Setelah Hujan

Setelah Hujan
Berita Duka


__ADS_3

"Bagaimana Nak Yandri? Apa sudah bertemu dengan kepala sekolahnya Daniar? Apa katanya? Apa beliau mengizinkan Daniar untuk mengambil cuti lama?" cecar Bu Salma begitu Yandri tiba di rumah.


"Sebenarnya Yandri enggak ketemu dengan kepala sekolahnya Daniar, Bu," jawab Yandri.


Wajah Bu Salma berubah murung. Kecemasan langsung terpancar di raut wajahnya.


"Itu artinya, Niar enggak bisa cuti, dong. Memangnya, Bu Indah enggak masuk hari ini?" Bu Salma kembali bertanya.


"Iya, Bu. Hari ini Bu Indah sedang berangkat umroh. Tapi Ibu enggak usah khawatir, Yandri sudah mendapatkan surat izin cuti untuk Daniar, kok. Mulai hari ini sampai dua minggu ke depan, Daniar bisa istirahat total di rumah," jawab Yandri, menunjukkan amplop berwarna putih yang berisi surat cuti Daniar.


"Ah, syukurlah kalau begitu," sahut Bu Salma, bernapas lega. "Oh ya, ngomong-ngomong, jam berapa kamu berangkat ke Indramayu?" tanya Bu Salma.


Yandri melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hmm, sebentar lagi, Bu. Sekitar pukul 10 saja," jawabnya.


"Kamu bawa mobil?" tanya Bu Salma lagi.


"Rencana awal sih begitu, tapi karena Daniar sakit, Yandri simpan di sini dulu deh. Biar gampang kalau ada apa-apa dengan Daniar. Ya mudah-mudahan sih, Daniar enggak kenapa-kenapa. Tapi kita harus tetap siaga untuk sesuatu yang mungkin saja terjadi," tutur Yandri.


"Hmm, kamu benar, Nak. Ya sudah, temani istri kamu sana! Ibu yakin jika di saat-saat seperti itu, dia pasti ingin dekat dengan suaminya," kata Bu Salma.


Yandri tersenyum. Ah Ibu tahu aja kalau aku masih kangen sama anaknya, batin Yandri.


"Iya, Bu. Yandri masuk kamar dulu," pamit Yandri.


Bu Salma hanya menganggukkan kepalanya.


Yandri memasuki kamar. Tampak Daniar tengah berbaring sambil memejamkan mata. Tak ingin kedatangannya mengganggu tidur sang istri, Yandri berjalan mengendap-endap.


Namun, tiba-tiba Daniar membuka mata. Dia tersenyum tipis melihat Yandri yang hanya melongo menatapnya.


"Ish, Ayah pikir Bunda lagi tidur," kata Yandri, sedikit kesal karena merasa dikerjai.


"Hehehe, maaf Yah. Tadi Bunda hanya sedikit pusing saja," sahut Daniar.


"Ya sudah, tiduran aja lagi. Biar Ayah temenin," timpal Yandri sambil merangkak di atas kasur.


"Eh, Ayah mau ngapain?" tanya Daniar, terkejut.


"Nemenin Bunda tidur, lah," jawab Yandri, merebahkan tubuhnya di samping Daniar.


"Loh, bukannya Ayah mau berangkat lagi?" Daniar kembali bertanya.


"Iya, Bun. Tapi nanti saja, sekitar jam 10," sahut Yandri.


"Oh, Ayah mau bawa mobil," tukas Daniar.


"Mana ada, Bun. Ayah naik umum lah ..."


"Loh, kok?" Daniar mengernyitkan keningnya.


"Mobil mau Ayah simpan di sini. Buat jaga-jaga kalau Bunda membutuhkannya," papar Yandri.

__ADS_1


"Terus, kenapa jam segini masih belum berangkat juga? Entar ketinggalan bus, loh," kata Daniar.


