Setelah Hujan

Setelah Hujan
Perjuangan Yandri


__ADS_3

Karena tak mendapatkan izin untuk meminjam motor dari kakak iparnya, akhirnya Yandri berpamitan untuk pulang. Hatinya terasa sakit mendapatkan perlakuan sang kakak ipar. Padahal, dulu saat dia masih hidup sendiri, dia tidak pernah perhitungan memberikan uang hasil kerjanya sebagai pinjaman kepada sang kakak. Meski terkadang, uang yang dipinjam tak pernah kembali utuh. Namun, Yandri bukan tipe orang yang suka memendam kecewa. Diam pun tak akan mengubah nasibnya.


Yandri merogoh saku celananya. Uang yang dia miliki hanya tinggal 20 ribu. Jika dia gunakan untuk ongkos ke rumah Bu Aisyah, belum tentu juga Bu Aisyah bisa meminjamkan, mengingat yandri masih memiliki sisa utang bekas ibunya.


"Ah sudahlah ... yang penting ikhtiar dulu. Urusan hasil, biarlah Tuhan yang menentukan," gumam Yandri. Akhirnya dia memutuskan pergi ke rumah atasannya dengan berjalan kaki.


.


.


"Sekarang, Kakak makan dulu, ya. Setelah makan, baru obat sama vitaminnya diminum," ucap Danita saat mereka tiba di rumahnya.


Daniar mengangguk, "Makasih ya, Dek," ucapnya.


"Sama-sama, Kak," balas Danita.


"Maafin Kakak ya, Dek. Gara-gara Kakak, kamu jadi repot ngurusin Kakak," kata Daniar.


"Sudah Kak, tidak usah terlalu dipikirin. Lagian, kita ini saudara, sudah seharusnya saling tolong menolong," sahut Danita.


Daniar kembali tersenyum mendengar ucapan adiknya. Dia sangat bersyukur memiliki kedua adik perempuan yang bisa saling berbagi di saat senang maupun susah.


Tak lama berselang, Danisa memasuki kamar Daniar dengan membawa sekotak brownies coklat.


"Dari mana kamu, Dek?" tanya Danita.


"Rumah wak Sumi," jawab Danisa.


"Ish, ngapain kamu ke sana? Kamu enggak takut apa kalo si Ilham kerasukan lagi?" dengus Danita, kesal.


"Aman, Kak," jawab Danisa, "oh iya Kak Niar, ini ada bingkisan dari kak Ilham. Katanya kak Ilham minta maaf atas kejadian kemaren malam," lanjut Danisa seraya menyimpan kotak brownies itu di atas meja rias.


"Halah, menyesal apaan," tukas Danita, "palingan entar juga kambuh lagi," lanjut Danita, geram.


"Huss! Nggak boleh gitu, Dek. Gitu-gitu juga, kak Ilham tuh sodara kita," sahut Daniar.


"Ya tapi, 'kan, enggak seperti ini juga, Kak. Kalau dia emang ngaku sodara, ngapain ujug-ujug mukulin bang Yandri kek gitu? Emang bang Yandri punya salah apa?" balas Danita.


"Salahnya bang Yandri tuh, dzikir di depan kak Ilham. Udah tahu di badan kak Ilham banyak setannya. Otomatis kepanasan tuh, setan-setan yang ngerubutin jiwa kak Ilham." Danisa ikut menimpali omongan kakak keduanya.


"Sudah-sudah, ah. Enggak baik ngomongin orang, palagi orang itu masih kerabat kita," pungkas Daniar.


.

__ADS_1


.


Sementara itu, di kota Tasikmalaya. Yandri masih setia berjalan kaki menyusuri trotoar untuk pergi ke sebuah perumahan di mana bu Aisyah tinggal. Luka yang ditorehkan kakak iparnya tidak lagi dia hiraukan. Demi sang buah hati, apa pun akan dia lakukan.


"Hmm, hanya tinggal memasuki gerbang perum. Semangat, Yan!" gumamnya menyemangati diri sendiri.


Setelah melewati beberapa rumah, akhirnya Yandri tiba di rumah bu Aisyah. Sayangnya, rumah itu kelihatan sepi. Berulang kali Yandri mengucapkan salam dan menekan bel pintu. Namun, tetap tak ada sahutan dari dalam rumah.


Yandri duduk seraya menyelonjorkan kedua kakinya. Berjalan kaki sejauh puluhan kilometer, membuat kakinya terasa mau copot saja. Untuk mengurangi rasa pegal, Yandri memijat kakinya berulang kali.


Sudah cukup lama Yandri menunggu di teras rumah bu Aisyah. Namun, rumah masih terlihat sepi. Hingga saat menjelang magrib, seseorang yang hendak pergi ke masjid, menegur Yandri.


"Tamunya bu Aisyah, ya?" tegur seorang pria paruh baya.


Yandri berdiri. Sejurus kemudian, dia mendekati pria tersebut seraya berkata, "Iya, Pak."


