Setelah Hujan

Setelah Hujan
Pulang


__ADS_3

Sesuai janjinya, Bu Megi menyerahkan dua dus kecil berisi cupcake viral kepada Siska.


Wanita bertubuh mungil itu terlihat sangat senang. Dia mencoba mencicipi cupcake tersebut. Matanya tidak berkedip saat kue itu terasa lumer di mulutnya.


"Hmm, lezat sekali, Bi? Siapa yang membuatnya?" tanya Siska, penasaran.


"Entahlah, Bibi tidak tahu. Mungkin orang tua murid, Sis. Soalnya di kantin itu banyak makanan dari hasil tangan para wali murid," sahut Bu Megi.


"Wah, boleh nih, kalau buat acara-acara. Enggak malu-maluin untuk dijadikan jamuan," timpal Siska.


"Hmm, atur aja, Sis. Bibi juga punya langganan orang yang suka bikin kue basah kalau Bibi mengadakan arisan di rumah," lanjut Bu Megi.


"Siap, Bi. Nanti kalau Siska bertunangan, Siska mau cupcake ini sebagai desert-nya. Bisa, 'kan?" ungkap Siska mengutarakan keinginannya.


"Iya-iya, nanti Bibi cari tahu siapa yang bikin cupcake itu. Ya sudah ya, Bibi pulang dulu. Jangan lupa, berikan satu dus lagi buat calon mertua kamu, biar makin disayang," gurau Bu Megi.


"Hmm, pastinya ...."


.


.


Setelah memutuskan untuk resign dan membuka orderan kue lewat online. Satu per satu, pelanggan yang mulai menghilang dulu, perlahan kembali lagi. Ditambah, Penilaian Akhir Tahun telah berakhir. Daniar hanya tinggal mengolah nilai raport dan itu bisa ia kerjakan dari rumah.


Setelah nilai terkumpul dan melakukan remidial terhadap anak yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimum, Daniar pun mulai mengolah nilai raport.


Sengaja Daniar mengerjakan raport lebih awal, agar bisa cepat selesai dan dia mulai fokus kepada pekerjaan barunya.


Awalnya, Bintang memprotes sikap Daniar yang memutuskan resign tanpa berembuk dulu dengan dirinya. Namun, setelah diberikan penjelasan yang sangat masuk akal, akhirnya dia mulai mengerti. Justru, sekarang Bintang pun lebih giat membantu ibunya. Dia yakin jika suatu hari nanti, usaha ibunya ini akan menjadi sebuah usaha yang cukup besar kelak.


.


.


"Uuh, pantas saja kue ini cukup terkenal. Ternyata enak juga, ya" ucap Bu Maryam saat mencicipi kue yang dibawakan calon mantunya.


"Hmm, syukurlah kalau Ibu suka," balas Siska.

__ADS_1


"Iya, Nak. Tidak ada alasan bagi Ibu untuk tidak menyukai kue seenak ini, Sis. Selain rasanya enak, Ibu juga harus menghargai usaha kamu yang sudah meluangkan waktu untuk mencari apa yang Ibu mau. Makasih Nak, kamu memang calon mantu yang baik. Sudah baik, cantik pula," puji Bu Maryam.


Hidung Siska seakan mengembang ketika mendengar pujian calon ibu mertua. Itu artinya, hanya tinggal satu langkah lagi, Siska pasti bisa memiliki Yandri seutuhnya. Yaitu persetujuan dari Yandri sendiri untuk menerimanya sebagai pendamping hidup.


"Bu, kapan Yandri pulang? Semester ketiga sudah mulai habis, tapi kenapa belum ada kabar juga dari Yandri?" tanya Siska sedikit merajuk kepada Bu Maryam.


"Ibu sendiri tidak tahu, Sis. Yandri sudah tidak bisa dihubungi. Entah dia sibuk atau mengganti nomor teleponnya. Kamu bersabarlah, sedikit lagi Nak. Toh Yandri masih memiliki ibu. Sejauh apa pun kakinya melangkah, dia akan tetap pulang ke rumah ibunya juga," jawab Bu Maryam penuh keyakinan.


"Ya tapi kapan, Bu. Selama ini Siska sudah cukup bersabar menunggu Yandri, Bu. Meskipun tanpa ada kepastian. Namun, lama-lama kesabaran Siska juga mulai terkikis, Bu," balas Siska.


"Apa maksud kamu terkikis? Apa kamu sudah memiliki pria yang lain?" tuding Bu Maryam.


"Ih tidak seperti itu juga, Bu. Siska siap menunggu, tapi dengan satu kepastian. Kalau Yandri tidak bisa memberikan kepastian, tidak menutup kemungkinan jika penantian Siska ini hanya akan sia-sia." Lagi-lagi Siska mengeluhkan keadaannya.


