Setelah Hujan

Setelah Hujan
Usaha Siska


__ADS_3

Bu Maryam menggumam pelan saat melihat benda berharga melingkar di jari manis perempuan itu. Seketika, dia teringat akan cincin kawin yang dilingkarkan almarhum suaminya saat menikah.


Cincin bertahtakan berlian yang dia minta saat acara lamaran. Awalnya, Bu Maryam hanya meminta cincin itu sebagai syarat, karena Bu Maryam memang tidak pernah menyukai pemuda yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Bu Maryam yakin, pemuda sederhana itu tidak akan mampu membelikannya sebuah cincin berlian.


Jika boleh jujur, dulu Bu Maryam tidak pernah mencintai suami pertamanya. Namun, siapa sangka jika pemuda berkulit hitam legam itu pun mampu memberinya sebuah cincin berlian. Pada akhirnya, mau tidak mau Bu Maryam menerima pinangan pemuda tersebut.


"Siska?!" pekik Habibah, mulai berakting.


Mendengar nama Siska, sontak Bu Maryam mendongak. Dan benar saja, tampak perempuan yang dibencinya, tengah berjongkok di hadapan Bu Maryam. Sesaat kemudian, Bu Maryam memalingkan wajahnya.


Siska berdiri. Dia memasang senyum termanis begitu melihat Bu Maryam dan Habibah.


"Masya Allah, ini Kak Bibah, ya," seru Siska, seraya berdiri.


"Iya, ini Bibah. Sudah lama enggak ketemu, kamu kok makin cantik saja. Anggun," puji Habibah.


"Ah, Kak Bibah bisa saja," jawab Siska sambil sesekali melirik ke arah Bu Maryam yang tampak acuh tak acuh.


Siska mendekati Habibah ketika melihat Bu Maryam mulai menjauh. Jangankan menyapa, melihat ke arahnya pun, sepertinya wanita tua itu enggan. Siska hanya bisa menarik napas panjang.


"Kak, apakah ini akan berhasil?" bisik Siska.


"Tenang saja, ini pasti berhasil. Kamu hanya perlu berakting seluwes mungkin. Selebihnya, biar Kakak yang atur," balas Habibah, berbisik pula.


"Oh iya, Sis. Aku dengar, kamu sudah jadi juragan bakso ya?" tanya Habibah, sedikit mengencangkan suaranya.


"Hehehe, bukan juragan, Kak. Hanya sekadar pedagang bakso biasa saja," sahut Siska, tak kalah kencangnya bersuara.


"Tapi udah buka cabang, 'kan? Ada berapa cabang sih? Kemaren aku coba yang di Sukaraja, hmm ... mantap sekali baksonya," tutur Habibah.


"Alhamdulillah kalau Kakak suka. Enggak banyak sih, Siska baru buka empat cabang. Rencananya untuk yang kelima, Siska mau buka cabang di mall," jawab Siska.


"Wah, hebat banget Sis. Kamu yang tangani sendiri?" tanya Habibah lagi.


"Enggak atuh, Kak. Kebetulan, Siska sedang mempelajari bisnis berlian, jadi untuk urusan bakso, ya Siska kasih ke asisten," jawab Siska.


"Bisnis berlian? Wow, hebat Kamu, Sis!" pekik Habibah, seraya melirik ibunya.


Bu Maryam yang sedang membayar belanjanya, rupanya diam-diam menguping pembicaraan dua perempuan itu. Seketika Bu Maryam tersenyum mendengar kata berlian. Hmm, sepertinya ... sudah banyak kemajuan perempuan itu, guman Bu Maryam dalam hati.


"Ayo, Bah!" teriak Bu Maryam, mengajak anaknya untuk pulang.


"Ya sudah, Sis. Aku sama ibu pulang dulu," pamit Habibah.


"Tunggu, Kak! Kalian pulang naik apa?" tanya Siska.

__ADS_1


"Naik bus atuh, Sis. Memangnya naik apa lagi?" jawab Habibah.


"Kenapa tidak mampir ke kedai bakso yang ada di sini saja. Nanti sepulang dari kedai, biar aku antar Kakak sama ibu pulang ke rumah," tawar Siska.


"Aku sih mau saja, Sis. Tapi Ibu ...." jawab Habibah menjeda kalimatnya.


"Sebentar," ucap Siska.


Sedetik kemudian, Siska menghampiri Bu Maryam. Dia mengatupkan kedua tangan sebagai tanda memberi salam. Dia sadar, kalau ibu dari pria yang dicintainya itu, tidak mungkin mau berjabat tangan langsung dengannya.


"Salam, Ibu. Jika Ibu berkenan, maukah Ibu mampir ke kedai bakso saya dulu. Mumpung Ibu masih di sini juga. Nanti, pulangnya biar saya antar."


