
Malam sudah semakin larut. Setelah melihat Khodijah tidur nyenyak, Habibah pun pergi ke kamarnya. Sejenak, dia membuka pintu kamar anak-anaknya. Tampak Ali tertidur seraya memeluk Rizal. Habibah tersenyum tipis melihat sikap Ali yang sangat menyayangi adiknya.
Ayah kamu sudah tiada, Nak. Sekarang, tugas kamu bertambah. Selain belajar dengan tekun, kamu juga harus bisa menjaga adikmu, batin Habibah.
Puas menatap kedua putranya, Habibah kembali menarik daun pintu dan menutupnya. Sesaat kemudian, dia memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kedua putranya.
Tiba di kamar, Habibah melihat suaminya sudah terlelap. Sedikit menghela napas karena Bahar tertidur tanpa melepaskan jaket kerjanya. Mungkin karena terlalu lelah, Bahar sudah tidak berdaya lagi saat rasa kantuk menyerangnya. Perlahan, Habibah pun membuka jaket suaminya.
Setelah selesai membenarkan posisi tidur sang suami, Habibah keluar kamar. Dia duduk di sofa ruang tengah seraya menyandarkan punggung. Wajahnya menengadah. Kedua matanya menatap kosong langit-langit ruang tengah.
Habibah teringat akan ucapan tetangganya, Bu Wawat. Mungkin, apa yang Bu Wawat katakan memang benar. Penyakit Khodijah harus diobati oleh medis, bukan pengobatan-pengobatan alternatif seperti apa yang saat ini sudah Khodijah lakukan. Sebenarnya, Habibah merasa iba dengan keadaan Khodijah. Namun, dia sendiri tidak mampu berbuat apa-apa. Dia tidak memiliki cukup materi untuk membawa Khodijah berobat ke tempat medis.
"Apa aku hubungi Yandri saja?" gumam Habibah.
Habibah melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat beberapa menit. Hmm, mungkin Yandri sudah tidur. Sebaiknya besok pagi saja aku telepon dia. Aku yakin, dia pasti akan membantu kami semua. Monolog Habibah dalam hatinya.
Seolah mendapatkan ilham, Habibah tersenyum lebar. Sedetik kemudian, dia beranjak dari sofa dan pergi ke kamar. Sekarang, pikirannya cukup tenang dengan sebuah rencana yang sudah menggelayut dalam otaknya. Tinggal menunggu untuk dieksekusi esok hari, pikir Habibah.
.
.
Setelah membujuk dengan berbagai cara, akhirnya Bu Maryam mendapatkan izin dari Kakek Ahmad untuk menemani Khodijah. Itu pun dengan sebuah perjanjian. Bu Maryam harus sudah ada di rumah sebelum waktu dzuhur tiba.
"Ah, akhirnya Ibu datang juga. Bibah capek tahu, ngurusin kak Dijah sendirian. Mana Kang Bahar enggak mau bantu lagi," keluh Habibah sambil mengadukan sikap suaminya.
"Aih, bukan enggak mau bantu, Bah. Tapi, 'kan Akang risih juga. Bagaimanapun, Khodijah itu perempuan dan bukan muhrim Akang. Kalau kamu yang sakit, baru Akang yang turun tangan," kilah Bahar.
"Eits! Akang do'ain Bibah sakit?" seru Habibah seraya memukul lengan suaminya.
"Eh, bu-bukan begitu maksud Akang. Ini, 'kan cuma seandainya, Bah." Bahar meralat ucapannya.
"Ish, sudah-sudah, enggak usah pada berisik. Malu didengar sama tetangga!" tukas Bu Maryam menengahi. "Oh iya, apa Khodijah sudah bangun?" tanya Bu Maryam kepada anaknya.
"Tadi sih sudah, Bu. Tapi sehabis makan pagi, sepertinya kak Dijah tidur lagi. Soalnya, semalam kak Dijah sulit tidur. Bibah aja jaga dia ampe malam," tutur Habibah.
"Sulit tidur? Tapi sulit tidur kenapa, Bah?" tanya Bu Maryam, terkejut.
"Mana bibah tahu, Bu," sahut Habibah.
"Ya sudah, Ibu lihat kakak kamu dulu," lanjut Bu Maryam.
"Eh, Bu. Tunggu!" cegah Habibah seraya mencekal pergelangan tangan Bu Maryam.
__ADS_1
"Ada apa, Bah?" Bu Maryam merasa heran melihat sikap anaknya.
"Bibah mau bicara sebentar dengan Ibu. Ini tentang kak Dijah," jawab Habibah.
"Ya sudah, bicaralah!" titah Bu Maryam.
"Sebaiknya kita bicara di kamar Bibah saja, Bu," lanjut Habibah.
Bu Maryam menautkan kedua alisnya. Meskipun merasa heran, tapi dia mengikuti ajakan Habibah menuju kamarnya.
