
Hari demi hari berlalu hingga berganti bulan. Tanpa terasa, usia kandungan Daniar sudah memasuki bulan kelima. Morning sickness yang dia rasakan di pagi hari, sudah mulai berkurang. Bahkan, kini Daniar mulai bisa memasukkan makanan ke dalam perutnya. Ya, walaupun hanya sedikit demi sedikit.
Sabtu pagi, Wak Sumi yang tak lain adalah kakak kandung bu Salma datang mengunjungi Daniar. Kebetulan, sudah hampir sepekan bu Salma pergi menjenguk suaminya yang sedang sakit di perantauan. Daniar hanya tinggal berdua dengan adik bungsunya. Sedangkan sang adik, jarang sekali berada di rumah. Karena itu Wak Sumi berinisiatif untuk mengajak Daniar menginap di rumahnya.
"Apa suami kamu pulang hari ini, Niar?" tanya Wak Sumi.
"Pulang, Wak," jawab Daniar.
"Baguslah kalau begitu. Hmm, bagaimana kalau nanti malam kalian tidur di rumah Uwak," kata Wak Sumi.
Daniar tampak berpikir. Sebenarnya, dia bukan tidak ingin menginap di rumah kerabatnya itu. Hanya saja, terkadang dia merasa khawatir akan sikap sepupunya yang memiliki emosi labil. Sikap temperamental sepupunya terkadang tidak pernah bisa diduga. Sejak kejadian beberapa tahun yang lalu, saat sang sepupu menyerang kakaknya sendiri di depan mata Daniar, sejak saat itu Daniar enggan mendatangi rumah kerabatnya itu.
"Kok diem, Niar? Bagaimana kalau kalian menginap di rumah Uwak? Sudah lama juga kamu tidak pernah menginap di rumah Uwak. Apalagi semenjak kamu menikah," ujar Wak Sumi.
"Iya, Wak. Nanti Niar bicarakan dulu dengan kang Yandri," jawab Daniar.
"Iya, bicaralah dengan suami kamu terlebih dahulu. Semoga saja, Yandri mau menginap di rumah Uwak ya, Niar," lanjut Wak Sumi.
"Insya Allah, Wak," balas Daniar.
"Ya sudah, kalau begitu Uwak pulang dulu, ya. Jangan lupa, bicaralah sama suami kamu. Uwak tunggu kedatangan kalian nanti malam," pesan Wak Sumi kepada keponakannya.
Lagi-lagi Daniar mengangguk menanggapi ucapan Uwaknya. Setelah Wak Sumi pergi, Daniar kemudian menutup pintu rumahnya.
.
.
Di rumah Bu Maryam. Seorang gadis berhijab masih setia menunggu kedatangan lelaki pujaannya. Rasa yang menggebu di hatinya, telah membutakan dia sehingga wanita itu nekat mengunjungi Yandri di rumahnya.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri begitu tiba di rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Maryam. Wanita tua itu bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan untuk membuka pintu. "Kamu sudah pulang, Yan?" tegur Bu Maryam, "kok tumben pulangnya masih siangan?" tanya Bu Maryam mengerutkan keningnya.
"Iya, Bu. Hari ini memang jadwal ngajarnya tidak begitu padat. Karena itu Yandri bisa pulang cepat," jawab Yandri.
"Hmm, baguslah kamu sudah pulang. Ada seseorang yang sedang nungguin kamu di ruang tamu," balas Bu Maryam.
__ADS_1
"Benarkah? Siapa Bu?" tanya Yandri.
"Tuh!" Dagu Bu Maryam menunjuk kepada seorang wanita berhijab yang tengah tertunduk.
Yandri mengernyit. Dia merasa heran ketika melihat Enna tengah duduk di sofa. Ish, mau ngapain dia datang kemari? kata Yandri dalam hatinya.
"Yandri ke kamar dulu, Bu."
Tak ingin terlalu pusing dengan kehadiran Enna di rumahnya, Yandri berpamitan untuk masuk kamar.
"Eh, kok kamar sih, Yan. Itu ada Enna mau ketemu sama kamu. Samperin dulu kenapa? Enggak baik loh, Yan, mengabaikan tamunya. Inget ya, Ibu enggak pernah ngajarin kamu untuk bersikap kurang ajar ya, sama perempuan" tegur Bu Maryam, memasang kalimat yang penuh penekanan.
Yandri hanya menarik napasnya. Sejurus kemudian, dia melangkahkan kaki ke ruang tamu untuk menemui Enna.
