Setelah Hujan

Setelah Hujan
Menemui Yandri


__ADS_3

Seakan tersambar petir di siang bolong, Daniar begitu terkejut mendengar kabar kecelakaan suaminya.


"Ba-bagaimana keadaan dia, Pak?" tanya Daniar dengan bibir bergetar.


"Sekarang dia berada di RSUD Kadipaten, Bu, sahut pria itu.


"Kondisinya?" imbuh Daniar.


"Kondisinya tidak begitu baik, Bu. Dia kehilangan banyak darah. Namun, sampai detik ini alhamdulillah dia masih sadar. Kami sudah memberikan pertolongan pertama di puskesmas desa. Namun, karena alat yang tidak memadai, kami pun melarikannya ke rumah sakit daerah," papar pria itu.


Seakan tak bertulang, tubuh Daniar seketika ambruk di atas lantai. Kabar kecelakaan Yandri telah membuat raganya seolah kehilangan nyawa. Dia lemas, benar-benar tak berdaya.


"Halo, Bu! Apa Ibu masih mendengar suara saya?" tanya pria itu, kembali menyadarkan d


Daniar dari kejutan se-saatnya.


"I-iya, Pak. Sa-saya masih mendengar suara Bapak," sahut Daniar. "Ba-bapak tolong jaga dulu suami saya sebelum saya datang. Saya tutup teleponnya. Terima kasih atas bantuannya," imbuh Daniar.


"Iya, sama-sama Bu. Saya tunggu kedatangan Ibu," jawab pria itu.


"Baik, Pak. Saya akan segera berangkat sekarang juga. Assalamu'alaikum," pungkas Daniar.


XWa'alsikumsalam."


Sambungan telepon terputus. Dengan tangan bergetar, Daniar segera memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas. Tujuan Daniar hanya satu. Pergi ke rumah Danita untuk meminta Roni mengantarkan dia pergi ke rumah sakit daerah Kadipaten.


Daniar menuju kamar Bu Salma. Dia mengetuk pelan pintu kamar ibunya.


"Bu!" panggil Daniar, lirih.


Namun, Bu Salma masih asyik merangkai mimpi. Hingga Daniar kembali memanggilnya.


"I-ibu," panggil Daniar sambil mengetuk pintu.


Di dalam kamar. Merasa ada yang memanggilnya, Bu Salma mengerjapkan mata. Benar saja, suara serak sang putri terdengar di balik pintu.


"Ada apa, Niar?" tanya Bu Salma seraya membuka pintu. Bu Salma begitu terkejut melihat Daniar sudah berpakaian rapi. "Kamu mau ke mana, kok sudah rapi begini?" tanyanya.


"Niar mau ke Kadipaten, Bu. Kang Yandri kecelakaan, sekarang dia berada di rumah sakit Kadipaten," jawab Daniar.


Entah kenapa, tidak ada air mata yang mengiringi ucapan Daniar. Meskipun dadanya terasa sesak, tapi dia berusaha untuk tetap tegar.


"Astaghfirullahaladzim, Ni. Kapan?" tanya Bu Salma begitu terkejut mendengar kabar kecelakaan menantu sulungnya.


"Niar sendiri enggak tahu pasti kapan waktu kejadiannya, Bu. Hanya saja, saat Niar telepon kang Yandri, orang lain yang mengangkat teleponnya. Dia menyampaikan kondisi kang Yandri di rumah sakit Kadipaten," tutur Daniar.


"Bagaimana keadaan Yandri? Apa dia terluka parah?" Kembali Bu Salma bertanya.


"Ni-niar enggak tahu, Bu. Tapi kata orang itu, kang Yandri masih dalam keadaan sadar meskipun kehilangan banyak darah," jawab Daniar.


"Innalillahi ...."


"Niar titip Bintang dulu, Bu. Niar mau berangkat ke Kadipaten," ucap Daniar.


"Kamu berangkat sama siapa ke Kadipaten?" tanya Bu Salma.


"Rencananya mau mau minta diantar Roni, Bu," jawab Daniar.

__ADS_1


"Ya sudah, pergilah. Bintang biar Ibu yang urus. Hati-hati di jalan, Nak," pesan Bu Salma.


Setelah berpamitan kepada ibunya, Daniar keluar rumah. Meskipun tubuhnya terasa lemas, tapi dia berusaha untuk tetap berjalan. Sesekali kaki Daniar tersandung kerikil karena kurang fokus berjalan.


Tok-tok-tok!


Daniar mengetuk pintu rumah adiknya dengan pelan. Suasana masih cukup hening, para tetangga belum ada yang beraktivitas. Karena memang masih belum subuh. Namun, Daniar tidak membutuhkan waktu lama untuk membangunkan Roni. Adik iparnya itu memang terbiasa bangun sebelum subuh.


Ceklek!


Pintu terbuka. Tampak Roni yang masih mengenakan sarung dan kopiah berdiri di ambang pintu.


"Kak Niar!" panggil Roni seraya menautkan kedua alisnya.


"Ron, tolong antar kakak ke Kadipaten sekarang juga," pinta Daniar.


Roni semakin heran. "Ada apa' Kak?"


"Kang Yandri mengalami kecelakaan, dan dia berada di rumah sakit Kadipaten saat ini," jawab Daniar.


"Astaghfirullah!" pekik tertahan Roni. "Sebaiknya Kakak masuk dulu, kita bicara di dalam," ajak Roni.


"Ish, Ron ... Kakak khawatir dengan keadaan kang Yandri. Sebaiknya kita pergi sekarang," tukas Daniar.


