Setelah Hujan

Setelah Hujan
Bintang Sakit


__ADS_3

Nikmat apa lagi yang bisa Daniar dustakan. Di saat dia tidak tahu harus bagaimana membantu perekonomian keluarganya akibat resign dari sekolah, ternyata sekolah lama justru merangkul dirinya kembali. Segala puji syukur pun dia panjatkan dalam setiap salatnya.


Begitu juga dengan Yandri. Meskipun secara logika, gajinya tidak memadai untuk melanjutkan pendidikan. Namun, tekadnya untuk menuntaskan Sarjana begitu kuat. Kepiawaian Yandri dalam membuat dan menyusun RPP dan Kurikulum, menjadi sebuah pekerjaan sampingan yang pada akhirnya bisa dia gunakan untuk menutupi biaya kampus. Meski terkadang, Yandri merasa bersalah karena belum bisa mencukupi kebutuhan anak dan istri. Namun, Yandri sadar jika semua pasti akan ada masanya.


Tahun demi tahun terus berlalu. Usaha Roni mengalami kemerosotan, hingga akhirnya Danita meminta izin untuk pulang.


"Nita minta maaf, Bu. Nita selalu menjadi beban Ibu," ucap Danita pada saat dia membawa suami dan anaknya untuk tinggal di rumah Bu Salma.


"Ish tidak apa-apa, Nit. Lagi pula, kamar Ibu selalu kosong. Sudah hampir setahun Ibu menemani wak Hajjah Minah. Kamu bisa gunakan kamar itu untuk istirahat kalian," sahut Bu Salma.


"Iya, Bu. Mas Roni akan mencoba usaha barunya di sini. Mungkin untuk sementara waktu, Nita, Mas Roni sama Fayyadh mau numpang dulu di rumah Ibu. Enggak pa-pa, 'kan Kak Niar?" tanya Danita kepada kakaknya.


"Tentu saja enggak pa-pa, Dek. Lagian ini, 'kan rumah Ibu. Kakak enggak keberatan kok, justru Kakak senang, rumah ini jadi ramai. Dan tentunya Bintang akan punya teman bermain," jawab Daniar, tulus.


"Hehehe, iya Kak. Ngomong-ngomong, Apa Bintang sudah bersekolah?" tanya Danita yang merasa heran saat Bintang mengenakan seragam taman kanak-kanak.


"Hmm, belum terlalu formal, sih. Usianya, 'kan masih kecil. Ya, baru ikut-ikut sekolah saja sama Kakak. Kamu sendiri, 'kan tahu kalau Bintang itu enggak pernah bisa lepas dari Kakak," jawab Daniar.


"Iya juga sih. Besok, Nita mau coba bawa Fayyadh ke sekolah, deh. Siapa tahu aja, dia tertarik seperti Bintang. Enggak pa-pa, 'kan, Kak?" tanya Danita.


Daniar tersenyum, "Tentu saja enggak pa-pa, Dek. Banyak kok anak-anak TK yang usianya di bawah lima tahun. Ya hitung-hitung bermain sambil belajar," kata Daniar.


"Hmm bener juga. Ya udah deh, besok kita coba ajak Fayyadh ke sekolahnya Bintang, ya. Mau kan, Kang?" tanya Danita kepada putranya yang baru saja menginjak usia tiga tahun.


Meskipun tidak mengerti, anak kecil itu hanya menganggukkan kepala saja menanggapi ucapan dari ibunya.


.


.


Yandri kebingungan. Sepulang sekolah, dia hanya duduk di meja kerjanya. Harusnya, hari ini jadwal dia untuk pulang. Namun, saat dia melihat tangki bensin motornya, ternyata kosong. Yandri sendiri belum memiliki uang untuk membeli bensin. Dia masih menunggu janji adik iparnya yang hendak membayar uang deposit pulsa. Ya, berjualan pulsa pun menjadi pekerjaan sampingan Yandri sejak tiga bulan terakhir.

__ADS_1


Dering ponsel di saku bajunya menyadarkan Yandri dari lamunan. Dia segera mengambil benda itu dari saku kemejanya. Senyum Yandri terbit saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. Yandri segera menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan dari istrinya.


"Assalamu'alaikum, Bun!" sapa Yandri.


"Wa'alaikumsalam. Yah, apa Ayah bisa pulang hari ini?" tanya Daniar di ujung telepon. Suaranya terdengar bergetar, seperti orang yang sedang mencemaskan sesuatu saja.


"Ada apa, Bun?" tanya Yandri.


"Bintang sakit, Yah. Sejak semalam demamnya tinggi. Bunda takut sesuatu terjadi sama Bintang," jawab Daniar mulai terisak.


"Dibawa ke dokter dong, Bun," kata Yandri.


"Itulah masalahnya, Yah. Bunda enggak pegang uang buat periksa Bintang ke dokter. Bunda enggak mau pinjem lagi ke sekolah. Utang Bunda udah banyak. Bunda takut enggak bisa bayar entar," jawab Daniar.


