Setelah Hujan

Setelah Hujan
Piknik


__ADS_3

"Astaghfirullah, kesiangan!" guman Daniar saat meraih jam beker dari atas nakas.


Penunjuk waktu sudah berhenti di angka 5 lewat 1O menit. Daniar segera beranjak dari tempat tidur. Sembari mengikat rambutnya, dia berjalan menuju kamar Bintang. Tak lama berselang, Daniar pun membuka pintu kamar putrinya.


"Subuh, Bin. Shalat du ... lu," ucap Daniar terjeda karena melihat tak ada siapa pun di kamar anaknya.


Astaghfirullah ... bukankah Bintang sedang nginep di rumah ayahnya? Kok aku bisa lupa, ya. Hmm, sebaiknya aku harus terbiasa dengan pembagian waktu ini, batin Daniar.


Tak ingin terlalu larut memikirkan nasibnya, Daniar pun pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Namun, saat dia tiba di dapur, dia melihat ibunya tengah asyik menata bahan makanan yang akan dimasak.


"Kok tumben jam segini sudah masak, Bu," tegur Daniar.


"Iya dong, Ni. 'Kan kita mau piknik," jawab Bu Salma.


Daniar tersenyum melihat ibunya yang sangat bersemangat menyiapkan piknik hari ini.


"Ya sudah Bu, nanti Niar bantu. Sekarang Niar mau shalat subuh dulu," sahut Daniar.


"Ya sudah, buruan gih! Ini sudah siang loh. Aneh, kok bisa bangun kesiangan sih Ni? Emang semalam kamu tidur jam berapa? Sudah Ibu bilang, jangan selalu begadang terus. Memangnya, kamu enggak bisa ngerjain tugas sekolah kamu di siang hari," cerocos Bu Salma tanpa jeda.


Daniar yang mendengar cerocosan ibunya bak kereta api sangat panjang, segera pergi ke kamar mandi.


Uuh, bisa habis waktu subuh nih, kalau dengerin ceramah Ibu, batin Daniar, tersenyum tipis.


.


.


Dengan penuh kasih sayang, Yandri mengusap pelan pipi anaknya ketika hendak membangunkan Bintang untuk shalat subuh. Semalaman, Yandri melihat jika tidur Bintang begitu gelisah. Mungkin karena anak itu belum terbiasa jauh dari ibunya.


Maafkan Ayah, Nak. Seandainya Ayah punya solusi yang lebih baik lagi untuk permasalahan Ayah dan bunda kamu, tentunya Ayah tidak akan mengambil keputusan seperti ini. Namun, Ayah sendiri tidak bisa melunakkan hati bunda kamu yang terus ingin berpisah dari Ayah. Sampai detik ini, Ayah tidak tahu alasan apa yang membuat bunda kamu kukuh mengakhiri pernikahan ini, batin Yandri.


Bintang menggeliat saat merasakan sentuhan dingin di pipinya. Dia kemudian mengerjapkan mata dan melihat ayahnya yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Sudah subuh ya, Yah?" tanya Bintang dengan suara khas orang bangun tidur.


"Iya, Nak. Kita berjamaah dulu, yuk!" ajak Yandri.


Bintang mengangguk. Dengan diantar ayahnya, dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Lepas itu, mereka kemudian shalat berjamaah di ruang keluarga yang kebetulan tidak dipasang kursi oleh Yandri.


Ruang yang rencananya akan dia jadikan tempat bercengkerama dengan anak istri untuk melepas lelah. Sayangnya, rencana hanya tinggal sebuah rencana saja.


"Ayah, kapan kita pergi ke rumah Enin?" tanya Bintang.


Belum sempat Yandri menjawab, tiba-tiba terdengar dering telepon berbunyi dari kamar. Yandri segera beranjak dan pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Yandri.


"Wa'alaikumsalam, Nak Yan. Kapan ke sini?" tanya Bu Salma di ujung telepon.


"Mungkin sebentar lagi, Bu. Yandri mau masak nasi dulu buat sarapan Bintang," jawab Yandri.


"Sarapan di sini saja, Nak Yandri. Kebetulan Ibu masak banyak. Ya, sekalian buat piknik juga. Bintang jangan disuruh mandi. Nanti saja, mandinya di Cipanas," perintah Bu Salma panjang lebar.


"Tapi ... Niar enggak pa-pa, Bu, kalau Yandri ikut sarapan di sana?" tanya Yandri, khawatir.


"Ish, ya enggak apa-apa atuh, Nak Yandri," jawab Bu Salma.


"Baiklah, Bu. Kalau begitu, Yandri sama Bintang bersiap-siap dulu," lanjut Yandri.

__ADS_1


"Ya sudah. Enggak pake lama ya, Nak Yan ..." gurau Bu Salma.


"Enggak, Bu ... paling juga dua jam. Hehehe ..." Yandri membalas gurauan mantan ibu mertuanya seraya terkekeh.


"Ah, kamu bisa saja. Ya sudah, Ibu tutup teleponnya. Salamin buat Bintang. Assalamu'alaikum," pungkas Bu Salma.


"Iya, Bu. Nanti Yandri sampaikan. Wa'alaikumsalam."


Saat Yandri hendak menyimpan kembali teleponnya, tanpa sengaja ujung mata Yandri menangkap bayangan Bintang dari pantulan cermin lemari. Yandri tersenyum seraya berkata. "Masuklah, Nak!"


"Siapa yang menelepon, Yah?" tanya Bintang.


"Enin kamu, Nak," jawab Yandri sambil membuka kain sarung yang dia kenakan untuk shalat tadi.


