
"Bang Yan!" teriak Roni saat melihat Yandri hendak menyeberangi jalan.
Yandri menoleh, dia mengurungkan niatnya ketika mengetahui sosok si pemanggil. Yandri kembali berbalik arah untuk mendekati Roni.
"Sori telat, Bang!" ucap Roni begitu Yandri tiba di hadapannya.
"Tidak apa-apa, Ron. Abang juga baru turun dari bus,"jawab Yandri. "Kita pulang sekarang?" lanjutnya.
"Abang enggak mau makan dulu," tawar Roni.
"Di rumah saja, Ron. Kasihan kakak ipar kamu, dia pasti cemas nungguin Abang," jawab Yandri.
"Oh ya sudah, kalau gitu kita pulang saja," pungkas Roni.
Setelah Yandri naik, Roni pun melajukan motornya keluar dari terminal.
.
.
Selepas asar, Yandri tiba di rumah mertuanya. Kedatangan Yandri langsung diserobot oleh ceramah ibu mertua tersayang.
"Apa ibu bilang, Yan ... kamu itu belum sembuh benar, jadi enggak usah maksain kerja juga. Kalau kayak gini, yang repot, 'kan kita semua. Semalaman istri kamu sampai enggak bisa tidur karena khawatir sama keadaan kamu," cerocos Bu Salma.
"Iya, Bu. Maafkan Yandri ... tadinya Yandri hanya berusaha untuk menutupi semua kebutuhan rumah tangga. Kasihan juga Daniar, harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami," jawab Yandri.
"Ish, Yan. Ibu, 'kan masih tinggal bersama kalian. Kalau hanya sekadar jajan Bintang, Ibu masih mampu memberikannya. Jangan pikirkan kebutuhan dapur. Ibu makan, masa kalian sampai enggak makan juga. Kita ini tinggal satu atap. Sudah sepatutnya saling membantu. Ngerti kamu?" tukas Bu Salma.
"Iya, Bu. Maafkan Yandri karena selalu merepotkan Ibu," sahut Yandri.
"Sudah-sudah, enggak usah minta maaf juga. Sekarang kamu masuk, makan dan segera beristirahat. Besok kamu harus kontrol ke dokter. Supaya bisa cek kesehatan," tutur Bu Salma.
"Baik, Bu," jawab Yandri seraya memasuki kamarnya.
Daniar hanya bisa tersenyum tipis tatkala melihat suaminya ditegur oleh sang ibu. Dia pun mengayunkan langkah mengikuti Yandri memasuki kamar.
.
.
Hari semakin sore. Setelah memandikan istrinya, dengan telaten Aji membaluri kedua kaki Khodijah menggunakan minyak yang tadi dia dapatkan dari pengobatan alternatif. Sesekali dia melempar senyum saat sang istri menatapnya sendu.
"Bismillah ... Insya Allah, sembuh!" ucap Aji sesaat setelah menutup kembali botol minyak tersebut.
Bu Maryam hanya mendengus kesal dari ambang pintu kamar.
"Jangan musrik kamu, Aji. Percaya kok sama benda gituan. Dijah itu enggak akan sembuh hanya karena dibaluri minyak seperti itu. Minum obat dan terapi dokter, baru dia bisa pulih kembali," sindir Bu Maryam.
"Nenek kok ngomongnya gitu?" tegur Hana, anak remaja yang masih duduk di bangku kelas dua SMP. "Inget, Nek ... ucapan itu do'a, jadi harus ucapan yang baik-baik yang keluar dari mulut kita," lanjutnya.
__ADS_1
"Halah, anak kecil tahu apa," sangkal Bu Maryam. "Ini nih, anak kalau disekolahin tinggi-tinggi, ujung-ujungnya bakalan ngelunjak sama orang tua. Bisanya cuma nyeramahin, enggak ada sopan santunnya!" Kembali Bu Maryam menggerutu kesal.
"Sudah, Han. Sana masuk kamar!" perintah Aji menengahi perdebatan anak dan mertuanya.