Yandri hanya menghela napasnya. "Sabar dulu ya, Bun. Akan Ayah usahakan secepatnya untuk mendapatkan uang supaya Bintang bisa dibawa ke dokter. Sekarang, Bunda tutup dulu teleponnya. Ayah ingin menghubungi seseorang."


"Baiklah, tolong pulang secepatnya ya, Yah. Bunda khawatir sama Bintang," pungkas Daniar seraya menutup sambungan teleponnya.


Yandri menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia menengadahkan wajah seraya menatap kosong langit-langit ruang kerjanya. Ya Tuhan ... kenapa cobaan ekonomi selalu menghampiri hamba? Kemarin Ibu yang meminta biaya ke dokter, sekarang anakku yang sakit. Besok-besok, entah problem apalagi yang akan menghampiri kehidupan hamba, batin Yandri. "Astaghfirullahaladzim," gumamnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Entah sesibuk apa anak itu, hingga dari semalam dia tidak mengangkat telepon dariku," dengus Yandri seraya melemparkan ponselnya di atas meja kerja.


Yandri kembali menatap kosong jendela ruang kerjanya. pikirannya melayang jauh memikirkan nasib sang anak yang tengah sakit. Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan? jeritnya dalam hati


Ting!


Sebuah pesan whatsapp mengejutkan Yandri dari lamunannya. Yandri meraih ponsel yang tadi dia lempar di atas meja. Dia kemudian mengusap layarnya untuk membaca pesan yang baru saja masuk.


Maaf, Bang. Mia bilang, uangnya kepake buat acara ulang tahun Zidan. Jadi Mia belum bisa setor uang pulsa sama Abang.


Dari Raihan.

__ADS_1


"Astaghfirullah ...!"


Kembali Yandri beristighfar. Uang setoran deposit pulsa yang menjadi harapan Yandri untuk membawa anaknya ke dokter, kini lenyap sudah. Sudah tiga kali adik iparnya terlambat menyetorkan uang tersebut. Hingga pada akhirnya, Yandri yang harus menutupi setoran deposit kepada konter pusat.


Kalau begini terus, lama-lama modal pun bisa habis, keluh Yandri dalam hatinya.


Karena tidak memiliki sepeser pun uang, akhirnya Yandri memutuskan untuk tidak pulang. Semoga saja besok akan ada rezeki yang menyapanya agar dia bisa membawa buah hatinya pergi ke dokter.


.


.


Hari semakin sore. Namun, deru kendaraan beroda dua milik suaminya belum juga terdengar. Daniar semakin merasa cemas. Terlebih lagi, suhu badan Bintang tidak mau turun juga. Berulang kali Daniar mengompres kening Bintang untuk menstabilkan suhu tubuhnya. Namun, sama sekali tidak ada perubahan.


Bundaa ... sakit ... Bundaa, Bibin sakit ..." racau Bintang dengan suara lirihnya.


Hati Daniar semakin perih mendengar suara lirih anaknya yang mengeluh sakit. Namun, Daniar tidak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan semua kepedihan yang dia rasakan.


"Sabar ya, Nak. Bintang anak yang kuat, Bunda yakin Bintang pasti bisa melewatinya. Bintang mau minum, Bunda ambilkan air degan, ya," kata Daniar.


Bintang mengangguk pelan. Usia bintang memang baru 3,5 tahun. Namun, anak itu sangat cerdas. Di usianya yang baru menginjak tiga tahun, Bintang sudah mampu membaca tanpa dieja. Jadi, tidak sulit bagi Bintang untuk mencerna semua ucapan ibunya.


Dengan tak berdaya, anak itu mengangguk lemah saat Daniar menawarinya minum air degan.


Daniar mengambil gelas yang berada di atas nakas. Dia kemudian membantu Bintang untuk duduk. Sedetik kemudian, Daniar mendekatkan sedotan putih di bibir Bintang. Bibir mungil yang terlihat pucat itu pun mulai menyedot air degan dari dalam gelas.


"Udah, Bun," ucap Bintang seraya kembali merebahkan tubuhnya. "Bun, selimut Bibin mana? Bibin kedinginan," lanjutnya.


Daniar semakin sesak mendengar suara Bintang yang semakin parau. Dia kemudian menarik selimut kesayangan anaknya dan menyelimuti Bintang hingga ke dada.


"Bibin bobo dulu, Bun. Nanti, kalau ayah pulang, bangunkan Bibin, ya," pinta Bintang. "Bibin kangen ayah, Bibin mau main sama ayah," ucapnya lirih.

__ADS_1


"Iya, Nak. Tidurlah!" jawab Daniar seraya mengelus pipi anaknya yang masih terasa panas.


Sesibuk apa sih kamu, Kang? Sudah seminggu kamu tidak pulang. Apa kamu tidak tahu jika Bintang sangat merindukan kamu, Kang? batin Daniar pilu.


__ADS_2