Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kebijakan Kamad


__ADS_3

Yandri bergumam pelan. Sejujurnya, apa yang dikatakan pak Mahdi, membuat Yandri sedikit merasa cemas. Dia akui jika dia memang belum pulih total. Buktinya, dia masih sering merasa pusing jika sedang melakukan aktivitas yang membuat otaknya berpikir keras. Terlebih lagi setelah melakukan kegiatan yang membutuhkan tenaga ekstra. Namun, keadaan ekonomi membuat Yandri harus kembali bekerja.


"Apanya yang dipermudahkan, Yah?" tanya Daniar yang memang mendengar gumaman suaminya.


"Eh, enggak Bun. Enggak ada apa-apa, kok." Yandri mencoba mengelak.


"Ish, enggak usah ngelak, deh. Orang tadi jelas-jelas Bunda denger Ayah menggumam, semoga dipermudahkan, gitu. Jadi, apanya yang dipermudahkan?" Daniar kembali bertanya.


"Itu, Bun. Ayah hanya sedang berdo'a saja. Semoga jalan ayah untuk kembali mengajar di sekolah ini, dipermudahkan sama Yang Maha Kuasa," kilah Yandri.


Daniar tersenyum. Dia kemudian menepuk pelan bahu suaminya.


"Tidak usah khawatir, Yah. Allah selalu memberikan kemudahan untuk setiap kebaikan. Niat Ayah, 'kan baik. Selain berjihad mencari rezeki untuk menafkahi keluarga, Ayah juga memiliki pekerjaan mulia, yaitu mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Bunda yakin jika apa yang Ayah kerjakan ini, pasti mendapat keridhoan Tuhan Yang Maha Kuasa," papar Daniar memberikan motivasi untuk sang suami.


Yandri tersenyum, dia kemudian menimpali perkataan sang istri, "Ya ... Bunda benar."


.


.


Dari hari ke hari, kondisi Khodijah semakin memburuk. Penyakit lumpuh yang dideritanya, kini tidak hanya menyerang kaki Khodijah saja. Namun, sudah menjalar ke bagian bokongnya. Khodijah pun sudah tidak mampu untuk duduk. Dia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya. Bahkan, untuk buang air besar dan kecil pun, dia lakukan di tempat tidur.


Sesekali, Aji merasa sudah tidak sanggup mengurus Khodijah. Terlebih lagi, kedua anaknya masih sekolah. Hanya putra sulungnya saja yang sudah menyelesaikan sekolahnya dan kini sedang berada di sebuah pesantren untuk melanjutkan pendidikan agama. Kini, peran Ajii tidak hanya menjadi seorang ayah saja. Dia pun akan berubah menjadi seorang ibu tatkala harus pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan sebelum kedua anaknya pergi sekolah.


Setelah anaknya berangkat sekolah, Aji kemudian memandikan istrinya. Selesai mandi, dia meluangkan waktu untuk memijat kaki istrinya dengan minyak khusus yang diberikan oleh tabib kampung. Setelah itu, Aji pun mulai bekerja beberapa jam hingga tiba kepulangan anaknya dari sekolah.

__ADS_1


Selepas dzuhur, Aji kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Selesai menunaikan kewajibannya, dia pun mengurus kedua anaknya lagi untuk berangkat Sekolah Diniyah. Saat anak-anak sudah berangkat, Yandri kembali mengurus istrinya.


Hingga menjelang magrib, pekerjaan rumah tangga Aji tidak pernah usai. Hanya anak dan istrinya yang dia urus. Hingga akhirnya, pekerjaan utama Aji untuk mencari nafkah, sedikit terbengkalai.


Hmm, apa sebaiknya aku beri tahu ibu saja tentang kondisi Khodijah? Mungkin jika ibu tahu, ibu bisa membantuku mengurus Khodijah, hingga aku bisa fokus untuk mencari uang.


Aji mulai mengotak-atik ponselnya. sedetik kemudian, dia menekan tombol demi tombol angka yang menjadi nomor telepon adik iparnya, Habibah.


.


.


Setelah tiba di sebuah gedung yang diperuntukkan para tamu menginap, Yandri dan rombongan pun turun dari mobil. Yandri mengajak istri dan adik iparnya untuk pergi ke ruang guru. Dia hendak menemui Kamad untuk bersilaturahmi dan meminta izin masuk kerja lagi.


"Assalamu'alaikum, Ustadz!" sapa Yandri begitu memasuki ruang kepala sekolah.


