
Keesokan harinya. Setelah pulang kerja, Yandri mengajak Daniar untuk menjenguk ibunya. Meskipun langkah kaki Daniar terasa berat karena harus menginjakkan kaki di rumah Rahmat lagi, tapi dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah suaminya. Ya, masih terekam jelas dalam benak Daniar saat Yandri mengatakan sikap Rahmat yang tidak memberikan izin untuk meminjamkan motor beberapa tahun lalu.
"Ayo, Bun!" ajak Yandri begitu mereka tiba di rumah Aminah.
Kalau bukan karena ibu mertuanya berada di sini, sudah barang tentu Daniar tidak ingin menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Namun, dia harus bisa mengalah dan berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa. Uuh, sepertinya dia pun harus bisa bersikap munafik di depan orang-orang munafik.
Daniar melihat ibu mertuanya yang tengah duduk di kelilingi para tetangga. Samar-samar, terdengar sang ibu mertua menceritakan kronologi kejadian tentang jatuhnya dia ke dalam jurang itu.
"Entahlah, mungkin penyakit saya sedang kambuh. Saat itu, tiba-tiba kepala saya terasa pusing. Karena tak ada pegangan, akhirnya saya terjatuh," ucap Bu Maryam.
"Saya yang kesal itu, pas lihat sikap anak bontot Ibu loh. Dia tahu kalau ibunya jatuh, eh malah ngeloyor pergi gitu aja sama perempuan. Bener-bener enggak ada akhlak tuh anak," dengus ibu paruh baya tetangga Aminah.
Mendengar hal itu, rasa sayang Daniar kepada adik iparnya mulai luntur. Daniar tidak menyangka jika Raihan sanggup berbuat seperti itu. Satu per satu, tabiat adik ipar mulai terbongkar.
Bu Maryam hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan tetangga sang anak. Apa yang dikatakan ibu paruh baya itu benar adanya. Namun, bagaimanapun juga Raihan darah dagingnya. Tidak mungkin Bu Maryam ikut-ikutan menghujat putranya sendiri.
"Hmm, mungkin saya sedang apes saja, Bu," tukas Bu Maryam.
"Bukan apes, Bu. Qadarullah," peringat Yandri yang ikut berkumpul.
"Eh, ada Nak Nauval juga, toh," sambut si ibu paruh baya itu lagi.
"Bukan kak Nauval, Bi. Saya Yandri," jawab Yandri.
"Oalah ... wajahnya mirip banget sama Nauval, ya. Ngomong-ngomong, sudah nikah kamu Yan?" tanyanya lagi.
"Sudah, Bi. Itu istri dan anak saya." Tunjuk Yandri pada Daniar yang sedang membuka sepatu anaknya.
"Masya Allah, cantik sekali istri dan anak kamu, Yan," seru ibu itu lagi. "Hei, Nak! Kemarilah!" panggilnya.
Daniar tersenyum. Setelah melepaskan sepatu Bintang, Daniar masuk dan ikut bergabung bersama mereka. Dia mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan mertuanya. Setelah itu, Daniar menyalami ibu yang memanggilnya tadi.
"Saya ini Bi Ranti, bibinya Rahmat," ucap ibu paruh baya itu memperkenalkan diri.
"Daniar, Bu," balas Daniar.
Akhirnya, perbincangan ringan pun terjadi di antara mereka.
Menjelang asar, satu per satu para tetangga yang menjenguk Bu Maryam mulai berpamitan pulang. Rumah pun kembali sepi. Hanya ada putra-putri Bu Maryam yang tersisa. Akhirnya, sidang untuk memutuskan langkah yang harus diambil pun dibuka juga.
Merasa jika statusnya hanya seorang menantu, Daniar dan Puri hanya diam di dapur seraya mengasuh anak-anak mereka.
"Usia kandungan kamu berapa bulan, Dek?" tanya Daniar kepada adik iparnya.
__ADS_1
"Menginjak delapan bulan, Kak," jawab Puri.
"Udah nggak mabok lagi dong," lanjut Daniar.