"Ada apa kamu datang kemari?" tanya Yandri tanpa basa-basi.
"Duduk dulu, Yan. Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu," jawab Enna.
"Maaf, En. Saya tidak punya waktu banyak. Cepat katakan, ada keperluan apa kamu datang kemari?" tanya Yandri, ketus.
"A-aku ... aku mengajukan gugatan cerai untuk suamiku," cicit Enna hampir tidak terdengar.
"Ti-tidak ada hubungannya denganmu, Yan. Aku datang ke sini hanya untuk memberi tahu kamu jika dalam waktu beberapa bulan lagi, aku akan kembali menjadi wanita single," jawab Enna.
Yandri tersenyum kecut. Sesaat kemudian, dia pun berkata, "Kamu wanita single ataupun bukan, itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi aku. Satu hal yang harus kamu ingat. Aku sudah menikah, dan aku sangat mencintai istriku. Jadi aku harap, kamu bisa memahami hal itu dan menjauh dari kehidupanku. Permisi!" balas Yandri seraya pergi ke kamarnya
Enna hanya bisa menundukkan wajah saat mendapatkan penolakan dari mantan kekasihnya itu. Ish, apa yang harus aku lakukan untuk bisa merebut kembali hatinya? Aku yakin jika Yandri masih sangat mencintaiku, batin Enna penuh dengan percaya diri.
.
.
Menjelang asar, Yandri tiba di rumah mertuanya. Dia langsung memeluk Daniar dan mengusap perut istrinya yang sudah terlihat membesar.
"Halo Dedek, apa kabar? Hmm, Ayah harap, Dedek udah enggak rewel lagi, 'kan? Jangan selalu menyusahkan Bunda terus ya, Nak. Kasihan Bunda kamu karena harus melewati masa mengandung sendirian," ucap Yandri, terus mengelus-elus perut Daniar.
"Tidak Ayah, Dedek enggak pernah repotin Bunda," jawab Daniar dengan suara mirip anak kecil.
__ADS_1
Yandri tersenyum. Dia kembali merangkul Daniar dan memeluknya.
"Eh iya, Kang. Tadi wak Sumi datang kemari," kata Daniar yang teringat akan pesan uwaknya.
"Oh ya, ada apa uwak kamu datang, Yar?" tanya Yandri.
"Beliau minta kita buat menginap di rumahnya," jawab Daniar.
"Hmm, boleh juga tuh. Lagi pula, sudah lama kita enggak main ke rumah uwak kamu," jawab Yandri.
Daniar diam. Ada keraguan terselip di hatinya. Entahlah, sejak sepupunya divonis menderita gangguan emosi, Daniar menjadi sedikit takut untuk bertamu ke rumah saudaranya itu.
"Kok diam, Yar? Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" Yandri kembali bertanya.
"Entahlah, Kang. Niar cuma enggak yakin saja kalau kita harus menginap di tempat uwak," jawab Daniar.
"Tidak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja," jawab Yandri kembali merangkul istrinya.
.
.
Pukul 17.30 Daniar dan Yandri pergi ke rumah wak Sumi. Wanita tua itu terlihat senang sekali dengan kedatangan keponakannya. Ya, sejak putrinya menikah dan dibawa oleh suaminya, wak Sumi selalu merasa kesepian. Karena itu dia sering meminta Danisa, untuk menginap di rumahnya. Ya, hanya Danisa lah satu-satunya keponakan wak Sumi yang belum menikah.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian datang juga," ucap Wak Sumi menyambut kedatangan Daniar dan Yandri.
"Iya, Wak. Sudah lama juga Niar enggak main ke rumah Uwak," jawab Daniar.
"Hmm, kamu bener juga, Ni. Ya sudah, masuk yuk!" ajak Wak Sumi seraya menggandeng tangan Daniar.
Tiba di ruang keluarga, tampak putra sulung Wak Sumi sedang menonton TV. Saat melihat Daniar dan Yandri, Ilham berdiri untuk menyapa sepupunya.
"Hai Ni, Yan, apa kabar?" sapa Ilham.
"Alhamdulillah, kabar kami baik-baik saja, Kak," jawab Daniar.
Mereka kemudian saling bersalaman.
__ADS_1
"Ayo, duduk Ni," ucap Ilham mempersilakan kedua tamunya untuk duduk. Tak lama kemudian, Ilham pergi ke kamarnya.