
Sepertinya, keinginan Bu Maryam untuk menjodohkan Yandri dengan Enna begitu kuat. Hingga dia harus menempuh jarak beberapa kilometer hanya untuk bertemu dengan wanita yang dianggapnya cocok dalam mendampingi Yandri.
"Assalamu'alaikum, Bu. Maaf, Enna terlambat," kata Enna yang baru saja tiba di meja yang sudah dia reservasi.
Bu Maryam menoleh. Seulas senyum terbit di wajahnya ketika melihat wajah Enna. Bu Maryam pun berdiri untuk menyambut kedatangan Enna.
"Tidak apa-apa, En. Ibu juga baru sampai, kok," jawab Bu Maryam. "Ayo, duduk!" ajaknya.
Setelah bersalaman dan bercipika-cipiki, wanita berbeda generasi itu pun duduk saling berhadapan.
"Lama tidak bertemu, kamu makin singset aja, En. Semakin terlihat ayu," puji Bu Maryam.
"Ah, Ibu bisa saja," jawab Enna, tersipu malu.
"Ibu sungguhan loh, En ... bukan hanya sekadar berbasa-basi," lanjut Bu Maryam.
"Hehehe, iya Bu. Terima kasih atas pujiannya," sahut Enna, terkekeh. "Ibu juga beda, sekarang. Emh ... semakin segeran saja." Kini Enna yang giliran memuji Bu Maryam.
Mendapatkan pujian seperti itu, sontak Bu Maryam tertawa. Dia merasa senang sekaligus malu. Meskipun jauh di lubuk hatinya, Bu Maryam mengakui jika penampilannya yang sekarang, memang sangat berbeda dengan penampilan dia saat berstatus menjadi istrinya kakek Ahmad.
Saat ini, Bu Maryam merasa jika kejayaannya akan segera kembali. Seperti dulu, seperti saat dia sedang memiliki sebuah perusahaan sablon dan juga bordir.
"Sudahlah, En. Tidak akan ada habisnya kalau kita saling memuji terus. Karena kita memang sama-sama perempuan, ya tentunya sama-sama cantik. Benar, kan?" gurau Bu Maryam.
"Hmm, benar juga, Bu," timpal Enna.
"Ya sudah, kita ganti topik pembicaraan saja, En. Ngomong-ngomong, selain mengajar, apa kesibukan kamu sekarang?" tanya Bu Maryam yang sepertinya mulai menyelidik kegiatan sehari-hari Enna.
"Enggak terlalu banyak juga, Bu. Palingan setelah pulang sekolah, istirahat sebentar terus Enna pergi ke madrasah buat ngajar di sekolah agama," jawab Enna.
"Oh, jadi kamu ngajar Diniyah juga?" tanya Bu Maryam.
Enna mengangguk. Tak lama berselang, makanan yang sudah dipesan Enna datang. Sesaat setelah pramusaji menghidangkan makanan tersebut, Enna pun mempersilakan Bu Maryam untuk menyantap makanannya.
Bu Maryam terlihat lahap memakan hidangan tersebut. Sesekali, dia melontarkan pertanyaan yang kian menyempit pada tujuannya menemui Enna.
"Sudah lama Yandri menduda. Ibu pikir, mungkin sudah saatnya dia membina rumah tangga lagi. Jika kamu berkenan, maukah kamu menjadi istrinya Yandri?" tanya Bu Maryam penuh harap.
"Uhuk-uhuk!"
Mendengar pertanyaan Bu Maryam, Enna yang sedang mengunyah makanan, seketika tersedak. Dia pun segera mengambil air minum yang berada tak jauh darinya.
Enna menyeka mulutnya. Masih mencoba mengatur napas karena merasa terkejut mendengar pertanyaan Bu Maryam. Sungguh, setelah sekian lama memupus harapan terhadap cintanya Yandri, tiba-tiba saja Bu Maryam datang mengungkapkan pertanyaan yang sudah lama Enna lupakan.
__ADS_1
Ya Tuhan ... apa aku tidak salah dengar?
Sementara itu, di balik tirai bambu yang menghalangi meja Enna dan Bu Maryam, seorang wanita yang mengenakan syar'i biru toska, menggenggam erat ujung pakaiannya.
Wajah wanita itu terlihat memerah menahan amarah. Lagi-lagi, tubuhnya mulai lunglai. Setiap kali sesak menyelimuti dadanya, wanita itu merasa lemas, seolah tak bertenaga.
Habibah yang melihat perubahan raut wajah Siska, segera berpindah tempat. Dia duduk di samping Siska. Sedetik kemudian, Habibah merangkul Siska untuk memberikannya sedikit kekuatan.
"Tidak usah khawatir, ibu itu mata duitan. Aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Yang perlu kamu lakukan saat ini, buktikan jika kamu layak menjadi mantu ibu. Kamu hanya perlu manut sama beliau dan mengikuti apa kemauan beliau. Satu hal yang kamu ingat. Kamu punya sesuatu yang tidak dimiliki Enna," tutur Habibah.
"Apa itu, Kak?" tanya Siska penasaran.
"Kesucian!" jawab Habibah yang membuat Siska terperanjat.
"Maksud kakak?" tanya Siska lagi.
"Meskipun telah berumur, tapi kamu masih tetap seorang gadis. Beda dengan Enna yang sudah menikah dua kali," jawab Habibah, blak-blakan.
