
Hari demi hari terus berlalu. Sejak pembicaraannya tentang menikah dengan sang adik, hari daniar pun semakin suram. Wajahnya selalu bermuram durja saat mengingat kembali permintaan Danita untuk segera menikah.
Di lain pihak, Yandri yang melihat wajah kebingungan Daniar beberapa hari terakhir ini, akhirnya tak kuasa untuk menyimpan rasa penasarannya lagi. Saat dia melihat gadis itu tengah duduk sendirian di bangku taman kampus belakang, Yandri menghampirinya.
“Kenapa kamu terlihat bingung?” tanya Yandri.
Daniar begitu terkejut saat melihat orang yang telah dilupakannya, kini tengah berdiri di sampingnya.
“Eh, iya … kenapa, Yan?” Daniar malah balik bertanya.
“Aku perhatikan, beberapa hari terakhir ini, kamu kelihatan murung terus, seperti sedang banyak pikiran. Memangnya, ada yang sedang yang kamu pikirkan akhir-akhir ini?” tanya Yandri lagi.
“Bukan masalah besar kok, Yan,” jawab Daniar
“Masalah besar ataupun tidak, tapi alangkah lebih baik jika kamu bercerita. Ya, itu pun kalau kamu memang percaya padaku,” balas Yandri.
"Hmm, bercerita lagi. Apa setelah bercerita, kamu akan kembali menjauhi aku dan berpura-pura tidak mengenalku?" tuding Daniar yang entah mendapatkan keberanian dari mana sehingga sanggup menuduh teman barunya yang sulit ditebak kemauannya.
Yandri tersenyum kecut. "Kenapa kamu mempunyai pikiran seperti itu?" tanyanya.
"Ya abisnya, kamu nggak pernah negur kalau kita papasan. Aku senyum pun, kamu nggak pernah balas. Seolah kita tidak pernah saling berkenalan," keluh Daniar, mengerucutkan bibirnya.
Yandri hanya tersenyum tipis mendengar keluhan Daniar. "Maaf!" Hanya itu yang terucap dari bibir bersemu merah jambu miliknya.
"Sudahlah, lupakan saja!" ucap Daniar.
"Ya sudah, ayo ceritakan lah!" desak Yandri seraya mendaratkan bokongnya di samping Daniar.
“Sebenarnya, aku lagi bingung, Yan,” ucap Daniar.
Yandri membenarkan posisi duduknya dan menatap Daniar. “Bingung kenapa?” tanyanya.
“Adikku hendak menikah,” jawab Daniar
“Loh, bukankah itu berita yang bagus. Kok malah bingung?” tanya Yandri.
“Aku bingung karena calon suaminya tidak ingin adikku melangkahi aku,” jawab Daniar, menatap nanar ke depan.
Yandri terkekeh mendengar pengakuan Daniar “Jangan terlalu naif, Nona. Sekarang, zaman sudah berbeda. Aku pikir, kakak dilangkahi oleh adik, itu bukan masalah. Toh adikku saja sudah menikah,” tutur Yandri.
“Benarkah? Kok, aku baru tahu,” ucap Daniar.
“Hehehe, memangnya kenapa kalau baru tahu. Orang kamu sendiri nggak pernah nanya,” tukas Yandri.
__ADS_1
“Yeay, ngapain aku nanya-nanya soal keluarga kamu. Emang kamu siapa aku?” jawab Daniar kembali memajukan bibir tipisnya
Sontak Yandri tertawa mendengar jawaban Daniar.
“Hahaha. Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Toh nanti juga pasti akan ada jalan keluarnya,” ujar Yandri.
“Hmm, kamu benar,” ucap Daniar, "tapi, enggak dipikirkan ya tetap kepikiran juga, Yan," lanjutnya.
Yandri pun hanya tersenyum mendengar ucapan Daniar. Untuk sesaat, keheningan terjadi di antara mereka. Sepertinya, mereka sedang bergelut dengan pemikirannya masing-masing.
Hingga, setelah sepuluh menit berlalu, yandri bertanya kepada daniar. “Eh, Yar ... ngomong-ngomong, apa ayah kamu sedang berada di rumah?" tanya Yandri.
"Yar?" Daniar malah balik bertanya seraya mengernyitkan dahinya.
"Iya, itu panggilan aku untuk kamu," jawab Yandri.
"Hmm, cukup unik," balas Daniar.
"Ya sudah, jangan dibahas lagi. Jadi, apa ayah kamu ada di rumah?" ucap Yandri mengulang pertanyaannya.
"Sebenarnya, Ayahku bekerja di luar kota, Yan," jawab Daniar.
"Benarkah? Di mana?" Yandri kembali bertanya.
"Di Jakarta," jawab Daniar.