Bu Maryam terdiam. Apa yang dikatakan Siska memang tidaklah salah. Namun, Bu Maryam sendiri tidak bisa memberikan kepastian kepada calon mantu idamannya.


"Ya sudah, Nak. Bersabarlah sedikit lagi. Ibu akan berusaha untuk mencari jalan supaya bisa menekan Yandri." Bu Maryam mencoba menenangkan Siska.


Huft!


Siska hanya membuang napas dengan kasar. Lagi-lagi sebuah janji, dan entah kapan semua janji itu akan terwujud. Siska hanya bisa mengelus dada. Sejauh apa pun dia merasa kesal, tapi dia tidak bisa menunjukkan semua rasa kesalnya itu kepada Bu Maryam.


.


.


Waktu terus berlalu begitu cepat. Kenaikan kelas sudah berakhir. pengumuman penerimaan siswa baru pun sudah dimulai.


Bintang hanya bisa melipat kertas hasil pengumuman seleksi beasiswa akademik SMKN Panca. Bintang merasa gembira dengan kabar yang tertulis di sana. Dia telah berhasil menjadi salah satu pemenang beasiswa di antara 9 pemenang yang lainnya. Bahkan Bintang menjadi kandidat yang mendapatkan nilai tertinggi dalam tes akademik yang diselenggarakan SMKN Panca.


Namun, apalah arti kabar gembira tersebut ketika Bintang mengetahui jika dia tidak akan bisa bersekolah di tempat elite itu.


Bintang pulang ke rumah dengan wajah yang tak biasa. Seberapa besar pun Bintang bersikap untuk tetap berjiwa besar. Namun, rasa kecewa tentu saja ada. Bintang pun hanya bisa pasrah pada garis nasib yang harus dia lalui.


Hingga suatu hari....


"Bin, Bunda dapat surat panggilan dari SMKN Panca. Katanya, dia menunggu kita untuk interview, lusa," ujar Daniar.

__ADS_1


Bintang terkejut. Bagaimana mungkin ibunya tahu perihal SMKN Panca.


"Kok kamu nggak bilang ke Bunda, kalau kamu ikutan beasiswa akademik di sana?" Daniar kembali bertanya.


"Maaf, Bun. Bibin hanya ingin mengukur kemampuan Bibin saja. Bibin tidak berniat untuk masuk ke sana, kok," tukas Bintang menutupi keinginannya.


Daniar menghentikan pekerjaan. Sejenak dia menatap putrinya dengan intens. Dia tahu jika saat ini Bintang sedang menutupi suatu keadaan.


"Nak, jika kamu memang menginginkan untuk bersekolah di sana, Bunda akan mendukungnya seratus persen," ucap Daniar.


"Enggak, Bun. Sekolah di mana pun, sama saja." Lirih Bintang, berbohong.


"Lusa kita wawancara, dan Bunda tidak menerima penolakan!" tegas Daniar.


"Tapi, Bun," sahut Bintang terlihat ragu.


"Sudah, mari kita segera bereskan pekerjaannya. Biar bisa diantarkan dan cepat dapat penghasilan juga," tutut Daniar.


Bintang tidak ingin membantah lagi. Dia pun segera menggulung kulit dadar gulung untuk orderan kue basah milik Bu RT.


"Bun, bagaimana kalau kita beri label pada kue-kue yang kita buat," usul Bintang.


"Hmm, boleh tuh idenya, Nak," jawab Daniar.


"Iya Bun. Nanti kita pesan dus yang khusus. Kita berikan nama juga di atas dusnya. Kira-kira, nama yang cocok apa ya, Bun?" gumam Bintang, matanya menerawang jauh, menatap kosong langit-langit dapur.


"Bagaimana dengan Stars Bakery?" usul Daniar.


"Stars Bakery?" ulang Bintang.


" Iya, toko roti milik Bintang, hehehe," jawab Daniar sambil terkekeh.


Bintang hanya sedikit mengerucutkan bibirnya. Meskipun dalam hati, dia merasa bangga dengan nama yang telah diberikan ibunya.


.


.

__ADS_1


Akhirnya, alat transportasi udara milik yayasan sekolah tempat Yandri bekerja, tiba juga di bandara Kertajati. Yandri segera merapikan jasnya. Beberapa menit setelah pesawat itu mendarat sempurna dan pintunya terbuka, Yandri berjalan kaki menuju pintu utama.


"Alhamdulillah ... akhirnya aku kembali ke negara sendiri."


__ADS_2