Tiba di kamar Habibah, ibu dan anak itu duduk berdampingan. Wajah Habibah terlihat sangat serius, membuat Bu Maryam semakin merasa heran.
"Ada apa, Bah? Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan? Sepertinya serius sekali," tanya Bu Maryam.
"Bu, mungkin apa yang Bu Wawat katakan ada benarnya juga. Kak Dijah itu butuh perawatan medis. Percuma juga diberikan pengobatan alternatif tanpa medis. Semuanya harus seimbang. Ibu lihat, 'kan, om Dariman. Dia bisa pulih karena dibarengi tindakan medis juga," papar Habibah.
Bu Maryam diam. Mencoba mencerna apa yang Habibah katakan. Sejak awal, dia memang menginginkan pengobatan medis untuk anaknya. Namun, Aji sudah mengeluh dan mengatakan tidak memiliki cukup uang untuk mengobati Khodijah secara medis. Bu Maryam pun kebingungan, dia sendiri tidak memiliki cukup materi untuk memberikan pengobatan yang terbaik kepada anaknya.
"Bukannya Ibu tidak mau, Bah. Tapi kamu sendiri bisa melihat bagaimana keadaan Aji. Ibu sendiri tidak punya cukup uang untuk membawa Khodijah ke rumah sakit," jawab Bu Maryam.
"Bagaimana kalau kita minta ke Yandri saja, Bu?" usul Habibah.
"Maksud kamu?" tanya Bu Maryam.
"Apa kamu yakin, Yandri bisa membantu Khodijah, Bah?" tanya Bu Maryam, ragu.
"Bu, kak Dijah itu kakak kandungnya Yandri. Bibah yakin, Yandri pasti akan membantu pengobatan kak Dijah jika Ibu yang memintanya. Bukankah Yandri itu anak penurut?" tutur Habibah.
"Ibu enggak yakin, Bah. Yandri sudah sangat berubah semenjak dia mengalami kecelakaan. Dia sudah tidak pernah datang lagi untuk mengunjungi Ibu," jawab Bu Maryam.
"Jangan patah semangat seperti itu, Bu. Ibu tidak akan tahu hasilnya kalau belum mencobanya," sahut Habibah.
"Baiklah, nanti siang kita hubungi Yandri. Sekarang Ibu mau melihat dulu kondisi Khodijah," pungkas Bu Maryam.
.
.
Jam istirahat tiba. Yandri memasuki ruang TU untuk mengerjakan administrasi sekolah di sela-sela jam istrahatnya. Tiba-tiba, telepon Yandri berdering.
Awalnya, Yandri mengabaikan dering telepon itu, karena memang dia harus mengerjakan tugas yang dikejar deadline hari ini. Namun, saat dering telepon tak ingin berhenti, Yandri pun terpaksa menjawabnya.
"Assalamu'alaikum, kak!"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab seseorang di ujung telepon. "Yan, ini Ibu, Nak. Ibu mau bicara penting sama kamu. Ini tentang kak Dijah. Ibu mau minta bantuan kamu untuk pengobatan kak Dijah. Ibu sama kak Bibah hendak membawa ...."
"Ustadz Yan, dipanggil ustadz Bukhari ke ruangannya!"
Yandri memberikan isyarat untuk menjawab rekan kerjanya yang memanggil.
"Maafkan Yandri, Bu. Yandri sedang banyak kerjaan. Untuk pengobatan kak Dijah, Ibu diskusi saja sama Daniar mau dibawa ke mana. Mobil ada di rumah kok, biar nanti Niar yang mengantar. Assalamu'alaikum."
Yandri memutus sambungan telepon. Sedetik kemudian, dia beranjak dari kursi untuk memenuhi panggilan atasannya.
.
.
Sepanjang perjalanan, Haikal terus bersenandung menyanyikan lagu Kasih Ibu. Luapan kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah anak kecil itu. Buket bunga yang dia bikin bersama kakaknya, dia dekap dengan erat.
"Kak Hana," panggil Haikal kepada kakaknya.
"Iya, Dek," jawab Hana, menatap Haikal sambil tersenyum.
"Apa ibu bakalan suka dengan buket bunga buatan kita?" tanya Haikal.
"Pasti suka atuh, Dek," jawab Hana.
"Gimana kalau ibu enggak suka?" Haikal kembali bertanya.
"Ibu pasti sangat menyukai buket bunga buatan kalian, Nak," timpal Aji dari kursi depan.
"Kenapa, Pak?" Kini Haikal bertanya kepada ayahnya.
"Karena kalian membuat buket bunga itu dengan penuh cinta dan kasih sayang," jawab Aji.
Haikal dan Hana saling melempar pandang seraya tersenyum.
.
.
Di rumah Bu Maryam.
"Pokoknya kamu harus menyediakan uang itu, Ni. Kakak sudah bicara sama Yandri, dan Yandri menyetujuinya. Siapkan saja uangnya 10 juta!"
Klik!
__ADS_1