
Daniar tersenyum kecut saat suaminya mengatakan bersabar.
Ya Tuhan ... aku selalu bersabar. Namun, suatu saat kesabaran ini akan terkikis pula, Kang. Aku bukan malaikat yang mempunyai hati dan pikiran suci. Aku hanya manusia biasa yang memiliki rasa. Dan entah kenapa, hanya rasa kecewa yang selalu aku miliki atas sikapmu, batin Daniar seraya pergi meninggalkan suaminya.
Daniar merebahkan tubuhnya di samping Bintang. Rasa sesak kembali mengimpit dadanya. Dia tidak menyangka jika ibu mertuanya tega berbuat seperti itu. Akankah cerita lama kembali terulang? Di mana sang suami harus kembali berkorban demi menutupi kesalahan mereka yang tidak bertanggung jawab.
.
.
Waktu yang diminta ibunya sudah melebihi batas. Hampir setiap hari, Yandri bolak-balik untuk menanyakan perihal uang tabungan anak-anak. Namun, jawaban sang ibu masih tetap sama. Belum ada!
"Ish, Yah. Tidak akan ada kalau hanya terus menunggu. Memangnya uang bisa turun dari langit begitu saja," gerutu Daniar.
"Tapi, Bun. Ayah sudah berusaha untuk menagih kepada ibu. Bunda sendiri tahu, 'kan jika setiap hari Ayah pergi ke rumah ibu untuk menanyakan hal ini?" jawab Yandri.
"Tapi batas waktu yang diminta ibu telah terlewat, Yah. Dan Ayah juga tahu jika waktu begitu cepat berlalu. Hanya tinggal dua minggu lagi ujian akan dimulai. Bunda sudah mengambil tabungan Bunda untuk menutupi DP bus. Lalu sisanya? Tiket masuknya? Dari mana kita akan mendapatkan uang untuk itu?" ungkap Daniar.
"Dari Tuhan," jawab Yandri singkat.
"Iya, Bunda tahu Tuhan itu Maha Kaya, tapi tetap saja kita harus berikhtiar. Gini aja, deh. Kalau emang Raihan membeli barang-barang elektronik itu memakai uang hasil penjualan albasia, gimana kalau Ayah meminta ibu untuk menyuruh Raihan menjual barang-barang itu lagi. Ya, minimal ibu bisa membayar uang tabungan setengahnya. Kalau harus kita tanggung semuanya, uang dari mana, Yah?" usul Daniar.
"Ya sudah, besok sore, Ayah bakalan pergi ke rumah ibu. Ayah akan meminta Raihan untuk menjual kembali barang-barang elektroniknya itu." Yandri berjanji kepada istrinya.
"Bener ya, Yah. Janji?" ucap Daniar menekan suaminya
"Iya, Bun ... Ayah janji," jawab Yandri. "Ya sudah, sekarang Ayah mau menemui bapak komite dulu. Tadi beliau menelpon Ayah dan menyuruh Ayah datang ke rumahnya. Katanya ada hal penting yang harus beliau bicarakan," pungkas Yandri.
__ADS_1
Daniar hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya.
.
.
Setelah melewati jalanan terjal, Yandri akhirnya tiba di rumah bapak komite. Seorang pria paruh baya yang sudah Yandri anggap seperti ayahnya sendiri. Pria baik hati yang selalu memotivasi Yandri dalam meraih ilmu. Kasih sayang yang diberikan oleh Pak Hendar, bukanlah berupa materi. Namun, perhatian yang cukup besar terhadap Yandri dan pendidikannya. Semua itu telah membuat Yandri sungguh sangat segan terhadap pria paruh baya yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.
"Mari silakan masuk, Pak Yan," ucap Pak Hendar menyambut kedatangan Yandri.
"Iya, terima kasih, Pak," sahut Yandri.
"Duduklah!" perintah Pak Hendar.
Yandri tersenyum, sedetik kemudian dia pun duduk di sofa. "Mohon maaf, Pak. Kalau boleh tahu, sebenarnya ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Yandri yang memang begitu penasaran dengan panggilan mendadak dari Pak Hendar.
"Hmm, tidak usah terlalu formal begitu, Pak Yan, santai saja," gurau Pak hendar.
"Sebentar ya, Pak Yan," ucap Pak Hendar. "Bu, tolong bikin minuman beserta camilannya. Setelah itu, bawa kemari," perintah Pak Hendar kepada istrinya.
"Baik, Pak. Ditunggu sebentar," jawab sang istri.
Sesaat kemudian, Pak Hendar kembali menatap Yandri dan mulai berbicara.
"Jadi begini Pak Yandri. Dua hari yang lalu, saya mendapatkan telepon dari bapak kepala desa. Beliau menyuruh saya untuk menghadap saat itu juga. Tiba di kantor kepala desa, sudah ada Ustadz Harun beserta putranya. Saya pun dimintai keterangan tentang keberadaan Pak Yandri di sekolah," tutur Pak Hendar. Sesaat pria berusia 45 tahub itu menghela napasnya.
Sebenarnya, Yandri ingin bertanya. Namun, dia melihat Pak Hendar seperti ingin melanjutkan kembali pembicaraannya. Akhirnya, Yandri mengurungkan niat untuk bertanya.
