
Setibanya Bu Maryam di rumah, Yandri pun mulai berkemas. Yandri sadar jika dia sudah melalaikan kewajibannya. Namun, dia berada di posisi yang cukup rumit. Saat itu, Yandri tidak mungkin mengabaikan kondisi orang yang telah melahirkannya.
"Bagaimana Ustadz, apa perlu diganti untuk jadwal mengawas Ustadz besok?" tanya salah seorang dosen rekanan Yandri di seberang telepon.
"Tidak perlu Ustadz. Siang ini saya berangkat. Insya Allah, nanti malam saya sudah tiba di asrama," jawab Yandri.
"Baiklah kalau begitu Ustadz. Hati-hati di perjalanan. Assalamu'alaikum!"
"Siap, Ustadz! Terima kasih, wa'alaikumsalam," pungkas Yandri menutup sambungan teleponnya.
Selesai menerima telepon, Yandri memasuki kamar ibunya untuk berpamitan. Di sana, sudah ada Habibah yang sedang membereskan pakaian Bu Maryam, dan juga Siska yang membereskan obat-obatan Bu Maryam di atas nakas.
Yandri menghampiri ibunya yang tengah berbaring. Dia pun duduk di tepi ranjang dan kembali menggenggam tangan Bu Maryam.
"Yandri pergi dulu, Bu. Tolong jangan terlalu banyak pikiran, itu akan mempengaruhi kesehatan Ibu. Besok, Suster Yuna akan datang. Yandri minta, selama Yandri tidak ada di rumah, Ibu harus menuruti semua perkataan Suster Yuna. Ibu mengerti, 'kan?" tutur Yandri, lembut.
Meskipun kesusahan, Bu Maryam menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
Yandri tersenyum. Sedetik kemudian, dia mencium punggung tangan ibunya.
"Yandri pamit dulu. Assalamu'alaikum!"
Rasanya dunia Siska kembali hancur melihat mobil yang dikendarai Yandri keluar dari halaman rumah Bu Maryam. Namun, ketika dia melihat cincin yang dikenakan di jari manisnya, Siska mulai berpikir positif jika ini hanya perpisahan sementara.
.
.
Di sebuah kamar bernuansa warna abu, Bintang terus membolak-balikkan badan karena tak mampu memejamkan mata. Bayangan ayahnya kembali melintas dalam benaknya.
Kenapa, Tuhan ... kenapa Engkau pertemukan aku dengannya setelah aku belajar hidup tanpanya? Dan kenapa aku harus menyaksikan pertunangan mereka? batin Bintang, perih.
"Aku membencimu, ayah. Aku sangat membencimu!" gumam Bintang.
Daniar tampak tertegun di balik pintu kamar putrinya. Awalnya, Daniar berniat masuk untuk menanyakan sisa pembayaran cupcake yang dipesan Bu Megi untuk acara pertunangan keponakannya. Namun, ketika melihat Bintang membolak-balikkan badannya dengan wajah gelisah, Daniar hanya bisa mengintipnya dari celah daun pintu yang terbuka.
Daniar merasa heran dengan tingkah laku Bintang. Akan tetapi, gumaman yang dia dengar barusan, telah membuat Daniar menyadari sebuah kebenaran.
__ADS_1
Dan kebenaran itu adalah ... nama Yandri yang dia tulis dalam kue tart coklat pesanan Bu Megi, ialah Yandri yang sama dengan nama mantan suaminya. Dan yang lebih membuat dada Daniar semakin sesak. Bintang mengetahui jika ayahnya bertunangan dengan wanita lain
Ya Tuhan ... pantas saja tadi siang putriku bersikap aneh. Rupanya, dia telah mengetahui sebuah kebenaran. Malang sekali anak itu. Sekarang, hatinya pasti sedang hancur, batin Daniar sembari menutup pintu kamar Bintang secara perlahan.
.
.
Keesokan harinya.
Seorang wanita cantik berpakaian serba putih, tiba di depan pintu rumah Bu Maryam. Perawat itu mengetuk pintu rumah. Hingga beberapa menit kemudian, pintu terbuka.
"Suster Yuna?" tebak Habibah.
"Benar, Mbak," jawab perawat yang ternyata seorang suster rumah sakit swasta yang disewa Yandri.
"Ah, syukurlah Suster sudah datang. Jujur saja, saya sudah sangat kewalahan menghadapi ibu saya. Serba salah!" Sungguh Habibah berkeluh kesah.
Suster Yuna hanya tersenyum mendengar keluhan wanita itu. Astaghfirullah ... padahal yang sakit ibunya, tapi entah kenapa sehari pun dia tak mampu bersabar dalam merawat sang ibu, batin Suster Yuna, menatap iba kepada Habibah.
"Ya sudah, ayo masuk, Sus!" ajak Habibah, mempersilakan perawat memasuki rumah.
