
Waktu cuti telah berakhir. Yandri kembali ke tempat kerjanya untuk melaksanakan tugas. Rencananya, dia akan kembali ke asrama dengan menggunakan kendaraan roda dua miliknya. Meskipun merasa cemas. Namun, Daniar tidak bisa mencegah keinginan Yandri untuk membawa kendaraan sendiri. Suaminya bilang, supaya lebih irit lagi.
Kini, baik Yandri maupun Daniar, mereka mulai terbiasa dengan hubungan jarak jauh yang harus mereka jalani. Bahkan, layaknya anak ABG yang sedang jatuh cinta, tak jarang mereka saling mengirim foto untuk memberikan kabar. Ya, hanya sekadar melepaskan rindu saja.
Hari demi hari terus berlalu. Tanpa terasa, waktu relaksasi pun kembali dimulai. Yandri sengaja mengambil jadwal hari Jum'at terakhir agar bisa meluangkan waktu di hari Minggu bersama anak dan istrinya.
"Berangkat jam berapa dari sana, Yah?" tanya Daniar saat Yandri mengirimkan pesan kepulangannya.
"Setelah selesai mengajar Bun. Mungkin jam tiga sore," balas Yandri via chat.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Yah. Kalau ngantuk, menepi dulu ... jangan dipaksakan," pesan Daniar lewat balasan chat-nya.
"Baik, Bu Bos," pungkas Yandri dalam pesannya.
Daniar menutup layar ponsel. Dia kembali fokus mengerjakan tugas yang diberikan kepala sekolah. Sejak pindah bekerja ke Sekolah Dasar, jadwal mengajar Daniar menjadi padat. Memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Inggris, selain menjadi guru kelas, Daniar pun dipercaya untuk memegang mapel Bahasa Inggris di sekolah barunya.
.
.
Pukul 11 malam, Yandri tiba di rumah. Daniar yang memang sengaja menunggu kedatangan suaminya, segera membuka pintu garasi rumah.
Yandri memarkirkan motornya. Sedetik kemudian dia membuka helm dan sarung tangan.
"Apa kabar, Bun?" sapa Yandri seraya mengecup kening Daniar.
"Alhamdulillah, baik Yah," jawab Daniar sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Syukurlah. Bintang sudah tidur?" tanya Yandri lagi.
"Sudah, Yah. Tadi sih, dia nungguin Ayah, karena mau nunggu martabak pesanannya juga. Namun, karena Ayah pulangnya malam, Bunda kelonin saja supaya dia tidur," lapor Daniar.
Yandri tersenyum. "Iya, Bun. Ayah banyak rehat tadi di jalan. Ngantuk, jadi ya lebih baik istirahat dulu daripada dipaksakan jalan," jawab Yandri.
"Wajib itu," tukas Daniar. "Ya udah, masuk yuk!" ajaknya lagi.
Yandri menggantung helm dan sarung tangannya. Lepas itu, dia kemudian mengikuti Daniar memasuki rumah.
Di rumah. Yandri melepaskan sepatunya dan segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah cukup bersih, dia kemudian keluar dari kamar mandi dan pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Selesai berganti pakaian, Yandri menghampiri ibu mertuanya yang sedang menonton acara sinetron di ruang keluarga.
"Apa kabar, Bu!" sapa Yandri.
Bu Salma yang sedang menonton acara sinetron, seketika menoleh dan tersenyum saat melihat menantunya datang menghampiri.
"Alhamdulillah, kabar Ibu sehat, Nak. Kamu sendiri?" tanya Bu Salma.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Yandri juga sehat, Bu. Kok Ibu belum tidur?" tanya Yandri yang melirik jam dinding. Sudah jam 23.11 tapi ibu mertuanya masih setia di depan layar kaca.
"Tadi sebenarnya Ibu sudah tidur, Nak. Terus kebangun karena belum salat Isya. Ya sudah, enggak bisa tidur lagi deh," jawab Bu Salma.
Yandri tersenyum mendengar jawaban Bu Salma. Tiba-tiba Daniar menghampiri mereka seraya membawa segelas air putih hangat untuk suaminya.
"Sudah makan, Yah?" tanya Daniar seraya menyodorkan gelas tersebut kepada sang suami.
"Alhamdulillah, sudah Bun. Tadi Ayah mampir dulu di warung nasi," jawab Yandri.
"Ya sudah, kamu istirahat saja, Yan. Pasti capek setelah melakukan perjalanan," perintah Bu Salma.
"Iya, Bu. Kalau begitu, Yandri permisi ke kamar dulu, Bu," pamit Yandri kepada ibu mertuanya.
Bu Salma mengangguk. Setelah Yandri pergi Daniar mendekati ibunya.
"Sudah malam, Bu. Sebaiknya Ibu tidur juga," kata Daniar.
"Iya, sebentar lagi Kak. Kalau kamu mau istirahat, sudah sana istirahat saja. Tuh, kelonin suami kamu. Hehehe,..." Bu Salma menggoda putrinya.
"Ih apaan sih Ibu," rengek Daniar dengan wajah yang mulai memerah karena malu.
Bu Salma hanya tergelak melihat raut wajah putrinya yang sudah seperti buah tomat yang sudah matang.