"Ayah naik bus yang berangkat jam 11, Bun. Nanti di Cikijing, Ayah sudah janjian sama Ustadz Dani, mau barengan. Jadi enggak harus khawatir kehabisan bus yang melewati asrama," tutur Yandri.


"Jadi, Ayah berangkat jam berapa?" tanya Daniar lagi.


"Jam 10 saja, Bun. Biar enggak kelamaan nungguin bus. Sekarang, Ayah mau nemenin Bunda bobo dulu," lanjut Yandri, menarik selimut hingga menutupi wajah mereka berdua.


"Ish, Ayah! Ini, apa-apaan sih?" sahut Daniar, merasa terkejut dengan jari-jemari Yandri yang sudah menggerayangi wilayah dadanya.


"Pegang aja, Bun. Boleh, 'kan?"


.


.


Habibah terus menggerutu karena gagal mendapatkan uang dari adiknya. Sekarang, dia tidak tahu harus mencari uang ke mana untuk memenuhi biaya kesehariannya. Semenjak ada ojek online, pekerjaan suaminya pun sepi. Dalam sehari, meski sudah berjam-jam mangkal di pangkalan ojek, tapi hanya satu dua orang saja yang memakai jasa suaminya. Bahkan, Bahar sering kali tidak mendapatkan penumpang dalam sehari.


Kalau begini terus, lama-lama aku sama kedua anakku bisa-bisa enggak makan. Monolog Habibah dalam hatinya.


"Huh, semua ini gara-gara kak Dijah. Ngapain sih, dia harus pulang segala? Padahal, di rumah ibu ataupun di rumahnya, penyakit kak Dijah tetep susah untuk sembuh. Orang kak Dijah sendiri seolah enggak punya keinginan untuk sembuh. Benar-benar kakak yang payah! Susah diatur! Kalau tinggal di sini, 'kan enak. Banyak yang menjenguk, banyak yang kirim makanan juga. Lah di sana ... emang masih ada tetangga yang peduli? Huh, dasar bodoh!" umpat Habibah tanpa jeda.


"Bah! Bibah ...! Mana nasi sama lauknya? Akang mau makan!" teriak Bahar dari dapur.


"Enggak ada nasi untuk hari ini. Akang makan singkong rebus aja. Sudah Bibah siapkan di dalam rantang di meja kecil sebelah rak piring!" Habibah menjawab sambil berteriak juga, karena dia sedang menjahit baju Rizal yang sobek di kamar kerjanya.


Bahar menghampiri Habibah. Wajahnya terlihat kusut. Dia menyodorkan singkong rebus yang sepertinya sama sekali belum ada yang menyentuh.


"Ish, memangnya kemarin Akang ngasih uang buat beli beras, buat beli lauk pauk? Enggak sama sekali!" tegas Habibah. "Ya sudah, jangan kebanyakan protes. makan saja yang ada!" lanjutnya.


Bahar hanya bisa diam mendengar ocehan sang istri. Harus dia akui, apa yang dikatakan Habibah memang benar. Sudah beberapa hari, dia tidak mendapatkan penumpang. Tapi ini di luar kuasa Bahar. Ditambah lagi, cuaca yang seolah tidak peduli pada kesulitannya. Setiap hari hujan turun, karena itu pangkalan ojek sepi penumpang.


"Ya sudah, biar Akang makan singkong rebus ini saja," jawab Bahar, kembali ke dapur.


"Bagus. Nikmati saja, Kang! Segitu juga Akang masih bisa makan. Coba Akang lihat di luar sana, masih banyak orang yang kondisinya lebih buruk daripada kita. Bahkan kelaparan!" oceh Habibah.


"Iya-iya," sahut Bahar, mendengus kesal.


.


.


Detik demi detik terus berjalan. Menjelang jam 10, Yandri merapikan tas ranselnya. Dia mengecek kembali semua barang bawaannya.


Daniar hanya bisa melihat Yandri dari ranjangnya. Dia bukannya tidak ingin membantu, Yandri melarang Daniar untuk turun dari ranjang.


"Apa ada yang ketinggalan, Yah?" tanya Daniar.


