
Daniar semakin merapatkan matanya saat kecupan hangat itu mendarat. Namun, sesaat kemudian dia mendengar langkah kaki yang semakin menjauh. Mungkin Yandri sedang berjalan hendak keluar kamar, pikir Daniar.
Krieet!
Dan dugaan Daniar ternyata bener. Pria itu sepertinya tengah membuka pintu kamar. Sedetik kemudian, terdengar pintu kamar tertutup kembali.
"Huft!"
Daniar membuang napas dengan kasar. Dia kemudian membuka mata dan mengedarkan pandangannya. Pria jangkung itu memang sudah tidak berada di kamar. Samar-samar, Daniar pun mendengar kucuran air shower dari kamar mandi yang letaknya tak jauh dari kamar Daniar.
Di dalam kamar mandi.
Setelah melucuti pakaiannya, Yandri segera mengguyur tubuh oleh dinginnya kucuran air shower. Niatnya yang hanya mengungkapkan kerinduan lewat kecupan sekilas, ternyata telah membangunkan si Buyung. Tak ingin terjebak dalam hasrat, Yandri segera keluar untuk mendinginkan hawa panas yang mulai menjalari tubuh.
"Ish, kamu harus bersabar, Dik," gumam Yandri sambil mengelus si Buyung yang perlahan kembali tertidur.
Yandri tidak ingin mengganggu kesehatan Daniar. Terlebih lagi, saat ini hubungan dia dan Daniar pun masih dingin. Awalnya, Yandri berharap jika sentuhan dan kehangatan bisa mencairkan hubungannya.
Namun, selama di asrama Yandri cukup rutin untuk membuka internet dan mencari tahu tentang histerektomi. Apa itu penyebabnya dan juga efek samping yang akan terjadi pada wanita yang telah menjalani operasi histerektomi.
Dari artikel tersebut Yandri mengetahui, jika wanita yang telah menjalani operasi pengangkatan rahim, tidak boleh digauli terlebih dahulu selama 6 minggu ke depan. Karena itu, Yandri harus pandai-pandai mengendalikan hasratnya.
Dirasa seluruh urat sarafnya sudah kendor. Hati dan pikirannya mulai tenang, dan si Buyung mulai tertidur kembali. Yandri kemudian mematikan shower. Tangan kekarnya terulur untuk mengambil handuk yang tergantung di hunger kamar mandi. Setelah membersihkan sisa-sisa air di tubuh atletisnya, Yandri keluar. Perlahan dia kembali melangkahkan kaki menuju kamar.
Tiba di kamar, Yandri sedikit tertegun di ambang pintu. Helaan napasnya mulai terasa berat saat menyadari jika Daniar sudah tidak ada di tempat tidur. Ish, apa tadi Daniar berpura-pura tidur? duga Yandri dalam hatinya.
Tak ingin terlalu hanyut dalam dugaannya, Yandri segera membuka pintu lemari. Dia menarik t-shirt polos berwarna putih dan segera mengenakannya. Lepas menyisir rambut, Yandri pergi ke kamar anaknya. Karena tubuhnya yang terasa lengket, akhirnya Yandri memutuskan untuk mandi terlebih dahulu ketimbang menemui putrinya.
Klek!
Yandri menekan handle pintu dan mendorongnya perlahan. Dia terpaku di ambang pintu ketika melihat sang istri tengah mendengkur halus seraya memeluk Bintang. Hmm, tenyata memang benar, Daniar ada di sini, kata Yandri dalam hatinya.
Tiba-tiba, Yandri tersenyum menyeringai. Sebuah ide bagus, melintas di kepalanya.
"Ya sudah, kalau itu kemauan kamu, akan Ayah laksanakan," guman Yandri seraya mendekati ranjang putrinya.
Yandri merebahkan tubuhnya di samping Daniar. Sedetik kemudian, dia mengganti posisi tidur dan mulai menyusupkan wajah di antara helaian rambut sang istri. Aroma wangi shampoo menyeruak di indera penciumannya.
Hmm, sudah sangat lama aku merindukan aroma ini, batin Yandri sambil mendekap erat tubuh Daniar dari arah belakang.
.
.
__ADS_1
Bunyi kokok ayam mulai terdengar. Namun, kedua mata ibu beranak satu itu, masih terpejam. Begitu juga dengan Yandri. Perjalanan jauh membuat Yandri lelah dan nyenyak dalam tidurnya.
Sedangkan Daniar, semalaman dia tidak bisa tidur karena menahan beban tangan Yandri yang melingkar di perutnya. Saat dia ingin bergerak, Yandri pun ikut bergerak. Khawatir suaminya ikut terbangun, akhirnya Daniar hanya mampu bergeming dan kembali memejamkan mata.
Bintang membuka mata saat bunyi kokok ayam terus bersahutan. Dia sangat terkejut begitu melihat sang bunda tertidur di sampingnya. Lebih terkejut lagi melihat tangan kekar yang tengah memeluk ibundanya. Bintang bangun untuk melihat orang yang tengah tidur di belakang ibunya.
"Ayah!" Bintang berteriak gembira ketika mengetahui tangan itu milik orang yang sangat dirindukannya.