"Waduh bu Aisyah lagi nggak ada di rumah tuh, Mas," ucap pria itu lagi.


Yandri menautkan kedua alisnya. "Memangnya, bu Aisyah pergi ke mana ya, Pak? Barangkali Bapak mengetahuinya." Yandri kembali bertanya.


"Tadi siang, bu Aisyah bersama keluarga pergi ke Bekasi. Katanya, ibu mertua beliau sakit dan dirawat di rumah sakit," balas pria itu.


Seketika tubuh Yandri terasa lemas mendengar jawaban pria paruh baya tersebut. Harapan satu-satunya pun melayang. Kini Yandri tidak tahu lagi harus mencari pinjaman ke mana. Helaan napasnya terasa berat. Sejurus kemudian, Yandri pergi meninggalkan rumah bu Aisyah.


.


.


Di rumah, Daniar merasa cemas ketika malam mulai beranjak. Namun, suaminya belum juga datang.


"Beneran nih, nggak pa-pa kalau Nita pulang?" tanya Danita kepada kakaknya.


"Beneran, nggak pa-pa Dek. Lagi pula, sudah ada Danisa di sini. Kamu pulang saja, bukankah besok Roni harus ke luar kota?" kata Daniar.


"Iya, tapi Nita khawatir sama Kakak," sahut Danita.


"Ish Dek, nggak usah khawatir. Kamu sendiri denger, 'kan apa kata dokter? Kakak baik-baik saja kok. Cuma perlu istirahat saja. Lagian, bentar lagi kang Yandri pasti datang," ujar Daniar.


"Ya sudah kalau begitu, Danita pulang dulu. Tapi ingat ya Kak, kalau ada apa-apa, minta Danisa segera hubungin Nita," pesan Danita.


"Iya, Dek. Ya sudah, buruan pulang. Kamu, 'kan harus mempersiapkan keperluan Roni untuk besok," balas Daniar.


Danita mengangguk, setelah memeluk kakaknya, Danita akhirnya berpamitan pulang.

__ADS_1


.


.


Malam semakin larut. Yandri masih terus berjalan kaki menuju rumah Daniar. Meskipun peluh bercucuran di sekujur tubuhnya, tapi Yandri tidak menghiraukannya.


Hari ini, dia tidak berhasil mendapatkan pinjaman. Jujur saja, Yandri merasa malu untuk pulang. Namun, tidak pulang pun tidak akan menyelesaikan masalahnya. Yandri hanya memiliki do'a untuk istri dan anak yang berada dalam kandungan sang istri. Semoga Tuhan selalu memberikan perlindungan-Nya.


Entah sudah berapa puluh kilometer Yandri berjalan. Lelah yang mendera tubuhnya pun, tidak dia pedulikan. Hingga di pertigaan jalan, dia menemui seorang pria tua yang sepertinya sedang kebingungan. Yandri kemudian mendekati pria tua itu.


"Permisi, Pak. Saya lihat sepertinya Anda sedang kebingungan, apa Anda kehilangan sesuatu?" tanya Yandri.


"Eh, iya, Nak. Dompet saya hilang. Saya tidak punya ongkos untuk pulang," jawab pria tua itu.


"Memangnya Bapak mau pulang ke mana?" tanya Yandri lagi.


"Perumahan Maganti Regency," jawab pria tua itu lagi.


Yandri merogoh saku celananya. Uang 20 ribu yang hanya tinggal selembar, dia serahkan kepada pria tua itu.


"Maaf, Pak. Saya hanya punya ini. Semoga cukup untuk ongkos Bapak pulang," ucap Yandri.


"Alhamdulillah, cukup Nak. Ini sudah cukup untuk ongkos saya pulang ke rumah. Terima kasih, Nak. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan kamu. Ngomong-ngomong, kamu mau pergi atau pulang ke mana?" tanya pria tua itu lagi.


"Kebetulan saya mau pulang ke rumah istri saya, Pak," jawab Yandri.


"Rumahnya di mana?" Pria itu kembali bertanya.


"Di kampung Cilampung, Pak," jawab Yandri.


"Oh, begitu ya. Siapa nama kamu?" tanya pria tua.


"Nama saya Yandri, Pak."


"Baiklah Nak Yandri, saya pamit dulu. Terima kasih atas bantuannya. Semoga dilancarkan segala urusan Nak Yandri."


"Aamiin."


Setelah mendapatkan bantuan, pria tua itu pun menghentikan sebuah bis yang melintas. Sejurus kemudian, dia menaiki bis tersebut.


Yandri hanya tersenyum tipis melihat kepergian bis yang membawa pria tua itu. Hmm, takdir memang tak pernah bisa diduga. Dia menyisihkan uang itu untuk anak istrinya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Pria tua itu lebih membutuhkannya ketimbang dirinya.


Dengan perasaan lega karena sudah berhasil menolong pria tua itu, Yandri kembali mengayunkan langkahnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja hatinya merasa tenang meskipun jalan yang harus dia tempuh masih cukup jauh.

__ADS_1


__ADS_2