Dengan harap-harap cemas, Siska menawarkan Bu Maryam untuk mampir ke kedai bakso miliknya. Meskipun jawaban iya, sangat tipis. Namun, tidak ada salahnya dia mencoba mendekatkan diri dengan wanita tua itu.


"Baiklah, saya akan mampir."


.


.


"Bunda, apa Bunda tahu kalau minggu depan ayah mau pulang?" kata Bintang.


"Benarkah? Bibin tahu dari mana?" Daniar balik bertanya.


"Hmm, ya sudah, Nak. Tidak apa-apa," sahut Daniar seraya mengusap pucuk kepala putrinya. "Terus, ayah bilang apa?" tanya Daniar.


"Ayah ngajakin Bibin main, Bu," jawab Bintang.


"Benarkah? Mau main ke mana?" tanya Daniar lagi.


"Ke mall." Bintang kembali menjawab.


Daniar menautkan kedua alisnya. "Kok ke mall?" tanyanya.


"Sengaja, Bun. Bibin mau beli peralatan sekolah yang baru. Sebentar lagi Bibin kan masuk SMP," jawab Bintang.


Daniar menghampiri putrinya. Dia kemudian merangkul Bintang seraya berkata, "Subhanallah ... anak Bunda ternyata sudah besar. Sudah mau masuk SMP saja."


Bu Salma yang mendengar obrolan anak dan cucunya, hanya bisa menatap mereka dengan mata yang berkaca-kaca.


Bintang sudah mau masuk SMP saja. Itu artinya, sudah 4 tahun Daniar dan Yandri berpisah. Ah, yah ... seandainya ayah masih di sini, pasti perpisahan mereka tidak akan terjadi. Dan Bintang bisa berkumpul dengan orang tuanya, batin Bu Salma, perih.


.


.

__ADS_1


Malam hari, di rumah Bu Maryam.


Semua orang tampak berkumpul untuk makan malam. Selesai makan malam, mereka masih berkumpul untuk menikmati parcel buah dari Siska.


"Apa Ibu mau bibah kupasin jeruk?" tanya Habibah.


"Boleh," jawab Bu Maryam, masih menatap sinetron ikan terbang kesukaannya.


Habibah mengambil buah jeruk dari keranjang parcel. Dengan cekatan, dia kupas buah itu dan segera memberikannya kepada Bu Maryam. Beberapa menit kemudian, mereka mulai berbincang-bincang. Hingga akhirnya, Bu Maryam mulai bertanya tentang kejadian tadi siang di pasar induk.


"Oh iya, Bah. Tadi kalian ngobrol apa saja?" tanya Bu Maryam.


Habibah mengernyit. "Maksud Ibu? Memangnya Bibah ngobrol sama siapa?"


"Ish, itu ... waktu di depan kios buah, kamu ngomongin apaan sama tuh perempuan. Apa dia menanyakan tentang Yandri?" tanya Bu Maryam.


Ah, sekarang Habibah mulai mengerti arah pembicaraan ibunya. Karena rasa gengsi, rupanya Bu Maryam masih enggan untuk menyebut nama Siska.


"Siska maksud Ibu?" tanya Habibah.


"Hmm, siapa lagi," jawab Bu Maryam.


"Enggak tuh, dia enggak nanyain Yandri juga. Mungkin sudah lupa," pancing Habibah.


Ekspresi wajah Bu Maryam langsung kecut.


"Huh, katanya cinta, tapi sudah melupakan," gumam Bu Maryam.


"Ya wajar lah, Bu. Percuma juga diingat jika tidak akan pernah dimiliki," timpal Habibah.


"Maksud kamu?" Kini Bu Maryam yang mulai tidak mengerti arah pembicaraan putrinya.


"Iya, Ibu, 'kan enggak pernah setuju kalau Siska jadi mantu Ibu. Ya daripada ngarepin pepesan kosong, lebih baik melupakan pepesan itu, bener 'kan?" lanjut Habibah.


"Ish, siapa bilang Ibu enggak setuju. Ibu cuma ingin melihat usaha tuh perempuan dalam memperbaiki dirinya untuk mencintai Yandri. Ya kalau dia sudah berubah, enggak ada alasan juga Ibu untuk nggak setuju," papar Bu Maryam.


"Apa ini artinya Ibu memberikan kesempatan kepada Siska untuk mendekati Yandri lagi?" tanya Habibah yang mulai melihat lampu hijau dari ibunya.


"Ya, kita lihat saja usahanya seperti apa," jawab Bu Maryam seraya berlalu pergi.


Hmm, sudah kuduga, batin Habibah menyeringai.


Tak lama setelah ibunya masuk kamar, Habibah pun membereskan ruang keluarga. Hari sudah malam, sudah waktunya beristirahat.


Sebaiknya, besok pagi aja aku beri tahu Siska tentang perkembangan rencana ini.

__ADS_1


__ADS_2