Mendengar teriakan Bintang, sontak Daniar dan Yandri mengerjapkan mata. Sedetik kemudian, mereka bangun hingga akhirnya kepala mereka beradu.
"Ish!" Daniar meringis kesakitan.
"Eh, maaf-maaf Bun!" Yandri sontak menggosok kening Daniar dengan ujung telunjuk. Sesaat kemudian, dia mengecup kening Daniar. "Dah, sembuh!" imbuhnya.
"Hahaha ...."
Bintang tergelak. Merasa lucu melihat tingkah kedua orang tuanya. Sang ayah begitu sibuk menggosok kening ibunya untuk meredakan sakitnya. Sedangkan sang ibu hanya terbengong mendapatkan perlakukan ayahnya.
"Ish, kok ketawa sih, Dek," gerutu Daniar.
"Hehehe, maaf Bun. Habisnya Bunda sama Ayah lucu banget," jawab Bintang.
Daniar hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Bintang. Sesaat kemudian, dia pun segera beranjak dari tempat tidur.
"Eh, Bunda mau ke mana?" tanya Bintang, mencekal pergelangan tangan ibunya.
"Kita shalat subuh bareng aja, gimana?" timpal Yandri, mengambil kesempatan di atas kesempitan. Yandri berharap, mungkin ini adalah jalan untuk memperbaiki hubungan dia dengan sang istri.
"Yeaaaa ...!"
Bintang kembali berteriak. Dia sangat gembira dengan kehadiran ayahnya. Tak lama kemudian, Bintang beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Melihat keceriaan Bintang, Daniar hanya bisa tertegun. Akankah binar kebahagiaan itu terpancar dari raut wajah anaknya ketika mendengar orang tuanya berpisah? pikir Daniar.
"Kita wudhu, Bun. Setelah itu kita shalat bareng," kata Yandri lagi.
Daniar tidak menjawab. Dia hanya turun dari ranjang anaknya dan segera keluar kamar. Tiba di dapur, Daniar berpapasan dengan Danisa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Dek, kamu kerja enggak hari ini?" tanya Daniar.
"Enggak tuh, Kak. Sabtu, 'kan jadwal libur gue. Emangnya kenapa, Kak?" Danisa balik bertanya.
"Nanti kalau Bintang pulang sekolah, tolong kamu ajak dia bermain ke arena permainan Mayasari, ya," pinta Daniar.
__ADS_1
"Kenapa enggak kakak aja yang ajak main?" tanya Danisa heran. "Bukankah ada bang Yandri juga, 'kan? Kenapa enggak kalian aja yang ngajak Bintang main?" lanjut Danisa.
"Ada hal yang cukup serius yang ingin kakak bicarakan sama kakak ipar kamu," lanjut Daniar.
"Oh, ya udah," balas Danisa.
Daniar melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Begitu juga dengan Danisa. Gadis tomboy itu bergegas ke kamar untuk melaksanakan shalat subuh. Sedangkan di kamar Bintang, kening Yandri mengernyit ketika tanpa sengaja mendengar pembicaraan istri dan adik iparnya.
Eh, kenapa bunda berbicara seserius itu sama Danisa? Kira-kira, apa yang mau diomongin dia nanti? batin Yandri dengan degup jantung yang tak biasanya.
.
.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Daniar segera merapikan peralatan sekolahnya. Setelah itu, dia pergi ke kantor kepala sekolah untuk berpamitan. Tak lama kemudian, Daniar kembali ke kelas untuk mengambil tas.
Tiba di gerbang, Daniar sudah melihat mobil suaminya terparkir. Hmm, dari dulu Yandri memang orang yang selalu tepat waktu. Daniar pun mendekati mobil Yandri dan memasukinya.
"Serius nih, Bun. Kita pergi berdua saja?" tanya Yandri.
"Ya," jawab Daniar, singkat.
"Bintang gimana? Nanti dia kebingungan loh, cari-cari kita," lanjut Yandri.
"Bintang sedang bersenang-senang dengan bibinya. Tidak usah khawatir," jawab Daniar.
"Ya sudah, kita pergi sekarang?" tanya Yandri lagi.
Daniar mengangguk.
.
.
Setelah melewati setengah jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat wisata alam yang cukup sepi. Yandri memarkirkan mobilnya. Lepas itu, mereka berdua membeli tiket masuk dan mencari tempat yang cukup sepi.
Yandri merasa heran melihat tingkah Daniar yang tidak biasanya. Wajah cantik itu terlihat muram. Entah apa yang sedang menggelayut dalam pikirannya saat ini. Untuk beberapa menit, hanya kebisuan yang terjadi di antara mereka.
"Ada apa, Bun? Kenapa Bunda mengajak Ayah kemari?" tanya Yandri menatap lekat istrinya yang tengah melihat hamparan bunga mawar di depan.
"Bunda ingin meminta sesuatu pada Ayah. Bunda harap, Ayah bisa mengabulkan permintaan Bunda," ucap Daniar, berbalik menatap suaminya.
Yandri menggenggam tangan Daniar. "Apa pun yang Bunda minta, Ayah janji ... Ayah akan selalu berusaha untuk mengabulkannya."
__ADS_1
"Aku ingin kita berpisah," pinta Daniar lirih.
"Apa?!"