"Roni juga khawatir, tapi jangan tergesa-gesa. Kadipaten itu cukup jauh dari sini. Tidak mungkin harus bolak-balik. Kita pikirkan kondisi yang terburuk deh, Kak. Gimana kalau bang Yandri harus dirawat untuk beberapa hari? Apa Kakak sudah menyiapkan segala kebutuhannya? Pakaian, mungkin?" papar Roni.


Daniar bergeming. Memang benar apa yang dikatakan adik iparnya. Karena kalut, dia pun tidak berpikir sampai sejauh itu.


"Ya sudah, kita masuk dulu. Salat subuh dulu sambil nunggu sopir Roni datang," sahut Roni.


Danita yang mendengar keributan di depan rumahnya segera keluar kamar. Dia heran melihat Roni berdiri di ambang pintu.


Danita terkejut melihat Daniar mematung di depan pintu, "Kakak kenapa? Ada apa subuh-subuh datang kemari?" tanyanya.


Pertanyaan Danita membuat hatinya lemah. Seketika dia menghambur dan memeluk adiknya.


"Ka-kang Yandri kecelakaan di Kadipaten, Dek," ucap Daniar diselingi isak tangis.


"Astaghfirullah!" pekik Danita seraya membalas pelukan kakaknya.


"Bawa Kak Niar masuk, Ma. Papa telepon Joko dulu," perintah Roni kepada istrinya


Danita mengangguk. Dia kemudian memapah Daniar untuk memasuki rumah. Tak lama berselang, azan subuh pun berkumandang.


.


.


Joko membuka mata saat mendengar ponselnya berdering. "Ish, siapa juga yang telepon malam-malam gini, ganggu orang tidur aja," gerutunya.


"Ini sudah subuh loh, Mas, bukan malam lagi?" tegur Rida, sang istri.


"Ngantuk, Dek," sahut Joko.


Namun, ponsel Joko kembali berteriak.


"Diangkat dong, Mas! Siapa tahu penting," kata Rida.

__ADS_1


"Kamu aja yang angkat, Dek. Mas ngantuk banget," pinta Joko.


Rida hanya memutar kedua bola matanya. Namun, meskipun merasa kesal dengan sikap suaminya, Rida tetap mengangkat telepon suaminya.


"Bang Roni?" gumam Rida yang masih bisa didengar suaminya.


"Siapa, Dek?" tanya Joko, langsung bangun begitu mendengar nama sahabatnya.


"Ini, bang Roni, Mas," sahut Rida.


Joko segera menyambar ponselnya. "Assalamu'alaikum, Ron!"


"Joko, sekarang juga lu bawa mobil ke rumah gue. Kakak ipar gue kecelakaan di Kadipaten. Kita harus segera pergi ke sana!" ucap tegas Roni di ujung telepon.


"Astaghfirullah ... siap, Bos! Abis salat subuh, gue ke jemput lu," pungkas Joko.


Sambungan terputus. Joko mengembalikan ponsel kepada istrinya. Sedetik kemudian, dia beranjak dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi.


"Ada apa, Mas?" tanya Rida yang merasa heran melihat perubahan raut wajah suaminya.


"Kakak ipar Roni kecelakaan, Dek. Sekarang juga, Mas harus antar Roni sama kakak iparnya ke Kadipaten," jawab Joko.


"Kadipaten? Kok jauh banget, Bang?" Rida kembali bertanya.


"Enggak tahu, Mas juga enggak ngerti. Ya sudah, amas mau salat subuh dulu," pungkas Roni.


.


.


Selepas salat subuh, Danita membereskan beberapa setel pakaian dan memasukannya ke dalam sebuah tas jinjing. Daniar datang ke rumahnya tanpa membawa satu setel pun pakaian ganti, karena itu Danita berinisiatif meminjamkan pakaian untuk sang kakak sebagai persiapan jika kakaknya menginap di rumah sakit.


"Ini pakaiannya, Kak," ucap Danita seraya menaruh tas jinjing itu di samping Daniar.


"Terima kasih, Dek," jawab Daniar.


"Sama-sama. Kakak sarapan dulu ya, biasanya jam segini sudah ada nasi uduk di warung bik Wida," kata Danita.


"Enggak usah, Dek. Kakak enggak lapar," tolak Daniar.


"Ish, tapi Kakak hendak melakukan perjalanan jauh. Enggak baik juga membiarkan perut kosong," tukas Danita.


"Bener itu, Kak. Sebaiknya Kakak sarapan dulu. Sekalian nunggu Joko juga," timpal Roni yang kini sudah mengenakan kaos dan celana jeans-nya.


"Enggak, Ron. Makasih banyak, tapi Kakak enggak bernafsu." Daniar masih tetap menolak.


"Ya sudah, kita sarapan di jalan saja," lanjut Roni.


Tin-tin!


Tak lama kemudian terdengar bunyi klakson mobil dari luar. Roni pun segera beranjak dari kursi.


"Sepertinya itu Joko. Ayo kita berangkat, Kak," ajak Roni seraya membawa tas jinjing yang berisi pakaian Daniar.


"Kakak berangkat dulu ya, dek. Minta do'anya, mudah-mudahan kondisi kang Yandri enggak terlalu parah, supaya bisa dibawa pulang," lanjut Daniar.


"Iya, aamiin. Hati-hati di jalan, Kak," pesan Danita.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada Danita, Daniar dan Roni pun pergi ke Kadipaten untuk melihat keadaan Yandri.


__ADS_2