Tidak mungkin Yandri melepaskannya," lanjut Yandri.
"Tapi, Nak ... risikonya kamu harus jauh dari Ibu," keluh Bu Maryam. 'Sudah cukup Daniar saja yang berhasil menjauhkan kamu dari Ibu. Jangan pekerjaan lagi!" rengek Bu Maryam.
"Aih, Ibu ... kok Daniar lagi," timpal Yandri seraya menyandarkan punggungnya.
Namun, tiba-tiba saja Yandri mengaduh kesakitan. Punggungnya seperti terkena benda tajam yang menempel di sandaran kursi.
"Eh, apa ini?" gumam Yandri, menyingkap kain yang menutupi sandaran kursi.
Yandri cukup terkejut melihat sebuah paku yang cukup besar tertancap di sana.
"Kok ada paku sih, Bu. Wah, bisa bahaya ini," kata Yandri.
"Huh, sofanya memang sudah jelek, Nak. Semenjak dibelikan oleh almarhum ayah kamu, sofa ini memang enggak pernah diperbaiki." Bu Maryam kembali menggerutu, kesal. "Kamu sih ... terlalu sibuk ngurusin Daniar. Sampai lupa kalau kamu harus ngyrusin keperluan ibu kamu sendiri." Sindir Bu Maryam.
Ah, kenapa lagi-lagi Daniar, batin Yandri, menatap heran kepada ibunya.
"Ya sudah, nanti siang kita beli sofa baru. Kebetulan Yandri ada rezeki lebih," ujar Yandri.
"Benarkah?" tanya Bu Maryam terlihat sumringah.
__ADS_1
Yandri mengangguk.
"Alhamdulillah, Yan ... semoga rezeki kamu semakin dilancarkan Gusti Allah ....
"Aamiin."
.
.
Masa relaksasi Yandri telah berakhir. Yandri pun berpamitan kepada ibunya untuk kembali bekerja.
"Jangan lupa ya, Nak. Kalau bulan depan kamu libur lagi, kamu langsung pulang ke rumah Ibu, ya," ucap Bu Maryam saat Yandri berpamitan jihad kembali.
Yandri hanya tersenyum. "Insya Allah, Bu. Kebetulan bulan depan Yandri sibuk. Soalnya kenaikan kelas sekaligus penerimaan santri juga," papar Yandri.
"Hmm, ya sudah ... tapi kamu enggak akan lupa kirimin uang bulanan Ibu, 'kan? tanya Bu Maryam.
"Enggak, Bu. Nanti, begitu Yandri gajian, Yandri bakalan transfer uangnya sama kak Bibah,"jawab Yandri.
"Jangan ke Habibah, Nak. Kamu transfer ke Yoga saja, biar Ibu deket ngambilnya," tukas Bu Maryam.
"Baiklah, terserah Ibu saja,"jawab Yandri, mengalah.
Bu Maryam hanya bisa tersenyum lebar. Pikirnya, dia sudah mulai bisa mengendalikan Yandri kembali.
.
.
Hari demi hari terus berlalu. Sikap Bu Maryam pun mulai berubah. Seperti biasa, Bu Maryam mulai merengek meminta sesuatu kepada Yandri. Dimulai dari uang jajan, uang medis, hingga untuk membeli pakaian mengaji.
Hampir setiap hari dalam satu Minggu, Bu Maryam pergi ke pengajian. Perubahan yang baik, memang. Namun, jika niatnya hanya ingin memamerkan pakaian gamis barunya. Entahlah ....
Bukan hanya ingin dipuji saja, tapi sifat baru yang melekat dalam diri wanita tua itu semakin terlihat.
Bu Maryam mulai terlihat angkuh. Tidak pernah ingin membantu keluarga ataupun tetangga lagi untuk tandur juga panen padi.
"Aku sudah menjadi orang kaya. Gimana ceritanya kalau harus turun ke sawah. Huh, tidak level!" dengus Bu Maryam.
Mak Ijah, ibunya Puri yang lain adalah besannya Bu Maryam, hanya bisa tersenyum tipis mendengar jawaban Bu Maryam.
"Kalau begitu, saya pulang dulu, Ceu. Maaf karena sudah mengganggu waktunya." Pamit Mak Ijah.
"Hmm." Bu Maryam hanya mendeham.
"Kok, sekarang ibu jadi sombong begitu ya, Mak," ucap Puri.
__ADS_1
"Maklum, Teh. Begitulah tabiat manusia jika sudah silau harta.