"Sepertinya tidak ada, Bun," sahut Yandri.


"Kok sepertinya, sih ... yang pasti dong, kalau jawab!" protes Daniar, cemberut

__ADS_1


Aih, hormon orang hamil, ya ... astaghfirullah ... Sabar Yandri, sabar, batin Yandri.


Sambil tersenyum, Yandri mendekati istrinya. "Enggak ada, Bun. Semuanya aman, kok."


Daniar membalas senyum suaminya. "Nah, gitu dong!"


"Ya sudah, Ayah berangkat dulu. Hati-hati di rumah. Ingat, jangan terlalu banyak pikiran. Oke!"


Daniar mengangguk.


Yandri semakin mendekatkan wajahnya. Dia menunduk dan mencium pucuk kepala Daniar. Memberikan pelukan seraya berkata, "I love you."


Daniar terharu dengan sikap Yandri. Entah kenapa, kehamilannya yang kedua ini, telah membuat Daniar menjadi seorang wanita yang melankolis. Pada akhirnya, Daniar mulai terisak sambil menyusupkan kepalanya ke dalam pelukan Yandri.


"Sst, sudah jangan menangis. Bulan depan, Ayah juga pulang lagi, Bun," ungkap Yandri.


Daniar melepaskan pelukannya. Dia sadar, tangis hanya akan memberatkan langkah suaminya. Karena itu, Daniar menyeka sisa air matanya dan kembali tersenyum untuk menenangkan hati suaminya.


"Berangkatlah, Yah!" kata Daniar.


Sekali lagi, Yandri mencium pucuk kepala istrinya. Sedetik kemudian, dia keluar kamar untuk berpamitan kepada ibu mertua.


.


.


Hari terus berganti. Sudah seminggu Daniar menghabiskan waktunya hanya di tempat tidur. Sungguh sangat membosankan. Namun, Daniar tidak bisa protes. Setiap kali dia mencuri kesempatan untuk turun dari ranjang, entah Bintang ataupun ibunya, pasti selalu memergoki Daniar. Sepertinya, kedua orang itu sudah menjadi sipir penjaga yang sedang menjaga tahanan di penjara.


"Apa?! Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un!" pekik Bu Salma. "Iya, Nak. Semoga husnul khatimah. Kamu tidak usah khawatir, Ibu akan pelan-pelan bicara dengannya. Ya sudah, Ibu tutup dulu teleponnya, ya. Assalamualaikum."


Samar-samar, Daniar mendengar pembicaraan ibunya lewat telepon. Namun, entah dengan siapa ibunya berbicara. Hanya saja, dari setiap kalimatnya, Daniar bisa menebak jika apa yang disampaikan si lawan bicara, adalah kabar duka.


"Innalilahi?" gumam Daniar, "siapa yang meninggal?" imbuhnya.


Ceklek!


Pintu terbuka. Bu Salma memasuki kamar Daniar.


"Ni, ada yang mau Ibu sampaikan, tapi Ibu khawatir kalau kamu ..." Bu Salma menggantungkan kalimatnya.


"Kalau Niar kenapa, Bu?" tanya Daniar penasaran.


"Emh, anu Ni. Ibu takut kalau kabar ini akan mempengaruhi kesehatan kamu," tutur Bu Salma.


Daniar menggenggam tangan ibunya. "Katakan saja, Bu. Niar pasti baik-baik saja. Lagi pula, Niar tahu jika Ibu ingin menyampaikan berita duka kepada Daniar. Benar, 'kan?"


"Eh, bagaimana kamu tahu, Nak?"


"Maaf, Bu. Tadi, tanpa sengaja Niar mendengar pembicaraan Ibu dengan seseorang di telepon. Apa memang ada yang meninggal, Bu? Siapa?" tanya Daniar.


"Di-dia...i-itu, Ni. Anu, emh...di-dia ... dia adalah kakak ipar kamu. Khodijah," jawab Bu Salma, terbata.

__ADS_1


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un...."


__ADS_2