
"Kok tumben lama, Bin?" tegur Daniar ketika melihat putrinya kembali ke toko.
"Maaf, Bun. Tadi Bibin cari buku dulu di Gramed. Kebetulan bukunya limited edition, jadi agak susah nyarinya. Iya, 'kan, Wira?" jawab Bintang seraya menyikut lengan Adwira.
"I-iya, Bun," sahut Adwira.
"Bukunya ketemu?" selidik Daniar.
"Ke-ketemu, Bun," jawab Bintang terbata.
"Bunda harap, kamu tidak sedang membohongi Bunda, Bin," tutur Daniar yang melihat Bintang tidak membawa apa pun di tangannya.
"Aih, Bunda ... mana mungkin Bibin bohong sama Bunda. Tadi bukunya memang ada, tapi keburu dibeli sama orang lain. Ya udah, Bibin enggak kebagian deh. Bukan begitu, Wira?" lanjut Bintang kembali meminta dukungan Adwira.
"I-iya, Bun. Seperti itu!" timpal Adwira.
Daniar tersenyum. "Ya sudah, sekarang kalian bantuin mbak Ratih gih! Kasihan dari tadi kewalahan karena menghadapi para pembeli sendirian," ucap Daniar seraya berlalu pergi.
"Bunda!" panggil lirih Bintang.
Daniar membalikkan badan. Sedetik kemudian, Bintang menghambur ke dalam pelukannya.
"Bibin sayang bunda," ucap Bintang memeluk erat Daniar.
Daniar tidak mengerti atas sikap anaknya. Namun, tidak ada alasan untuk menolak pelukan seorang anak. Daniar pun balas memeluk putri semata wayangnya seraya berkata, "Bunda juga sayang kamu, Nak."
Adwira merasa terharu dengan kasih sayang yang mereka miliki. Dia pun mulai cemburu dan menginginkan kasih sayang itu.
Ya Tuhan ... kelak, jadikan mereka sebagai istri dan ibu mertua hamba. Do'a Adwira dalam hatinya.
.
.
Hari demi hari terus terlewati. Sudah hampir satu bulan Bu Maryam dirawat di rumah sakit. Bahkan Yandri pun sudah mengajukan cuti untuk merawat sang ibu. Namun, belum ada tanda-tanda jika Bu Maryam akan kembali sembuh dan normal seperti sedia kala.
Yandri sudah memasukkan Bu Maryam untuk mengikuti terapi berjalan. Seminggu, tiga kali terapi. Akan tetapi, belum berpengaruh apa-apa pada Bu Maryam. Jangankan untuk berjalan, berdiri di atas kedua tumpuan kakinya pun, Bu Maryam tidak mampu.
Semakin hari, biaya pengobatan Bu Maryam semakin membengkak. Yandri sudah berusaha mengajak saudaranya untuk patungan membiayai pengobatan ibunda tercinta. Namun, seperti biasanya ... Aminah, Nauval, Yoga dan Raihan pun angkat tangan.
__ADS_1
Aminah beralasan, semenjak ada kedai cilok goang yang lainnya, kedai cilok goang miliknya mulai sepi pengunjung. Begitu juga dengan Nauval. Dia mengatakan semakin hari, orderan konveksi semakin sepi. Sedangkan Yoga beralasan jika dia belum mendapatkan proyek lagi. Dan Raihan? Jangan tanya ... bahkan untuk menghidupi anak istrinya pun, dia masih bergantung kepada Bu Maryam.
Yandri menggenggam erat tangan kanan Bu Maryam. Sungguh, dia tidak tega harus meninggalkan ibunya dalam keadaan begini. Namun, Yandri tidak punya pilihan lain. Tabungannya telah menipis karena digunakan untuk biaya pengobatan ibunya.
Ya! Yandri bisa saja menjual rumah dan mobilnya sebagai simpanan pengobatan sang ibu. Akan tetapi, rasanya sangat konyol jika Yandri melakukan hal tersebut, sedangkan dia masih mampu bekerja.
"Maaf, Bu. Bukannya Yandri tidak ingin menemani Ibu, tapi Yandri harus kembali bekerja," kata Yandri.
Bu Maryam menatap Yandri. Dalam hatinya dia berkata jika dia tidak ingin jauh-jauh dari putranya itu. Namun, ketidakmampuan Bu Maryam dalam berbicara, hanya bisa membuat wanita itu menggeleng lemah.
Yandri bisa merasakan jika ibunya enggan untuk ditinggalkan.
"Ibu ... sebenarnya Yandri juga berat meninggalkan Ibu, tapi Yandri harus melakukan itu. Jika Yandri tidak bekerja, siapa yang akan membayar biaya pengobatan Ibu? Yandri ingin memberikan yang terbaik untuk Ibu. Yandri ingin Ibu sembuh dan sehat seperti sedia kala. Dan jalan untuk semua itu, Yandri harus kembali bekerja," tutur Yandri.
"Yan, apa kamu tidak bisa mencari pekerjaan di sini, biar selalu dekat dengan Ibu," selak Habibah.