"Wa'alaikumsalam. Masya Allah, Ustadz Yandri ... apa kabar?" tanya Ustadz Bukhori yang cukup terkejut melihat anak buahnya sedang berada di sekolah ini pasca mengalami kecelakaan.


"Alhamdulillah, kabar saya baik, Ustadz," jawab Yandri.


"Alhamdulillah ... ayo silakan duduk!" ujar Ustadz Bukhori mempersilakan tamunya untuk duduk.


Yandri menarik kursi yang ada di depan meja kerja atasannya. Sesaat kemudian dia pun duduk di kursi tersebut.


"Bagaimana kondisinya sekarang, Ustadz? Apa sudah merasa baikan?" tanya Ustadz Bukhori.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Ustadz. Saya sudah merasa baikan sekarang," jawab Yandri mencoba menunjukkan kondisinya kepada Kamad.


"Hmm, syukurlah kalau begitu," "ucap Ustadz Bukhori. "Jadi, Ustadz Yandri sudah siap untuk bekerja lagi?" lanjutnya.


"Insya Allah, jika memang diizinkan, Ustadz," jawab Yandri, tegas.


"Baiklah, saya pasti akan mengizinkan Ustadz Yandri untuk kembali bekerja. Namun, mohon maaf sebelumnya, bukannya saya ingin mencampuri urusan pribadi para bawahan. Akan tetapi, urusan kesehatan para guru menjadi prioritas utama kami. Karena itu, saya ingin tahu seberapa besar kepulihan yang bisa Ustadz rasakan saat ini. Bisakah ustadz menceritakan semua proses penyembuhan Ustadz hingga saat ini. Cerita ustadz juga yang akan menjadi acuan bagi pihak sekolah untuk memberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuan Ustadz sendiri," papar Ustadz Bukhori panjang lebar.


Yandri paham, apa yang diminta Ustadz Bukhori adalah sebagai bentuk tanggung jawab atasan kepada bawahan. Dan ini juga tentunya untuk kebaikan diri Yandri sendiri. Karena itu, Yandri mulai bercerita tentang kesehariannya selama menjalani cuti pemulihan. Satu pun tidak ada yang dia lewatkan.


Terlihat jika Ustadz Bukhori manggut-manggut seraya mengusap-usap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis. Terkadang, dahinya berkerut saat mendengar cerita Yandri tentang kecelakaan. Dia juga menggelengkan kepala saat mendengar penuturan Yandri tentang efek-efek dari kecelakaan tersenyum. Bahkan dia merasa terkejut sekaligus iba saat Yandri mengatakan jika dia telah kehilangan indera penciumannya.


"Masya Allah ... benarkah begitu?" tanya Yandri.


Yandri mengangguk.


"Hmm, saya turut berduka Ustadz. Saya tidak menyangka jika efeknya akan sefatal itu," lanjut Ustadz Bukhori dengan wajah bersedih.


"Iya, Ustadz. Alhamdulillah semuanya telah berlalu. Sekarang, saya tinggal berbenah diri saja untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi," balas Yandri


"Baiklah, Ustadz. Berdasarkan riwayat medis yang Ustadz ceritakan, saya akan memberikan kebijakan baru, khusus untuk Ustadz yandri. Mulai hari ini, saya hanya akan memberikan Anda tugas mengajar di kelas yang berasal di lantai satu dan dua saja. Ustadz tidak perlu mengajar para siswa yang berada di lantai tiga, empat dan lima. Dan untuk tugas tambahan sebagai pengurus Tata Usaha, sebaiknya untuk saat ini Ustadz berhenti dulu. Lepas Ustadz merasa sudah sembuh total, silakan Ustadz bisa kembali membantu bagian tata usaha. Bisa dimengerti, ya Ustadz? Papar Ustadz Bukhori, memberitahukan Yandri tentang kebijakan yang dia ambil terhadap Yandri.


Kebijakan yang diberikan Kamad kepadanya memang sangat bijaksana. Yandri pun menyadari kelemahan dia saat ini. Kapasitas otak dan tenaganya sudah terbatas. Dia pun sudah tidak bisa memforsir tubuhnya untuk melakukan lembur. Tubuh Yandri akan merasa lemas seketika, kepalanya menjadi pusing dan penglihatannya terganggu jika Yandri memaksakan diri untuk bekerja.


"Baiklah Ustadz, saya mengerti."

__ADS_1


__ADS_2