“Ngapain sih, nanya-nanya Ayahku?” Daniar mulai terlihat kesal.
“Ya enggak pa-pa, cuma nanya aja,” jawab Yandri.
“Hmm, nggak jelas,” cibir Daniar.
“Ish, aku serius, Yar,” ucap Yandri penuh penekanan.
“Biasanya sih, sebulan sekali,” jawab Daniar
“Ya sudah, nanti kalau ayah kamu pulang, tolong kabari aku, ya?” pinta Yandri.
"Idih, ngapain?" tanya Daniar semakin heran.
"Hmm, ada deh ..." jawab Yandri.
Daniar kembali memajukan bibirnya mendengar jawaban Yandri yang penuh teka-teki.
__ADS_1
Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, jam istirahat telah habis. Para mahasiswa dan mahasiswi kembali ke kelasnya masing-masing. Begitu juga dengan Yandri dan Daniar. Tiba di kelas, mereka pun memulai kembali mata kuliah terakhirnya.
Tiga jam telah berlalu. Akhirnya, pukul 17.30, kelas bubar. Daniar keluar kelas dengan langkah yang tidak bersemangat. Sungguh, permasalahan yang sebenarnya cukup sederhana, kini telah menjadi pelik di saat salah satu dari mereka bersikeras tidak ingin mengubah adat kebiasaan keluarga. Masih terbayang dalam ingatan Daniar tentang desakan Danita semalam.
Ish, kenapa harus seperti ini? bagaimana mungkin aku bisa menikah, orang temen deket aja aku nggak punya. Lagian Danita kok ada-ada aja, mau nikah mah, ya nikah aja, apa susahnya sih? Ngapain pake bawa-bawa aku segala, dengus Daniar dalam hatinya. Dia benar-benar merasa kesal.
“Tuh, ngelamun lagi,” ucap Yandri saat dia melewati kelas Daniar.
“Eh, i-iya … kenapa?” Daniar kembali tergagap.
Yandri memasuki kelas Daniar yang sudah terlihat sepi. “Sudah, Yar. Jangan terlalu dipikirkan, entar kamu bisa sakit, loh,” kata Yandri, duduk di samping Daniar.
“Ya enggak dipikirin, tapi, ‘kan tetap kepikiran juga, Yan. Kalau gini caranya, sama aja mereka tuh nyuruh aku nikah. Lah, kamu, 'kan tahu sendiri kalau aku belum kepikiran untuk nikah," jawab Daniar.
“Tibang nikah, apa susahnya sih, Yar,” ledek Yandri.
“Aish, nikah sama siapa? Sama kambing?” dengus Daniar terlihat kesal.
“Ya, kalau kambingnya mau sama kamu, sih … nggak masalah.” Yandri kembali meledek Daniar.
Sejenak, Daniar terkejut mendengar ledekan pria yang terkesan dingin itu.
“Ish, dodol. Udah ah, aku mau pulang,” ucap Daniar.
“Ya, udah. Yuk, bareng!” ajak Yandri.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Tiba di luar kampus, Yandri dan Daniar berjalan menuju tempat pemberhentian angkot. Ya, angkot yang akan membawa mereka pulang, memang berbeda. Namun, Yandri tetap setia menemani Daniar hingga Daniar mendapatkan angkotnya.
"Angkot kamu sudah datang, tuh!” tunjuk Yandri yang melihat angkot berhenti di depan pintu gerbang.
Namun, Daniar tidak menggubris perkataan Yandri. Entah apa yang kembali menghantui pikirannya, hingga berulang kali Yandri memanggilnya, Daniar masih anteng dalam kebisuannya.
“Yar!” panggil Yandri.
Daniar masih tetap diam. Yandri menyentuh bahu Daniar. Sontak Daniar terkejut mendapatkan sentuhan di bahunya.
“Kenapa, Yan?” tanya Daniar yang berulang kali gugup karena ketahuan melamun.
“Sudah, buang jauh-jauh dilema kamu! Insya Allah, nanti juga ada jalan keluarnya” ucap Yandri yang memang mengetahui alasan Daniar melamun.
“Hehehe, iya Yan,” jawab Daniar terkekeh.
“Ya sudah, itu angkot kamu sepertinya udah nungguin dari tadi,” ucap Yandri seraya menunjuk pada sebuah angkot yang sedang berhenti mencari penumpang di pintu gerbang.
__ADS_1
“Hmm, sepertinya juga begitu. Ya sudah, Yan … aku pamit dulu!”
Daniar pergi menaiki angkot yang melewati rumahnya. Sedangkan Yandri hanya tersenyum tipis melihat gadis imut bertubuh semampai yang telah mengisi hatinya, pergi dari hadapannya.