
Daniar mendengus kesal. Tanpa sadar, dia menutup pintu dengan kasar. Membuat anaknya terlonjak kaget. Rasa takut pun terpancar dari kedua bola mata Bintang.
"Ma-maaf, Bu-bunda. Bi-bin enggak sengaja numpahin ka-kayu putihnya," ungkap Bintang terbata.
Rupanya Bintang merasa bersalah karena telah teledor hingga kayu putihnya tumpah. Bintang pun merasa, jika Daniar membanting pintu karena marah melihat kelakuannya.
Sadar karena telah membuat anaknya salah paham, Daniar segera menghampiri Bintang dan memeluknya. Dia berusaha menenangkan Bintang yang wajahnya mulai merah, menahan isak tangisnya.
"Enggak, Sayang. Bunda enggak marah sama Bibin. Bunda cuma enggak sengaja menutup pintu dengan keras. Bintang jangan sedih, ya. Bunda enggak marah, kok," ucap Daniar memeluk erat putrinya. Daniar sendiri merasa bersalah karena telah membuat putrinya ketakutan.
"Jadi, Bunda enggak marah sama Bibin?" tanya Bintang, memastikan.
Daniar mengurai pelukan. Kedua tangannya mengusap air mata yang sudah menggenang di kedua sudut mata putrinya. Sedetik kemudian, Daniar menggelengkan kepala untuk menenangkan sang putri.
"Enggak, Sayang. Bunda sama sekali enggak marah sama Bibin. Sekarang, Bibin pakai bajunya, ya. Sebentar lagi, Tata pulang kerja. Bukankah Bibin sama Tata mau ke Shopmart buat beli coklat?" kata Daniar, mencoba menghibur putri semata wayangnya.
Bintang mengangguk. Dia kemudian memeluk Daniar sebelum akhirnya mengenakan piyama tidurnya. Setelah selesai berpakaian, Bintang pun keluar kamar dan menunggu jemputan Danisa di teras depan.
Daniar membereskan peralatan Bintang. Tak lama kemudian, seseorang menutup pintu dan menguncinya. Daniar tahu jika yang melakukan semua itu adalah suaminya. Bahkan Daniar juga tahu jika suaminya tengah berdiri di belakang Daniar. Namun, dia tidak menghiraukannya.
"Bun, kita bicara sebentar," pinta Yandri.
Diam.
"Ayolah, Bun. Dengarkan dulu penjelasan Ayah."
Yandri mulai memelas. Namun, Daniar masih tidak meresponnya. Dia tetap asyik memasukkan peralatan Bintang ke dalam tas kecil.
Sepertinya Yandri sudah kehilangan kesabaran. Dia kembali mencekal pergelangan tangan Daniar dan menariknya hingga Daniar berbalik menghadapnya.
"Cukup ya, Bun! Permasalahan kita tidak akan selesai jika Bunda mendiamkan Ayah seperti ini!" bentak Yandri sedikit kesal.
__ADS_1
Daniar kembali menghempaskan tangan suaminya.
"Lantas, Bunda harus apa? Harus bagaimana? Kenapa baru sekarang Ayah minta bicara? Kenapa Ayah tidak minta bicara sebelum mengambil keputusan? Apa suara Bunda tidak pernah berharga sehingga Ayah selalu mengambil keputusan sendiri? Begitu?" cecar Daniar dengan emosi yang meledak-ledak.
"Ish, Bun. Bukan begitu maksud Ayah. Hanya saja, Ayah menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan semua ini sama Bunda," sanggah Yandri.
"Menunggu waktu yang tepat setelah bertindak? Huh, percuma!" Daniar mendengus kesal.
"Maafkan Ayah, Bun ... Ayah cu–"
"Cukup Yah, tidak perlu memberikan penjelasan apa pun lagi. Percuma Ayah meminta maaf. Toh semuanya telah terjadi. Satu yang Bunda minta. Jangan pernah libatkan Bunda lagi dalam semua urusan Ayah. Bunda capek!" tegas Daniar seraya berlalu pergi dari hadapan suaminya.
Daniar sudah tidak ingin memperpanjang masalah lagi. Dia sudah cukup lelah mempermasalahkan hal yang sama. Satu yang bisa dia petik dari kejadian hari ini. Bahwa suaminya tidak akan pernah berubah. Mungkin bagi suaminya, pendapat dirinya tidak dibutuhkan. Karena itu Daniar pergi.