__ADS_1
"Lalu, saya menjawab setahu saya tentang keberadaan Bapak di salah satu kamar yang ada di sekolah. Saya juga menjawab jika keberadaan Bapak tidak serta merta datang begitu saja, tapi juga atas izin saya sebagai kepala komite dan juga bu Aisyah selalu pimpinan di sekolah."
"Apa keberadaan saya di sekolah memang mengganggu masyarakat setempat, Pak?" Akhirnya Yandri bertanya juga.
"Tidak, Pak Yandri. Permasalahannya bukan seperti itu," tukas Pak Hendar
"Lantas?" Yandri kembali bertanya.
"Ustadz Harun merasa keberatan dengan kegiatan yang Bapak lakukan di sekolah," jawab Pak Hendar, lirih.
"Maksud Bapak?" Yandri bertanya seraya mengernyitkan keningnya. Sungguh, dia tidak mengerti arah pembicaraan Pak Hendar selaku komite di sekolah tempat dia bekerja.
Sejenak, Pak Hendar menarik napasnya panjang. "Jadi begini, Pak Yandri. Ustadz Harun bilang, jika Bapak mempengaruhi anak-anak dengan makanan agar mereka mau mengaji di sekolah. Mungkin, Ustadz Harun keberatan dengan pengajian yang Bapak adakan, mengingat di lingkungan itu masih terdapat masjid sebagai tempat anak-anak mengaji. Jadi, Ustadz Harun mengadu kepada bapak kepala desa tentang aktivitas Bapak yang tak wajar jika dilakukan di sekolah. Menurut beliau, sekolah itu tempat untuk belajar ilmu umum, bukan untuk mengaji," jawab Pak Hendar.
Yandri terkejut mendengar penuturan bapak komite. Astaghfirullah ... kenapa ada orang yang beranggapan picik seperti itu? Kenapa harus melibatkan kepala desa? Kenapa tidak langsung berbicara saja perihal keberatan yang dia rasakan atas pengajian yang aku adakan? batin Yandri.
Yandri menghela napasnya. "Jujur saja, saya cukup terkejut mendengar permasalahan yang sampai ke pihak desa. Bahkan, saya sendiri tidak tahu jika Ustadz Harun keberatan dengan apa yang saya lakukan di sekolah selama ini. Saya minta maaf jika apa yang saya lakukan terlihat salah di mata para tokoh masyarakat. Namun, saya tidak pernah memiliki niat buruk atas apa yang saya lakukan selama ini. Dasar kenapa saya membuka kegiatan mengaji di sekolah, dikarenakan saya merasa khawatir dengan anak didik saya yang belum bisa mengaji. Saat itu, saya pernah mengajak putra Ustadz Harun untuk mengadakan pengajian di masjid. Namun, beliau menolak dengan alasan, jika anak-anak selalu ribut berlarian ke sana kemari. Sedangkan beliau berpendapat jika masjid bukan tempat untuk gaduh. Mengingat alasan tersebut, saya dan istri saya pun meminta izin ibu kepala untuk membuka pengajian di kamar. Saya sendiri tidak menyangka jika anak-anak yang ingin mengaji akan bertambah banyak, hingga akhirnya saya meminta izin kepada pak Agus untuk meminjan kelasnya sebagai tempat pengajian. Mungkin hanya itu yang bisa saya jelaskan, Pak," papar Yandri panjang lebar.
"Saya paham maksud Pak Yandri. Saya juga hanya merasa, jika ini merupakan sikap iri Ustadz Harun karena tidak bisa merangkul anak-anak dalam mengaji. Ya sudah, nanti akan saya sampaikan kepada bapak kepala desa tentang alasan Pak Yandri membuka pengajian di sana. Namun, Pak Yandri sendiri tahu, 'kan bagaimana tabiat Ustadz Harun? Saran saya, sebaiknya untuk sementara Pak Yandri hentikan dulu kegiatan pengajian itu. Bukannya saya menghalangi niat baik Pak Yandri, tapi saya tidak ingin Pak Yandri terkena masalah jika harus melawan keinginan Ustadz Harun." Pak Hendar memberikan saran kepada Yandri.
"Baiklah. Nanti akan saya diskusikan dengan istri saya, Pak," jawab Yandri.
"Hmm, sebaiknya memang begitu," timpal Pak Hendar. "Ayo, silakan dicicipi makanannya," lanjut Pak Hendar saat melihat makanan yang dibawa istrinya sudah ditaruh di atas meja.
Yandri tersenyum lagi, "Terima kasih, Pak."
Sembari mencicipi kudapan yang disuguhkan oleh istrinya Pak Hendar, Yandri dan Pak Hendar berbincang-bincang tentang keadaan sekolah. Namun, Yandri tidak bisa fokus terhadap apa yang dibicarakan Pak Hendar. Pikirannya kembali melayang pada apa yang telah Pak Hendar sampaikan.
__ADS_1
Sungguh, Yandri tidak menyangka jika semua yang dia lakukan akan menjadi pembicaraan hangat di kantor kepala desa.Lagi dan lagi, kehidupan seorang Yandri Gunawan harus ditempa ujian lagi.
Ya Tuhan ... apa ini cara Engkau menguji kesabaranku, atau memang cari Engkau untuk memuliakan derajatku? batin Yandri.