"Tapi, Kak. Bukankah pepatah mengatakan jika janda selalu di depan? Hehehe,..." gurau Siska.
"Dalam beberapa pengalaman, mungkin iya. Mereka tahu bagaimana cara memikat laki-laki. Mangkanya, kamu jangan mau kalah. Agresiflah sedikit! Biar Yandri klepek-klepek sama kamu," saran Habibah.
Kembali Siska menghela napas.
Dulu, Siska termasuk gadis yang ceria, bahkan cenderung agresif. Terkenal playgirl di kalangan teman-teman satu angkatan, hanya karena dia sering bergonta-ganti teman pria.
Akan tetapi, di saat Yandri mengetahui niat terselubung Siska dan meninggalkannya, Siska berubah menjadi gadis pendiam. Dia mulai menutup diri karena dia sadar, dia sudah terperangkap dalam permainan yang dia jalani.
Ya, sebulan menjalani waktu bersama Yandri, telah membuat Siska jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta terhadap pemuda alim, dan dingin di sekolahnya.
"Sis, kok ngelamun?" tegur Habibah. "Kamu ngerti, 'kan, maksud aku?"
"I-iya, Kak. Akan Siska usahakan," jawab Siska.
"Ya sudah, ayo kita pulang! Lama-lama tinggal di sini, hati kamu entar kebakaran!" ketus Habibah.
Siska tersenyum kecut. Sejurus kemudian, dia beranjak dari tempat duduknya dan menuju kasir untuk membayar makanan yang dia pesan tadi.
Di meja lain.
"Gimana, En ... kamu mau, 'kan jadi mantu Ibu?" tanya Bu Maryam penuh harapan.
Enna tergagap. "Eh, Ibu ... emm, se-sebenarnya En–"
__ADS_1
"Hai, Sayang! Maaf, telat!"
Tiba-tiba, seorang pria yang terlihat sudah berumur, menghampiri dan menyapa Enna. Sedetik kemudian, pria itu mencium pucuk kepala Enna. Membuat Bu Maryam terkesiap seketika.
Eh, lancang sekali pria botak tua itu mencium Enna. Siapa dia? batin Bu Maryam, menatap sinis pria yang sedang menarik kursi di samping Enna.
"Wah, sepertinya sudah selesai nih, makannya. Lapar apa kelaperan nih," canda pria itu.
"Hehehe, maaf ya, Mas. Abisnya Mas lama sih," jawab Enna begitu manja.
Kening Bu Maryam mengernyit melihat sikap manja Enna kepada pria itu. Seketika, kepalanya terasa berat.
"Eh, ini ibu yang ingin bertemu dengan kamu tempo hari, Na?" tanya pria itu.
"Iya, Mas. Beliau ini Bu Maryam, ibunya kawan lama Enna," jawab Enna memperkenalkan Bu Maryam kepada laki-laki yang kini duduk di sampingnya.
Kawan lama? Ish, kenapa Enna mengakui Yandri sebagai kawan lama, bukan sebagai mantan pacarnya? Monolog Bu Maryam dalam hati.
"Ah iya, ibunya Yandri ya? Yang pernah kamu ceritakan dulu," tukas pria itu.
Apa? Jadi Enna menceritakan tentang Yandri kepada pria itu? Ish, bagaimana mungkin? Ah, pasti ada yang tidak beres, gerutu Bu Maryam masih dalam hatinya.
"Benar, Mas. Beliau ibunya Yandri," timpal Enna.
"Perkenalkan, Bu. Nama saya Hardiansyah, saya tunangannya Enna. Senang bertemu Anda," ucap pria yang bernama Hardiansyah itu.
"Tu-tunangan?!" pekik Bu Maryam.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak bisa menerima lamaran Ibu," tolak Enna. "Saya sangat berterima kasih atas kepercayaan Ibu untuk menerima saya sebagai menantu. Namun, saya tidak bisa menerimanya, Bu. Saya sudah bertunangan dan seminggu lagi kami akan segera menikah. Oh ya, sebentar Bu!"
Enna membuka tas dan mengambil sesuatu dari dalam tas. Sedetik kemudian, dia menyerahkan selembar undangan kepada Bu Maryam.
"Ini undangan pernikahan kami. Jika Ibu ada waktu, kami tunggu kedatangan Ibu," lanjut Enna.
Penolakan Enna menjadi sebuah tamparan keras bagi Bu Maryam. Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu, membuat dadanya bergemuruh karena emosi. Entah kenapa Bu Maryam merasa, jika dirinya telah dipermainkan oleh wanita yang selalu dia bela di hadapan Habibah.
Huh, benar-benar menyebalkan!
Bu Maryam mendengus dalam hati. Tak ingin memperpanjang pertemuannya dengan wanita yang dia benci sedetik setelah dia tahu kebenarannya, wanita tua itu pun segera beranjak dari tempat duduknya.
"Saya rasa itu tidak perlu. Saya tidak punya banyak waktu untuk menghadiri acara seorang pegkhianat. Permisi!" ketus Bu Maryam. "Bahar, ayo kita pulang!" teriak Bu Maryam seraya beranjak dari tempat duduk.
Baik Enna dan Hardiansyah, juga pengunjung restoran Danau Reymonda, hanya bisa menatap bengong kepada wanita tua yang berjalan sambil bersungut-sungut.
__ADS_1
"Hhh ..." Enna menghela napasnya.
Hardiansyah merangkul pundak calon istrinya seraya berkata, "Sudah, lupakan saja!"