"Ish, Bapak. Orang salah, 'kan harus dibenerin," protes Hana.
"Iya, Bapak tahu. Tapi orang seperti nenek kamu itu, susah sekali untuk diberi pemahaman. Jadi kita yang harus mengalah. Sekarang, kamu pergi ke kamar, Nak. Belajar yang baik, agar kelak ... kamu bisa mengangkat harkat dan martabat kedua orang tua kamu," jawab Aji panjang lebar.
"Baik, Pak," balas Hana.
Hana berjalan mengelilingi ranjang ibunya. dengan perlahan, dia mengecup kening Khodijah seraya berkata, Hana ke kamar dulu ya, Bu. semoga Ibu lekas sembuh."
.
.
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah sebulan sejak melakukan terapi di tempat itu. Namun, kondisi Khodijah masih belum ada perubahan. Untungnya ibu mertua Aji sudah pulang. Jika tidak, wanita tua itu akan terus menceramahi dan menyindir usaha yang telah dilakukan Aji untuk menyembuhkan istrinya.
"Sudah Agus bilang, Paman coba bawa bibi Dijah ke tempat pengobatan alternatif yang ada di Singaparna. Kemarin, Adnan baru dua kali pergi ke sana. Sekarang dia sudah bisa berjalan kembali. Ya, meskipun masih belum lancar. Tapi setidaknya, Adnan sudah tidak duduk di kursi roda lagi," tutur Agus.
"Paman hanya bingung, bagaimana cara membawa bibi kamu ke sana, Gus. Kamu sendiri, 'kan tahu kalau Singaparna itu cukup jauh dari sini. Masa iya, Paman harus menyangga tubuh bibi kamu di motor," keluh Aji.
"Kenapa Paman tidak minta bantuan kepada Yandri saja? Bukankah Yandri sudah punya kendaraan," tutur Agus.
"Benarkah?" tanya Aji yang memang jarang berkomunikasi dengan ipar-iparnya.
"Iya, Paman. Sekarang Yandri sudah punya mobil. Paman bisa hubungi dia untuk meminta bantuan. Agus pikir, Yandri tidak akan keberatan untuk membantu Paman. Hmm, Paman sendiri tahu, 'kan bagaimana sifat Yandri?" kata Agus.
"Ish, Paman. Tidak usah sungkan begitu. Lagi pula, Yandri itu berbeda dengan putra-putra nek Maryam yang lainnya. Agus yakin, dia pasti akan senang membantu kakaknya," lanjut Agus.
"Hmm, kamu benar. Ya sudah, tolong kamu hubungi Yandri, Gus. Sekalian juga tanyakan alamatnya. Siapa tahu Yandri mengetahui alamat pengobatan alternatif itu," pinta Aji.
"Iya Paman, sekarang juga Agus telepon Yandri," pungkas Agus.
.
.
Di lain tempat, Yandri tampak termenung setelah menerima telepon dari sepupunya. Sikap Yandri itu tak ayal membuat Daniar yang melihatnya, menjadi penasaran. Setelah menyimpan pakaian yang baru diangkat dari jemuran, Daniar kemudian menghampiri Yandri yang sedang duduk di gazebo belakang.
"Siapa yang menelepon, Yah?" tanya Daniar sambil duduk di hadapan suaminya.
"Pak Agus, Bun," jawab Yandri seraya meletakkan ponsel.
"Benarkah? Hmm, sudah lama juga pak Agus tidak pernah menelepon. Ada apa, Yah? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan ibu?" tanya Daniar lagi.
Yandri menggelengkan kepalanya. "Ini bukan tentang ibu, Bun," jawabnya.
"Lantas?" lanjut Daniar.
__ADS_1
"Pak Agus menelepon hanya untuk menyampaikan amanah kang Aji. Dia bilang, kondisi kak Dijah sama sekali belum ada perubahan. Kang Aji meminta bantuan kita untuk mencari sebuah pengobatan alternatif yang ada di daerah Singaparna. Menurut pak Agus, Adnan dan beberapa orang yang memiliki penyakit yang sama dengan kak Dijah, mereka kini sembuh setelah berobat ke sana," tutur Yandri.