"Bisa saja, Kak, tapi Yandri enggak mau mengambil risiko. Jika Yandri pindah kerja lagi, maka Yandri akan kembali mengawalinya dari nol. Lagi pula, di sini belum tentu ada sekolah swasta yang bisa menggaji Yandri setara dengan pegawai negeri," tutur Yandri.
Yandri kembali menatap ibunya.
"Untuk itu, Yandri mohon, Bu. Izinkan Yandri kembali ke asrama," pintanya.
"Kemarin Yandri sudah konsultasi dengan Dokter Idris. Sebenarnya, Ibu sudah tidak membutuhkan cairan infus lagi untuk suplai energi, karena itu Ibu sudah diizinkan pulang. Rencananya, besok setelah kunjungan dokter, Yandri akan membawa ibu pulang," balas Yandri.
"Ish, Yan ... kenapa harus dibawa pulang jika Ibu memang belum sembuh. Siapa yang akan merawat Ibu di rumah? Kamu sendiri, 'kan tahu jika Kakak bekerja," tukas Habibah.
"Kakak tenang saja, Yandri sudah menyewa seorang perawat untuk menjaga Ibu. Lagi pula, Ibu sudah tidak memerlukan peralatan medis. Yang Ibu butuhkan, semangat untuk sembuh, dukungan keluarga dan juga obat-obatan sebagai ikhtiar. Sisanya, biar Tuhan yang menjawab," tutur Yandri.
Habibah tidak bisa mendebat apa pun lagi. Jika Yandri sudah memutuskan, maka itu pasti akan terjadi.
.
.
Seperti apa yang dikatakan Yandri semalam, setelah visit dokter, Bu Maryam pun diperkenankan untuk pulang. Setelah mengurus semua administrasi rumah sakit, Yandri kemudian berpamitan.
Tiba di lobi rumah sakit, dia cukup terkejut melihat keberadaan Siska. Entah siapa yang memberi tahu wanita itu tentang kepulangan ibunya dari rumah sakit.
Sudahlah, Yan. Lupakan saja, batin Yandri.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Yandri memindahkan Bu Maryam dari kursi roda ke kursi belakang mobilnya. Lepas itu, dia membuka pintu depan dan duduk di balik kemudi.
Lagi-lagi, tanpa tahu malu Siska membuka pintu bagian depan mobilnya Yandri. Namun, kali ini Yandri mendahuluinya dengan menaruh barang-barang bawaan dari rumah sakit.
Siska terkejut, tapi dia tidak punya kekuatan untuk protes. Sikap dingin Yandri membuat dia merasa segan. Siska akhirnya mengalah dan duduk di kursi belakang bersama Habibah dan calon ibu mertuanya.
Setelah semuanya duduk, Yandri pun melajukan mobilnya.
Di dalam perjalanan, Yandri berhenti sejenak di sebuah toko peralatan medis. Dia membeli sebuah kursi roda untuk ibunya. Selain itu, Yandri juga berhenti di sebuah apotek untuk membeli kebutuhan ibunya, seperti tissue basah, vitamin dan juga pampers dewasa.
Yandri sengaja membeli banyak untuk stok selama satu bulan. Supaya Habibah ataupun perawat yang akan menjaga ibunya nanti, tidak perlu susah-susah pergi ke kota untuk membeli keperluan ibunya. Maklum saja, jarak antara desa tempat Bu Maryam tinggal, sangatlah jauh dari pusat kota.
"Kapan perawatnya akan datang ke rumah, Yan?" tanya Habibah, memecah kesunyian.
"Mungkin besok sore, Kak. Dia harus mengurus dulu surat izin kepada kepala rumah sakit," jawab Yandri.
"Itu artinya, Kakak harus mengurus ibu sebelum perawat itu datang?" lanjut Habibah.
"Apa boleh buat, Kak. Tidak mungkin juga Yandri yang merawat, karena setelah mengantarkan ibu, Yandri harus berangkat," tutur Yandri.
"Be-berangkat? Apa maksudnya berangkat? Kamu mau berangkat ke mana lagi, Yan?" Siska terlihat bingung dengan arah pembicaraan Yandri.
Pria jangkung itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Siska. Baginya, Siska bukanlah siapa-siapa dia. Jadi dia tidak punya kewajiban untuk menjawab apa pun pertanyaan wanita itu.
"Yandri hendak kembali bekerja, Sis," jawab Habibah.
"Di Indramayu? Siska kembali bertanya.
Habibah mengangguk.
"Ta-tapi bagaimana dengan pertunangan kita, Yan? Kamu tidak berniat untuk lari dari pertunangan kita, 'kan?" cecar Siska.
Hening.
"Yan, aku mohon. Kamu boleh mempermainkan hatiku sesukamu, tapi tolong jangan permainkan perasaan ayahku!" tegas Siska.
"Tidak usah khawatir, cincinnya masih disimpan di Kak Bibah. Pakailah! Kau bisa anggap itu sebagai simbol pertunangan," sahut yandri, dingin.
Bu Maryam dan Habibah hanya bisa melongo mendengar ucapan Yandri. Namun, Siska terlihat bahagia.
__ADS_1
Ya Tuhan ... semoga yang aku lakukan ini bukanlah sebuah kesalahan.