"Alhamdulillah, sejak awal pun nggak pernah muntah-muntah Kak. Dulu juga waktu hamil Kayla, Puri enggak mabok," jawab Puri
"Waah, seneng ya. Sekarang usia Kayla berapa tahun?" tanya Daniar.
"Mau tiga tahun, Kak," jawab Puri.
Tiba-tiba saja, Kayla minta buang air besar ke kamar mandi. Puri yang sudah hamil besar, tentunya merasa kesulitan saat harus berjongkok untuk membersihkan anaknya. Daniar yang ingin membantu, seketika mengurungkan niatnya di saat Bintang tidak mau turun dari pangkuannya. Puri pun memanggil suaminya. Daniar mengikuti Puri dan ikut duduk di samping suaminya.
Melihat Yoga mau membersihkan putrinya, hati Daniar tergelitik untuk menggoda suaminya. "Tuh, lihat Yah, Yoga aja mau cebokin anaknya, Ayah mah boro-boro," canda Daniar seraya tersenyum.
"Kamu bisa diam, enggak?! Itu tuh tugas istri, bukan tugas suami! Gitu aja ngeluh. Apa kamu enggak tahu kalau kita lagi pusing mikirin jalan keluar buat Raihan. Huh, mengganggu saja!" bentak Habibah panjang lebar kepada Daniar, hingga membuat semua orang melirik kepadanya.
Mendapatkan bentakan di depan keluarga Yandri, tentunya hati Daniar terasa sakit. Daniar berharap Yandri bisa membelanya. Atau setidaknya, bisa memegang tangan Daniar untuk memberikan kekuatan supaya Daniar bisa bersabar. Tapi tidak, Yandri hanya mampu membisu saat Daniar diperlakukan seperti itu oleh kakaknya.
Mata Daniar sudah berkaca-kaca. Entah kenapa, sejak menikah dengan Yandri, kakak iparnya yang satu ini selalu berkata ketus kepada Daniar. Setiap kata yang keluar dari bibirnya, selalu meninggalkan goresan luka di hati Daniar. Pernah Daniar mengeluh kepada suaminya akan sikap Habibah. Namun, sang suami hanya berkata jika itu sudah menjadi tabiat Habibah, dan dia malah menyuruh Daniar untuk mengabaikannya.
Aku bukan malaikat, Kang. Lama-lama luka yang aku pendam bisa menjadi sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja, gerutu Daniar dalam hatinya.
Daniar beranjak pergi ke luar. Dia sudah tidak ingin berada lagi di tengah-tengah keluarga Yandri. Rasanya, Daniar selalu seperti orang asing berada di antara mereka. Hmm, mungkin inilah kisah cinta tanpa restu, batin Daniar.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Lama-lama perut Mia akan semakin membesar," ucap Bu Maryam.
"Tentu saja kita harus menikahkan mereka, Bu. Tapi untuk pernikahan yang sah secara hukum negara, itu mustahil," kata Aminah.
"Iya Bu, apa yang dikatakan Kak Minah memang benar. Kita bisa kena pasal karena menikahkan anak di bawah umur," timpal Yandri.
"Lalu bagaimana? Mia dan Raihan menolak untuk menikah siri," tukas Bu Maryam.
"Ibu tegaskan saja kepada mereka, nikah siri atau tidak sama sekali. Lagi pula, Minah yakin jika Mia itu cuma pura-pura hamil saja," lanjut Aminah
"Ya, benar kata Kak Minah. Sekali-kali, Ibu harus bersikap tegas kepada Raihan. Supaya anak itu bisa mikir. Ibu jangan terus-terusan memanjakan anak itu." Yoga menimpali ucapan kakak tertuanya.
"Tapi Raihan itu masih anak-anak, Yo," jawab Bu Maryam yang selalu merasa tidak tega untuk bersikap keras terhadap si bungsu.
"Anak-anak kok, sudah bisa bikin anak." Yoga mendengus kesal.
"Lalu, biaya pernikahannya?" lanjut Bu Maryam.
Mendengar kata biaya pernikahan, semuanya bungkam. Bu Maryam hanya bisa menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya secara perlahan. Dia sadar jika semua anak-anaknya telah berumah tangga dan memiliki kebutuhan masing-masing. Namun, dia sendiri tidak sanggup harus menanggung biaya pernikahan Raihan sendirian.