"Mohon maaf, kamarnya kecil," lanjut Habibah.
"Tidak apa-apa, Mbak," sahur Suster Yuna. "Ngomong-ngomong, pak Yandri-nya ke mana, Mbak?" imbuh Suster Yuna.
"Yandri sudah kembali ke Indramayu," jawab Habibah. "Oh iya, Sus. Kalau mau istirahat sejenak, silakan! Kebetulan sekarang ibu juga sedang tidur. Tadi dia baru minum obat," lanjut Habibah.
"Iya, Mbak. Saya paling masuk untuk membereskan pakaian dulu. Setelah itu, saya akan menemani ibu di kamarnya," jawab suster Yuna.
"Ya sudah, terserah suster saja," pungkas Habibah seraya berpamitan dari hadapan perawat cantik itu.
Sepeninggalnya Habibah, suster Yuna memasuki kamar yang akan ditempatinya selama merawat Bu Maryam. Tiba di kamar, Suster Yuna membuka koper. Dia kemudian memindahkan pakaian dalam kopernya ke lemari. Setelah semuanya di rasa beres, Suster Yuna pun mengayunkan langkahnya untuk keluar kamar.
Mendekati pintu kamar, tanpa sengaja suster Yuna menangkap sebuah bingkai foto yang terpajang di dinding kamar. Senyum tipis terukir di kedua sudut bibirnya melihat ketampanan pria yang ada dalam foto tersebut.
"Hmm, pak Yandri memang tidak ada duanya. Selain tampan, dia juga sangat baik hati dan berbakti kepada ibunya. Beruntung sekali jika aku bisa mendapatkan pria seperti pak Yandri," kata Yuna.
__ADS_1
Seseorang yang tanpa sengaja mendengar monolog Yuna, sontak mengepalkan kedua tangannya.
"Ish, dasar suster kegatelan. Awas aja kalau sampai dia berani menggoda Yandri!"
Siska mendengus kesal. Dia tidak terima seseorang mengagumi kesempurnaan Yandri sebagai seorang lelaki. Dengan perasaan dongkol, Siska pun mengayunkan langkahnya menuju rumah Habibah. Dia sudah lupa kalau tujuannya kemari adalah untuk menjaga Bu Maryam.
Puas menatap wajah tampan Yandri di dalam foto, Suster Yuna akhirnya keluar juga dari kamar. Dia melihat hanya ada satu kamar lagi di rumah itu. Bisa dipastikan jika itu adalah kamar pasien yang hendak dia rawat. Suster Yuna pun melangkahkan kakinya menuju kamar itu.
Tok-tok-tok!
"Assalamu'alaikum!"
Suster Yuna sadar, jika ada orang di dalam kamar, tentunya orang tersebut akan menjawab salamnya. Namun, setelah ditunggu beberapa menit, tak ada sahutan dari dalam kamar. Akhirnya, Suster Yuna menekan gagang pintu dan mendorong pintu secara perlahan. Dia tidak ingin kedatangannya mengganggu kenyamanan pasien.
Di dalam kamar, Bu Maryam tampak sedang terlelap. Apa yang dikatakan Habibah memang benar. Tidurnya nyenyak sekali. Mungkin karena pengaruh obat juga. Sesaat kemudian, Suster Yuna memasuki kamar Bu Maryam. Dia menarik kursi yang terletak di depan jendela dan mendudukinya.
Suster yuna pun membuka rekam medis yang sedari tadi dia apit di ketiaknya. Dia mulai mempelajari riwayat medis Bu Maryam.
.
.
Di ruang jahit Habibah. Siska masuk dengan wajah yang sungguh tidak sedap dipandang mata. Dahinya berkerut, bibirnya mengerucut. Hidungnya kembang kempis karena berusaha menekan gemuruh amarah di dalamnya.
"Apa Kakak sudah bertemu dengan perawat yang disewa Yandri?" tanya Siska begitu tiba di ruang jahit Habibah.
Habibah mendongak. Dia mengernyitkan keningnya melihat Siska yang sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah murka.
"Ya, aku sudah bertemu dengannya," sahut Habibah. "Memangnya ada apa, Sis?" tanya Siska heran.
"Bagaimana parasnya? Apa dia cantik?" cecar Siska, yang rupanya mulai penasaran tentang perawat yang disewa Yandri.
"Lumayan cantik, sih. Masih muda juga," timpal Habibah.
Siska langsung memajukan bibirnya mendengar pujian Habibah untuk gadis itu.
"Ih, Kakak menyebalkan!"
__ADS_1
Siska mendengus kesal. Dia pun menghempaskan bokongnya di atas sofa usang. Dia tidak menyangka jika dia akan merasa cemburu hanya karena gumaman kekaguman wanita lain terhadap tunangannya.
Ini tidak bisa dibiarkan!