Setelah Hujan

Setelah Hujan
Sandiwara yang Manis


__ADS_3

Seno menoleh, begitu juga dengan Daniar.


"Kamu?" ujar Seno


"Yandri?" gumam Daniar.


"Hmm, kenapa tidak bilang jika kamu mau bertemu MANTAN tunangan kamu, jadi saya, 'kan bisa mengantarkan kamu," ucap Yandri sengaja menekankan kata mantan agar Seno menyadari statusnya saat ini.


Yandri tersenyum seraya menatap Daniar. Namun, entah kenapa Daniar merasa ada yang berbeda dari senyum dan tatapan Yandri saat ini. Seringai penuh misteri dan tatapan tajam Yandri seolah seperti sedang mengintimidasi dirinya.


"Ma-maaf." Hanya kata maaf yang terucap lirih dari bibir tipis Daniar.


"Huh, memangnya siapa elu ... sampai-sampai Daniar harus lapor terlebih dahulu sama lu tentang semua kegiatannya?" cibir Seno.


"Aku suaminya. Hmm, apa Anda melupakan hal itu?"


"Bhuahahaha...."


Seno tertawa terbahak-bahak saat mendengar pengakuan Yandri. Hmm, wajar jika Seno bersikap seperti itu. Karena kini, Seno memiliki kartu As atas pernikahan Daniar yang hanya sekadar kebohongan belaka.


Tawa Seno yang menggema di ruangan kafe, membuat para pengunjung kafe semakin menatap heran kepada ketiga orang yang sedang bersitegang. Begitu juga dengan Daniar dan Yandri. Mereka hanya bisa saling pandang tanpa mampu mengartikan tawa Seno.


"Hmm sebaiknya kita pulang Sayang," ajak Yandri meraih tangan Daniar.


"Lancang sekali lu sentuh wanita gue. Dasar laki-laki bejat!" umpat Seno yang tidak terima Daniar disentuh laki-laki lain.


"Eh, apa urusannya denganmu. Wanita ini, istri saya, jadi terserah saya mau menyentuhnya atau tidak," jawab Yandri.


"Cukup Yandri Gunawan! Jangan lu kira gue nggak tahu permainan kalian. Asal kalian tahu saja, gue sudah tahu fakta yang sebenarnya. Dan kebenaran itu berkata, jika kalian ini sama sekali bukan suami istri. Jadi, jangan pernah lagi bersandiwara di hadapan gue. Paham!" teriak Seno.


Kembali Yandri dan Daniar saling tatap. Yandri sangat terkejut jika kebohongannya akan terbongkar secepat ini. Namun, dia masih berusaha untuk bersikap tenang. Sedangkan Daniar, dia hanya bisa pasrah jika setelah ini, Seno akan kembali gencar mengganggunya.


"Hahaha,...."


Kini giliran Yandri yang tertawa. Membuat Seno dan Daniar mengernyitkan keningnya. Seno menatap Yandri penuh kejijikan. Sedangkan Daniar, dia hanya bisa menarik napasnya panjang melihat sikap Yandri.

__ADS_1


Ish, apa lagi yang kamu lakukan, Yan? batin Daniar, menatap heran ke arah Yandri.


"Rupanya ada yang belum bisa move on, Sayang," ucap Yandri, "hmm, benar-benar tidak tahu malu. Ambisi Anda rupanya sudah membuat Anda buta, Bung. Sampai-sampai Anda tidak bisa mengakui jika wanita ini telah berpaling dari masa lalunya," ejek Yandri.


"Diam lu! Daniar milik gue, dan akan selamanya menjadi milik gue. Ngerti lu!" teriak Seno.


"Hmm, sayangnya ... fakta yang terjadi adalah, Daniar, istri saya!" tegas Yandri.


"Istri secara apa, hah? Secara hukum? Secara agama? Cih, lu pikir gue nggak tahu kebusukan elu. Jika memang kalian sudah menikah. Berikan gue bukti. Tunjukkan buku pernikahan kalian, sekarang juga!" Tantang Seno.


Lagi-lagi Yandri tertawa mendengar kalimat tantangan dari Seno. Orang yang sama sekali tidak dia kenal.


"Ayolah, Bung ... apa kami harus selalu membawa dokumen tersebut ke mana pun kami pergi, hanya karena Anda merasa tidak yakin atas pernikahan kami?" tanya Yandri mencoba mengelak.


"Cih, bilang saja kalian tidak punya dokumen sah seperti itu. Dan itu membuktikan jika pernikahan yang kalian akui, itu hanya omong kosong belaka!" umpat Seno.


"Hentikan Seno! Kamu tidak berhak mempertanyakan pernikahan kami. Apa kamu sadar, jika kamu mencampuri privasi kami terlalu jauh?"


