
Daniar begitu senang bisa mendapatkan pekerjaan. Ya, meskipun dia mengajar tiga hari dalam seminggu, tapi setidaknya dia tidak harus berpangku tangan terus di rumah mertuanya. Sikap sang mertua pun sudah mulai berubah semenjak Daniar bekerja.
Di sela-sela kesibukannya bekerja, tak lupa Daniar juga menyelesaikan tugas akhirnya. Waktu sidang hanya tinggal dua minggu lagi, karena itu Daniar lebih giat mengkaji tugas akhirnya untuk mempersiapkan sidang.
"Bagaimana Sayang, apa jadwal sidangnya sudah ada?" tanya Yandri saat mereka sedang menikmati jam istirahatnya di sekolah.
"Sudah, Kang," jawab Daniar.
"Kapan?" tanya Yandri lagi
"Senin besok." Daniar kembali menjawab.
Yandri terdiam. Sejenak dia merasa kebingungan karena jadwal sidang Daniar bertepatan dengan agenda rapat yang harus diikuti setiap operator sekolah.
"Senin depan Akang ada rapat OPS, Yar," kata Yandri.
"Lantas?" balas Daniar seraya terus menikmati makanannya.
"Kemungkinan Akang tidak bisa mengantarkan kamu untuk mengikuti sidang," sahut Yandri.
Daniar menghentikan kunyahan nya. Dia menatap lembut ke arah Yandri seraya berkata, "Tidak apa-apa, Kang. Minta do'anya saja supaya sidang Niar berjalan lancar."
"Hmm, pasti Akang do'akan, Yar. Semoga kamu diberikan kemudahan dalam menjawab pertanyaan dari para dosen penguji," kata Yandri.
"Aamiin," jawab Daniar.
Tak berapa lama kemudian, jam istirahat berakhir. Yandri dan Daniar pergi menuju kelasnya masing-masing.
.
.
Seminggu kemudian, diantar suaminya hingga ke tepi jalan raya, akhirnya Daniar berangkat menaiki bus untuk pergi ke kampus. Hari ini Daniar akan mengikuti sidang sesi kedua. Tiba di kampus, Daniar menuju aula kampus tempat sidang dilaksanakan.
"Hai, Ni!" sapa Nida dari kejauhan.
Daniar menoleh saat mendengar sapaan sahabatnya. Dia kemudian mempercepat langkahnya menuju depan aula tatkala melihat Nida dan teman-teman satu angkatan sudah berkumpul di sana.
"Apa sidangnya sudah dimulai?" tanya Daniar begitu tiba hadapan teman-temannya.
"Sudah, Ni," jawab Nida
"Siapa yang sedang berada di dalam sekarang?" tanya Daniar lagi.
__ADS_1
"Si Nura," jawab Nida.
"Ish, gua deg-degan banget," ucap Daniar.
"Ya apalagi gua," timpal Nida.
"Sudah, kita berdo'a saja semoga segala sesuatunya diberi kemudahan" pungkas Erik, sang ketua kelas.
"Aamiin," jawab Nida dan Daniar berbarengan.
.
.
Di lain tempat, di waktu bersamaan. Yandri menyusuri koridor belakang sekolah SDIT Al-Amin. Berhubung waktu masih terlalu pagi, Yandri berniat untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Kantin sekolah berada di belakang. Yandri sengaja lewat gerbang belakang supaya lebih cepat sampai di kantin.
Saat dia tengah melintas di tempat yang cukup sepi, tiba-tiba seseorang memeluknya dari arah belakang. Sontak Yandri terkejut. Dia kemudian menoleh dan semakin terkejut saat ujung matanya melihat pakaian perempuan.
"Siapa Anda?" tanya Yandri seraya berusaha melepaskan kedua tangan yang tengah melingkar di pinggangnya.
"Aku mohon, izinkan aku memelukmu sebentar saja," pinta seorang wanita.
Yandri semakin terkejut saat menyadari si pemilik suara.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "A-aku tidak mau melepaskan kamu sebelum kamu berjanji mau bicara denganku."
"Huft!" Yandri membuang napasnya dengan kasar. Dia merasa kesal dengan sikap wanita tersebut.
"Aku bilang lepaskan aku sebelum aku berbuat kasar," tekan Yandri.
Kembali wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, sudah kubilang aku tidak akan melepaskan kamu!" pekik wanita itu.
"Cukup! Apa kamu tidak tahu jika kamu tengah memeluk seorang lelaki yang telah beristri?" tanya Yandri, berharap dengan memberitahukan kebenarannya, wanita tersebut akan melepaskan dia.