Yandri hanya bisa menarik napas panjang melihat sikap sang istri. Dia sadar jika Daniar telah begitu kecewa. Namun, Yandri sendiri tidak bisa mengabaikan kesulitan saudaranya. Dia hanya berharap jika Aminah tidak akan mengingkari janjinya. Karena jika sampai itu terjadi, Yandri akan merasa malu dan kehilangan kepercayaan dan ibu mertua.
.
.
Hari-hari Yandri lalui dengan kesibukan yang begitu padat. Karena di semester gasal ini, data-data murid baru harus diproses dengan teliti. Apalagi jumlah murid di sekolah asrama tersebut meningkat tiga kali lipat. Membuat Yandri dan kawan-kawan harus bekerja ekstra dalam dua minggu terakhir ini.
Hubungan Yandri dengan Daniar pun sudah mulai membaik. Seperti biasa, nasihat Bu Salma selalu menjadi penengah di antara permasalahan mereka. Mungkin karena Bu Salma telah banyak makan asam garam dalam menjalani hidup berumah tangga. Karena itu, petuahnya selalu bisa menyejukkan hati dua insan yang sedang membara akibat luapan emosional.
Bun, jadwal relaksasi Ayah masih lama. Enggak pa-pa, 'kan?" ungkap Yandri saat tengah menelepon istrinya.
"Iya enggak pa-pa Yah, yang penting Ayah sehat di sana," jawab Daniar.
"Alhamdulillah, Ayah sehat Bun," sahut Yandri.
"Syukurlah kalau begitu," balas Daniar.
__ADS_1
Sesaat setelah saling bercerita, pasangan itu pun mengakhiri pembicaraan mereka.
Hingga pada suatu hari, Daniar begitu terkejut saat menerima pesan jika suaminya hendak pulang untuk panen ikan. Dia segera menghubungi suaminya untuk memastikan.
"Serius mau dipanen besok?" tanya Daniar begitu telepon tersambung.
"Iya, Bun," jawab Yandri di ujung telepon.
"Ish, bukankah kita sudah sepakat dengan bandar jika akan di panen tanggal 18 nanti, Yah," ungkap Daniar.
"Rencana awal sih begitu, Bun. Tapi kang Rahmat minta ikan gurame-nya untuk besok. Karena itu Ayah mau pulang hari ini," balas Yandri.
"Jam berapa?" Kembali Daniar bertanya.
"Sepulang sekolah," jawab Yandri.
"Ih, pulang sekolah, 'kan jam 4 sore, Yah. Bisa malam loh, Ayah tiba di rumah. Lagi pula, Ayah belum menemukan bandar yang siap menadah hasil ikan untuk hari esok, 'kan?" ucap Daniar memastikan.
"Memang belum, Bun. Rencananya begitu pulang, Ayah mau langsung cari bandar," sahut Yandri.
Ish, kenapa harus maksain juga, Yah. "Kan capek," tukas Daniar.
"Iya Bun, terpaksa, karena gurame-nya sudah ditungguin juga sama kang Rahmat," lanjut Yandri
Ish, Rahmat lagi Aminah lagi. Ya Tuhan, kang ... Kenapa harus sebegitunya membela keluarga akang? Padahal mereka hanya ingat akang di saat butuh saja, batin Daniar, pedih.
"Ya sudah, terserah Ayah saja. Kabari lagi jika mau berangkat," pungkas Daniar seraya menutup teleponnya
Daniar kembali menghela napas. Demi saudara yang seharusnya sudah menjadi kerabat di saat telah menikah, Yandri sampai memutuskan pulang meskipun jadwal kerjanya padat. Padahal, jarak dari tempat kerjanya ke rumah memakan waktu selama lima jam. Dan Yandri hanya menggunakan motor sebagai kendaraan untuk menempuh perjalanannya.
Ya Tuhan ... lindungilah suami hamba. Dan tolong berilah Petunjuk-Mu agar suami hamba menyadari jika dirinya hanya diperalat oleh keluarganya saja. Bukalah pintu hati suami hamba untuk melihat semua kebenarannya. Tunjukanlah kepada suami hamba, siapa yang benar-benar tulus menyayangi dia dan siapa saja yang hanya berpura-pura sayang dan berniat memanfaatkan kebaikan dirinya, pinta Daniar dalam do'anya.
__ADS_1
Kebaikan hati Yandri memang sudah tidak diragukan lagi. Demi memenuhi keinginan iparnya, dia tidak menghiraukan rasa lelah yang mendera. Sepulang sekolah, Yandri lantas meminta izin untuk pulang, meskipun besok harus kembali lagi karena bukan jadwal cutinya.
"Bismillahirrahmanirrahim!" gumam Yandri seraya melajukan kuda besinya.