"Memangnya, apa nama pengobatan alternatif tersebut, Yah?" tanya Daniar.
"Kata pak Agus sih, tidak ada namanya. Tapi pak Agus mengirimkan nomor kontak orang yang suka mengobatinya. Namanya, Pak Dana dari daerah Bantengwangi. Apa Bunda tahu kampung itu?" Kini Yandri yang bertanya kepada istrinya.
"Kalau nama kampungnya, Bunda tahu. Cuma untuk nama orang sama alamat jelasnya, Bunda enggak tahu," jawab Daniar.
"Ya sudah, gimana kalau besok kita jenguk kak Dijah saja, Bun. Engga keberatan, 'kan?" ajak Yandri.
"Iya, Yah. Sudah lama juga kita enggak ketemu kak Dijah dan kang Aji. Bunda juga kangen sama Hana dan Haikal," timpal Daniar.
Khodijah adalah kakak kedua Yandri. Orang kedua yang Daniar temui saat Yandri memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudara Yandri. Sikap Khodijah begitu berbeda dengan Aminah apalagi dengan Habibah. Kehangatan keluarga Khodijah membuat Bintang betah berlama-lama berkunjung ke sana. Meskipun hanya bertandang setahun sekali, tapi Bintang akan selalu susah diajak pulang dari rumah uwaknya yang satu itu.
Keesokan harinya.
"Kok tumben Ayah sama Bunda sudah rapi. Mau ke mana?" tanya Bintang, penasaran.
"Ayah sama Bunda mau menjenguk uwak Dijah, Bin. Katanya uwak kamu itu sedang sakit," jawab Daniar.
"Apa Bibin boleh ikut? Sekarang, 'kan hari Minggu, sekolah Bibin libur," kata Bintang.
"Tentu saja boleh, sudah lama juga kamu enggak ketemu sama sepupu-sepupu kamu," balas Yandri.
"Ya sudah, cepat ganti baju sana! Bunda mau siapin cemilan buat di jalan nanti," perintah Daniar.
Bintang langsung berlari le kamarnya. Daniar pergi ke dapur untuk membuat bekal di jalan, sedangkan Yandri pergi ke garasi untuk memanaskan mesin mobil.
Setelah melewati perjalanan selama kurang lebih dua jam. Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah sederhana yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Yandri pun menitipkan mobilnya di rumah yang berada di tepi gang.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam!" sahut Aji seraya membuka pintu. "Eh, Yandri," ucapnya
"Apa kabar, Kang?" Yandri kembali menyapa kakak iparnya seraya bersalaman.
"Alhamdulillah, kabar Akang baik. Kalian sendiri, gimana kabarnya?" Aji balas bertanya.
"Alhamdulillah, kami pun baik Kang," sahut Daniar. "Oh iya Kang, di mana kak Dijah! Kami datang untuk menjenguk kak Dijah. Sudah lama juga kita enggak ke sini, ya. Hmm, sepertinya semenjak Kang Yandri kecelakaan," kata Daniar.
"Iya, Akang minta maaf karena tidak bisa menjenguk kamu, Yan. Ya kamu sendiri tahu, 'kan bagaimana keadaan Akang di sini," timpal Aji.
"Iya Kang, tidak apa-apa. Yandri paham, kok," jawab Yandri.
"Ya sudah, ayo kita me kamar. Kakak kamu pasti senang melihat kamu datang menjenguknya, Yan," ucap Aji.
Sedetik kemudian, Aji mengajak Yandri dan Daniar ke kamar, sedangkan Bintang langsung menghambur ke kamar Hana dan Haikal.
Tiba di kamar senyum lebar Yandri seketika hilang saat melihat kondisi Khodijah.
__ADS_1
"Astaghfirullah ... Kak Dijah!"