"Aku tidak peduli!" sahut wanita tersebut.
"Ehm-ehm ... ada apa ini?"
Yandri tersentak kaget melihat bendahara sekolahnya tengah berdiri di hadapannya.
"Tidak ada apa-apa, tolong jangan salah paham dulu, Pak. Aku sendiri tidak tahu kenapa dia tiba-tiba memelukku," ucap Yandri gelagapan.
Pak Agus menghela napasnya. Sedangkan wanita itu segera melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Dengar Pak Yan, jika aku mau, aku bisa saja melaporkan perbuatan kamu kepada istrimu. Sayangnya, aku bukan orang yang senang memancing keributan. Aku harap, kamu tidak akan pernah menyakiti adik iparku, atau kamu akan berurusan denganku!" tegas Pak agus, memberikan ancaman kepada sepupunya sendiri.
Agus tidak ingin terlalu banyak ikut campur dalam urusan orang lain. Karena itu, dia segera beranjak dari tempat tersebut. Meninggalkan Yandri yang masih bergeming dengan kejadian yang baru saja terjadi. Sesaat kemudian, Yandri menatap wanita itu.
"Puas kamu, telah membuat sepupuku salah paham pada hubungan kita. Sebenarnya mau kamu itu apa, En?" tanya Yandri dengan nada emosi.
"A-aku mau kita balikan lagi, Yan," jawab wanita itu yang tak lain mantan kekasihnya Yandri.
"Ish, dasar enggak waras!" Yandri mendengus kesal. Perutnya mendadak kenyang karena telah mendapatkan perlakuan tidak terpuji dari mantan pacarnya. Sejurus kemudian, Yandri kembali berbalik arah dan meninggalkan Enna yang sudah berlinang air mata.
.
.
Jam terus berputar. Setelah melewati waktu dua jam dengan berbagai pertanyaan dari dosen penguji, akhirnya sidang yang harus dilalui Daniar selesai juga. Daniar merasa bersyukur karena dengan lancar, dia bisa menjawab pertanyaan dosen penguji. Tak ingin mengulur waktu, dia memutuskan untuk segera pulang.
"Eh, Niar. Kita ke kafe Stars dulu, yuk!" ajak Nida begitu melihat Daniar keluar dari ruang sidang.
"Ngapain?" tanya Daniar, mengerutkan keningnya.
"Ya, seneng-seneng aja, gitu. Itung-itung syukuran setelah melewati sidang," balas Nura.
Sejenak Daniar terpaku. Sejak dia pindah ke rumah mertuanya, dia harus banyak-banyak berhemat demi kelangsungan hidup dirinya dan suami. Terkadang, ada hal yang tidak bisa dia duga saat dia sedang berada di rumah. Misalnya, keponakan yang tiba-tiba minta jajan, atau tagihan ibu mertua yang tidak bisa dihindari. Karena itu, Daniar selalu menyisihkan sebagian uangnya untuk hal yang tidak terduga tersebut.
Hmm, gue bisa saja menggunakan uang cadangan ini buat seneng-seneng. Toh ini gaji gua sendiri, batin Daniar yang ingin sedikit egois.
Simpan, Niar. Jangan sampai suami kamu mengeluh karena kamu hanya bisa bersenang-senang, kata hati Daniar yang suci ikut berbicara.
Untuk beberapa saat, Daniar bergeming dan membiarkan kata hatinya berperang.
"Maaf, Nid. Aku enggak bisa. Kang Yandri pasti sedang nunggu aku di rumah," jawab Daniar.
Hmm, pada akhirnya ... batin berhati malaikat lah yang memenangkan perang.
Nida tersenyum kecut. "Inilah kenapa gue enggak mau nikah muda, Ni. Terlalu banyak aturan dan harus minta izin suami setiap kali kita melakukan sesuatu," ucapnya.
"Yaa, bener sih ... tapi, nikah itu ibadah. Jika kita siap memutuskan untuk menikah, maka kita harus siap dengan semua konsekuensinya," balas Daniar.
"Ya sudah, terserah kamu saja," tukas Nida terlihat sedikit kesal.
Daniar melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16. 30. Setengah jam lagi Daniar terlambat di terminal, dia tidak akan kebagian bus yang melewati tempat tinggalnya. Akhirnya, Daniar segera berpamitan kepada sahabatnya itu.
"Aku duluan, ya Nid. Bersenang-senanglah!" pamit Daniar.
__ADS_1
Nida hanya mendeham menanggapi pamitnya Daniar.