"Hahaha,... sudah sana gih!" usir Bu Salma seraya mengibaskan tangannya.
Tiba di depan kamar, Daniar melihat jika lampu kamar sudah padam. Itu artinya, Yandri telah tertidur. Hmm, mungkin kang Yandri kecapean, pikir Daniar. Ia pun membuka pintu kamar dan memasukinya.
Di kamar, Daniar melihat Yandri sudah terlelap. Meski sedikit kecewa, tapi Daniar mencoba memahami keletihan Yandri. Dia kemudian melakukan ritual sebelum tidur, hingga akhirnya merebahkan diri di samping sang suami. Namun, siapa sangka Yandri langsung menerkamnya begitu Daniar tidur telentang.
Tanpa memberikan kesempatan, pria jangkung itu melayangkan kecupan dan sentuhan yang membuat sekujur tubuh Daniar merinding.
"A-ayah ... ish," desis Daniar yang sudah tidak mampu menahan hasratnya.
"Aku sangat merindukanmu, kekasihku," bisik Yandri di telinga istrinya.
.
.
Seperti yang sudah diniatkan sebulan yang lalu. Hari ini Yandri mengajak anak dan istrinya untuk pergi mengunjungi ibunda tercinta. Yandri sengaja mengambil hari Sabtu, karena di hari Minggu dia berencana untuk mengajak Bintang berenang. Daniar pun terpaksa izin tidak masuk sekolah demi menemani Yandri melepaskan kerinduan kepada ibunya.
"Kita beli bingkisan dulu buat ibu, Yah," kata Daniar di tengah perjalanan.
"Iya, Bun. Beli Buah-buahan saja, ibu paling suka makan buah," balas Yandri.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti kita mampir ke toko buah," lanjut Daniar.
Kerinduan yang membuncah di dadanya, membuat Yandri terus tersenyum selama mengendarai motor. Segala sesuatunya sudah dia persiapkan. Yandri sudah menyisihkan setengah dari gajinya untuk ibu tercinta. Meskipun untuk itu, Yandri harus memangkas uang dapur tanpa sepengetahuan istrinya. Namun, Yandri berjanji akan melebihi di bulan berikutnya.
Maafkan Ayah, Bun, batin Yandri, menatap istrinya dari kaca spion.
Daniar yang memang tidak tahu apa-apa, hanya tersenyum saat mata mereka beradu pandang lewat kaca spion.
"Itu ada toko buah, Yah!" Tunjuk Daniar.
Yandri memperlambat laju motornya. Dia kemudian berhenti di depan kios buah. Daniar dan Bintang turun dari motor. Mereka mendekati kios buah itu untuk meminta dibuatkan parcel buah yang akan dibawanya sebagai buah tangan untuk mertua.
Hmm, ibu pasti senang bertemu putranya. Sudah 4 bulan lamanya mereka tidak pernah bertemu. Aku tidak bisa membayangkan rasa haru di antara ibu dan anak itu, batin Daniar menatap suaminya yang sedang menunggu di motor.
"Ini parcel buahnya mau diberi kartu ucapan, Bu?" tanya pedagang buah.
Daniar terhenyak, dia kemudian menatap parcel yang baru setengah jadi. "Iya, Mas. Tolong tulis saja, teruntuk wanita hebat yang selalu aku rindukan," kata Daniar.
Si penjual parcel pun mengikuti perintah Daniar. Lalu, dengan cekatan dia kembali menyelesaikan pekerjaannya. Hingga sepuluh menit kemudian, parcel buah yang sangat cantik pun siap untuk dibawa tuannya.
"Jadi berapa, Mas?" tanya Daniar.
"300 ribu, Bu," jawab si penjual buah.
Daniar merogoh dompetnya dari dalam tas. Dia kemudian membayar parcel tersebut sesuai dengan harga yang disebutkan. Sedetik kemudian, Daniar membawa parcel itu dan kembali mendekati motor suaminya.
"Bunda ngapain bikin parcel buah buat nenek?" tanya Bintang saat dalam perjalanan pulang mendekati motor yang sedang terparkir.
"Biar nenek kamu merasa senang lah, Bin," jawab Daniar.
"Hmm, Bibin enggak yakin, Bun," jawab Bintang, datar.
Daniar menghentikan langkahnya. Dia merasa heran mendengar ucapan putrinya.
"Kok Bibin ngomongnya gitu? Engga baik, ah," tegur daniar.
"Bunda lihat saja nanti gimana reaksi nenek. Sama, Bun. Semuanya tidak akan pernah berharga di mata nenek," lanjut Bintang seraya berlalu meninggalkan ibunya.
Ish, kamu kenapa Dek? Apa ada sesuatu yang membuat kamu terluka sehingga berbicara seperti itu tentang nenekmu? batin Daniar seraya menatap punggung anaknya yang semakin menjauh.
"Bun, ayo!" teriak Yandri sembari melambaikan tangannya.
Ah, sudahlah! Mungkin Bintang hanya sekadar bicara saja. Omongan anak kecil, 'kan suka berubah-ubah.
Kembali Daniar bermonolog. Dia mencoba menepis firasat buruknya.
__ADS_1
Daniar sadar, dia tidak boleh berprasangka buruk hingga akan merusak momen kerinduan antara ibu dan anak.