"Enin bilang apa, Yah?" tanya Bintang lagi.


"Enin nyuruh kita untuk bersiap-siap," sahut Yandri.


"Sepagi ini?" tanya Bintang, mengernyitkan keningnya.


"Iya, Nak. Enin menyuruh kita untuk sarapan di sana. Setelah itu, kita berangkat ke Cipanas," jawab Yandri.


"Oh, jadi ke Cipanasnya pagi ya, Yah?" ucap Bintang.


"Iya, Sayang ... biar airnya masih bersih juga," balas Yandri.


"Yes! Kalau gitu, Bibin mau gosok gigi dulu ya, Yah. Mandinya nanti saja," seru Bintang seraya keluar kamar dan langsung berlari menuju kamar mandi.


Yandri hanya tersenyum melihat tingkah putrinya.


.


.


"Bunda, i miss you!" teriak Bintang ketika melihat Daniar sedang menjemur pakaian.


Daniar menyambut anaknya dengan tersenyum lebar. Sebuah senyuman yang selalu dirindukan oleh Yandri.


"Pagi, Bun! Apa kabar?" sapa Yandri.


"Alhamdulillah, baik Kang," jawab Daniar.


"Gimana tidurnya, nyenyak?" Yandri kembali bertanya.


"Pasti enggak nyenyak, Yah," timpal Bintang dengan ekspresi wajah yang seolah sedang mengejek ibunya.


"Hmm, kenapa bisa enggak nyenyak, Dek" tanya Yandri kepada anaknya.


"Karena enggak ada kita yang mengapit Bunda, hehehe,..." imbuh Bintang seraya terkekeh.


Yandri pun ikut tertawa. Sedetik kemudian, dia mengangkat kedua jempolnya di hadapan Bintang. Setelah itu, Yandri dan Bintang melakukan toss.


Daniar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak dan mantan suaminya. Seperti biasa, ayah dan anak itu memang selalu kompak saat sedang mempermainkan dirinya.


.


.


Selesai sarapan, Daniar pergi ke dapur sambil membawa piring kotor bekas sarapan.

__ADS_1


"Pakaian Bintang sudah disiapkan, Ni?' tanya Bu Salma, menyembulkan kepala dari arah pintu dapur.


Daniar menoleh. "Sudah, Bu," jawabnya.


"Ya sudah. Cepat masukkan ke bagasi. Kita berangkat sekarang, keburu panas!" perintah Bu Salma.


"Tapi ... Niar mau cuci piring dulu, Bu," bantah Daniar.


"Sudah, nanti saja cuci piringnya. Badan Ibu udah enggak nyaman nih, pengen cepet-cepet berendam di air hangat," tukas Bu Salma.


"Ih, Ibu. Mangkanya ... mandi dong!" ledek Daniar.


"Aish, dasar bawel! Ini juga mau mandi. Buruan, ah!"


Daniar hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ibunya.


Semenjak dibangun trayek Singaparna - terminal baru yang melewati belakang rumah Bu Salma, perjalanan menuju wisata pemandian air panas Cipanas pun menjadi lebih singkat. Hanya dalam waktu 15 menit menggunakan kendaraan roda empat, mereka akhirnya tiba di kawasan wisata Cipanas Galunggung.


"Di kolam atas saja, ya, Yah?" pinta Bintang, "biar bisa sekeluarga berendamnya," imbuh Bintang.


"Boleh," jawab Yandri, singkat.


Mereka berempat pun berjalan beriringan menaiki tangga menuju tempat pemandian air panas yang diperuntukkan khusus sekeluarga.


Kedua tangan Yandri terlihat penuh menenteng barang bawaan. Melihat hal itu, Daniar menawarkan diri untuk membantu mantan suaminya.


"Biar Niar bawa sebagian, Kang."


"Eh, tidak usah Bun. Ini enteng, kok," tolak Yandri.


"Eh, Bintang! Tungguin Enin!" pekik Bu Salma ketika melihat cucunya berjalan semakin jauh.


"Ih, Enin mah jalannya kayak siput!" ledek Bintang. "Buruan dong ... katanya mau cepet-cepet berendam di air panas," lanjutnya.


"Iya-iya. Ini juga sudah buru-buru, Neng," sahut Bu Salma, cemberut.


Daniar dan Yandri hanya bisa mengulum senyum melihat interaksi cucu dan neneknya.


Ketika sedang asyik berjalan dalam keheningan, tiba-tiba ponsel Yandri berdering memecah keheningan tersebut.


"Tolong ambilkan teleponnya di saku jaket, Bun!" pinta Yandri.


Daniar hendak protes. Namun, saat dia melihat Yandri kesulitan karena membawa banyak barang di kedua tangannya, Daniar mengalah. Dia merogoh saku jaket Yandri untuk mengambil ponsel.


"Siapa yang menelepon, Bun?" tanya Yandri.


"Yoga, Kang," jawab Daniar sambil menunjukkan layar ponsel kepada Yandri.


"Hmm, kok tumben dia menelepon. Mau ngapain?"


"Yeay, mana Niar tahu," tukas Daniar.


"Hehehe, iya ... diangkat saja, Bun!" perintah Yandri.


"Tapi ..." Daniar tampak ragu.


"Sudah, diangkat saja. Yoga enggak tahu apa-apa kok, tentang hubungan kita," imbuh Yandri.


Daniar mengangguk. Dia kemudian menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan video dari mantan adik iparnya.

__ADS_1


"Assalamu–"


"Kamu?!"


__ADS_2