Daniar ikut bicara. Dia sudah jengah dengan sikap Seno yang seenak jidatnya saja. Jika tidak dihentikan, bisa-bisa Seno mempermalukan Yandri di tempat umum. Tiga tahun menjalin hubungan dengannya, sudah cukup mengetahui bagaimana sifat dan karakter Seno.


Daniar terhenyak mendengar perintah Seno.


Sedangkan Yandri, dia hanya memutar kedua bola matanya. Yandri merasa jengah dengan sikap Seno yang begitu kekanak-kanakan.


"Hmm, jangan bilang jika kartu itu tertinggal juga," ledek Seno.


"Sudahlah, Yan. Ayo kita pulang, jangan sampai kita menjadi gila karena meladeni orang gila seperti dia," ucap Daniar meraih tangan Yandri.


"Hahaha, bilang saja kalian tidak bisa membuktikan pernikahan palsu kalian! Ayo, mana?" desak Seno.


Daniar semakin geram. Dia mulai menarik Yandri untuk segera meninggalkan Seno. Namun, bukannya bergerak menjauh, Yandri malah mendekati Daniar. Tangannya meraih dagu Daniar dan menariknya perlahan. Di detik berikutnya, bibir Yandri menyentuh bibir Daniar penuh kelembutan. Sedikit menyesapnya sehingga Daniar bisa merasakan kehangatan menjalari sekujur tubuhnya.


Daniar sangat terkejut, dia hendak berontak. Namun, jika dia berontak, bukan hanya Yandri yang akan mendapatkan rasa malu, tetapi dirinya juga. Dengan memberontak, dia hanya akan memberikan sebuah kemenangan kepada Seno. Akhirnya Daniar pasrah dengan perlakuan Yandri.


Daniar memejamkan mata. Dia tidak bisa menampik jika dia sangat merindukan sentuhan. Terlebih lagi sentuhan yang bisa membuat dia merasa dihargai sebagai seorang wanita. Dan entah kenapa, ciuman yang dilayangkan pria jangkung ini, membuat Daniar merasa sempurna menjadi seorang wanita. Kelembutannya, kehangatannya, sapuan indera perasa milik laki-laki itu begitu halus menyusuri bibir Daniar yang mulai terasa basah.

__ADS_1


Yandri melepaskan ciumannya untuk beberapa detik. Membiarkan wanita itu meraup oksigen lebih banyak lagi, sepersekian detik berikutnya, dia kembali melu'mat bibir tipis berwarna pink milik Daniar.


Kedua bola mata Seno membulat sempurna melihat adegan panas di hadapannya. Wajahnya merah padam karena amarah. Seno mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar tidak terima dengan sikap Yandri yang berani menyentuh wanitanya. Sesaat kemudian, tangan itu terangkat hendak memukul laki-laki yang tengah asyik menikmati ranumnya bibir Daniar. Tiba-tiba,


Grep!


"Hentikan Seno! Apa kamu tidak bisa melihat bukti yang mereka tunjukkan? Gue rasa, Daniar bukan wanita gampangan sehingga dia bisa menerima perlakuan laki-laki itu begitu saja. Jika memang Daniar hanya diam saja mendapatkan perlakuan laki-laki tersebut, itu artinya, ada ikatan yang sah di antara mereka. Cukup, jangan permalukan lagi harga dirimu! Ayo kita pergi dari sini!"


Aldi mencekal pergelangan tangan Seno dan menariknya keluar. Adegan panas yang sedang berlangsung di hadapan umum, sudah cukup bagi Aldi untuk membuktikan jika memang Daniar bukan wanita single lagi. Dia kemudian menyeret adik angkatnya untuk segera pergi dari kafe itu.


Yandri memicingkan sebelah matanya. Dia melihat kedua pria itu keluar dari kafe. Sejurus kemudian, dia melepaskan pagutannya.


"Maaf," bisik Yandri di telinga Daniar.


"Ti-tidak apa-apa," jawab Daniar gugup. "a-aku paham kita harus bersandiwara seperti ini untuk meyakinkan laki-laki brengsek itu," balas Daniar seraya menundukkan kepalanya karena merasa malu.


Ya kamu benar. Tapi ini sandiwara yang sangat manis, Nona, batin Yandri.


"Sudah sore, sebaiknya aku antar kamu pulang," ucap Yandri seraya membenarkan rambut Daniar yang sedikit acak-acakan.


Swiiit-swiiitt!


Prok-prok-prok!


Riuh tepuk tangan dan suitan para pengunjung kafe mengiringi langkah Yandri dan Daniar keluar dari kafe.


"Semoga langgeng terus pernikahannya ya, Mas, Mbak!" teriak salah satu pengunjung kafe.


"Samawa, Mas sama Mbak-nya," seru pengunjung yang lain.


"Cepet dikasih momongan ya, biar nggak ada yang gangguin lagi!" timpal pengunjung satunya lagi.


Daniar dan Yandri hanya melempar senyum menanggapi do'a para pengunjung kafe.


Ya Allah ... apa yang akan terjadi pada kisah ini selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2