__ADS_1
"Begini saja, Bu. Untuk biaya pernikahan Raihan, kita patungan saja, supaya bisa meringankan beban Ibu. Dan kita sendiri tidak terlalu berat mengeluarkan biaya," usul Yandri.
Masih diam. Ketiga saudara Yandri masih diam. Terlebih lagi Habibah. Dia pun bergumam kesal.
"Bibah enggak punya uang, Bu. Usaha kang Bahar sedang kacau. Boro-boro untuk patungan, buat makan sehari-hari juga seret," ucap Habibah.
Yandri menghela napasnya. Selalu seperti itu alasan Habibah jika ada sesuatu dengan keluarganya. Kalau enggak dipaksakan, ya mana bisa ada. Tapi sudahlah, Yandri bukan tipe orang yang bisa memaksa juga.
Yandri mengeluarkan dompetnya. Dia mengambil sepuluh lembar uang ratusan ribu.
"Yandri hanya punya ini, selebihnya silakan atur-atur sendiri. Toh pernikahan yang akan dilaksanakan juga hanya menikah siri. Yandri rasa ini cukup untuk membayar kyai. Yandri harap, Ibu juga bisa mengatur semuanya dengan baik. Yandri tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Terlebih lagi, Ibu tahu kondisi putra-putri Ibu saat ini," ucap Yandri tegas.
"Ih, kamu Yan, ngomongnya kayak enggak ikhlas banget," gerutu Habibah.
Yandri hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan kakaknya. Dia tidak berniat untuk merespon perkataan sinis Habibah. Orang seperti Habibah itu tidak akan pernah mau mengalah. Hanya buang-buang tenaga saja jika harus melayani orang seperti itu.
"Terserah Kak Bibah mau bilang apa. Yandri permisi!" ucap Yandri seraya menyalami ibunya.
"Terima kasih, Dek. Biar nanti Kak Minah yang atur. Semoga saja, Kak Minah juga punya rezeki buat nambahin," kata Aminah.
Yandri tersenyum. "Aamiin, Kak. Yandri pamit, Kak. Maaf, Yandri sama Niar enggak bisa nginep. Besok kami harus kerja lagi," ucap Yandri.
"Iya, tidak apa-apa. Kalian hati-hati di jalan," balas Aminah.
"Bintang, kemari Nak! Ayo salim dulu sama Nenek dan Uwak," perintah Yandri.
Daniar membawa Bintang untuk memasuki rumah. Namun, lagi-lagi Bintang menangis histeris. Dia sama sekali tidak ingin memasuki rumah Aminah. Hingga dengan terpaksa Daniar berpamitan dari ambang pintu.
"Kamu kenapa sih, Nak? Tiap disuruh salim sama nenek dan uwak-uwak kamu, selalu saja nangis," tanya Yandri seraya mengambil alih Bintang dari pangkuan Daniar.
"Anak kecil itu masih suci hatinya, Yah. Dia tahu mana yang menyayanginya dengan tulus dan mana yang hanya sekedar berpura-pura," dengus Daniar kesal karena ketidakpekaan sikap suaminya.
Yandri hanya tersenyum seraya merangkul pundak Daniar.
"Kita makan bakso, yuk!" ajaknya, menghibur hati Daniar.
"Hmm, modus," dengus Daniar, kesal.
"Uduuuh ... Bunda marah, Dek. Bunda cantik banget ya, Dek, kalau lagi marah. Bikin Ayah pengen nyium aja, hehehe ...."
Daniar hanya mendelikkan mata mendengar gombalan suaminya. Mereka kemudian berjalan beriringan menyusuri pematang sawah.
Inilah yang membuat Daniar merasa tidak sanggup meninggalkan Yandri. Laki-laki ini terlalu baik, meskipun sering mendapatkan perlakuan tidak adil. Karena diam-diam, tadi Daniar mendengar gerutuan Habibah saat sedang berembuk.
__ADS_1
Permudahkanlah segala urusan suami hamba, Tuhan....